Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Luna melihat pria yang sedang menawarkan sup iga dengan sudut matanya. Tidak berminat untuk melihat apalagi merespon apapun yang dikatakan oleh pria itu. Sungguh bodoh dia mengira pria itu telah berubah hanya karena sebuah kejadian pagi ini.
Padahal Luna berpikir mungkin mereka memiliki kesempatan lagi karena jelas sekali keduanya menyimpan gairah yang sama. Seharian ini telah terbayang apa saja yang akan Luna lakukan dengan mantan suaminya ketika malam tiba.
Mungkin saja Arya menunggunya di depan pintu. Mereka berdua lalu masuk ke apartemen Luna. Mulai berciuman setelah pintu menutup sempurna. Ketika lidah mereka mulai menyapa, satu persatu pakaian akan ditanggalkan.
Arya akan menyentuh seluruh tubuhnya, memberi tanda di setiap inchi kulit yang dia miliki. Dan ketika semuanya terasa menyenangkan, Luna akan kembali merasakan desakan kuat di bagian bawah perutnya. Desakan yang sangat dia rindukan selama ini. Desakan dengan irama tertentu yang akan membuatnya terbang ke langit ketujuh.
Sayang sekali semua harapan itu hancur setelah tidak sengaja Luna melihat dua orang yang sedang mengantre kopi di dalam sebuah cafe ketika dia mencari makan siang. Keduanya tampak begitu dekat dan akrab. Terlihat dari senyum yang terus mengembang di wajah Marina. Mereka kembali bersama? Atau sebenarnya mereka memang bersama?
Lalu kenapa mantan suaminya terus mengganggu Luna? Apa untuk main-main saja? Atau mengusir rasa bosan? Luna merasa seperti orang paling bodoh di dunia sekarang. Padahal dia sudah disakiti sampai seperti itu tapi tetap saja tergoda oleh sentuhan Arya. Dia benar-benar bodoh.
Lalu pria itu masuk ke dalam toko Luna. Menawarkan sup iga padanya. Tentu saja Luna mengabaikan pria itu. Tak mau dia dianggap bodoh karena mudah ditipu.
"Sayang!!"
Pembeli datang dan pria itu tidak lagi memaksa Luna menerima sup. Secara sadar keluar dari toko dan membiarkan Luna bekerja dengan tenang. Tapi dia tak menyangka kalau Arya akan bertahan di depan tokonya sampai malam datang.
"Hai" sapa pelanggan yang dikenal oleh Luna.
"Pak Dosen" balasnya.
"Aku mencari sesuatu tapi tidak tahu apa tokomu memilikinya"
"Apa itu?"
Pelanggan Luna yang dulu pernah membeli note banyak itu kembali. Tentu saja Luna akan melayani dengan senyum penuh. Ketika pelanggan itu memperlihatkan barang yang akan dibeli, otomatis keduanya akan berada dalam jarak dekat.
"Apa toko ini memilikinya?" tanya pelanggan
Ternyata buku yang memiliki pola kotak besar sebagai isinya.
"Ada. Ada banyak. Berapa yang Anda butuhkan?"
"Aku butuh 20 buku"
"Saya akan melihatnya"
Segera saja Luna pergi ke rak dan memeriksa jumlah buku yang diminta pelanggan.
"Ada berapa?"
"Ada 10 buku. Sisanya akan saya cari di gudang"
"Aku bantu"
Mengingat terakhir kali dia hampir jatuh karena mengambil note, Luna menyetujui usul pelanggannya. Keduanya pergi ke belakang dan Luna memberi tahu dimana buku yang diperlukan disimpan.
"Ada lebih dari 10 disini. Apa semua dibawa turun?"
"Iya"
"Tapi ini banyak sekali"
Ternyata pelanggan mengambil banyak sekali buku itu, sampai tidak bisa menjaga keseimbangan dan kemudian
BRUUUKKKK
Pelanggan, buku dan tangga jatuh ke arah Luna. Tapi dia tidak merasakan sakit sama sekali. Dan ketika Luna membuka mata, dia tahu alasannya.
"Kau!!"
Ada Arya yang menghalangi tangga itu menimpanya.
"Tidak apa-apa? Jangan takut, aku ada disini!" kata mantan suaminya itu.
Luna segera bangun dan mengambil semua buku yang jatuh. Dan tak lupa memeriksa pelanggan yang jatuh.
"Maaf, Nona. Saya ternyata tidak kuat mengangkat buku sebanyak itu"
"Tidak apa-apa, saya baik-baik saja"
"Benarkah? Syukurlah. Tapi hampir saja saya jatuh menimpa Nona, untung saja ada Tuan ini yang mendorong saya ke belakang"
Mendorong ke belakang? Jadi demi melindunginya, Arya mendorong tangga beserta pelanggannya ke belakang? Sungguh kejam.
"Maaf, Anda jadi terluka" kata Luna tidak enak dengan pelanggannya. Tapi pelanggan itu hanya menggosok pantatnya dan tersenyum seperti orang bodoh.
"Saya malah merasa tidak enak pada Nona karena ceroboh. Bahkan menurunkan beberapa buku saja, saya tidak sanggup. Sungguh memalukan"
Luna tersenyum mendengar pengakuan lucu itu, melupakan seseorang yang menerjang masuk ke dalam gudang untuk menolongnya.
Setelah mendapatkan buku yang ingin dibelinya, pelanggan itu pergi. Saat Luna ingin membereskan gudang, dia melihat Arya masih ada disana.
"Tolong pergilah!" usirnya tidak mau melihat pria yang ternyata masih berhubungan dengan mantan sahabatnya itu lagi.
"Ada apa denganmu?" tanya Arya tidak dijawab oleh Luna.
"Terima kasih sudah menolong, tapi sebaiknya kau pergi sekarang!"
"Sayang!! Padahal aku pikir tadi pagi kita sudah ... "
"Tolong jangan bicara lagi dan pergi. Dan kalau bisa yang jauh, aku tidak mau melihatmu lagi!!" tetapnya.
Melihat betapa bahagianya Marina tadi ketika berduaan dengan Arya, membuat Luna merasa seperti dialah orang ketiga diantara hubungan keduanya. Dia tidak mau merasa seperti itu lagi.
"Apa yang terjadi?"
Arya menghalangi jalannya kembali ke toko.
"Tadi pagi, jelas-jelas kau menginginkan aku. Tubuhmu menginginkan aku. Lalu kenapa tiba-tiba berubah seperti ini?" lanjutnya.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, sebaiknya kau pergi!"
"Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap disini sampai kau menjelaskan apa kesalahanku!"
Kali ini gaya bicara Arya lebih galak dari sebelumnya. Tidak pernah Luna mendengar nada seperti itu dari mantan suaminya. Tapi dia juga tidak akan kalah dari seorang pria yang pagi ini mencium tubuhnya dan siangnya tertawa dengan wanita lain.
"Tidak ada alasan. Kita sudah bercerai. Tidak baik kau berada di sekitar ... Ku" katanya lalu ingin menerobos badan besar dan tinggi itu untuk keluar dari gudang, namun tenaganya kurang kuat. Arya yang jelas lebih kuat memutar tubuhnya, mendorong sampai pintu gudang tertutup dan menahannya disana. Dengan wajah yang saling berhadapan, mantan suaminya itu berkata.
"Aku ingin berada di dalam dirimu"
Dan segera menekan bibirnya ke bibir Luna. Menghisap serta melahap bibir Luna seperti penyedot debu yang baru dibeli. Dan ketika Luna mengerahkan tangannya untuk mencoba menjauh, Arya menangkap. Membawa tangan Luna ke atas kepala, dan menahannya tetap disana.
"Tidak, lephhh pas" ucap Luna masih bisa menolak. Dan tentu saja ucapannya diabaikan.
Arya terus menciumnya, tak memberi Luna kesempatan untuk menjauh sama sekali. Ciuman yang tadinya begitu agresif tanpa jeda kini menjadi lebih lembut. Memberi kesempatan Luna untuk bernapas diantaranya.
"Aku mencintaimu" bisik Arya lalu meringsek masuk ke dalam rambutnya dan memberi kecupan-kecupan di bahu dan leher Luna.
Bisikan itu seakan mendorong kesadaran Luna ke permukaan. Dia mendorong mantan suaminya dan melayangkan sebuah tamparan penuh tenaga.
"Kau!! Sungguh penuh dusta" katanya lalu keluar dari gudang.
tahi