Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Bertemu
Anaknya terdiam, menunduk tidak berbicara sedikitpun. Gadis itu mulai menangis—saat ibunya terus mempertanyakan hal yang ia sembunyikan sejak lama.
Ibu pasien menangis, meratapi rasa kecewa dan tidak bertanggung jawab atas hidup anak gadisnya.
Usia anaknya bahkan baru menginjak 14 tahun, tidak tamat sekolah dasar karena ekonomi dan keluarga yang hancur.
...----------------...
Siang harinya, Riyani berjanji akan membawakan bekal makan siang untuk Hanif. Dengan sekotak kue brownies yang ia buat tadi.
Senyumannya sudah terhias sewaktu melihat Hanif sudah menunggunya di parkiran khusus kendaraan dokter—di lantai 1.
Begitupun dengan manisnya sambutan Hanif, lelaki itu kerap mengusak kerudung atau bahkan mencubit pipi riyani saat bertemu.
Genggaman tangannya erat, membawa Riyani ke sebuah bangku taman di rumah sakit itu.
"Mau makan yang berat dulu atau kue dulu?" tanya Riyani.
Hanif terkekeh.
"Dua-duanya itu berat."
"Maksudnya, nasi dulu atau kue dulu?"
"Nasi dulu. Nanti kue-nya kalau mau ngemil aja," jawab Hanif.
Riyani membuka kotak bekal yang sedikit lebih besar. Isinya, ada nasi kepal yang dicampur dengan nori. Ditambah, cah kangkung dengan udang dan telur puyuh. Di kotak sebelahnya, ada beberapa potong buah stroberi dan anggur.
Hanif terkekeh melihat kotak bekal yang dibawa riyani sudah seperti bekal untuk anak sekolah. Tapi dengan lahap, ia menghabiskan semuanya.
Lelaki itu bersandar pada bangkunya, merasa kenyang dan nikmat untuk makan siang kali ini.
"Kue-nya Aa bawa buat cemilan nanti aja ya?"
Riyani mengangguk.
"Pasti kekenyangan kan?"
"Nanti bagi-bagi aja sama temennya."
"Gak mau. Nanti Aa habiskan semuanya," tolak Hanif.
"Kenapa? Nanti kamu kekenyangan loh, A."
"Enggak. Kan masih bisa dibawa ke rumah brownies nya," jawab Hanif kukuh, "pokoknya Aa gak mau berbagi sama yang lain."
Riyani terkekeh mendengarnya.
...----------------...
Riyani memainkan jemarinya ragu. Dengan helaan napas panjangnya, ia sedikit menghadap pada Hanif.
"Aa!?"
"Hm?"
"Mau temenin Neng pulang ke rumah gak?"
"Rumah mamah sama bapak, bukan rumah kakek."
"Udah siap?" tanya Hanif.
Riyani mengangguk pelan.
"Mau gimanapun mereka orang tua neng. Bener kata kakek, sama kata Aa. Neng juga gak bisa nikah gitu aja tanpa menyelesaikan masalah sama orang tua neng."
Hanif tersenyum tipis. Ia usak kerudung riyani pelan.
"Ya udah, besok Aa temenin kamu ke rumah. Sekalian Aa mau minta restu dari orang tua kamu buat hubungan kita."
Riyani mengangguk mengiyakan.
Setelah mengobrol cukup lama dengan Hanif, Riyani memilih untuk pamit. Juga Hanif yang kembali dengan pekerjaannya.
...----------------...
Keesokan paginya, Hanif sudah menunggu lebih awal dari jam janji dengan Riyani. Gadis itu menekuk wajahnya pada Hanif saat keluar dari kamar dengan baju yang sudah rapih dan kerudung yang sudah dipakainya.
"Kenapa cemberut gitu?" tanya kakek heran.
Hanif terkekeh.
"Biasa, Kek. Dia gak mau diburu-buru, makanya cemberut begitu."
"Padahal kan maksud Hanif biar kamu gak nunggu. Mending dia yang nunggu kamu," jelas kakek.
"Ya tapi kan gak enak, Kek. Masa Neng baru beres sarapan, dia udah ada di rumah."
"Ya gak apa-apa dong, Neng. Lagian sebentar lagi juga kalian bakal serumah,"
"Malah nyambung ke sana," keluh Riyani, "udah ah, Neng mau berangkat dulu."
Kakek menggelengkan kepalanya.
Ia tepuk bahu hanif yang bersalaman dengannya.
"Harus sabar-sabar ngadepin dia ya!"
Lelaki itu terkekeh pelan lalu mengangguk.
...----------------...
Setibanya di rumah bapak, Riyani sempat ragu untuk mengetuk pintunya. Hanif menggenggam tangannya erat.
"Tenang, Aa di sini sama kamu."
Riyani sedikit lebih tenang. Ia ketuk dengan sisa kepercayaan dirinya, entah apa yang akan terjadi dan entah apa yang akan ia dengar dari orang tuanya setelah ini.
Pintu berdecit, Haikal yang membukanya. Anak itu memeluk erat Riyani, tangisan haru datang saat tubuh mungil menjadi lebih kurus saat ia tidak bersamanya lagi.
Pipi tembam haikal sudah hilang, kini tidak tersisa, hanya suara gemasnya yang masih selalu terngiang pada pikiran riyani.
Bapak menghampiri anak gadisnya. Lelaki paruh baya itu meminta anaknya untuk masuk dan duduk pada sofa ruang tengah.
Ruang tamunya sudah berubah—menjadi tempat bermain Haikal dengan segala barang dan kendaraan di dalamnya.
Riyani duduk pada sofa ruang tengah, di sampingnya ada Hanif yang terus menemaninya agar lebih tenang.
Jemarinya terus dimainkan, gugup, serta jantungnya yang sudah tidak karuan. Ingin rasanya pergi saja dan tidak usah bertemu lagi.
Mamah yang baru saja keluar dari kamar, langsung meraih tangan riyani, membungkuk merasa bersalah dan meminta anak gadisnya untuk pulang dan kembali ke rumah.
Riyani meminta mamahnya untuk duduk. Ia melepaskan genggaman tangannya dengan lembut lalu menghela napas untuk bersiap membicarakan isi hatinya.
"Mah, Pak.... Sebenernya Neng ke sini mau bicara sama kalian."
"Bicara apa Neng?" tanya bapak.
"Neng mau bicara, kalau Neng udah ikhlas sama perlakuan kalian. Neng udah gak apa-apa kalau selama ini kalian utamain abang. Neng juga gak apa-apa kalau masa muda neng gak kayak orang lain. Neng juga gak apa-apa, kalau harus Neng yang selalu diandalkan untuk mengurus rumah ini padahal kakak ipar dan abang juga numpang di sini," ucap Riyani.
Tangannya mulai bergetar, air matanya mulai turun, entah apa yang terasa sekarang olehnya.
Lega?
Atau malah sakit?
"Tapi untuk kembali ke rumah ini, Neng memilih buat nolak. Neng gak mau ke sini lagi, Neng gak mau tinggal di rumah yang gak pernah anggap neng dan hanya memanfaatkan neng aja," sambung Riyani, "Neng ke sini juga mau bawa sisa baju yang belum diambil kakek waktu itu."
"Neng, kamu mau putus hubungan sama kita? Karena kita belain abang kamu terus?" tanya bapak.
Riyani tersenyum remeh.
"Neng gak bilang mau putus hubungan, Pak. Anggap aja Neng pindah dari rumah ini."
"Tapi kamu belum menikah, kamu juga masih anak gadis bapak, gak kerja juga. Masa kamu mau numpang di rumah kakek terus, kamu gak malu sama mereka, masih punya orang tua tapi numpang di rumah orang yang udah renta?"
"Justru harusnya bapak yang malu. Kenapa anak gadisnya nekat buat pindah kalau gak ada masalah di rumahnya. Dan satu lagi, Neng secepatnya bakal dilamar Hanif."
Bapak menoleh pada Hanif.
"Apa-apaan kamu ini? Mau menikahi anak saya tapi sama sekali gak berniat meminta restu dari orang tuanya."
"Pak bukan seperti itu, justru saya ke sini karena mau minta restu dari bapak dan mamah," jawab Hanif.
"Alah alasan.... Gak sopan sekali. Anak yang sudah saya urus dari kecil sampai sebesar ini, tiba-tiba kamu nikahi begitu saja tanpa meminta izin sama saya sebelumnya?"
"Pak!!!"
"Hanif udah berusaha sopan ya sama bapak. Dia yang ajak Neng buat ke sini, dan meminta restu sama kalian. Tadinya Neng gak mau ke sini," ucap Riyani dengan amarahnya.
Wanita itu berdiri dengan genggaman tangannya pada Hanif. Tatapannya terlihat begitu kesal dan kecewa.
"Acara lamarannya 2 minggu lagi, hari Rabu, jam 9 pagi. Kalau kalian mau datang, Neng bakal sambut kalian dengan baik. Kalau enggak juga gak apa-apa."
Wanita itu langsung mengajak Hanif untuk pulang ke rumah neneknya.
Dalam pelukannya pada Hanif.
Riyani menangis.
"Kenapa hidup gak pernah sesuai dengan apa yang kita mau, A?"
"Kamu gak mau sama saya?"