NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 12

Kamar utama yang biasanya menjadi wilayah terlarang bagi Zoya kini berubah menjadi ruang perawatan yang tenang namun tegang.

Bau maskulin parfum Arvin yang biasanya mendominasi, kini samar-samar berganti dengan aroma antiseptik dan uap herbal yang sengaja Zoya siapkan untuk membantu pernapasan suaminya.

Arvin terbaring di atas ranjang king-size miliknya, tampak lebih kecil di bawah selimut sutra abu-abu.

Wajahnya yang biasanya tegas dan mengintimidasi kini pucat pasi, dengan mata yang cekung akibat demam tifus yang mulai menggerogoti sisa tenaganya. Namun, meski tubuhnya lemah, lidahnya masih memiliki bisa yang cukup untuk menyakiti.

"Kubilang... pergi, Zoya," suara Arvin serak, nyaris menyerupai bisikan, namun penuh dengan penekanan.

Zoya tidak bergeming. Ia sedang menuangkan semangkuk bubur gandum halus yang ia masak dengan kaldu tulang yang kaya nutrisi. "Dokter Hendra baru saja memberikan antibiotik melalui infus, Tuan. Jika lambung Anda kosong, obat itu akan sangat menyiksa."

Zoya mendekat, duduk di kursi di samping ranjang. Ia menyendok sedikit bubur, meniupnya dengan lembut di balik cadar pink pucat yang ia kenakan. Saat ia menyodorkan sendok itu ke bibir Arvin, pria itu justru memalingkan wajahnya dengan kasar.

"Aku tidak lapar. Dan aku tidak butuh pengabdian palsu ini," desis Arvin. Matanya yang merah menatap Zoya dengan kebencian yang dipaksakan. "Apa kau sedang mencoba mencuci otakku agar aku merasa berutang budi padamu? Lalu kau bisa leluasa bertemu dengan pria kampusmu itu tanpa laranganku?"

Zoya menghela napas panjang. Tangannya yang memegang sendok sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan menahan gejolak emosi yang ingin meledak.

Luka di hatinya akibat kejadian di kampus kemarin masih menganga, namun ia memiliki prinsip yang tidak bisa digoyahkan. 'Seorang istri tidak boleh meninggalkan suaminya yang sedang sakit, seburuk apa pun perlakuan sang suami.'

"Silakan maki saya sesuka hatimu setelah Kau sembuh, Tuan Arvin," ucap Zoya tetap tenang. "Tapi sekarang, Kau harus makan. Hanya tiga suap, demi kesehatanmu sendiri."

"Jangan mengaturku!" Arvin secara tiba-tiba menggerakkan tangannya yang tidak terpasang infus. Dengan gerakan menyentak, ia menepis tangan Zoya.

Prang!

Mangkuk keramik mahal itu jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Bubur panas itu tumpah mengenai ujung gamis Zoya dan lantai marmer.

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. Arvin terengah-engah, dadanya naik turun karena luapan emosi dan rasa lemas yang menyerang secara bersamaan.

Zoya menatap pecahan mangkuk itu dengan tatapan kosong. Air matanya hampir jatuh, namun ia segera mengedipkan mata dengan cepat. Ia bangkit tanpa suara, mengambil tisu dan kain untuk membersihkan kekacauan itu.

"Apa kau tidak punya harga diri?" tanya Arvin, suaranya sedikit gemetar melihat Zoya yang justru berlutut di lantai untuk memunguti pecahan keramik. "Setelah semua yang kukatakan, setelah aku membuang makananmu... kau tetap di sini?"

Zoya berhenti sejenak. Ia mendongak, menatap langsung ke netra Arvin yang sedang bergejolak. "Harga diriku tidak ditentukan oleh bagaimana Kau memperlakukanku, Tuan. Harga diriku ditentukan oleh bagaimana aku tetap menjaga adabku saat orang lain kehilangan adabnya."

Zoya berdiri, membawa pecahan mangkuk itu ke tempat sampah. "Aku akan mengambil mangkuk yang baru. Dan aku akan terus kembali sampai Kau menghabiskan satu porsi."

Tiga puluh menit kemudian, Zoya kembali dengan nampan baru. Arvin memejamkan mata, pura-pura tidur, namun ia tahu Zoya ada di sana karena aroma harum masakan yang kembali tercium.

Zoya kembali duduk. Ia tidak bicara. Ia hanya menyendok bubur dan menunggu. Arvin yang merasa diabaikan akhirnya membuka matanya. Ia melihat Zoya yang hanya diam menunggunya, seolah memiliki kesabaran yang tak terbatas.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Arvin, kali ini suaranya lebih rendah, kehilangan sebagian taringnya. "Kau tahu pernikahan ini hanya kesepakatan. Kau tahu aku punya Valerie. Kau tahu aku tidak akan pernah menganggapmu lebih dari sekadar bayangan di rumah ini."

Zoya menyodorkan sendok lagi. Kali ini Arvin tidak menepisnya, meski ia juga belum membuka mulut.

"Jangan harap pengabdianmu saat aku sakit ini akan mengubah posisimu di rumah ini, Zoya," lanjut Arvin dengan nada pedas. "Besok setelah aku sembuh, kau tetaplah Zoya yang harus bersembunyi. Kau tetaplah rahasia yang tidak boleh terungkap. Dan aku tetap pria yang akan menghalangi setiap langkahmu dengan pria itu."

Zoya tersenyum kecil di balik cadarnya, sebuah senyum pahit yang hanya bisa dirasakan lewat binar matanya. "Aku tahu, Tuan. Aku tidak mengharapkan perubahan status. Aku melakukan ini bukan untuk posisi, tapi untuk Tuhanku. Dan jika menjagamu adalah ujian untuk aku tetap sabar, maka aku akan menjalaninya."

Arvin tertegun. Ia merasa seperti baru saja ditampar oleh ketulusan yang murni. Selama ini, semua orang di sekitarnya melakukan sesuatu karena ada pamrih.

Valerie melakukan segalanya untuk uang dan status. Para rekan bisnisnya melakukan segalanya untuk profit. Tapi wanita di depannya... ia merawat orang yang menghinanya hanya karena prinsip spiritualnya.

Secara perlahan, Arvin membuka mulutnya. Ia menerima suapan pertama.

Zoya sedikit terkejut, namun ia segera menyuapkan bubur itu dengan sangat hati-hati. Ia memastikan suhunya pas agar tidak melukai lidah Arvin yang sensitif karena demam.

Satu suap, dua suap... hingga suapan kesepuluh. Arvin makan dalam diam, namun matanya tidak pernah lepas dari wajah Zoya. Ia memperhatikan detail jemari Zoya yang bergerak lincah, memperhatikan kerutan kecil di sudut mata istrinya saat sedang berkonsentrasi.

Tiba-tiba, Arvin terbatuk hebat. Zoya dengan sigap meletakkan mangkuk dan membantu Arvin bersandar pada bantal yang lebih tinggi.

Ia memberikan segelas air hangat dan mengusap punggung Arvin dengan sangat lembut, sebuah sentuhan yang membuat jantung Arvin berdegup lebih kencang dari biasanya.

"Pelan-pelan, Tuan," bisik Zoya.

Saat jarak mereka begitu dekat, Arvin bisa mencium aroma lembut dari pakaian Zoya, aroma kayu cendana dan sabun bayi yang menenangkan.

Untuk sesaat, amarah Arvin menguap. Ia merasa terlindungi. Ia merasa aman, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak ibunya meninggal dunia bertahun-tahun lalu.

Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel Zoya di atas nakas bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar.

Liam - "Zoya, aku di depan gerbang apartemenmu. Aku sangat khawatir karena kamu tidak masuk kelas hari ini. Tolong keluar sebentar, aku membawakan catatan kuliah."

Mata Arvin menangkap pesan itu secepat kilat. Seketika, suhu di ruangan itu kembali mendingin. Genggaman Arvin pada gelas mengerat hingga buku jarinya memutih.

"Suruh dia pergi," desis Arvin, suaranya kembali dipenuhi racun.

Zoya melirik ponselnya, lalu menatap Arvin. "Tuan, dia hanya mengantar catatan..."

"Katakan padanya untuk membuang catatan itu ke tempat sampah!" Arvin mencoba bangkit, namun rasa pening membuatnya kembali terjatuh ke bantal. "Jika kau keluar menemui dia, aku bersumpah, Zoya... aku akan menyuruh keamanan untuk menyeretnya pergi dengan cara yang paling memalukan."

Zoya menatap Arvin dengan tatapan sedih. "Tuan, Kau sedang sakit. Jangan menguras tenaga untuk cemburu pada hal yang tidak ada."

"Siapa yang cemburu?!" Arvin berteriak parau. "Aku hanya tidak ingin ada sampah di depan rumahku! Usir dia sekarang, atau aku yang akan turun dengan tangan terinfus ini!"

Zoya menyadari Arvin tidak bisa diajak bicara logika saat ini. Ia mengambil ponselnya, jarinya bergerak cepat mengetik pesan pada Liam, memohon agar pria itu pergi dan menitipkan catatannya pada resepsionis saja.

"Sudah, Tuan. Dia sudah pergi," ucap Zoya setelah beberapa saat.

Arvin mendengus, namun dadanya masih naik turun karena emosi. Ia menutup matanya, berusaha mengatur napas. "Masuklah ke kamarmu. Aku ingin sendiri."

Zoya tidak membantah. Ia membereskan peralatan makan dan nampan. Sebelum keluar, ia membetulkan selimut Arvin dan meredupkan lampu kamar.

"Selamat istirahat, Tuan. Jika butuh sesuatu, tekan bel di samping tempat tidur. Aku akan segera datang," ucap Zoya lembut.

Saat pintu tertutup, Arvin membuka matanya di kegelapan. Ia menatap selang infus yang menancap di tangannya. Ia merasa sangat kuat karena bisa mengusir Liam, namun di saat yang sama, ia merasa sangat kecil dan lemah karena menyadari betapa ia begitu bergantung pada kehadiran Zoya.

'Kenapa kau membuatku merasa seperti ini, Zoya ?' batin Arvin.

Ia menyentuh bagian belakang lehernya, tempat di mana tangan Zoya tadi mengusapnya dengan lembut. Rasa hangat itu masih tertinggal, merambat ke seluruh tubuhnya, melawan dinginnya antibiotik yang mengalir di pembuluh darahnya.

Arvin benci perasaan ini. Ia benci kenyataan bahwa pengabdian Zoya mulai melubangi dinding hatinya. Dan ia takut, suatu saat nanti, lubang itu akan cukup besar untuk membiarkan Zoya melihat betapa rapuhnya seorang Arvin Dewangga sebenarnya.

Di luar kamar, Zoya bersandar di pintu yang tertutup. Ia memegang dadanya yang bergemuruh.

Merawat Arvin ternyata jauh lebih melelahkan secara mental daripada fisik. Namun, ia tidak akan menyerah. Jika ini adalah cara untuk melunakkan hati suaminya, ia akan terus berdiri di sana, di balik dinginnya tatapan Arvin, sebagai cahaya yang tak pernah padam.

...----------------...

To Be Continue .....

1
ρυтяσ kang'typo✨
aaaaccchhhhhh 😭😭😭😭😭nyesek q Zo... g tahan u di perlakukan sekeras itu sama Arvin
ρυтяσ kang'typo✨
mau sampe kapan kau bertahan Zoya🥺😤😭🤧ikut kesel dengan tingkah Arvin
zhelfa_alfira
bagus
ρυтяσ kang'typo✨
cara mu salah Vin, u justru memenjarakan Zoya terlalu ketat n mencekik'y, cinta kata mu🤦‍♀️😌
ρυтяσ kang'typo✨
ya Zoya... q pun merasakan'y apa yang kau rasakan saat ini 🥺🥺
Mei 71
Aku tahu rasanya jadi Zoya😢
ρυтяσ kang'typo✨
sadar beneran g nie???? g kumat tah??? 😌😌😌q ragu dengan tempramental mu itu Vin, u mudah terprovokasi oleh seseorang padahal kan kau itu pemimpin tapi... ya syudahlah
ρυтяσ kang'typo✨
apa kau masih isa terprovokasi oleh Nadia agi Vin🥺🥺Zoya... kau memang berhati lembut semoga kau selalu di lapang kan da" agar selalu sabar dengan tingkah Arvin yang seperti kadal😌😌kadang lembut kadang kek monster
YuWie
yakinnnn nanti labil lagi... karakter tokoh di novel ini gak kuat semua.
YuWie
labil banget arvin kie..lagian kok muter2 wae sih konfliknya..percaya ragu..percaya lagi ragi lagi..kapannn majunyq
YuWie
jgn buat zoya lembek donk..kenapa baru di intimadi nadia aja sdh dibuat aku mau pulang...elahhh
Mei 71
Syukurlah Arvin sadar..
ρυтяσ kang'typo✨
Ingat kalian semua...ingat baik" air mata Zoya g akan pernah bisa dilupakan, sakit hati seorang wanita yang kecewa atas suami'y🥺🥺
Mei 71
Lebih menyakitkan daripada dimarahi dengan kata kata . 😢
Mei 71
Wooow...Dengarkan Nadia ? Kamu tuh sampah yang harus dibuang 🤑
ρυтяσ kang'typo✨
pasti sangat menyakitkan buat Zoya, di hina depan mantan dan ibu'y Arvin🥺🥺🥺lalu Arvin sendiri hanya diam
ρυтяσ kang'typo✨
jangan bilang itu pesan dari Nadia👀duh Arvin mudah sekali kena asap
Buku Matcha
Alur Novel yang aku suka, semangat ya thor
ρυтяσ kang'typo✨
uhuk.... hantu cantik bercadar g tuh🤣🤣🤣🤣🤣
mauza SEB
lanjut ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!