Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
POV: WAHYU
Kamis sore, pukul tiga lewat empat puluh lima menit, Wahyu berdiri di depan Cafe Kopi Kita dengan perasaan enggan yang luar biasa.
Dia tidak ingin ada di sini.
Tidak ingin bertemu Riani.
Tidak ingin terlibat dalam... interaksi sosial yang tidak perlu.
Tapi ini tugas kuliah. Nilai mata kuliah Kewirausahaan Sosial bergantung pada project ini. Dan Wahyu tidak bisa mengambil risiko nilai jelek—IPK-nya harus tetap tinggi jika dia ingin dapat beasiswa semester depan.
Jadi mau tidak mau, dia harus datang.
Wahyu menarik napas panjang, lalu mendorong pintu kaca cafe.
Suasana di dalam cukup ramai—mahasiswa-mahasiswa sedang mengerjakan tugas, ngobrol, atau sekadar nongkrong sambil minum kopi. Aroma kopi dan roti bakar memenuhi udara.
Matanya scanning ruangan, mencari...
Dan dia menemukannya.
Riani duduk di meja pojok dekat jendela, bersama dengan dua orang lain—seorang cewek yang Wahyu kenali sebagai Dinda (teman Riani yang pernah dia lihat di SMA dulu), dan seorang cowok berkacamata dengan kemeja kotak-kotak yang mungkin Arman.
Riani mengangkat tangan, melambaikan ke arah Wahyu dengan senyum yang... terlalu ramah.
Wahyu berjalan mendekat dengan langkah pelan. Ekspresinya datar, waspada.
"Wahyu! Sini, duduk." Riani menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Wahyu tidak duduk di sebelah Riani. Dia memilih kursi di seberang—jauh, aman, tidak terlalu dekat.
Riani terlihat sedikit... kecewa? Tapi dia tidak berkomentar.
"Oke, kayaknya sudah lengkap semua," Riani membuka laptopnya. "Kenalan dulu yuk. Wahyu, ini Arman—dia teknik industri semester lima."
Arman mengulurkan tangan. "Halo, Wahyu. Salam kenal."
Wahyu menjabat tangan Arman dengan singkat. "Salam kenal."
"Dan ini Dinda, teman saya dari ekonomi."
Dinda tersenyum—senyum yang agak... canggung. Seperti dia tahu sesuatu tentang Wahyu tapi tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Halo," sapa Dinda.
"Halo," balas Wahyu datar.
Hening sebentar.
Riani cepat-cepat mengisi keheningan. "Oke! Jadi, tugas kita adalah membuat proposal bisnis sosial. Deadline empat minggu, presentasi akhir bulan. Ada ide?"
Arman angkat bicara. "Bisnis sosial itu intinya bisnis yang punya dampak sosial positif, kan? Misalnya... memberdayakan masyarakat lokal atau mengatasi masalah lingkungan?"
"Betul," Riani mengangguk. "Jadi kita harus pilih isu sosial yang mau kita tangani, terus bikin model bisnisnya."
Dinda menambahkan. "Gue pernah baca tentang bisnis sosial yang fokus ke pengolahan sampah plastik jadi produk kerajinan. Mungkin bisa dijadiin referensi?"
"Bagus," Riani mencatat. "Ada ide lain?"
Semua mata sekarang tertuju pada Wahyu.
Wahyu yang dari tadi diam, hanya mendengarkan.
"Wahyu, kamu ada ide?" tanya Riani hati-hati.
Wahyu terdiam sebentar. Sebenarnya dia punya ide—sejak membaca deskripsi tugas kemarin, otaknya sudah otomatis menganalisis berbagai kemungkinan. Tapi dia ragu untuk berbicara.
Karena begitu dia berbicara, dia akan... terlibat. Dan dia tidak suka terlibat.
Tapi ini tugas kelompok. Dia tidak bisa diam terus.
"Bantuan hukum gratis," ujar Wahyu akhirnya. Suaranya pelan, tapi jelas.
Semua orang di meja itu menatapnya.
"Bantuan hukum?" Riani mengulangi.
Wahyu mengangguk. "Banyak masyarakat ekonomi rendah yang tidak punya akses ke layanan hukum karena mahal. Kita bisa bikin model bisnis sosial yang menyediakan konsultasi hukum gratis atau murah, dibiayai dari donasi atau kemitraan dengan firma hukum besar."
Hening.
Lalu Arman mengangguk antusias. "Itu... brilian. Dan relevan banget sama kondisi masyarakat kita sekarang."
Dinda ikut mengangguk. "Setuju. Dan unik—jarang yang ngangkat isu akses hukum."
Riani menatap Wahyu dengan tatapan yang... Wahyu tidak bisa baca. Kagum? Terkejut? Atau...
"Ide bagus, Wahyu," Riani bersuara lembut. "Kamu... pasti punya alasan spesifik kenapa pilih tema ini?"
Dan di situlah Wahyu merasa... terancam.
Pertanyaan itu terlalu... personal. Terlalu dekat dengan luka yang dia sembunyikan.
"Tidak ada alasan spesifik," jawab Wahyu cepat. "Cuma... logis. Isu yang relevan."
Riani menatapnya beberapa detik lagi, lalu mengangguk. "Oke. Kalau begitu, kita sepakat pakai ide ini?"
Arman dan Dinda kompak mengangguk.
"Oke, deal." Riani mulai mengetik di laptop. "Sekarang kita harus breakdown: siapa yang ngerjain apa. Ada empat bagian utama dalam proposal: analisis masalah, model bisnis, strategi pelaksanaan, dan proyeksi keuangan."
Arman angkat tangan. "Gue bisa handle strategi pelaksanaan. Itu termasuk operation management, kan? Sesuai background gue."
"Perfect," Riani mencatat. "Dinda, kamu mau proyeksi keuangan?"
"Boleh. Sesuai jurusan gue juga," Dinda setuju.
"Oke. Terus Wahyu, kamu yang paling ngerti hukum, jadi... analisis masalah dan aspek legal? Kamu bisa jelaskan kenapa akses hukum itu penting, plus regulasi terkait."
Wahyu mengangguk. "Bisa."
"Great. Berarti aku yang handle model bisnis sama nyusun final proposal-nya." Riani tersenyum. "Kita bagi deadline per minggu ya. Minggu pertama: research dan draft awal masing-masing. Minggu kedua: combine semua bagian. Minggu ketiga: revisi. Minggu keempat: finalisasi dan latihan presentasi."
Semua sepakat.
"Oke, berarti minggu depan kita meet lagi untuk diskusi progress masing-masing. Kamis jam yang sama?" Riani menatap semua orang.
Arman dan Dinda mengangguk.
Wahyu diam sebentar, lalu mengangguk juga.
"Perfect!" Riani menutup laptopnya. "Thank you everyone. Ini akan jadi project yang bagus, aku yakin."
Meeting selesai. Arman pamit duluan—dia ada kelas sore. Dinda juga pamit—dia janjian dengan pacarnya.
Tinggal Riani dan Wahyu.
Wahyu langsung berdiri, berniat langsung pergi.
Tapi Riani memanggilnya. "Wahyu, tunggu sebentar."
Wahyu berhenti, tapi tidak duduk kembali. Dia berdiri di samping meja, menatap Riani dengan tatapan waspada.
Riani berdiri juga, berdiri di hadapan Wahyu dengan jarak yang... cukup dekat tapi tidak terlalu dekat.
"Aku... mau minta maaf," ujar Riani pelan.
Wahyu mengerutkan kening. "Maaf untuk apa?"
"Untuk... Minggu kemarin. Di minimarket. Kamu bilang aku mengikutimu, dan aku... mungkin memang terlalu invasive. Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman."
Wahyu tidak menjawab.
Riani melanjutkan. "Aku tahu kamu... nggak suka orang yang terlalu dekat. Aku ngerti itu sekarang. Jadi... aku janji, aku nggak akan maksa. Kalau kamu nggak mau interact di luar tugas kelompok, aku respect itu."
Wahyu menatap Riani.
Tatapan matanya... tulus.
Tidak ada agenda tersembunyi. Tidak ada manipulasi. Cuma... permintaan maaf yang jujur.
Dan itu... membuat Wahyu sedikit... bingung.
Karena dia tidak terbiasa dengan ketulusan.
"Oke," jawab Wahyu akhirnya. "Aku... terima."
Riani tersenyum tipis. "Terima kasih."
Hening sebentar.
Lalu Riani bertanya dengan hati-hati. "Boleh aku tanya satu hal?"
Wahyu langsung waspada lagi. "Apa?"
"Ide bantuan hukum gratis tadi... itu beneran cuma karena logis? Atau... ada alasan personal?"
Wahyu merasakan dadanya sesak.
Dia tahu pertanyaan ini akan muncul. Tapi dia tetap tidak siap.
"Bukan urusanmu," jawab Wahyu dingin.
Riani tidak terlihat tersinggung. Dia hanya mengangguk. "Oke. Maaf kalau terlalu personal."
Wahyu tidak menjawab. Dia berbalik, berjalan menuju pintu keluar.
Tapi sebelum keluar, dia mendengar suara Riani dari belakang.
"Wahyu."
Dia berhenti, tapi tidak menoleh.
"Terima kasih... sudah datang hari ini. Aku tahu ini nggak mudah buat kamu."
Wahyu terdiam.
Lalu dia melangkah keluar tanpa menjawab.
Malam harinya, Wahyu duduk di meja belajarnya, membuka laptop.
Dia mulai research untuk bagian analisis masalah dalam proposal.
Googling: "Akses hukum masyarakat ekonomi rendah Indonesia"
Muncul berbagai artikel. Wahyu membaca satu per satu, mencatat poin-poin penting:
• Hanya 30% masyarakat miskin di Indonesia yang punya akses ke bantuan hukum.
• Biaya pengacara rata-rata Rp 5-20 juta per kasus—tidak terjangkau untuk keluarga dengan penghasilan di bawah UMR.
• Banyak kasus ketidakadilan yang tidak terselesaikan karena korban tidak mampu membayar pengacara.
Wahyu berhenti di poin terakhir.
Kasus ketidakadilan.
Seperti kasus ayahnya.
Ayahnya bisa dapat pengacara—Pak Hendra—karena keluarga mereka menjual aset. Mobil, motor, bahkan perhiasan ibu. Semua dijual untuk bayar biaya pengacara.
Tapi bagaimana dengan orang yang tidak punya aset untuk dijual?
Mereka hanya... menerima nasib.
Wahyu merasa dadanya sesak lagi.
Dia menutup laptop. Menatap langit-langit kamar.
Riani tadi bertanya apakah ada alasan personal di balik ide bantuan hukum gratis.
Jawabannya... iya.
Sangat personal.
Tapi Wahyu tidak bisa bilang itu.
Karena begitu dia bilang, Riani akan tahu. Akan tahu tentang kasus ayahnya. Akan tahu tentang luka yang Wahyu sembunyikan.
Dan Wahyu tidak siap untuk itu.
Tidak sekarang.
Mungkin tidak akan pernah.
Wahyu berbaring di kasur. Menutup mata.
Tapi tidur tidak datang dengan mudah.
Yang datang adalah wajah Riani.
Senyumnya yang tulus.
Permintaan maafnya yang jujur.
Dan pertanyaannya yang... terlalu dekat dengan kebenaran.
Wahyu membuka mata.
"Berhenti memikirkannya," gumamnya pada diri sendiri.
Tapi lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
Bersambung.....