NovelToon NovelToon
Long Wait

Long Wait

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Davina Auroraaa

LONG WAIT

Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.

Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.

Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.

Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Sandera Yang Mengamati

Gelap gulita.

Baru saja lampu sorot di atap gudang padam, suasana di dalam ruangan besi itu berubah jadi neraka kecil bagi para penjaga.

"Woi! Lampunya kenapa?!" teriak salah satu penjaga, suaranya panik.

"Senter! Cari senter! Sistem kunci pintu kebuka sendiri!"

"Pistolku macet! Nggak bisa ditembak! Sialan, apa-apaan ini?!"

Kekacauan total. Tapi di sudut ruangan yang paling gelap, di balik tumpukan peti kemas kayu tua, Allbiru justru membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena takut. Melainkan karena tahu.

Dia tahu tanda ini.

Lampu mati serentak. Kunci elektronik terbuka otomatis. Senjata macet.

Ini bukan kecelakaan listrik. Ini pekerjaan tangan dingin seseorang.

Sabiru.

Senyum tipis muncul di bibir Allbiru yang kering dan pecah-pecah. Selama enam jam dia disandera di sini, dipaksa duduk di kursi besi dengan tangan terikat kuat di belakang punggung menggunakan zip-tie plastik yang ketat sampai pergelangan tangannya berdarah dikit. Dia dihina, diancam, dan diabaikan. Rio Pratama bahkan nggak repot-repot menemuinya langsung, cuma menyuruh dua anak buah bodohnya untuk jaga.

"Diam kau! Jangan gerak!" bentak penjaga pertama, namanya Budi, sambil menggebrak meja dekat Allbiru. Dia mencoba menyalakan senter, tapi baterainya seolah habis mendadak. Padahal tadi masih penuh. "Sial! HP juga nggak ada sinyal!"

Penjaga kedua, Joko, sedang asyik membanting-banting pistolnya yang macet. "Gila! Baru aja bisa dipake buat nembak tikus, sekarang jadi barang rongsokan! Siapa yang ngelakuin ini?"

Allbiru tidak menjawab. Dia hanya menunduk, pura-pura ketakutan. Tapi di balik kepala yang tertunduk itu, matanya tajam memindai ruangan.

Dua penjaga. Satu panik dekat meja (kiri). Satu lagi frustrasi dekat pintu (kanan). Pintu utama sudah terbuka sedikit karena sistem elektronik error, tapi terkunci manual dengan rantai besar. Rantai itu kuncinya ada di pinggang si Budi.

Allbiru menarik napas pelan. Rasa sakit di pergelangan tangannya ia abaikan. Otaknya bekerja cepat, sama cepatnya dengan jari-jari Sabiru di laptopnya.

'Sabiru pasti udah di luar,' batin Allbiru. 'Dia butuh waktu buat masuk tanpa ketahuan. Aku harus alihin perhatian mereka. Aku harus bikin mereka lengah.'

"Eh... Mas..." suara Allbiru tiba-tiba keluar. Lemah, gemetar, terdengar seperti gadis yang putus asa.

Dua penjaga itu langsung menoleh. Senter akhirnya menyala redup, sorotannya jatuh ke wajah Allbiru yang pucat pasi.

"Apa sih?! Diem kau!" bentak Budi kasar, mendekat.

"Saya... saya haus," rengek Allbiru, air mata palsu mulai menggenang di matanya (dia aktris handal, lho). "Kepala saya pusing banget. Kalau saya pingsan di sini, nanti Bos Rio marah kan? Katanya saya harus tetap hidup buat jaminan."

Mata Budi melotot. Dia ragu. "Dasar cowok rewel! Tapi... iya juga. Kalau kau mati, kita yang dimarahin Bos."

"Budi, jangan kasih dia minum! Nanti dia makin banyak akal!" sahut Joko dari dekat pintu, masih sibuk dengan pistolnya.

"Ih, Mas Joko jahat banget," Allbiru terisak, tubuhnya menggigil dibuat-buat. "Saya cuma minta air. Lagian, kaki saya kesemutan banget. Bisa tolong longgarkan dikit ikatan kaki saya? Saya janji nggak akan lari. Lah wahi pintu aja masih dirantai gitu."

Allbiru sengaja menyebut 'rantai'. Dia ingin mengalihkan fokus mereka ke arah pintu, menjauhkan Budi dari posisinya yang dekat dengannya.

"Bener juga," gumam Budi. Dia melangkah mendekat, pisau lipat di tangannya berkilau ditimpa cahaya senter redup. "Biar gue longgarkin dikit tali kaki lo. Tapi awas ya, kalau coba-coba lari, gue iris leher lo!"

Budi berjongkok di depan Allbiru, membelakanginya sebagian untuk memotong tali di pergelangan kaki Allbiru.

Ini kesempatan emas.

Tapi Allbiru belum bergerak. Dia butuh gangguan lebih besar lagi. Dia butuh Budi benar-benar lengah.

Tiba-tiba, dari luar gudang, terdengar suara ledakan kecil. BOOM!

Suara petasan? Bukan. Itu suara flashbang buatan Sabiru yang dilempar lewat ventilasi udara!

KRETTT! Cahaya silau menyapu seluruh ruangan sesaat, diikuti suara bising yang memekakkan telinga.

"AARGH! MATAKU!" teriak Budi, refleks menutup mata dan mundur langkah, pisau di tangannya terjatuh ke lantai beton.

Joko di dekat pintu juga terpental, menutup telinganya sambil teriak kesakitan.

Detik itu juga, Allbiru bergerak.

Cepat. Tajam. Instingtif.

Dia tidak lari. Belum saatnya.

Dengan gerakan lincah, dia menyambar pisau lipat yang jatuh di lantai tadi. Dalam satu gerakan fluid, dia menggesekkan bilah pisau itu ke zip-tie yang mengikat tangannya di belakang punggung.

Sret! Sret!

Plastik keras itu terpotong. Tangannya bebas!

Allbiru langsung memijat pergelangan tangannya sebentar, lalu berdiri tegak. Wajahnya yang tadi lemah dan menangis, kini berubah drastis. Matanya tajam, posturnya siap tempur. Dia bukan lagi sandera. Dia adalah mitra perang Sabiru.

"Woy! Mau kemana?!" teriak Budi yang masih buta sesaat, mencoba meraba-raba mencari pisau.

Allbiru tidak menjawab. Dia malah menendang kaleng cat kosong di dekatnya sekuat tenaga ke arah Joko yang sedang bingung di dekat pintu.

PRANG!

Kaleng itu menghantam kepala Joko, membuatnya oleng dan jatuh tersandung kakinya sendiri.

"Makasih ya, Mas, udah longgarin tali kaki saya," ucap Allbiru dingin, suaranya penuh ejekan. "Sekarang giliran saya yang main."

Joko mencoba bangkit, tapi Allbiru lebih cepat. Dia menyambar rantai besi pendek yang tergantung di dinding (bekas alat derek), dan dengan ayunan presisi, dia memukul lengan Joko hingga pria itu menjerit dan melepaskan kunci rantai pintu yang tergantung di sabuknya.

Kling! Kunci itu jatuh.

Allbiru menangkapnya di udara.

"Luar biasa," gumam Allbiru pada dirinya sendiri. Dia melirik ke arah pintu gudang yang gelap. "Sabiru, aku udah bukain jalan dari dalam. Sekarang giliranmu."

Di saat yang sama, dari kegelapan lorong gudang, sosok tinggi ramping muncul. Membawa laptop di satu tangan dan tongkat elektrik di tangan lainnya. Cahaya biru redup dari layar laptop menerangi wajah familiar itu.

"Sabi?" bisik Allbiru, suaranya bergetar, kali ini asli.

Sabiru tersenyum. Senyum lega yang jarang sekali terlihat. "Kerjamu bagus, Kak. Ternyata nggak perlu aku selamatkan secara fisik ya? Kamu udah (menolong diri sendiri)."

"Kita tim, Biru," jawab Allbiru sambil melempar kunci rantai pintu ke arah Sabiru. "Satu buka dari luar, satu buka dari dalam. Lengkap."

Aldo muncul di belakang Sabiru, pistolnya siap. "Wah, ternyata adik iparku juga punya gigi tajam ya. Baguslah, jadi kita nggak perlu khawatir berlebihan."

Tapi pesta belum selesai.

Dari dalam office kecil di ujung gudang, terdengar suara tertawa geram.

Rio Pratama muncul. Wajahnya merah padam, memegang sebuah remote control di tangannya.

"Kalian pikir kalian menang?" geram Rio, napasnya berat. "Lampu mati? Pistol macet? Itu cuma mainan anak-anak! Lihat ini!"

Rio menekan tombol merah di remote tersebut.

DIIIIIT!

Suara dengungan mesin berat terdengar dari bawah lantai gudang. Lantai besi di tengah ruangan mulai bergetar.

"Apa itu?" tanya Aldo waspada.

"Itu bom," jawab Rio sambil sırıtar gila. "Bom termobarik. Cukup untuk meratakan gedung ini beserta isinya dalam 3 menit. Dan satu-satunya cara mematikan bombanya adalah dengan kode yang hanya ada di otakku! Jadi, kalau kalian berani maju satu langkah lagi... KITA SEMUA MATI BERSAMA!"

Sabiru berhenti melangkah. Matanya menyipit menganalisis remote di tangan Rio.

Allbiru mundur selangkah, wajahnya tegang tapi tetap tenang.

"Tiga menit," kata Sabiru pelan, menatap Rio tajam. "Cukup waktu buat aku mengambil remote itu dari tanganmu, atau cukup waktu buat aku meretas sinyal frekuensi remote itu dan mematikannya dari jarak jauh."

"Coba saja!" tantang Rio, jarinya melayang di atas tombol detonator. "Satu tekanan, semuanya selesai!"

Suasana hening mencekam.

Di satu sisi, Sabiru dengan laptopnya yang siap meretas.

Di sisi lain, Allbiru dengan otot-otot yang siap menerjang.

Dan di tengah-tengah mereka, Rio dengan jempol yang siap menekan kematian.

Waktu berjalan mundur.

02:59...

02:58...

02:57...

Siapa yang akan bergerak lebih dulu?

1
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
adududuuuhhhh benih cinta terlarang itu mau dibawa kemana nantinya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
namanya mirip banget...
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Thor agak panjang untuk jadi bab, jadiin dua bab thor. Seseorang pernah berkata padaku, biar enak dibaca pembaca dan lebih terlihat estetikanya, bab novel itu jangan terlalu panjang. kalau sudah dua kalimat atau lebih jadikan bab baru.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
belum pernah ke rumah orang kaya raya nampaknya dia, sampai melongo begitu
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
pribadi seseorang bisa tergambar dari cara seseorang memandang dan melihat yah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
cerita yang menarik thor
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hai Thor aku dah mampir, jangan lupa follback ya aku dah follow
Davina Aurora: sudah aku follback ya ka🥰
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
ini juga bagusss, saya suka👍
Davina Aurora: makasii ka☺️
total 1 replies
Amila FM,IG:amilaeditslife
ya ampun nangis bacanya, jiwa emak2nya keluar
Davina Aurora: makasii ka udah mampirr🤭
total 1 replies
Amila FM,IG:amilaeditslife
terharu 🥲🫠
Davina Aurora: makasii ka😊🩷
total 1 replies
T28J
mantap... panjang ini👍
T28J
hadiir 🙏
Davina Aurora: okee ka makasih ya ka😊
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!