Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Ujian Kecil Membalas Budi dengan Kekuatan Baru
Matahari telah naik tinggi, menyinari Lembah Api Neraka dengan cahaya keemasan. Suasana romantis semalam perlahan berganti menjadi semangat pagi yang membara.
Ren dan Xue Ying duduk berdampingan di atas sebuah batu datar yang hangat. Di hadapan mereka, api unggun kecil menyala, memanggang beberapa potong daging hewan liar yang berhasil ditangkap Ren pagi tadi.
Aroma harum daging panggang bercampur dengan bau rempah yang dibawa Xue Ying membuat perut mereka berbunyi bersahutan.
"Nah, siap dimakan!" Ren dengan bangga menyerahkan sepotong daging paling besar dan matang sempurna kepada Xue Ying.
Xue Ying menerimanya sambil tersenyum manis. "Wah, kau pandai juga memanggang ya. Lebih enak daripada makan roti kering terus."
Mereka tertawa kecil sambil menikmati sarapan pertama mereka sebagai sepasang kekasih. Rasanya sungguh nikmat, bukan hanya karena makanannya, tapi karena kebersamaan itu sendiri.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Ren diam-diam mengamati tangan Xue Ying. Di pergelangan tangan gadis itu, masih terlihat sedikit bekas memar ungu akibat pertarungan kemarin.
Hati Ren terasa perih.
'Dia terluka karena melindungi dirinya yang dulu lemah. Sekarang aku sudah punya kekuatan. Aku harus memastikan... dia tidak perlu lagi mengangkat pedang untuk bertahan hidup. Aku yang akan menjadi perisainya.' batin Ren bertekad bulat.
"Xue Ying," panggil Ren pelan.
"Ya? Kenapa?" Xue Ying menoleh, mulutnya masih mengunyah daging dengan lucu.
"Setelah ini, kita harus pergi kan? Menuju Kota Azure di kaki gunung?"
"Benar. Di sana ada jalan menuju ke pusat benua. Aku harus membawa Pedang Suci dan Batu Roh Biru ini ke tempat yang lebih aman, jauh dari kejaran orang-orang yang mengejarku."
Ren mengangguk. "Baik. Tapi perjalanan ke sana melewati Hutan Rimba Hitam kan? Katanya di sana banyak binatang buas dan perampok."
"Ya, jadi kita harus hati-hati. Kalau ketemu musuh yang terlalu kuat, kita akan lari..."
"Tidak." Ren memotong kata-kata Xue Ying dengan tegas namun lembut. "Mulai sekarang, tidak ada lari-lari lagi. Aku yang akan membuka jalan. Aku ingin kau melihat... apa yang bisa kulakukan dengan kekuatan baruku."
Xue Ying tertegun sejenak, lalu tersenyum mengerti. Ia mengangguk patuh. "Baiklah. Aku percaya padaku, Ren."
Beberapa jam kemudian, mereka memasuki wilayah Hutan Rimba Hitam.
Suasana di sini jauh berbeda dengan lembah tadi. Pohon-pohon besar menjulang tinggi, daunnya begitu lebat hingga sinar matahari pun sulit menembus, membuat suasana di dalam hutan terasa gelap dan mencekam.
Suara desisan ular dan auman binatang buas terdengar dari segala arah. Energi di sini juga terasa lebih ganas dan liar.
Waspada bocah. Ada banyak mata yang mengawasi. Hutan ini adalah wilayah kekuasaan Kelompok Serigala Darat. Mereka adalah pemburu bayaran yang kejam, peringatan Naga Emas di dalam kepala Ren.
"Aku tahu," jawab Ren dalam hati. Matanya kini berubah tajam, bisa melihat jejak-jejak kaki di tanah dan getaran udara yang tidak normal.
Tiba-tiba...
WUSH! WUSH!
Puluhan anak panah melesat keluar dari balik semak belukar, mengarah tepat ke arah mereka berdua dengan kecepatan mematikan!
"Ren!!" seru Xue Ying reflex, tangannya sudah mencengkeram gagang pedang, siap menghunus dan menangkis.
Namun, Ren lebih cepat.
"Biarkan aku!"
Ren tidak mundur, malah melangkah maju selangkah, berdiri di depan tubuh Xue Ying. Ia mengangkat tangan kanannya, telapak tangan terbuka menghadap hujan panah itu.
"Hahh!!"
Ren menghembuskan napas panjang dengan tenaga.
BOOM!!
Gelombang angin padat meledak dari telapak tangan Ren!
TRING! TRING! DRAT! DRAT!
Semua anak panah itu terpental jauh sebelum bisa mendekat, sebagian patah, sebagian tertanam di batang pohon sekitarnya.
"Wah?!" seru Xue Ying takjub di belakangnya.
Dari balik pepohonan, terdengar teriakan kaget.
"Apa?! Anak panah tidak mempan?!"
"Serang! Jangan biarkan mereka hidup!"
Puluhan orang keluar dari persembunyian. Mereka mengenakan baju kulit binatang, wajah mereka garang dan membawa senjata tajam. Jumlah mereka ada sekitar dua puluh orang, jauh lebih banyak dari tadi.
Pemimpin mereka, seorang pria tinggi besar dengan wajah bercukur habis, melangkah maju sambil tertawa keras.
"Hahaha! Lihat apa yang kita dapat! Seorang bocah mentang-mentang dan seorang gadis cantik! Mana pedang dan batu itu? Serahkan sekarang, atau kami akan membuat kalian menderita sebelum mati!"
Orang-orangnya pun ikut tertawa meremehkan. Mereka tidak melihat ancaman apa pun dari Ren yang terlihat masih muda dan kurus.
"Kalian... adalah orang pertama yang mencoba menghalangi jalanku setelah bangkit," Ren berbicara pelan, suaranya dingin dan tenang. "Biasanya, aku akan membiarkan kalian hidup dengan sedikit pelajaran. Tapi hari ini... aku sedang tidak ingin main-main."
Ren menunjuk tanah di hadapannya.
"Berlutut, minta maaf, dan pergi dari sini selagi aku masih baik hati. Atau... kuburan ini akan menjadi rumah akhir kalian."
"APA? BERANI KAU MENYURUH KAMI BERLUTET?!" Pemimpin itu marah besar. "Bunuh bocah ini dulu! Gadisnya tangkap hidup-hidup!"
"DASAR SAMPAH!!"
Dua puluh orang itu menerjang serentak! Teriakan mereka menggelegar memecah keheningan hutan.
Xue Ying di belakang Ren memegang erat pedangnya, siap membantu, namun ia melihat punggung Ren yang begitu kokoh dan yakin. Ia memutuskan untuk menunggu, ingin melihat seberapa jauh kekuatan kekasihnya itu.
Ren berdiri diam. Saat musuh-musuhnya tinggal tiga meter...
"Teknik Naga: Pukulan Gelombang Laut!"
Ren mengayunkan tinjunya ke kiri dan ke kanan dengan gerakan memutar.
DORRR!!! DORRR!!!
Dua gelombang kejut berbentuk kepala naga tak kasat mata meledak keluar!
Suara bentakannya begitu keras hingga burung-burung di pohon terbang berhamburan ketakutan.
Orang-orang di barisan depan langsung terhantam. Tubuh mereka yang berat seberat ratusan kilogram terlempar seperti boneka kain, menabrak teman-temannya di belakang hingga berjatuhan bertumpuk-tumpuk seperti domino.
Hanya dalam dua pukulan! Dua puluh orang itu sudah terlengkung kesakitan, tak bisa bangun lagi.
Hanya tersisa sang pemimpin yang berhasil menahan serangan dengan senjatanya, namun kakinya sudah terbenam ke dalam tanah hingga betis karena tekanan kekuatan yang luar biasa.
Wajah pria itu pucat pasi, keringat dingin membanjir.
"Kau... kau ini iblis apa?!"
Ren tidak menjawab. Ia berjalan perlahan mendekati pria itu. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Ia berhenti tepat di hadapan pemimpin yang gemetar ketakutan itu.
"Aku hanya... membalas budi," bisik Ren.
Ia mengangkat tangannya, siap memberikan pukulan terakhir yang mematikan.
"AMPUN!!! AMPUN TUAN!! JANGAN BUNUH SAYA!!" pria itu berteriak histeris, langsung menjatuhkan senjatanya dan berlutut memohon. "Saya bodoh! Saya buta! Tolong ampuni nyawa saya!"
Ren menatapnya dengan tatapan dingin.
Hancurkan saja, bocah. Mereka jahat, kata Naga Emas.
Namun Ren menghela napas, lalu menurunkan tangannya.
"Pergi. Katakan pada siapa pun di hutan ini. Mulai hari ini, siapa pun yang ingin menyakiti gadis di belakangku... harus melewati mayatku dulu. Atau lebih tepatnya... melewati kekuatan Naga ini!"
Suara terakhir Ren ditekankan dengan aura yang begitu mengerikan.
"SI- SIAP!! TERIMA KASIH TUAN!!"
Pria itu tidak perlu disuruh dua kali. Ia bangkit dan lari terbirit-birit bersama anak buahnya yang masih bisa berjalan, menghilang cepat ke dalam hutan, tak berani menoleh ke belakang lagi.
Hutan kembali sunyi.
Ren menghembuskan napas panjang, lalu menoleh ke belakang dengan wajah yang kembali lembut dan sedikit canggung.
"Itu... bagaimana? Apakah cukup keren?" tanyanya ragu-ragu.
Xue Ying menutup mulutnya sambil tertawa kecil, lalu bertepuk tangan pelan.
"Sangat keren! Pangeranku yang hebat!" puji Xue Ying tulus. Ia berlari kecil mendekati Ren, lalu tanpa ragu-ragu, ia meraih tangan Ren dan menggenggamnya erat.
"Tapi Ren... kau tadi sangat galak. Tapi... aku suka," bisik Xue Ying sambil memalingkan wajah yang memerah. "Rasanya aman sekali berada di belakangmu."
Mendengar pujian itu, dada Ren terasa kembang kempis. Rasa lelah dan tegang langsung hilang berganti dengan semangat yang membara.
"Tentu saja! Selama aku ada, tidak ada satu pun duri yang boleh melukai tanganmu," kata Ren penuh percaya diri.
Ia mengangkat tangan mereka yang saling menggenggam, lalu menatap mata gadis itu.
"Ini baru permulaan, Xue Ying. Ujian kecil ini hanyalah cara memberitahu dunia... bahwa kita sudah datang."
Mereka pun kembali melangkah, berjalan berdampingan menuju cahaya di ujung hutan, siap menghadapi petualangan dan tantangan yang lebih besar lagi di depan mata.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭