Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. WATACI
"Dasar mesum!" teriak Nika.
Bruk!
Nika menendang kuat tubuh Adnan hingga terjungkal ke lantai.
"Akkkh!" Adnan merintih kesakitan.
"Kamu menendangku?" pekik Adnan sambil melotot ke arahnya.
Nika tak mau kalah, ia juga ikut melotot tajam ke arah Adnan. "Iya. Orang mesum sepertimu pantas mendapatkannya."
Adnan seketika geram saat Nika mengatainya mesum. Ia berdiri tegak dengan mengepalkan kedua tangan.
"Enak saja. Aku tidak mesum. Aku tadi mengira sedang mimpi memegang scuaisy, jadi jangan salah faham," jelas Adnan dengan pipi memerah.
Bantal yang ada di samping Nika ia lempar ke arah Adnan. "Tidurlah di lantai. Aku gak mau tidur denganmu lagi."
Nika lalu kembali berbaring membelakanginya. Sementara Adnan hanya bisa pasrah jika harus tidur di lantai malam ini.
Ia menggelar kasur lantai dan berbaring dengan gelisah. Gelisah karena merasa bersalah pada Nika. Ia berjanji tak akan menyentuh wanita lain tapi justru ia baru saja menyentuh wanita yang bahkan dibencinya.
Setelah beberapa menit Nika benar-benar terlelap karena lelah. Saat ia berbalik Adnan yang belum tidur tepat menghadap ke arahnya.
"Dia terlihat berbeda saat tidur seperti itu. Wajah polosnya benar-benar menggemaskan. Sangat berbeda saat ia berperan menjadi Bu direktur," gumam Adnan yang tanpa sadar terus menatapnya.
Adnan segera menggeleng cepat. "Adnan apa yang kamu lakukan, hah! Kamu itu sudah punya Vivian wanita yang sangat kamu cintai. Jangan berfikir yang macam-macam."
Ia mencoba menyadarkan fikiran yang mulai melenceng. Ia kembali menekankan pada diri sendiri jika pernikahan ini tak ayal hanya sebuah bisnis.
–––––––––––
Keesokan paginya, Nika sudah kembali pulih bahkan ia berpenampilan serba hitam dengan riasan yang tajam.
Melihat kakaknya berpenampilan seperti itu Elano menelan silvanya. Ia tahu betul hari ini dia tidak boleh membuat masalah yang bisa membuat kakaknya itu kesal, sebab kakaknya sedang dalam suasana hati yang kurang baik.
"Nika. Ayo sarapan!" ajak sang ibu.
"Hari ini aku akan sarapan di kantor. Banyak masalah yang harus aku urus," sahutnya sambil berlalu.
Adnan yang baru keluar dari dalam lift menunduk, menyapa sang mertua saat melihat Karina mertuanya.
"Ma, saya permisi," katanya ikut berlalu.
Karina hanya bisa mengangguk. "Ada apa lagi dengan mereka. Baru beberapa hari jadi pengantin, tapi tidak ada sama sekali aura pengantin barunya."
Elano menenggelamkan wajahnya dalam tak ingin terlibat dengan masalah orang dewasa.
Di dalam mobil Nika sudah sibuk dengan beberapa daftar karyawan yang akan di pecatnya.
Sementara di mobil lain Adnan juga sedang menyusun rencana jika ada gugatan walaupun dalam hati sebenarnya enggan.
Tak lama mobil mereka berhenti tepat di depan lobi. Nika keluar dengan aura kematian. Semua mulai gelisah saat atasannya itu berpenampilan seolah siap tempur.
"Pagi, Buk," ucap mereka serempak saat Nika melewati mereka.
Nika tak menoleh, tatapannya dingin menusuk. Ia terus berjalan menuju ruangannya.
Sedang Adnan yang baru keluar dari dalam mobil segera disambut oleh Lucas sang asisten sekaligus sahabatnya.
"Wah aura pengantin baru, nih. Semalam gak bisa tidur ya, Bos?" ledek Lucas sambil menyenggol bahunya.
Adnan mengangkat tangan seolah hendak memukul. "Jangan sembarangan. Kurang tidur memang ia, karena aku tidur di lantai."
Lucas membelalak sambil menahan tawa. "Jadi ,nasibmu memprihatinkan seperti itu. Jadi istri direktur memang serem, ya."
"Udah jangan ribut. Hari ini kita akan sibuk," ujar Adnan sambil berjalan menuju ruangannya.
Di ruangan Nika. Seorang manager berdiri dengan gugup.
Nika membuka dan membaca berkas laporan yang ia berikan. Matanya fokus, jarinya mengetuk meja dengan tak sabar.
"Kenapa bisa penjualan anjlok seperti ini. Padahal awal peluncuran baik-baik saja," tanyanya mengintimidasi.
"Maaf Buk. Tapi belakangan penjualan memang menurun. Produk kita tidak laku di pasaran, katanya mereka banyak yang tidak cocok dan iritasi," jelas sang manajer.
Nika menutup map dengan kasar dan membantingnya. "Mana mungkin! Jelas-jelas aku yang mengawasinya sendiri. Sekarang, ambil beberapa sample dari lapangan aku ingin menguji kandungannya."
"Ba ... Baik," kata manajer terbata. Ia lalu pergi keluar ruangan dengan gugup.
Nika menatap ke arah pintu dengan tatapan penuh amarah.
"Aku psti menangkap kalian semua, para tikus."
Karena merasa sesak dan frustasi dengan beban kerja yang berat, Nika memutuskan untuk mencari udara segar.
langkahnya membawanya menuju lantai atap, dimana ia bisa melupakan semua rasa kesalnya.
Begitu ia membuka pintu ia melihat Adnan tengah berbicara di telepon.
"Baiklah aku akan pulang malam ini. Tapi kamu jangan pernah lagi datang padaku tanpa kabar, oke. Aku tidak ingin dia sampai menyakiti mu," ucap Adnan tanpa menyadari kehadiran Nika.
"Ehem ... " Nika berdehem pelan hingga membuat Adnan berbalik dan segera mematikan ponselnya.