Nikah? itu adalah hal yang paling dihindari oleh Yiwa saat ini, nanti atau sampai kapanpun itu. Bahkan di kamus hidupnya pun kayaknya gak ada tuh yang namanya 'nikah'.
Tapi balik lagi, kalau takdir udah ditentukan, mau jungkir balik salto pun akan tetap gak bisa dihindari lagi.
Satu hal yang disesali Yiwa, harusnya dia gak usah ikut mbahnya lihat acara desa malam itu atau justru seharusnya ia gak usah pulang ke desa sekalian. Tapi kalau gitu malah kasihan mbahnya gak ketemu cucu satu-satunya ini.
namun setelah kejadian itu justru cucunya ini yang harus dikasihani.
Karena apa? karena Yiwa, cucu satu-satunya Mbah ini harus dinikahkan dengan pemuda desa yang cukup disegani disana.
Yiwa sampai bingung, gimana bisa orang sekaku ini bisa punya jabatan penting di desa. Dan sialnya, dialah yang akan jadi istrinya.
Tapi mau bagaimana lagi, Yiwa cuma bisa pasrah sambil misuh-misuh tentunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Video call
Hari sudah sangat sore, ketika Nara dan Yiwa sampai di rumah. Padahal Yiwa inginnya makan di tempat. Tapi Nara menolak karena sudah mau malam. Yiwa cuma nurut aja, soalnya takut di culik setan lagi.
Yiwa membawa mi ayamnya ke dapur, untuk memindahkannya ke dalam mangkok. Sedangkan Nara sudah pergi ke kamar untuk mandi.
Yiwa jadi hapal kalau Nara tuh setiap pulang dari luar pasti langsung mandi. Ia pun tak paham kenapa begitu.
Setelah memindahkan mi ayamnya ke dalam mangkok, Yiwa juga membuat dua gelas es teh.
Lalu membawanya ke ruang tengah. Menyalakan televisi dan duduk lesehan dengan punggung menyandar ke sofa. Posisi paling nyaman dengan satu kaki di tekuk. Sudah seperti bapak-bapak makan di warung.
Tak berselang lama, Nara datang. Bajunya sudah ganti pakai kaos lengan pendek tapi tetap celananya panjang. Wajah tampannya nampak segar. Beda dengan Yiwa. Prinsipnya mandi sekali aja cukup yang penting cuci muka sama gosok gigi.
Yiwa terkejut saat Nara memilih duduk di sampingnya daripada duduk di sofa. Kan secara Nara itu terlihat sangat sempurna.
"Mregapati itu nggak makan ya?" tanya Yiwa.
"Tidak. Mregapati cukup meditasi untuk memulihkan diri." Jawab Nara.
"Bisa gitu ya?"
Nara tersenyum, "Kamu lupa kalau Mregapati bukan manusia?"
"Ya siapa tahu harus makan bunga mawar atau ayam mentah gitu."
Nara terkekeh, "Kamu kebanyakan nonton film."
"Biarin." Yiwa kembali melanjutkan makannya.
Drttt drttt drttt
Ponsel Yiwa yang berada di meja bergetar panjang. Sebuah panggilan masuk.
Setelah ribuan purnama, akhirnya ponsel Yiwa kembali ada fungsinya.
Yiwa segera mengambil ponselnya. Dan nama Malvin tertera di tengah layar. Ia segera menggeser tombol hijau lalu mengganti panggilan suara itu menjadi panggilan video.
Wajah Malvin langsung muncul memenuhi layar ponsel. Nara yang berada di sampingnya melirik sekilas. Ia ingat obrolannya dengan Sandi dulu, tentang siapa Malvin. Tapi Nara tidak berkomentar apa-apa. Ia memilih melanjutkan makannya.
"Halo, Vin!"
"Weh! Lo kemana aja njir? ngilang gak ada kabar!"
"Ya sorry. Gue tuh pulang ke rumah mbah gue."
"Seenggaknya kabarin gue lah. Tante Maya nanyain lo."
Mendengar nama itu di sebut, Yiwa langsung terdiam dan raut wajahnya menjadi sendu.
"Wa? Lo nggak papa kan?"
"Gue nggak papa, Vin."
"Lo kenapa tiba-tiba pindah ke desa sih?"
"Gue cuma mau cari suasana baru aja, Vin. "
"Bukan buat kabur kan?"
"Vin, jangan bahas ini ya?"
Di seberang sana, Malvin menghela napas. "Iya. Yiwa, gue tuh mau elo bahagia. Dan kalau di desa bisa buat lo lebih bahagia dan nyaman. Gue ikut seneng."
"Gue bahagia kok!"
"Iya-iya, seneng deh dengernya. Tapi serius gue kangen banget sama lo njir!"
Nara yang mendengar itu langsung tersedak. Seingatnya status mereka itu mantan, tapi kok kangen-kangenan. Emang boleh ya seperti itu. Dan Malvin di seberang sana menyipit curiga karena mendengar suara laki-laki di samping Yiwa.
"Wa! jujur lo lagi sama siapa? Mbah lo kan perempuan. Itu suara siapa?"
"Vin, tenang dulu."
"Gimana gue bisa tenang. Lo lagi di tempat jauh. Kalo sampe kenapa-kenapa gimana?"
"Iya. Vin, gue mau ngomong sesuatu."
"Apa?"
"Gue udah nikah."
"What the fuck! Lo? Anjir lo, wa! Lo seriusan ini?"
Yiwa hanya mengangguk.
"Dan di samping lo itu suami lo?"
Yiwa mengangguk lagi.
"Gue nggak tahu udah terjadi apa aja di desa itu sampai lo mau nikah kayak gini. Tapi Wa, lo yakin dengan keputusan lo?"
Yiwa diam.
"Udahlah. Kapan-kapan gue mau ambil cuti. Mau gue pastiin sendiri keadaan lo di sana kayak gimana."
"Iya, Vin. Gue titip salam ke Tante Maya."
"Iyaa, Ya udah gue matiin dulu. ada pelanggan."
Yiwa mengangguk. Lalu panggilan berakhir.
Nara memperhatikan Yiwa dalam diam. Sejak panggilan video berakhir, wajahnya menjadi sendu.
"Lo nggak mau nanya tadi itu siapa?" lirih Yiwa.
Nara menggeleng. "Kalau kamu belum mau bercerita, saya juga tidak akan memaksa."
Yiwa menghela napas. Ia menaruh mangkok yang sudah kosong itu ke meja di depannya. "Dia Malvin. Mantan gue."
Nara diam, ia menunggu Yiwa bercerita.
"Gue nggak tahu harus cerita dari mana, tapi Malvin itu lebih dari sekedar mantan. Bahkan kita pacaran cuma tiga hari." Yiwa tersenyum mengingat dulu ia dan Malvin pacaran cuma 3 hari. Awalnya mereka itu sahabat, lalu coba-coba buat pacaran. Eh! malah jadi aneh rasanya, akhirnya mereka putus dan jadi sahabatan lagi.
"Sangat jarang ada sahabat yang benar-benar tulus seperti itu. Kamu dan dia beruntung saling memiliki."
"Gue seneng dengar respon lo."
Nara menatap lekat wajah Yiwa. Lalu tersenyum.
"Seperti yang Malvin bilang, Kamu harus bahagia, Yiwa."
Yiwa langsung menoleh pada Nara. Pandangan keduanya bertemu. Untuk sesaat Yiwa membeku melihat bagaimana tatapan teduh milik Nara. Sangat menenangkan.
Yiwa buru-buru mengalihkan pandangannya. Ia agak salting di tatap sedalam itu sama Nara. "Apaan sih!"
Nara tertawa pelan.
"Jadi lo tadi nguping?"
"Kamu disamping saya, jelas saya dengar."
"Alasan!" Yiwa segera membawa piring dan gelas yang sudah kosong milik mereka berdua ke dapur. Sekalian kabur.
Nara masih duduk di tempatnya, melihat punggung Yiwa yang mulai menjauh.
Ia menggelengkan kepalanya.
"Wah, Raden sepertinya semakin jatuh cinta."
Nara langsung merubah ekspresinya menjadi serius. "Diam kamu, Mregapati. Kamu itu tidak tahu apa itu cinta. Karena kamu tidak pernah merasakannya."
Mregapati mendengus. "Bahkan bicara raden sudah seperti Yiwa. Menyakitkan."
...♡Bersambung♡...
Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile saya. Terima kasih /Smirk/