NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Hari H balapan resmi kelas 250cc di Sirkuit Sentul akhirnya tiba. Tribun penonton dipenuhi oleh sorak-sorai pecinta otomotif. Di barisan paling depan paddock, tim AL-Z Auto Clinic sudah siap sedia. Semua mesin motor dalam kondisi prima—hasil oprekan tangan dingin Alexa dan Rio semalam suntuk tanpa tidur.

"Oke, dengerin gue berdua!" Alexa berdiri di depan Zyan dan Gavin sambil memegang papan strategi, gayanya sudah mirip manajer tim MotoGP kelas dunia. "Gak ada sabotase, gak ada main curang. Di lintasan ini, semuanya bersih. Gue mau lo berdua nunjukin siapa yang paling punya teknik!"

Gavin memakai helmnya, lalu menatap Zyan yang sedang melakukan peregangan terakhir. "Gimana, Pak Direktur? Badannya masih bau balsem sisa jatuh kemarin? Kalau takut, posisi start lo bisa gue gantiin nih."

Zyan tersenyum tipis, mengunci helm emasnya dengan bunyi klik yang mantap. "Balsem kemarin itu adalah jimat keberuntungan saya, Gavin. Hari ini, kamu yang akan melihat lambang emas Arsalan dari belakang."

"Sombong! Kita liat di lintasan!" Gavin terkekeh.

Di garis start, posisi grid memperlihatkan Gavin berada di posisi kedua, sementara Zyan—berkat catatan waktu latihan sorenya yang meningkat drastis—berada tepat di posisi ketiga, di belakang Gavin. Alexa berdiri di pinggir lintasan, memberikan kecupan jauh (flying kiss) yang entah ditujukan untuk siapa, membuat kedua pria itu langsung memutar gas motor masing-masing sampai raungan mesinnya memekakkan telinga.

GREEN LIGHT! VROOOOOOOM!

Begitu lampu hijau menyala, puluhan motor sport melesat bak anak panah lepas dari busurnya. Gavin melakukan start yang sangat impresif, langsung merangsek naik ke posisi pertama di tikungan pertama. Zyan tidak tinggal diam. Dengan ketenangan seorang eksekutif yang biasa mengambil keputusan krusial di ruang rapat, dia menjaga ritme motornya, tidak terburu-buru, dan mengambil jalur dalam (inside line) untuk mengamankan posisi kedua.

"Bagus, Om! Jaga ritme!" teriak Alexa dari pit wall, matanya tidak lepas dari layar monitor pencatat waktu.

Lap demi lap berlalu. Persaingan di barisan depan mengerucut menjadi duel sengit antara Gavin dan Zyan. Gavin membawa motornya dengan gaya agresif, khas pembalap jalanan yang berani mengambil risiko tinggi di setiap tikungan. Sementara Zyan berkendara dengan sangat presisi, seolah setiap jengkel aspal sudah dia hitung menggunakan rumus matematika.

Sisa 2 lap terakhir. Jarak antara Zyan dan Gavin hanya terpaut 0,2 detik.

Di tikungan terakhir yang terkenal paling menantang, Gavin sedikit melebar karena terlalu bernafsu menutup jalur. Zyan melihat celah kecil itu. Itu adalah momen "sekarang atau tidak sama sekali".

Zyan merebahkan motor emasnya sampai batas maksimal, lututnya bergesekan dengan aspal sirkuit menghasilkan percikan kecil. Dengan teknik late braking yang sempurna yang pernah dia pelajari dari Alexa, Zyan berhasil menusuk dari sisi dalam dan mengambil alih posisi terdepan tepat di lurusan utama!

"OM ZYAN MIMPIN!!! GILA, OM DUDA GUE KEREN BANGET!" Alexa melompat-lompat kegirangan sampai memeluk Rio yang ada di sampingnya. Rio sampai sesak napas karena pelukan monster Alexa.

Gavin mencoba mengejar di sisa meter terakhir, memeras seluruh tenaga motornya, tapi Zyan sudah mengunci jalurnya dengan sangat rapat.

CHEQUERED FLAG!

Zyan Arsalan melintasi garis finish di posisi pertama! Dia memenangkan balapan!

Di area parc fermé (tempat parkir pemenang), suasana pecah. Begitu Zyan turun dari motor dan membuka helmnya, Alexa langsung berlari dan melompat ke pelukan Zyan. Zyan menangkap tubuh mungil istrinya itu, memutarnya di udara di tengah jepretan kamera wartawan.

"Lo menang, Om! Lo beneran menang! Gila, Direktur gue ternyata bisa jadi pembalap nomor satu!" Alexa berteriak di telinga Zyan.

Zyan yang napasnya masih terengah-engah, dengan wajah penuh keringat, menatap Alexa dengan mata yang berbinar bahagia. "Saya kan sudah janji, Pelatih. Kemenangan ini untuk kamu. Dan untuk membuktikan kalau saya tidak cuma bisa bayar tagihan bengkel."

"Hahaha! Keren banget lo hari ini!" Alexa mencium pipi Zyan yang masih panas karena hawa sirkuit.

Tiba-tiba, sebuah tepuk tangan terdengar dari belakang mereka. Gavin berjalan mendekat, melepas helmnya, memperlihatkan rambutnya yang basah oleh keringat. Wajahnya tidak terlihat marah atau kecewa, melainkan ada senyum tulus yang mengembang.

"Gokil, Pak Direktur. Jalur dalam lo di tikungan terakhir tadi bener-bener bersih. Gue akuin, lo punya bakat, bukan cuma punya duit," ujar Gavin sambil mengulurkan tangannya.

Zyan menurunkan Alexa dari pelukannya, lalu menerima jabat tangan Gavin. Kali ini, tidak ada cengkeraman penuh dendam atau cemburu. Hanya ada jabat tangan dua pria yang saling menghormati di atas lintasan.

"Terima kasih, Gavin. Itu karena saya punya pelatih terbaik, dan lawan yang sangat tangguh seperti kamu," jawab Zyan jujur.

Gavin melirik ke arah Alexa, lalu menepuk pundak Zyan. "Jagain Alexa baik-baik, Bos. Dia emang berisik dan baunya oli, tapi dia berlian. Dan ngelihat gimana lo rela ndlosor kemarin demi dia, gue tahu dia ada di tangan pria yang tepat. Gue kalah telak hari ini, baik di aspal maupun di hati."

Alexa nyengir lebar. "Vin, lo nggak bakal kabur atau balik ke Bandung kan gara-gara kalah? Bengkel baru gue masih butuh montir senior kayak lo tahu!"

Gavin ketawa ngakak. "Gila lo, Lex! Mana mungkin gue kabur. Gaji di bengkel lo kan disokong sama Arsalan Group, gede coy! Gue tetep di sini, jadi montir sekaligus jadi pengawas biar laki lo ini nggak macem-macem."

Zyan tersenyum mendengar ucapan Gavin. Rivalitas melelahkan itu akhirnya mencair, berubah menjadi sebuah kerja sama tim yang solid.

Sore harinya, perayaan kemenangan tidak dilakukan di restoran bintang lima atau hotel mewah. Atas permintaan Alexa, mereka semua—Zyan, Alexa, Gavin, Rio, dan Siska—duduk lesehan di pinggir sirkuit Sentul sambil menikmati ember berisi es cendol dan gorengan tahu isi yang dibeli Rio di depan gerbang.

Seorang miliarder dengan wearpack jutaan rupiah, duduk di atas rumput sambil menyeruput es cendol pake sedotan plastik plastik. Pemandangan itu kalau masuk berita koran bisnis pasti bikin gempar.

"Gimana, Om? Enak kan es cendol pinggir jalan?" goda Alexa sambil menyuapkan tahu isi ke mulut Zyan.

"Hmm... manisnya pas. Tapi saya rasa kolesterolnya agak tinggi," jawab Zyan jujur, tapi dia tetep mengunyah tahu itu dengan lahap karena kelaparan setelah balapan.

Gavin yang duduk di seberang mereka menggeleng-gelengkan kepala. "Gue masih nggak nyangka, seorang Zyan Arsalan bisa se-lokal ini gara-gara dapet istri bocah teknik."

"Cinta itu tidak punya kasta, Gavin. Dia hanya punya frekuensi yang sama," sahut Zyan sambil merangkul bahu Alexa.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat Sirkuit Sentul, memancarkan warna jingga yang sangat indah. Kehidupan mereka memang tidak akan pernah tenang 100%. Setelah ini, pasti akan ada masalah bisnis baru, tantangan modifikasi mesin yang gagal, atau drama cemburu-cemburu kecil lainnya. Tapi, berdiri di antara deru mesin dan pelukan hangat Alexa, Zyan tahu satu hal.

Hidupnya yang dulu kaku seperti robot, sekarang sudah memiliki warna, memiliki tawa, dan memiliki "mesin turbo" bernama Alexa yang siap membawanya berlari kencang menuju kebahagiaan selamanya.

"I love you, Nyonya Arsalan," bisik Zyan di telinga Alexa.

Alexa bersandar di dada Zyan, menutup matanya dengan senyum paling bahagia yang pernah dia miliki. "I love you more, Om."

Dan di bawah langit gelap namun penuh bintang, menjadi saksi, kisah cinta sang Direktur Kaku dan Gadis Teknik ini resmi mencapai garis finish kemenangan mereka.

Bersambung....

1
Mela Mela
karyanya menarik bgt,seru,menantang bgt bacanya..seakan gw ikut masuk. didalem ceritanya👍
neyrfly: makasih kakk🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!