Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hipnotis : 27
'Jangan, tolong jangan!’ rasa takut menyergapnya, dalam keadaan terjepit, Kanti berusaha keras berpikir cepat, bertindak sebelum sesuatu tak diinginkan terjadi.
Ia melangkah pelan, teramat hati-hati. Netranya melihat sebongkah kayu tidak habis dilahap api, terlihat masih kuat. Kanti ambil, jadikan senjata yang sewaktu-waktu berguna jika keadaan terdesak.
Anjing warna putih, badan panjang, ramping, mengendus-endus lantai teras. Berjalan menunduk seolah tengah membau aroma yang dicarinya.
Kanti menjaga jarak aman, sebab paham jika sejatinya hewan itu sangat peka terhadap suara dan sesuatu bergerak tertangkap indera penglihatan. Kemampuan sensoriknya jauh lebih tajam daripada manusia.
Hidung hitam hewan terlihat jinak tapi dalam satu waktu berubah bengis, mengendus pintu kamar Candra Kanti. Kaki depan terangkat sampai badan berdiri tegak, dan pintu perlahan terbuka menciptakan celah sempit.
“Tak ada waktu lagi, aku harus bisa mengusir makhluk jadi-jadian itu!” Kanti merasakan aura mistis pekat menyelimuti hewan sudah menjulurkan kepala ke dalam, badannya masih di luar.
Secepat yang dia bisa, berlari kencang. Otomatis Anjing mundur, lalu berbalik menatap sangar gadis melaju ke arahnya.
“Pergi kau!” Kayu diayunkan, melesat memukul pintu jadi terbuka lebar, terhempas.
Guk!
Guk!
Hewan pemarah, mudah tersinggung langsung meradang. Maju menyerang dengan kekuatan penuh.
Celana Kanti tergigit, dan ditarik kencang sampai badannya ikut bergeser.
Ia tidak tinggal diam, memukulkan kayu tepat mengenai kaki belakang.
Lolongan kesakitan memenuhi udara, melengking memancing kawanan lainnya menanggapi dengan bunyi sama terdengar sangat jauh dari sini.
Saat dirasa masih kurang, Kanti menendang leher hewan yang terpincang-pincang.
Berkat kayu dalam genggaman, ia berhasil melindungi diri. Setiap sarangan dapat ditangkis, sampai keanehan menyelimuti.
Kabut tebal berangsur-angsur memenuhi area hunian bu Sasmi, membuat Kanti seperti berada dalam gumpalan awan, kesulitan melihat.
Namun tak berlangsung lama. Kabut tadi juga sama cepatnya ketika lenyap seperti awal kemunculannya.
“Kemana hewan tadi?” Kanti mencari Anjing yang terluka terkena pukulan kayu, dan tendangan pada leher.
“Kira-kira wujud manusianya, siapa? Dari gerakan lemah, kewaspadaan kurang, sepertinya bukan si pemilik kekuatan gaib yang dahsyat?’ Ia masih berdiri, kedua tangan memegang kayu.
Kanti coba menerka, mencocok logi dengan fisik penghuni rumah bu Sasmi, tapi tak ada satupun terlihat mirip.
“Sebaiknya aku periksa keadaan Ahwaya dan lainnya.’ Kayu membawa keberuntungan, bisa melindungi dirinya ikut dibawa masuk.
Keempat temannya masih pulas dengan posisi sama seperti dia tinggalkan tadi.
‘Ajian apa yang digunakan untuk membuat mereka tertidur seperti orang pingsan?’ tanya batinnya sambil mengamati satu persatu sosok tertidur damai.
Kanti menaruh curiga, jika sebelumnya saat Mayang diculik, ia dan lainnya telah dihipnotis, sehingga sama sekali tidak merasakan pergerakan dalam kamar.
Kanti tidak bisa tidur, kepalanya seperti mendidih dikarenakan otak tengah kerja paksa memikirkan tempat aman untuk bersembunyi sementara waktu.
‘Aku harus menyusuri wilayah ini,’ tekadnya sudah bulat.
Lelah membalikkan badan diatas ranjang, akhirnya rasa kantuk datang menyerang. Kanti tertidur dengan perasaan kacau, pikiran bercabang.
***
Saat langit merah berangsur-angsur berubah suram bak awan mendung, cuaca berkabut, suhu turun, dan udara menjadi dingin – Ahwaya lebih dulu terbangun. Dia sesak buang air kecil, takut ke kamar mandi seorang diri, meskipun letaknya dalam rumah bu Sasmi.
“Sambara, Bara, bangun.” Ia guncang lengan pemuda masih berstatus kekasihnya.
“Apaan?!” ketusnya kesal, masih mengantuk padahal sudah tidur sangat lama. Beberapa hari ini, badannya seperti kekurangan darah, tenaga, mudah letih, emosi cepat naik hanya karena hal sepele, dia sering membentak Ahwaya.
“Temenin ke kamar mandi,” ekspresinya memelas, benar-benar terdesak dan sulit menahan buang air kecil.
“Lu nyusahin tau, gak? Udah gak lagi mau gua cumbu, malah sering buat naik darah! Pergi sana sendiri!” Ditepisnya tangan sang kekasih, lalu dia berbalik badan memunggungi.
“Aku temenin. Ayo!” Aji menawarkan diri, dia tadi mendengar bagaimana Aya memohon tapi malah dimarahi.
“Makasih, Ji.” Ahwaya beranjak, dengan ditemani Aji, ia keluar dari dalam kamar, lalu berjalan masuk ke bagian dapur rumah bu Sasmi yang pintunya sengaja tidak dikunci.
Aji menunggu di dapur bersih, tidak digunakan untuk masak, cuma menyeduh minuman. Entah angin apa yang membawa rasa penasaran sulit diabaikan, membuat kakinya seolah melangkah tanpa diminta ke sebuah pintu terhubung dengan entah ruang apa.
‘Di sana dapur tempat masak-masak, kan?’ batinnya menduga-duga, lirikan mata kian tajam, sebuah keinginan mendesak mencapai ubun-ubun, Aji mendekati pintu papan tertutup rapat, berniat membukanya.
“Mengapa pagi betul kamu bangun, Aji?”
Akhh.
“Aji terkejut setengah mati, badannya terlonjak. ‘padahal aku tadi sudah memperhatikan sekitar, sama sekali tidak terdengar langkah kaki, kenapa bu Sasmi lagi-lagi bisa ada di suatu tempat tanpa terdeteksi?’
“Saya menemani Ahwaya, Bu. Dia kebelet buang air kecil,” suaranya sedikit tergagap, seperti seorang pencuri kepergok saat melakukan aksi.
“Ibu baru bangun, atau sudah sedari tadi?” tanyanya basa-basi, mundur perlahan sampai di depan pintu kamar mandi.
“Belum lama, ini mau buat sarapan untuk keluarga dan kalian. Nanti makan bareng saja, kebetulan hari ini agak siangan pergi ke kebun,” ucapnya lembut, seperti biasanya.
“Baik, Bu.” Aji mengangguk sopan.
Aya keluar dari dalam kamar mandi, menyapa ramah bu Sasmi, ia pintar memainkan sandiwara seolah-olah semua masih sama.
Kedua mahasiswa itu pamit kembali ke kamar. Barulah bu Sasmi mendorong pintu dapur basah, tempatnya memasak hidangan teruntuk keluarga serta para tamunya.
***
Tak lama sesudah Aya terbangun, lalu ditemani Aji ke kamar mandi, lainnya juga terjaga. Satu persatu bergantian menggunakan kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kanti masih belum menceritakan perihal kejadian semalam, menunda sebentar sampai waktu tepat tiba. Sekarang ia dan teman-temannya dipanggil untuk menikmati hidangan pagi.
Sarapan kali ini lebih ramai dari biasanya. Kursi meja makan hampir penuh diduduki keluarga Widi, dan para mahasiswa tinggal 5 orang.
Sambara, Abeer, Ahwaya, merasa lega. Hampir bersamaan mereka menghela napas ringan kala tidak mendapati menu daging di atas meja.
“Persediaan dagingnya habis, jadi pagi ini kita sarapan nasi goreng sederhana, dan keladi rebus, minumnya teh hangat,” ujar sang kepala keluarga, ia duluan menyendok nasi goreng berbumbu potongan cabai rawit, irisan bawang merah dan putih, sedikit garam.
Selanjutnya bu Sasmi, disusul anak dan menantu, baru para tamu.
“Apa semalam tidur kalian nyenyak?” disela-sela menikmati sarapan, bu Sasmi mengajak berbincang ringan.
“Sangat nyenyak, Bu. Oh ya, semalam para makhluk jadi-jadian itu ada menyerang desa ini tidak?” Abeer menyahuti.
“Ada. Namun langsung dihalau para warga, dikejar-kejar sampai tepi jurang,” Tejo yang menjawabnya.
Tanpa sepengetahuan semua orang, Kanti sedang memperhatikan lengan, kaki keluarga bu Sasmi, mencari jejak luka efek pukulan kayu.
“Kalian apa gak ada kedengaran suara lolongan makhluk astral itu?”
Pandangan semua orang menoleh ke kepala keluarga yang baru saja menghabiskan sarapannya.
Kanti mendahului Sambara. “Saya bukan cuma mendengar suara Anjing menyalak maupun melolong, tapi sempat ketemu salah satunya. Namun gak tahu dia termasuk kawanan makhluk jadi-jadian atau tidak.”
“Kamar siapa?”
“Kapan?”
.
.
Bersambung.
emang bener² laki durjana, dah lah sono di makan anjjing aja🤭
tinggal di dalam kandang pemangsa membuat was was setiap detiknya
lanjut Thor