NovelToon NovelToon
Samudra Di Atas Langit

Samudra Di Atas Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.

Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan di Balik Penyamaran

Gala melangkah menyusuri koridor apartemennya yang bergaya minimalis modern. Tangan kanannya menenteng helm full-face hitam, sementara tangan kirinya meraba saku mencari kunci akses masuk. Hari pertama kuliah sebagai Gala Putra Langit benar-benar menguras energi.

Bip.

Pintu unit apartemennya terbuka. Namun, begitu melangkah ke dalam, Gala langsung menghentikan gerakannya. Aroma masakan rumahan yang sangat familiar dan menggugah selera langsung menusuk hidungnya. Suara tawa kecil seorang wanita terdengar dari arah dapur.

"Lho? Kakek? Mama?" Gala membelalakkan mata, meletakkan helmnya di atas rak dengan tergesa-gesa.

Di ruang tengah, Kakek Wijaya duduk santai di atas sofa kain abu-abu, mengistirahatkan tongkat naganya di samping lengan sofa. Sementara di area dapur bersih, Mama Shinta tampak mengenakan celemek kain, baru saja meletakkan mangkuk besar berisi sup ayam hangat ke atas meja makan. Pak Surya, sang asisten pribadi setia, berdiri sigap di dekat meja konter dapur dengan senyum tipis.

"Sore, jagoan Kakek," sapa Kakek Wijaya dengan kekehan berat, matanya berbinar jenaka melihat ekspresi syok sang cucu.

"Kaget melihat kami di sini?"

"Jelas kagetlah, Kek," sahut Gala sambil terkekeh slengean.

Ia melangkah menghampiri mamanya, lalu mengecup pipi Mama Shinta dengan sayang.

"Mama masak banyak banget? Ini apartemen mahasiswa biasa, Ma, nanti disangka ada katering gratis."

Mama Shinta mencubit pelan lengan Gala, namun matanya berkaca-kaca penuh kehangatan. "Mama sengaja masak banyak, Cakra... maksud Mama, Gala. Kita sengaja mau makan malam bersama di sini, sambil menunggu papamu pulang dari kantor."

Mama Shinta kemudian menarik Gala untuk duduk di sofa dekat kakeknya. Wajah lembut sang mama mendadak berubah cemas. "Gala, Mama tadi sudah mendengar cerita dari Kakek soal kejadian di ruang rektorat. Kamu baru hari pertama sudah difitnah begitu. Jantung Mama rasanya mau copot pas Kakek cerita si Kenzo itu keterlaluan."

Gala menyandarkan punggungnya, lalu tertawa lepas. "Aduh, Mama sayang, jangan khawatir. Kenzo dan temannya yang namanya Davin itu cuma amatiran. Reza teman baru Gala dia bisa langsung meretas rencana mereka dalam tiga puluh detik. Malah mereka yang kena skorsing dua minggu sekarang."

Kakek Wijaya mengetukkan jarinya di atas sofa, mengangguk bangga. "Anak ini pintar memilih sekutu. Reza dan Adit, mereka berdua anak-anak yang baik dan bisa diandalkan. Tapi ingat Gala, ini baru riak kecil. Ratna dan Bramantyo pasti tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan seperti tadi."

Cklek.

Pintu apartemen kembali terbuka. Papa Baskara melangkah masuk dengan setelan jas kerja lengkap yang kancing atasnya sudah dilonggarkan. Wajah lelahnya seketika sirna begitu melihat seluruh anggota keluarganya sudah berkumpul lengkap di dalam ruangan kecil itu.

"Wah, aromanya sampai tercium ke luar koridor," canda Papa Baskara sambil melepas jasnya dan menggantungnya di dekat pintu.

" Papa!" Gala bangkit dan langsung menyalami papanya dengan takzim.

Baskara menepuk-nepuk bahu tegap putranya. "Bagaimana hari pertama kuliahmu, Gala? Papa dengar dari Pak Surya, kamu langsung membuat gebrakan besar di kampus?" tanya Papa Baskara dengan senyum penuh wibawa namun tersirat rasa bangga yang luar biasa.

"Biasa aja, Pa. Cuma pemanasan kecil buat sepupu kesayangan kita," jawab Gala dengan kedipan mata yang slengean.

"Sudah, sudah. Ayo ke meja makan. Makanannya keburu dingin," potong Mama Shinta sambil melambaikan tangan, mengajak semua pria di ruangan itu untuk berkumpul di meja makan bundar.

Saat semuanya sudah mengambil posisi duduk, Pak Surya tampak hendak mundur dan berdiri di sudut ruangan seperti biasa. Namun, Kakek Wijaya langsung mengangkat tangannya, menahan langkah sang asisten pribadi.

"Surya, mau ke mana kamu? Duduk di sini. Hari ini tidak ada sekat antara majikan dan asisten. Kau sudah menjaga keluarga ini dan menjaga Cakrawala belasan tahun di luar negeri. Kau adalah bagian dari keluarga Samudra," perintah Kakek Wijaya dengan nada tegas yang tidak menerima bantahan.

Pak Surya tertegun sesaat, matanya bergetar haru. Ia membungkuk hormat sebelum akhirnya menarik kursi kosong di sebelah Papa Baskara. "Terima kasih banyak, Tuan Besar."

Mereka mulai menyantap hidangan makan malam itu dengan penuh khidmat dan kehangatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!