NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah goresan luka

Di dalam kamar yang sempit, cahaya remang dari lampu minyak menciptakan bayangan panjang di dinding. Suasana yang tadinya canggung saat mereka melangkah masuk, mendadak berubah menjadi sunyi yang berat. Cakra duduk di tepi dipan, sementara Nayan berdiri tak jauh darinya, jemarinya sibuk merapikan selimut.

Cakra berdehem, mencoba mengusir rasa canggung yang membuatnya salah tingkah. Namun, saat Nayan menunduk untuk membetulkan bantal, cahaya lampu menyinari lehernya dengan sudut yang pas. Mata tajam Cakra menangkap sesuatu.

"Nayan.." panggil Cakra pelan, namun nadanya menuntut.

Nayan menoleh. "Ya?"

Cakra berdiri, melangkah mendekat hingga ia berada tepat di hadapan istrinya. Jarinya terangkat, hampir menyentuh kulit di dekat leher Nayan. "Di lehermu... bekas luka itu. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"

Nayan tersentak. Ia refleks menutupi lehernya dengan telapak tangan. Sentuhan dingin udara di bekas luka itu seolah memicu ingatan yang paling ia benci. Pandangannya mengabur, digantikan oleh bayangan Medan perang yang bersimbah darah.

Dalam ingatannya, ia melihat seorang pemuda dengan mata berkilat penuh amarah, mengayunkan pedang dengan kekuatan yang luar biasa. Hanya selisih satu inci, dan kepalanya pasti sudah terpisah dari tubuhnya. Nayan atau Sedra tidak pernah tahu siapa pemuda itu, kecuali fakta bahwa ia adalah lawan terkuat yang pernah ia hadapi.

"Nayan? Kau melamun?" suara Cakra memecah lamunannya.

Nayan mengerjapkan mata, berusaha menguasai diri. "Oh, ini... ini luka lama, Cakra. Saat aku masih kecil, aku terjatuh di semak berduri saat mencari kayu di hutan. Lukanya cukup dalam, jadi membekas sampai sekarang."

Cakra menatap luka itu lama, seolah sedang menganalisis teksturnya, namun akhirnya ia mengangguk meski sorot matanya masih menyimpan tanya.

Nayan segera mengalihkan pembicaraan sebelum Cakra bertanya lebih jauh.

"Ngomong-ngomong soal luka," Nayan meraih tangan Cakra, memperhatikan goresan-goresan kecil dan kapalan di telapak tangannya. "Aku juga melihat banyak bekas luka padamu. Apa kau... sebenarnya seorang petarung? Seorang pengembara tidak akan punya tangan seperti ini."

Cakra menarik napas panjang, tatapannya berubah menjadi sedingin es, mengingatkan Nayan pada sosok pria yang membantai habis para bandit tempo hari.

"Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, Nayan." sahut Cakra tenang namun menusuk. "Di dunia yang keras ini, aturannya hanya satu ! Kita harus lebih dulu membunuh, atau kita yang akan terbunuh. Tidak ada pilihan ketiga."

Nayan terdiam. Aura yang dipancarkan Cakra saat ini sama persis seperti saat di hutan waktu itu . Dingin, tak tersentuh, dan mematikan.

Cakra kemudian melunakkan tatapannya. Ia meraih wajah Nayan dengan kedua tangannya, memaksanya menatap lurus ke matanya yang kini kembali lembut.

"Lalu, kau sama sekali tidak takut padaku, Nayan?" tanya Cakra berbisik.

"Takut?" Nayan mengerutkan kening.

"Waktu itu, di hutan. Kau melihat segalanya. Kau melihat bagaimana aku menghabisi para penjahat itu tanpa ampun. Darah mereka, teriakan mereka... Kau pasti sangat ketakutan melihat sisi gelapku saat itu, bukan? Kau bahkan sampai pingsan dan terlihat cukup trauma . "

Nayan tertegun. Ia mengangguk pelan, memberikan senyum tipis yang terlihat pasrah. "Sedikit.." jawabnya singkat.

Namun dalam hati, Nayan berteriak "Takut? Cakra, aku sudah sangat sering melihat pertumpahan darah yang jauh lebih mengerikan dari itu. Aku bahkan sering menjadi pelakunya." kekehnya sebagai Sedra.

"Kau melakukan itu untuk kebaikan Cakra ." lanjut Nayan sambil memegang tangan Cakra yang ada di pipinya. "Mereka penjahat, mereka memang pantas mati."

Cakra terkekeh pelan, rasa tegang di bahunya mencair. Ia sedikit menjauhkan wajahnya, menatap Nayan dengan heran.

"Wah, aku baru sadar.." ledek Cakra. "Sejak kejadian di goa itu, kau jadi lebih berani bicara ya? Mana Nayan yang pemalu dan irit bicara itu?"

Nayan memutar matanya, sedikit tertawa. "Dia sudah tertinggal di balai desa tadi. Sekarang kau berhadapan dengan istrimu yang cerewet, Cakra. Kau harus terbiasa."

Cakra tertawa lepas, ia menarik Nayan ke dalam pelukannya. Di dalam dekapan itu, keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Dua orang yang saling mencintai, duduk di atas tumpukan rahasia yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan segalanya.

***

Sementara di luar gubuk malam itu terasa sangat sibuk atau lebih tepatnya, sibuk bagi Riu. Dengan kening berpeluh, ia sedang berusaha menegakkan tiang tenda darurat dari dahan pohon dan kain tebal, sementara Ana membantunya dengan cara yang sedikit merepotkan.

" Paman Riu, kenapa tendanya miring ke kiri? Bagaimana kalau nanti hujan ." tanya Ana sambil memiringkan kepalanya, memperhatikan tenda yang tampak mengenaskan itu.

Riu menyeka keringatnya dengan lengan baju, lalu menatap Ana dengan tatapan pasrah. "Ana, anak manis... ini namanya estetika arsitektur hutan. Sengaja dibuat miring supaya kalau ada nyamuk mau hinggap, mereka terpeleset karena tidak ada keseimbangan. Mengerti?"

Ana hanya meanggukan kepalanya dengan penuh kepolosan .

Hingga malam terasa semakin larut , Ana sudah tertidur pulas di dalam tenda beralaskan jerami kering dan kain, meninggalkan Riu yang duduk terjaga di depan api unggun kecil sambil memeluk lututnya.

"Nasib... nasib..." gumam Riu pelan.

"Jadi pengawal pangeran merangkap tukang pasang tenda, merangkap pengasuh anak, merangkap pengusir nyamuk. Kalau aku minta naik gaji setelah ini, apa Pangeran akan memberiku keping emas atau malah tendangan?"

Tiba-tiba, telinga Riu yang terlatih menangkap suara gesekan halus di antara semak-semak.

Srak!

Seketika, jiwa konyol Riu menghilang. Tangannya dengan secepat kilat menyambar gagang pedang di sampingnya. Matanya yang tadi mengantuk kini menatap tajam ke arah kegelapan.

"Siapa di sana? Cepat tunjukkan wajahmu ! " desis Riu dingin.

Dari balik bayangan pohon besar, muncul seorang pria mengenakan jubah gelap dengan lambang rahasia Kerajaan Selatan di balik kerahnya. Pria itu berlutut dengan satu kaki.

"Tuan Riu, ini saya. Utusan dari Baginda Raja Indra ." bisik prajurit itu.

Riu menghela napas panjang, pundaknya kembali merosot.

"Astaga! Kau hampir saja membuat jantungku copot ? Aku hampir saja menebasmu menjadi dua bagian. Kenapa kau muncul seperti hantu di tengah malam begini?"

"Maaf, Tuan. Tapi ini darurat. Baginda Raja Indra mengirimkan surat ini untuk Pangeran Cakra. Harus segera sampai." Prajurit itu menyodorkan gulungan surat dengan segel lilin merah berlambang singa.

Riu menerima surat itu dan membolak-baliknya. "Dari Baginda? Wah, pasti isinya bukan menanyakan kabar kesehatan. Mungkin beliau sudah rindu atau... mau mengamuk karena anaknya tak pulang-pulang."

"Tuan, haruskah saya menghadap Pangeran sekarang?" tanya prajurit itu patuh.

Riu langsung melirik gubuk yang lampunya sudah padam total. Ia teringat Cakra yang baru saja menikah dan aura ' jangan-ganggu-aku ' yang terpancar kuat tadi sore.

"Hah? Kau gila?" Riu menepuk jidatnya sendiri. "Kalau kau ketuk pintunya sekarang, yang keluar bukan ucapan terima kasih, tapi pedang Pangeran yang akan mampir ke lehermu. Aku saja tidak berani mengganggunya . "

"Tapi Tuan, Baginda berpesan..."

"Sudah, sudah! Baginda tidak tahu kalau anaknya baru saja jadi suami orang. Pergilah sekarang . Biar surat ini kusimpan dulu. Akan kuberikan besok pagi saat suasana hatinya sedang bagus . "

"Baik, Tuan. Saya mohon pamit." Prajurit itu menghilang kembali ke dalam kegelapan secepat ia datang.

Riu menatap surat di tangannya, lalu menyimpannya di balik baju nya .

"Aduh, Pangeran... Pangeran." gumam Riu sambil kembali duduk di depan api unggun. "Nikmatilah malammu. Karena aku punya firasat, setelah surat ini terbuka, masa liburanmu di gubuk indah ini akan segera berakhir. Dan aku... akhirnya bisa tidur di kasur yang layak, bukan di tenda miring ini!"

Riu pun mencoba memejamkan mata, meski dalam hatinya ia mulai merasa cemas dengan isi surat dari sang Raja.

Bersambung....

🐈‍⬛🐈‍⬛🐈‍⬛🐈‍⬛

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!