"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Jarak yang Menyakitkan
"Jika kau memang lebih nyaman dengan kenangan masa lalumu, Liam, silakan. Aku tidak akan menghalangimu lagi."
Suaraku terdengar sangat tenang, hampir tanpa emosi, saat aku melipat kemeja kerja Liam dan meletakkannya di atas ranjang. Aku tidak menatapnya. Aku sengaja membelakanginya, membiarkan keheningan kamar utama yang luas ini menjadi sekat yang tebal di antara kami.
Liam yang baru saja masuk ke kamar, terpaku di ambang pintu. Jasnya sudah tersampir di lengan, wajahnya tampak sangat lelah setelah seharian menghadapi tuntutan ibunya di kantor.
[Apa yang dia katakan? Tidak menghalangi? Kenapa nadanya seperti orang yang sudah menyerah? Blair, jangan menatapku seperti itu. Aku lebih suka kau marah, melempar barang, atau memakiku daripada ketenangan yang mematikan ini. Kau sedang merencanakan untuk pergi, bukan? Tolong, jangan...]
"Apa maksudmu, Blair?" suara Liam bergetar, ia melangkah mendekat namun ragu untuk menyentuhku. "Adeline hanya tamu Mama. Aku sudah bilang padamu tadi pagi—"
"Tamu yang masuk ke kamar mandi pribadimu sore tadi saat aku sedang di ruang desain?" aku berbalik, menatapnya dengan senyum tipis yang dingin. "Tamu yang sengaja meninggalkan antingnya di wastafelmu? Liam, aku bukan lagi Blair yang naif. Aku tidak punya energi untuk memperebutkan pria yang bahkan tidak bisa menjaga privasi ruang pribadinya sendiri."
"Aku tidak tahu dia masuk ke sana! Aku sedang bersama Axelle di ruang IT!" seru Liam panik.
"Itu masalahnya, Liam. Kau tidak tahu, atau kau membiarkannya karena kau tidak enak pada ibumu?" aku mengangkat bahu, seolah-olah hal itu bukan lagi urusanku. "Dengarkan aku. Aku masuk ke tubuh ini—maksudku, aku hidup hari ini hanya untuk satu hal: memastikan takdirku tidak berakhir tragis. Jika kau merasa Adeline adalah takdirmu yang tertunda, ambillah. Aku tidak akan mati karena patah hati. Aku punya karier, aku punya desain perhiasanku, dan aku punya masa depan yang sudah kususun tanpa harus bergantung pada siapa pun."
Liam mundur selangkah, wajahnya pucat pasi seolah baru saja ditampar kenyataan pahit.
[Dia tidak butuh aku? Dia bilang dia tidak akan mati karena patah hati? Jadi selama ini... hanya aku yang tergila-gila padanya? Hanya aku yang merasa dunia runtuh jika dia pergi? Tidak... jangan bicara soal masa depan tanpaku, Blair. Aku bisa memberikan semua perhiasan di dunia, tapi tolong jangan beri aku kemerdekaan darimu.]
"Kau... kau bicara seolah-olah aku ini barang yang bisa kau oper begitu saja," desis Liam, matanya berkilat penuh luka.
"Bukan barang, Liam. Tapi pilihan," sahutku datar. "Dan sepertinya, pilihanmu saat ini sangat dipengaruhi oleh Nyonya Lily. Aku tidak akan bertarung dengan seorang ibu demi suaminya. Itu sangat membuang waktu."
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka pelan. Axelle berdiri di sana dengan tas ransel yang sudah terpasang di bahunya. Wajahnya keras, persis seperti Liam saat sedang membuat keputusan besar.
"Papa," panggil Axelle.
Liam menoleh. "Axelle? Ini sudah malam, mau ke mana kau?"
"Aku sudah bilang tadi pagi, kan? Jika perempuan itu tetap tinggal, aku yang keluar," Axelle melirikku, lalu kembali menatap ayahnya dengan sorot penuh tuntutan. "Dan jika Mama pergi dari rumah ini, aku akan ikut bersamanya. Aku lebih baik hidup di apartemen kecil bersama Mama daripada di istana besar ini bersama nenek yang manipulatif dan calon istri simpanan Papa."
Liam terperanjat. Ia menatap kami berdua secara bergantian. Kekuasaannya sebagai CEO Alexander Group yang ditakuti dunia seolah tidak berarti apa-apa di depan istri dan anaknya sendiri.
[Axelle... kau juga? Kalian berdua kompak ingin meninggalkanku sendirian di sini? Mama... lihat apa yang kau lakukan pada keluargaku! Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa kehilangan mereka. Aku akan gila jika bangun pagi dan tidak mendengar suara bising Blair atau ketikan keyboard Axelle.]
"Tidak ada yang pergi!" bentak Liam frustrasi. Ia mengacak rambutnya kasar. "Axelle, taruh tasmu sekarang! Dan Blair... kau tidak boleh pergi ke mana pun. Aku akan mengurus Adeline. Aku bersumpah akan menyuruhnya pergi besok pagi, bahkan jika Mama harus membenciku seumur hidup!"
Aku hanya menaikkan alis, kembali pada kegiatanku merapikan pakaian. "Kita lihat saja besok pagi, Liam. Kata-kata sangat murah, tapi tindakan... itulah yang mahal."
Aku berjalan melewati Liam menuju balkon, sengaja menciptakan jarak. Aku harus bermain tarik ulur. Jika aku terus memohon cintanya, Elodie akan dengan mudah menghancurkanku lewat Lily. Tapi jika aku menunjukkan bahwa aku bisa hidup tanpanya, Liam-lah yang akan merangkak memohon agar aku tidak pergi.
Di bawah temaram lampu balkon, aku bisa mendengar batin Liam yang hancur.
[Dia benar-benar tidak peduli... dia tidak cemburu. Dia hanya... dingin. Apa yang harus kulakukan agar kau menatapku dengan cinta lagi, Blair? Aku takut... aku sangat takut kau sudah benar-benar melepaskanku di dalam hatimu.]
Aku tersenyum tipis ke arah kegelapan malam. Maaf, Liam. Tapi ini cara satu-satunya agar kita semua selamat dari naskah beracun Elodie.
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/