NovelToon NovelToon
Imam Untuk Adelin

Imam Untuk Adelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Chicklit / Perjodohan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Larasatii

Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.

Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.

Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.

Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.

Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Prolog

...Masihkah ada lelaki di dunia ini yang mencintai tak hanya sekadar nafsu?...

...Tapi kurasa, ustaz pun butuh akan hal itu...

...Aku merasa diriku bagai manusia asing yang tak lagi memiliki tempat di dunia ini...

...Sebab kenangan gelap di masa lalu, selalu menghantui dan enggan pergi...

...Pantaskah aku mendapatkan imam terbaik dari-Nya?...

...***...

Dentang jam menyadarkanku. Suara nyaringnya menembus telinga. Aku mengucek mata—melirik jam di tanganku. Jam menunjuk pukul dua belas malam. Aku terkaget. Memastikan bahwa jam itu salah. Mataku menelusuri ruangan sekitar. Namun, ketika kesadaranku mulai penuh, aku lebih dibuat kaget lagi.

“Aku di mana?” Aku menatap ruangan yang tampak asing ini sambil memegang sisi kepalaku yang berat.

Aku meringis. Merasakan sakit yang tak seharusnya kurasakan saat mencoba bangkit.

“Nggak! Ini nggak mungkin kan?” Suaraku bergetar. Menolak semua isi kepala yang mengarah pada hal negatif yang telah terjadi.

Aku melangkah tertatih. Rintihan itu semakin kuat. Kucoba berjalan dengan langkah sempoyongan menuju cermin besar di pojok ruangan. Kuperhatikan sosok menyedihkan di pantulan kaca itu. Hujan yang kutahan sedari tadi, akhirnya memilih menyerah.

“Nggak!” Napasku memburu, dada seolah ditancap sembilu ratusan kali. Suaraku, kini lenyap seketika. Hilang ditelan keadaan. “Ini nggak mungkin!” Aku terduduk pada lantai dingin ruangan ini. Menatap penuh iba sosok diriku di dalam kaca itu.

“A ... aku ....” Tenggorokkanku seolah tercekat saat hendak melanjutkan kalimatnya.

Cukup lama aku berdiam diri. Memastikan, bahwa semua ini hanya mimpi. Tawaku buncah, bersama dengan air mata yang kubiarkan mengalir tanpa jeda.

Isak tangisku bagai instrumen mengerikan, di tengah heningnya ruangan yang aku sendiri tak tahu ini ruangan apa, dan siapa pemiliknya

Nyanyian tangisan penuh rintihan terus kusenandungkan di lisan. Tanpa peduli dengan bagaimana kondisi orang sebelah yang mendengar tangisan piluku.

Seseorang berdeham di dalam toilet. Kedua mataku membelalak. Aku lantas menenggelamkan diriku di dalam selimut. Dinginnya AC tak membuat tubuhku menggigil. Keringat dingin mengucur perlahan. Rasa cemas menyelimuti seluruh diri.

Terdengar suara langkah kaki seseorang menghampiriku. Napasku tercekat di tenggorokan. Tubuhku bergetar hebat. Aku yakin siapa pun bisa melihat betapa takutnya aku saat ini. Hingga tiba-tiba ...

“Ba!” Seorang pria dengan tiga anting di telinganya. Wajahnya gelap dan keras, dengan tato memenuhi tubuhnya. Senyumannya membuat bulu kudukku berdiri.

Ia meraih selimutku. Lebih kuat dari kemampuanku menahannya.

“Sekali lagi! Mumpung kamu bangun!” Ia tertawa lepas. Semakin mendekatkan dirinya padaku.

“Tidak! Tolong!”

“Berteriaklah! Dinding apartemen ini kedap suara.” Ia menyeringai seperti senyuman iblis. Walau aku sendiri, tak tahu bagaimana bentuk senyuman iblis itu.

Aku tetap mempertahankan rumah amanku, yaitu ... selimut tebal ini. Hingga tanpa diduga, selimut tebal ini robek. Memperlihatkan sebagian anggota tubuhku yang raib dari pakaian.

Pria bertato dengan wajah bak monster lapar itu, lantas membelalakan matanya. Ia tersenyum bagai seringaian iblis yang berhasil melemahkan musuhnya.

Aku tersudutkan. Tak tahu lagi cara untuk menyelamatkan diriku sendiri. Hingga tiba-tiba ... sebuah ingatan mengenai sebuah nama yang belakangan jarang kuingat, kini terbit dari lisanku.

“Ya Allah! Tolong aku!” batinku menggema melafazkan nama Allah. Kemudian, tiba-tiba ...

Tok ... tok ... tok ...

“Ah! Siapa lagi, sih! Ganggu kesenangan orang aja," decak pria bertato itu. Saat ia hendak keluar, ia tiba-tiba kembali berbalik arah sambil menatapku dengan tatapan mengintimidasi. Lalu berkata ....

"Jangan ke mana-mana kamu! Kalau tidak ...." Ia mengangkat tangan kanannya ke leher. Kemudian menekuk jemarinya, menyisakan jari telunjuk yang kemudian ia gesekkan secara perlahan ke lehernya. Sebuah gerakkan menggorok leher yang sadis.

Aku tertegun menelan ludahku sendiri. Ia bukan hanya menghilangkan kesucianku, melainkan juga ... nyawaku. Aku berteriak kesal kepadanya. Lantas menjatuhkan semua apa yang tampak di atas nakas dan kasur.

Ia justru membalas tindakkan brutalku dengan tawa mengejek dan senyum lebar. Kemudian berlalu dari apartemen ini. Meninggalkan aku sendiri bertemankan sepi yang sunyi. Tapi ... justru aku menyukainya. Untuk sementara, aku aman dan bisa mencari cara untuk bebas.

Kulirik tubuhku yang kini hanya mengenakan selembar tanktop. Aku bergegas melihat isi lemari di dalam apartemen ini. Namun, lemari itu kosong dari apa pun. Aku membongkar sprei kasur dengan asal. Kemudian mataku menelusuri kolong kasur. Telah kucari ke segala tempat. Tapi tak juga kutemukan pakaianku.

Aku berjalan mondar-mandir. Berusaha menjernihkan isi kepala dan menenangkan kecemasanku. Hingga terlintas sebuah pikiran ...

"Apa jangan-jangan ...." Aku berjalan cepat menuju toilet. Ternyata, kutemukan pakaianku berada digantungan pintu toilet dengan kondisi basah. Aku meremas pakaianku asal. Sepertinya monster sialan itu sengaja membuat basah seluruh pakaianku agar aku tak bisa keluar.

Kulacak keberadaan lelaki berwajah monster itu di sebuah lubang kecil pintu apartemen ini. Ternyata, ia lenyap dari apartemen ini. Ponsel berdering di dalam tasku yang kini berada di atas lantai. Kulihat layar ponselku yang menampilkan nama ibu di sana. Kumatikan deringnya dan menggantikannya dengan getar.

Aku ucapkan bismillah saat hendak membuka pintu. Berharap ia lupa menguncinya. Pintu terbuka, aku bersyukur dan segera berlalu keluar ruangan dengan tubuh sempoyongan.

Aku menelusuri lorong sepi ini. Semua pintu apartemen itu tertutup bagai tak berpenghuni. Aku menekan tombol lift berulang kali. Tiba-tiba pikiran mengerikan muncul di kepalaku.

"Bagaimana jika monster itu ada di dalam lift?" Aku pun mengurungkan niat turun dengan lift. Kemudian berlari menuju anak tangga.

Aku berlari menuju lobi utama. Kulihat ada resepsionis di tengah melayani tamu yang hendak masuk. Aku berniat untuk mengadu. Namun, pikiranku terlalu ribut sehingga aku memutuskan untuk melesat menuju lobi.

Baru saja aku berniat untuk keluar dari apartemen ini, tiba-tiba ... aku melihat lelaki monster itu ada di lobi apartemen. Aku mengurungkan niat keluar melewati lobi. Kunaiki lift. Beralih menuju lantai paling tinggi.

Aku bersembunyi di sana. Di tengah kebimbangan dan tangis yang kutahan. Tubuhku melemah, gigilnya hampir saja membuatku jatuh pingsan.

***

Kini, berada di atas atap apartemen. Pintu itu terkunci. Aku tak bisa melewatinya. Sehingga aku memilih jalan pintas menaiki anak tangga yang begitu banyak.

Tenagaku sepenuhnya telah lenyap. Aku bahkan tak sempat lagi memasang kerudungku. Rasanya, kerudung itu pun tak pantas untukku lagi.

“Aku ....” Ucapanku terhenti. Tak sanggup melanjutkannya lagi. Kudengar langkah kaki di atas sana. Sebuah cahaya senter tampak liar mencari sesuatu entah apa. Kupastikan, saat ini seorang satpam tengah mengecek kondisi di atas atap apartemen.

Kutahan napasku. Agar siapa pun tak mendengarnya. Langkah kaki itu perlahan menjauh. Senter itu pun kini tak lagi muncul. Aku menarik napas lega. Kurasakan dingin yang semula menguasai tubuhku kini perlahan mereda.

Kulihat bintang yang berkilauan di atas sana. Ditemani oleh rembulan yang senantiasa selalu setia. Malam, adalah saksi bisu atas kejadian tragisku hari ini.

“Ya Allah ... benarkah ini semua?” Kulepas rantai yang mengikat dadaku. Kubiarkan hujan kini membasahi pipi.

Pikiranku berkecamuk. Suara-suara asing di kepala bersahutan. Menindasku dengan berbagai kalimat tak masuk akal.

"Kau bodoh, Adelin! Kau bodoh!" teriakku. Sebuah tamparan melesat brutal di pipiku. Aku ... lagi-lagi adalah tersangkanya.

Kubiarkan mataku menelusuri ketinggian gedung apartemen ini. Aku benar-benar tak menyangka, ketinggian yang kutakuti ... kini berhasil kunaiki tanpa perasaan takut. Aku berada di ketinggian ekstrim. Bisa-bisanya aku duduk di tepian seperti ini, menatap ke bawah sana tanpa rasa takut.

Sepersekian detik, sebuah pikiran yang menjadi titik nadirku, menelusup di kepala.

"Adelin! Di bawah sana kamu tak akan sakit lagi." Aku menoleh ke lantai dasar. Aspal di pelataran parkir. Tubuhku mungkin layak dihempas ke sana.

Aku membawa tubuhku berjalan di tepian yang curam ini tanpa takut jatuh. Kemudian hendak melangkahkan satu kakiku.

“Selamat tinggal dunia!”

Bugh

1
mama Al
Adeline kan di gambarkan berhijab masa minum bir
Larasati: bisa aja kak.. kalau udh kalang kabut dan udh dark pikirannya. hehe
total 1 replies
mama Al
ya udah jangan ngemis sama dia
mama Al
jangan mau!
jangan mau!
Nifatul Masruro Hikari Masaru
karena....
.
Larasati: karenanya bikin gemas ya kak 🤭
total 1 replies
Keke Chris
semangat nulisnya 💪
Larasati: waa kakakku... makkasih ya kak kee 😍
total 1 replies
Tulisan_nic
No, Adelin!


Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣

Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Rizkia Mauli
penulisannya sangat bagus, alurnya menegangkan. aku baru baca tiga bab udah kerasa ketegangannya. sangat rekomended bagi yang suka alur menegangkan dan emosional.
Larasati: waaa makasi banyak dek atas ulasannya.. 😍😍 rajin2 mampir ya dek.
total 1 replies
ceefour
Yeayy... So sweet
Larasati: 😍 sweet ya. Alhamdulillah halal.
total 1 replies
ceefour
Waow cepet ya proses nikahnya
Larasati: kalau ustaz gitu main sat set.. hahaha
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku merasakan kekecewaan terhadap sosok Adelin, tapi... termasuk wajar gak sih jika diposisi seperti itu sampai sekalut itu dan akhirnya memilih hal buruk terhadap hidupnya? eh kayaknya wajar deh, aku pun pernah di masa tertekan jg melakukan hal bodoh sih hehe
Larasati: wajar dong. kalau memang sudah sekalut itu siapa yaang gak belok dek hehe
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku yakin adelin gak akan nerima deh, dari prolog aja mungkin itu baru pertama kalinya dia, jadi... ntah deh hehe
Larasati: hehe ayo bab berikutnya yuk
total 1 replies
Rizkia Mauli
Bugh ini.... apakah... antara benar-benar jatuh atau... suara orang yang datang menolong?
Tulisan_nic
I could feel a quiet kind of fear settling in me as I read 🥲
Larasati: same with me... 🫣
total 1 replies
Tulisan_nic
Kekalutan apa sebegitu merubah seseorang, Adelin, why?
Larasati: emosinya unstable kak /Sob/
total 1 replies
Tulisan_nic
Ikut merasakan, kepedihan dan hancurnya Adelin. Ikut merasakan kejamnya dunia menghujam kehidupan Adelin. Ikut merasakan, detik-detik waktu berhenti saat satu langkah kaki menapaki tempat ketinggian ekstrem.
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?
Larasati: 🥲 iya kak... kalutnya ya kak jadi adelin
total 1 replies
ceefour
Yah jangan membanting gelas dong
Larasati: terkejut dia 🫣
total 1 replies
ceefour
Lho ada Dimas lagi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Larasati: makasi kak sudh hadir 😍
total 1 replies
mama Al
bagus kak
Larasati: makasi ya kak sudah mampir 😍
total 1 replies
ceefour
Yaah... Gimana tuh kelanjutannya?
Larasati: hayo tebak apa selanjutnya ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!