NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 : KOMPAS DAN LAUTAN YANG BELUM DILIHAT

Napas Wei Changsong terdengar seperti daun kering yang diinjak.

Kamar itu remang, lilin di sudut meja nyaris habis, dan baunya adalah campuran obat rebus yang sudah tidak lagi berguna. Sementara Wei Haifeng duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan menggenggam jemari ayahnya. Tangan itu dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang masih bernapas. Tulang-tulangnya terasa seperti ranting di balik kulit yang terlalu terang, terlalu tipis, terlalu jauh dari pria yang dulu mengangkat Wei Haifeng ke atas bahunya saat masih bayi.

Sedangkan di sisi ranjang yang lain, Wei Wu Shuang berdiri membisu. Wajahnya memang datar seperti permukaan danau, tapi di sudut matanya ada sesuatu yang menolak untuk jatuh.

Tangan Wei Qinghan bahkan sudah di gagang kayu meski tidak membukanya. Kakak perempuan Haifeng itu memilih untuk tidak masuk dan hanya berdiri di sana, mendengarkan napas ayahnya dari balik ketebalan kayu jati, menghitung jeda di antara setiap tarikan udara yang semakin panjang.

Hingga Wei Changsong berbicara lirih, tapi matanya tetap menyala. Apa yang diungkapkan juga bukan lagi tentang kemenangan atau musuh yang belum terbalaskan, melainkan tentang sebuah pulau yang tidak ada dalam peta mana pun. Xuanyuan namanya. Sesuatu yang lebih besar dari semua yang sudah dia menangkan dengan pedang, dan Wei Haifeng mendengarkan setiap kata itu seperti orang yang menghafal satu-satunya peta yang ada sebelum peta itu terbakar.

Daratan Shenzhou sejatinya tidak pernah benar-benar mengenal damai.

Dua kekaisaran besar, Long Yuan di timur dengan tanahnya yang tandus dan keras, serta Feng Hua di barat dengan lembah-lembahnya yang subur, sudah berperang selama sepuluh ribu tahun karena keduanya sudah terlalu lama mendefinisikan diri melalui perang itu, sampai berhenti malah terasa seperti mati.

Di antara kedua kekaisaran itulah, ratusan klan dan sekte bertahan dengan cara berpihak atau berpura-pura tidak ada. Kultivasi adalah satu-satunya bahasa yang diakui. Tingkat adalah penentu hidup dan mati.

Kendati demikian, ada sesuatu yang mulai retak di fondasi dunia ini. Hukum langit Shenzhou sedang rusak. Qi tidak mengalir dengan benar. Pendekar-pendekar yang sudah mencapai tingkat tertinggi mulai merasakan kehancuran dari dalam tubuh mereka sendiri akibat retakan yang tidak kelihatan di inti kultivasi mereka. Para tetua berbisik tentang ini, akan tetapi kekaisaran-kekaisaran justru menutupinya dengan deklarasi perang baru.

Sementara itu, kuburan-kuburan terus bertambah.

Tiga hari setelah pemakaman, Wei Haifeng sudah ada di halaman istana dengan Pedang Samudera terhunus mantap.

Bilah biru gelap itu berkilat di bawah sinar pagi, terlalu besar dan terlalu berat untuk tangan yang belum pernah mengalirkan satu pun lapisan qi. Pemuda itu mengangkatnya dengan kedua tangan, melangkah ke kiri, memutar pergelangan, mengayunkan bilah ke atas kepala dengan gerakan yang dia yakini terlihat sangat meyakinkan. Setiap gerakan dilakukan dengan ekspresi serius, dagu terangkat, kaki melebar seperti kuda-kuda di gulungan ilustrasi teknik pedang yang pernah dibacanya.

Lengannya sudah gemetar sejak ayunan ketiga. Tapi ekspresinya tidak berubah.

Yang berubah adalah bibirnya yang terus bergerak, bergumam sendiri tentang sudut kemiringan bintang Selatan di musim panas, tentang arus balik laut dalam yang berputar berlawanan arah angin permukaan, tentang cara membaca warna air untuk menentukan kedalaman, dan Pedang Samudera ada di tangannya, tapi pikiran Wei Haifeng sudah ada di tengah lautan yang belum pernah dilihatnya.

Dari arah gerbang samping, empat sepupu dari cabang keluarga lain masuk. Haifeng bisa melihat jelas, itu dua pria dua wanita, semua antara Tingkat Tiga dan Empat, dan semuanya memasang ekspresi yang berusaha keras terlihat netral. Mereka pun berhenti di jarak yang cukup aman, pandangan melirik ke penjaga yang berjaga di sudut-sudut tembok, memastikan tidak ada jubah merah atau baju besi perak yang terlihat.

Bisikan-bisikan itu akhirnya keluar dalam nada yang sangat terkontrol. Pewaris sampah lah. Pedang terkuat di daratan lah, dipegang bocah tingkat nol lah. Sesekali ada yang menutup mulut dengan tangan, bahu bergoyang menahan tawa yang tidak boleh terlalu keras.

Tapi dari bisikan yang sama itu, mengalir juga kekaguman yang berbeda nadanya. Nama Wei Changsong disebut dengan nada yang berbeda sama sekali. Pria yang pernah membelah formasi tiga puluh dua pendekar tingkat tinggi seorang diri. Pria yang membawa Pedang Samudera seperti perpanjangan tangannya sendiri. Sudah jelas mereka mengagumi almarhum itu dengan tulus, dan di napas berikutnya, membandingkannya dengan putra yang berdiri di halaman itu dengan pedang yang terlalu berat dan gerakan yang tidak ada kekuatannya.

Wei Haifeng mendengar semuanya. Cengkeramannya pada gagang Pedang Samudera semakin kuat. Anehnya, wajahnya justru tidak berubah. Kata-kata terakhir ayahnya terlalu keras di dalam kepalanya untuk diganggu oleh ejekan dari sudut halaman.

Kamarnya adalah tempat yang tidak akan diakui sebagai kamar oleh siapa pun yang belum pernah masuk ke dalamnya.

Gulungan peta menutupi hampir seluruh dinding, ditindih di beberapa bagian oleh catatan yang ditulis dengan tinta yang kadang masih belum kering sempurna. Buku-buku teori navigasi dibuka di berbagai halaman dan diletakkan terbalik agar tidak kehilangan halaman. Meja kerjanya tidak terlihat permukaannya. Tempat tidurnya digunakan lebih sering sebagai rak tambahan daripada tempat tidur, dan pakaian yang tidak terpakai terlipat rapi di sudut lantai karena tidak ada lagi tempat di rak.

Wei Haifeng sendiri terlihat seperti orang yang sudah berhari-hari tidak melihat cermin dan tidak terlalu memikirkannya. Kulit pucat, mata berbayangan hitam di bawahnya, tubuh yang kurus karena makan hanya ketika ingat.

Akan tetapi, tepat di atas meja, di antara semua kekacauan itu, ada sebuah benda kecil yang dibuat dari kombinasi logam dan fragmen batu qi yang diukir dengan tangan. Tidak simetris, alih-alih sempurna. Tapi setiap bagiannya dipasang dengan presisi yang mencerminkan berapa ratus jam yang dihabiskan untuk memikirkannya.

Jarum kompas itu pun berputar sebelum berhenti untuk menunjuk ke satu arah.

Wei Haifeng menatapnya selama tiga detik penuh. Lalu melompat dari kursinya dan menabrak tumpukan gulungan di sebelahnya, mengirimkan dua di antaranya menggelinding ke lantai, tidak peduli. Tawanya meledak keluar dari kamar itu, terlalu keras untuk lorong istana yang sepi.

Oleh sebab itu pula pintu kamarnya terbuka, diikuti Wei Qinghan yang masuk dengan tidak terburu-buru, baju besi peraknya berkilat samar, mata biru pucatnya mengedarkan pandangan ke seluruh kamar sebelum berhenti pada adiknya yang masih memegang kompas itu dengan ekspresi seperti orang yang baru menemukan harta karun.

"Kompas Dao-ku berhasil," kata Wei Haifeng, mengangkat benda itu. "Seribu satu kali percobaan. Ini berhasil, Kak."

Qinghan menatap kompas itu sebentar. "Dan rencanamu selanjutnya?"

"Berlayar." Wei Haifeng meletakkan kompas dengan hati-hati di atas meja, lalu mengambil gulungan peta terbesar yang ada di dinding. "Aku akan mencari Xuanyuan. Ayah bilang pulau itu nyata. Tetua Bao juga pernah cerita, waktu aku masih—"

"Tetua Bao itu penipu." Suara Qinghan datar seperti bosan. "Dia menjual cerita yang sama ke tiga klan berbeda dengan harga yang berbeda."

"Mungkin." Wei Haifeng menggulung peta itu kembali dengan tangan yang tidak berhenti bergerak. "Tapi Ayah bukan penipu."

Qinghan tidak menjawab kali ini.

"Pokoknya aku akan bicara dengan Ibu," lanjut Wei Haifeng.

Tangan Qinghan terangkat sedikit, seperti refleks yang ditahan di tengah jalan. Bibirnya membuka, memanggil nama adiknya. Tapi tidak ada kata lain yang keluar. Qinghan tahu itu. Begitu Wei Haifeng mengambil keputusan, jalan satu-satunya adalah mengikutinya untuk memastikan dia tidak celaka.

Ruang singgasana terasa dua kali lebih dingin dari lorong di luar.

Kaisar Wei Wu Shuang duduk di kursi ukirnya dengan jubah merah terang yang terurai ke lantai. Sementara Haifeng berdiri di hadapannya bersebelahan dengan Qinghan.

“Apa yang akan putraku katakan kali ini?” Kaisar akhirnya bertanya.

Sementara Haifeng mengulangi niatnya. “Aku akan berlayar. Mencari Xuanyuan.”

“Tidak.”

“Aku sudah seribu satu kali mencoba kompas ini, Bu. Ini berhasil. Jarumnya menunjuk ke satu arah dan tidak bergerak. Itu artinya ada sesuatu di luar sana, sesuatu yang nyata.”

“Sudah kuberikan kau segalanya.” Ibunya bangkit dari kursinya, mengalirkan jubahnya seperti air terjun berdarah. “Tempat terbaik. Buku terbaik. Guru terbaik. Tapi kau tetap memilih untuk membuang nyawamu ke laut demi sebuah dongeng?”

“Ayah tidak pernah berbohong.”

Nama Wei Changsong menggantung seperti pedang yang baru saja dihunus. Sampai-sampai Kaisar Wei Wu Shuang membeku.

Qinghan lantas mengambil kesempatan itu. “Ibu, mungkin kita bisa mempertimbangkannya. Aku bisa ikut menjaga dia.”

“Qinghan, kau lebih baik tutup mulutmu.” Kaisar tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada Haifeng. “Kau tahu berapa banyak kapal yang tenggelam di Laut Timur? Berapa banyak pendekar yang mati karena arus qi bawah laut yang tidak bisa diprediksi?”

“Karena mereka tidak punya ini.” Haifeng mengangkat kompas Dao. “Bu, aku tidak akan bertarung. Aku akan membaca arus dan menghindari badai karena aku sudah menghitung semuanya.”

“Menghitung?” Ibunya sampai tertawa pendek yang tidak mengandung humor. “Kau tingkat nol, Haifeng. Ombak setinggi dua kali tubuhmu bisa membunuhmu. Belum lagi monster laut. Belum lagi bajak laut. Belum lagi...”

“Ayah sudah sampai di ambang pulau itu.” Haifeng mendahului meski tetap sopan, namun ada sesuatu di dalamnya yang membuat ibunya berhenti bicara. “Dua ratus tahun terakhir hidupnya, dia sakit-sakitan. Tapi dia tidak pernah berhenti mencari, dan sekarang adalah giliranku.”

Wei Wu Shuang menatapnya lama. Lalu matanya beralih ke Qinghan.

“Putriku, kau tahu rencana adikmu ini?”

Qinghan menghela napas. “Dia baru bilang sekarang.”

“Dan kau?”

“Aku akan ikut.”

“Ibu belum mengizinkan.”

“Tapi Ibu pasti akan mengizinkan.”

Wei Wu Shuang lantas memicingkan mata. “Kau sangat yakin.”

Sementara Qinghan hanya berdiri di sana seperti tembok es yang sudah berdiri selama tiga ratus tahun.

Sampai Haifeng meletakkan kompas Dao di atas meja di depan singgasana. Jarumnya masih diam. Masih menunjuk ke satu arah.

“Bu, aku tidak ingin menjadi kuat,” katanya sembari menatap lantai dan tangannya mengepal kuat. “Aku ingin menjadi berguna. Dan kegunaan terbesarku adalah menemukan hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Ayah percaya itu. Kenapa Ibu tidak?”

Kebisuan lantas mengisi ruangan dengan cepat sampai Qinghan menahan napas. Mungkin karena adiknya terlalu lantang terhadap Kaisar.

Adapun Kaisar Wei Wu Shuang menatap kompas Dao itu sebelum menatap putranya. Lalu menatap langit-langit ruang singgasana seolah mencari sesuatu di antara ukiran-ukiran naga di sana.

“Kau akan mati di laut,” katanya.

“Mungkin.”

“Aku tidak bisa kehilanganmu, Haifeng.”

“Ibu tidak akan kehilangan aku.”

Wu Shuang akhirnya mendesah lelah, keluar dari tempat paling dalam di dadanya, tempat dia menyembunyikan semua hal yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun selain kedua anaknya.

“Baik.”

Haifeng lantas mengerjap. “Apa?”

“Kubilang baik.” Wu Shuang duduk kembali di kursinya. Dia terlihat lelah dengan cara yang tidak pernah dia tunjukkan di depan para menteri atau jenderal. “Ibu akan siapkan kapal dan orang-orangnya. Tapi ada satu syarat.”

Haifeng sudah membuka mulut untuk berseru gembira. Tapi Qinghan lebih cepat.

“Apa syaratnya, Ibu?”

Kaisar Wei Wu Shuang langsung menatap Qinghan dengan tegas. “Kau ikut.”

“Sudah kubilang aku akan ikut.”

“Ikuti sampai ke mana pun dia pergi. Jaga dia. Jangan biarkan dia mati konyol.”

Qinghan pun mengangguk tanpa ekspresi. Tapi ada sesuatu di matanya yang mirip dengan kelegaan.

Segeralah Haifeng menoleh ke kakaknya. Lalu kembali ke ibunya. Senyumnya mulai melebar.

“Jangan tersenyum dulu,” kata ibunya bernada dingin. “Sayangku, kau belum tahu seberapa besar masalah yang baru saja kau buat untuk dirimu sendiri.”

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!