NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Surat Tantangan Darah

​Angin siang di pelataran Paviliun Sutra terasa membeku. Ratusan pasang mata menahan napas, menatap tegang ke arah dua sosok yang saling berhadapan di tengah lingkaran.

​Di satu sisi, Gu Tian berdiri dengan postur tegap bak pedang yang terhunus. Niat membunuh dari Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9 Puncak memancar dari tubuhnya, menekan murid-murid berlevel rendah di sekitarnya hingga kesulitan bernapas. Amplop merah darah di tangannya berkibar pelan, memancarkan bau amis yang samar.

​Di sisi lain, Lin Chen berdiri dengan postur santai. Tangan kanannya tersembunyi di balik jubah hitamnya, dan topi bambunya telah ia miringkan sedikit, memperlihatkan sepasang mata yang menatap Gu Tian layaknya menatap sebongkah batu di pinggir jalan.

​Surat Tantangan Darah.

​Di Akademi Bintang Jatuh, ini adalah bentuk tantangan tertinggi. Sekali surat ini diterima, kedua belah pihak akan memasuki Arena Hidup dan Mati. Di atas arena tersebut, tidak ada aturan, tidak ada intervensi dari instruktur, dan pertarungan hanya berakhir ketika salah satu pihak berhenti bernapas.

​"Bagaimana, Lin Chen?" Gu Tian menyeringai sinis, mencoba memprovokasi. "Apakah kau akan mengambilnya? Atau kau ingin menggunakan hak veto Murid Inti-mu untuk menolak, dan mengakui di depan seluruh akademi bahwa kau hanyalah kura-kura pengecut yang menyembunyikan kepalanya?"

​Para anggota Perkumpulan Naga Sejati di belakang Gu Tian tertawa merendahkan.

​Lin Chen tidak marah. Sebaliknya, ia melangkah maju dengan tenang. Ia mengangkat tangannya dan mengambil amplop merah darah itu dari jepitan jari Gu Tian.

​Sret.

​Tanpa repot-repot membuka dan membacanya, Lin Chen meremas amplop tersebut. Qi dari Sutra Pedang Kehampaan mengalir ke telapak tangannya, dan dalam sekejap, amplop yang terbuat dari kulit binatang buas tingkat tinggi itu hancur menjadi debu merah yang tertiup angin.

​"Tiga hari?" Suara Lin Chen terdengar datar, namun bergema di telinga setiap orang yang hadir. Ia menatap lurus ke kedalaman mata Gu Tian. "Kau membuang-buang waktuku. Tapi karena kau sangat ingin memperpanjang sisa nyawamu selama tiga hari lagi... aku akan mengabulkannya."

​Mendengar nada bicara yang begitu arogan dan menganggap remeh, raut wajah Gu Tian seketika berubah suram. Niat pedangnya meledak tak terkendali.

​"Bocah sombong! Jangan kira kau kebal hanya karena kau mengalahkan Chu Kuangren yang hanya bermodal otot bodoh!" Gu Tian merendahkan suaranya menjadi bisikan berbisa. "Di atas Arena Hidup dan Mati nanti, aku akan mencabik-cabik dagingmu perlahan hingga kau memohon untuk mati."

​Lin Chen membalikkan badannya, bahkan tidak menatap Gu Tian lagi. "Simpan gonggonganmu untuk hari pertunjukan nanti. Sekarang, menyingkir dari jalanku sebelum aku memutuskan untuk membunuhmu di sini."

​Kesombongan mutlak dari Lin Chen membuat darah Gu Tian mendidih, namun ia menggertakkan giginya dan menahan diri. Aturan akademi sangat ketat; membunuh di luar Arena Hidup dan Mati akan memancing kemarahan para Tetua Penegak Hukum.

​"Kita pergi!" perintah Gu Tian kepada anak buahnya. Ia menatap punggung Lin Chen yang menjauh dengan tatapan mematikan. "Nikmati sisa tiga harimu, Lin Chen."

​Berita tentang Lin Chen yang menerima Surat Tantangan Darah dari Gu Tian menyebar seperti api liar yang tersiram minyak ke seluruh penjuru Akademi Bintang Jatuh.

​Hanya dalam waktu setengah hari, dari asrama Murid Luar hingga puncak-puncak gunung Murid Inti, semua orang membicarakan pertarungan tersebut. Banyak yang menganggap Lin Chen terlalu sombong dan gegabah. Gu Tian bukanlah ahli Tingkat 8 seperti Chu Kuangren; ia berada di puncak Tingkat 9, selangkah lagi menuju Pembentukan Fondasi, dan merupakan salah satu ahli pedang tercepat di akademi!

​Namun, di tengah badai rumor dan spekulasi tersebut, Puncak Awan Ungu tetap sunyi senyap.

​Lin Chen sama sekali tidak memedulikan keributan di luar. Ia telah menutup gerbang paviliunnya rapat-rapat. Di halaman belakang yang luas, ia berdiri tanpa mengenakan baju atasan, memperlihatkan otot-otot perunggunya yang terbentuk sempurna.

​Di depannya melayang pecahan ingatan dari Slip Giok kuno yang ia dapatkan di Paviliun Sutra.

​"Langkah pertama dari Sembilan Langkah Kehampaan: Langkah Pemutus Bayangan."

"Pusatkan seluruh Qi murni ke titik akupunktur Yongquan di telapak kaki. Jangan menginjak tanah, tapi injaklah distorsi energi di udara. Gunakan ledakan Qi untuk mendorong tubuh menembus batasan ruang fisik."

​Lin Chen memejamkan mata, membiarkan teori kuno itu menyatu dengan insting bertarungnya.

​Wush!

​Tiba-tiba, ia membuka matanya. Energi keemasan meledak dari kakinya. Ia mengambil satu langkah ke depan.

​KRAK!

​Bukan tanah yang retak, melainkan udara di bawah kakinya yang mengeluarkan suara ledakan teredam! Sosok Lin Chen mendadak memudar, meninggalkan bayangan kabur di tempatnya berdiri, dan dalam sekejap mata, ia telah muncul dua puluh meter di seberang halaman!

​Namun, begitu ia mendarat, kaki kanannya bergetar hebat. Rasa sakit yang tajam seperti ditusuk ribuan jarum menyerang urat nadinya.

​"Ugh..." Lin Chen sedikit terhuyung, namun segera menyeimbangkan tubuhnya. Ia menunduk menatap kakinya yang memerah.

​"Luar biasa," gumam Lin Chen dengan mata berbinar. "Pantas saja akademi mencap teknik ini sebagai teknik bunuh diri. Tekanan yang dihasilkan dari merobek ruang hampa secara instan langsung menghantam pembuluh darah di kaki. Jika bukan karena fisikku yang telah ditempa hingga sekuat baja, kaki kananku pasti sudah meledak menjadi kabut darah saat mencoba langkah pertama ini."

​Lin Chen tidak berhenti. Sebaliknya, rasa sakit itu memicu ingatan darah Kaisar Pedangnya.

​Ia memanggil Pedang Berat Penelan Bintang dari cincin penyimpanannya. Menggenggam pedang seberat 500 kilogram itu dengan satu tangan, ia kembali memusatkan Qi-nya.

​"Lagi!"

​BOOM!

BOOM!

BOOM!

​Selama dua hari dua malam tanpa henti, suara ledakan udara terdengar dari Puncak Awan Ungu. Lin Chen memadukan Langkah Pemutus Bayangan dengan ayunan pedang beratnya.

​Di dunia kultivasi, kelemahan terbesar dari senjata berat adalah kelambatannya. Namun, apa yang terjadi jika sebuah pedang raksasa seberat setengah ton tiba-tiba muncul di depan wajah musuh dalam waktu kurang dari sekejap mata? Itu bukan lagi sekadar serangan; itu adalah bencana alam!

​Pada malam hari ketiga, Lin Chen akhirnya menyarungkan pedangnya. Ia berdiri di tengah halaman yang kini dipenuhi oleh kawah-kawah besar akibat gelombang kejut tebasannya.

​Napasnya teratur, dan otot kakinya telah sepenuhnya beradaptasi dengan tekanan spasial dari Sembilan Langkah Kehampaan.

​Lin Chen menatap bulan sabit yang menggantung di langit malam ibu kota. Cahaya bulan memantul dari mata gelapnya yang memancarkan kedinginan absolut.

​"Gu Tian... kuharap pertahananmu lebih keras dari mulutmu."

​Hari Pertandingan.

​Matahari baru saja terbit, namun Arena Hidup dan Mati di pusat akademi telah disesaki oleh lautan manusia. Ini adalah acara terbesar sejak ujian Jembatan Penilaian. Bahkan beberapa Instruktur dan Tetua tingkat menengah terlihat duduk di tribun tinggi, tertarik untuk melihat kekuatan sebenarnya dari Murid Inti Langsung yang baru.

​Arena ini berbentuk panggung melingkar raksasa selebar seratus meter, dibangun dari batu Obsidian Hitam yang mampu menahan serangan tingkat Pembentukan Fondasi tanpa tergores. Di sekeliling panggung, pilar-pilar batu mengukirkan formasi pembatas berwarna merah darah yang memastikan tidak ada serangan yang bocor ke penonton.

​Di tribun utama Perkumpulan Naga Sejati, Jiang Wuya sang Kakak Senior Pertama tidak hadir, namun puluhan elit faksi itu duduk berderet, menatap arena dengan penuh kemenangan.

​Di tengah arena batu obsidian tersebut, Gu Tian berdiri dengan mata terpejam. Ia mengenakan jubah tempur perak yang ketat, dan di tangannya tergenggam sebuah pedang panjang yang memancarkan pendar cahaya kebiruan—Pedang Angin Es, Senjata Spiritual tingkat menengah.

​Waktu terus berlalu, hingga bayangan matahari menyentuh tepat di tengah arena.

​Namun, Lin Chen belum juga muncul.

​"Apakah dia melarikan diri?"

"Hahaha! Sudah kuduga! Tikus desa itu pasti sudah mengemasi barangnya dan lari keluar dari ibu kota tadi malam!" teriak salah satu anggota Perkumpulan Naga Sejati, memicu gelak tawa dari kerumunan.

​Gu Tian perlahan membuka matanya, kilatan kekecewaan sekaligus penghinaan melintas di pupilnya. "Hanya ini keberanian Murid Inti Langsung? Menyedihkan."

​Tepat ketika wasit—seorang Diakon akademi—hendak mengumumkan kemenangan mutlak bagi Gu Tian karena ketidakhadiran lawannya, sebuah suara langkah kaki yang sangat berat terdengar dari lorong masuk arena.

​Tap... Tap... Tap...

​Setiap langkah itu bergema ritmis, membungkam tawa ribuan penonton.

​Dari balik bayang-bayang lorong, sesosok pemuda berjubah hitam melangkah keluar. Ia menaiki tangga batu menuju arena dengan santai. Pedang raksasa di punggungnya terlihat seperti nisan besi hitam yang siap dikuburkan ke dalam dada musuhnya.

​Lin Chen berhenti tepat tiga puluh meter di depan Gu Tian.

​"Melarikan diri?" Lin Chen memiringkan kepalanya sedikit, menatap Gu Tian dengan pandangan mengejek. "Aku hanya sedang tidur siang. Lagipula, menginjak serangga tidak membutuhkan persiapan khusus."

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!