[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.
Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.
Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
laba laba
[y/n] mencoba tertawa kecil, meski suaranya terdengar agak parau di tengah kesunyian gang yang mencekam. Dia sengaja menyenggol bahu Ariel, mencoba mencairkan ketakutannya sendiri dengan godaan yang sama seperti di kafe tadi.
"Iya nggak papa kok, emangnya lu mau ikut masuk? Atau sekalian nginep ha?" ucap [y/n] sambil menaikkan sebelah alisnya, menantang nyali si berandalan sekolah itu.
Ariel tidak langsung membalas. Dia diam mematung, matanya menatap tajam ke arah pintu rumah [y/n] yang masih tertutup rapat, seolah dia sedang mendeteksi keberadaan bahaya di dalam sana.
"Jangan bercanda, [y/n]. Gue serius," sahut Ariel
dengan nada yang sangat rendah, hampir menyerupai geraman.
Dia tidak membalas senggolan bahu [y/n]. Sebaliknya, Ariel melangkah maju, melewati garis polisi yang sudah agak kendor, dan berdiri tepat di depan pintu kayu rumah itu. Dia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah senter kecil yang selalu ia bawa—mungkin bagian dari 'peralatan tempur' atau kebiasaannya keluyuran malam-malam.
"Mana kuncinya?" tanya Ariel singkat, telapak tangannya menadah di depan [y/n].
[y/n] mengerjapkan mata, sedikit kaget melihat Ariel yang tiba-tiba masuk ke mode protektif yang sangat serius. "Eh? Lu beneran mau masuk?"
"Gue cek dalemnya dulu. Gue nggak mau lu masuk terus tiba-tiba ada kecoa atau... tikus segede kucing yang bikin lu jerit-jerit tengah malem," dalih Ariel, meski [y/n] tahu itu hanya alasan agar Ariel bisa memastikan tidak ada sisa-sisa bahaya atau orang asing di dalam rumah itu.
Dengan tangan gemetar, [y/n] menyerahkan kunci rumahnya. Ariel membuka pintu itu dengan perlahan.
Krieeeet...
Suara engsel pintu yang berkarat memecah keheningan malam. Bau apek, debu, dan sisa aroma alkohol yang menguap langsung menyambut indra penciuman mereka.
Cahaya senter Ariel menyapu ruang tamu yang porak-poranda. Kursi yang terbalik, pecahan gelas yang masih berserakan di pojok ruangan, dan garis polisi di dekat dapur membuat suasana terasa sangat kelam.
Ariel melangkah masuk lebih dulu, langkah sepatunya terdengar berat di atas lantai tegel yang kusam. Dia menyisir setiap sudut ruangan dengan cahaya senternya, memastikan semua jendela terkunci rapat.
"Bersih," gumam Ariel setelah mengecek sampai ke arah dapur.
Dia berbalik dan menemukan [y/n] masih berdiri mematung di ambang pintu, menatap noda darah kering di lantai tempat ibunya terakhir kali mengamuk.
[y/n] tampak begitu kecil di bawah remang lampu teras, bahunya sedikit bergetar.
Ariel menghela napas panjang. Dia berjalan mendekat, lalu tanpa diduga, dia menarik tudung jaket varsity [y/n] pelan agar gadis itu masuk ke dalam.
"Tutup pintunya," perintah Ariel. Dia menyandarkan tubuhnya di tembok dekat pintu, melipat tangan di depan dada. "Gue tunggu di sini sepuluh menit. Lu ambil barang-barang yang lu butuhin, baju, atau apa pun. Terus kita keluar dari sini."
"Keluar? Ke mana?" tanya [y/n] bingung.
Ariel membuang muka, telinganya kembali sedikit memerah di bawah sinar senter. "Tadi gua bilang apa? Lantai atas kafe itu lebih layak daripada gudang hantu ini. Lu nggak bakal kuat tidur sendirian di sini dengan bayangan kejadian semalem, [y/n]. Lu bisa gila."
Ariel menatap mata cokelat [y/n] dengan tajam. "Jangan keras kepala kali ini. Lu butuh tempat yang nggak 'berbau'."
Di tengah suasana mencekam rumah tua itu, tiba-tiba ada sesuatu yang merayap di pundak [y/n]. Sebuah kaki-kaki kecil berbulu bergerak pelan menuju lehernya. Itu adalah seekor laba-laba kebun berukuran sedang yang entah muncul dari mana.
Ariel yang sedang berdiri sok gagah menyinari ruangan dengan senter, seketika membeku. Begitu cahaya senternya mengenai makhluk kecil di pundak [y/n], matanya membelalak lebar.
"W-woi... [y/n]! Diem! Jangan gerak!" teriak Ariel dengan suara yang tiba-tiba naik satu oktav.
Ariel langsung melompat mundur dua tindak sampai punggungnya menabrak lemari tua di belakangnya.
Wajahnya yang tadi terlihat sangar kini berubah pucat pasi, lebih pucat daripada saat dia diseret Bu Yeni ke ruang guru.
[y/n] yang awalnya kaget, menoleh ke pundaknya. Bukannya menjerit, dia malah tertawa kecil melihat reaksi berlebihan Ariel.
Dengan gerakan santai yang sangat berani, [y/n] menangkap laba-laba itu dengan tangan kosong. Makhluk itu sekarang merayap tenang di atas telapak tangannya.
"Cuma laba-laba, Riel. Masa 'Criminal Pelita' takut sama ginian?" goda [y/n] sambil menyeringai jahil.
"Buang, [y/n]! Gue serius, buang nggak?!" Ariel makin merapat ke tembok, tangannya yang memegang senter gemetar hebat sampai cahayanya menari-nari nggak karuan di langit-langit. "Gue mending lawan sepuluh orang tawuran daripada harus liat kaki-kaki banyak itu merayap!"
Melihat Ariel yang benar-benar ketakutan, jiwa iseng [y/n] makin meronta. Dia melangkah maju perlahan, menyodorkan tangannya yang berisi laba-laba itu ke arah Ariel.
"Ariel... liat deh, matanya lucu lho. Mau pegang?" ucap [y/n] dengan nada bicara yang dibuat-buat lembut, persis seperti orang yang lagi nawarin permen.
"JANGAN DEKET-DEKET! [y/n], GUE SUMPAHIN LU JADI KIPAS ANGIN YA KALO BERANI MAJU LAGI!" teriak Ariel panik, dia bahkan sampai menutup matanya rapat-rapat, tidak berani melihat makhluk kecil itu.
[y/n] tidak bisa menahan tawa puncaknya. "Hahaha! Ya ampun, Riel! Jadi ini kelemahan lu? Badannya doang gede, nyalinya kalah sama laba-laba rumahan!"
[y/n] akhirnya kasihan melihat Ariel yang sudah hampir mau menangis karena ketakutan. Dia berjalan ke arah jendela yang terbuka, lalu melepaskan laba-laba itu ke semak-semak di luar.
Dia mencuci tangannya sebentar di wastafel dapur yang berdebu, lalu kembali menghampiri Ariel yang masih menempel di tembok dengan mata yang masih setengah tertutup.
"Udah, udah... monster berkaki delapannya udah pergi, 'Bujang'," ucap [y/n] sambil menepuk pelan lengan Ariel.
Ariel membuka satu matanya perlahan, memastikan area sekitarnya sudah bersih. Begitu sadar laba-labanya sudah hilang, dia berdehem keras dan mencoba merapikan jaketnya yang sedikit berantakan.
Wajahnya merah padam, tapi kali ini bukan karena malu karena gombal [y/n], melainkan karena malu ketahuan takut laba-laba.
"Gue... gue nggak takut. Gue cuma geli. Bedakan ya antara takut sama geli," bela Ariel dengan harga diri yang sudah runtuh berkeping-keping.
"Iya, iya... geli sampai mau naik ke atas lemari ya?" sindir [y/n] sambil nyengir.
Ariel mendengus ketus, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Dah, cepetan ambil barang lu. Sebelum temen-temennya yang lain dateng buat bales dendam."