Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15:Sekte Bing Si
Langit di atas Negara Bai Xue tidak pernah benar-benar hitam; ia adalah bentangan kanvas biru tua yang pekat, dihiasi oleh aurora perak yang menari-nari seperti sutra di angkasa, memantulkan cahaya pada hamparan salju yang tak kunjung mencair.
Di bawah cahaya mistis itu, wanita paruh baya utusan Sekte Bing Si Penatua Yun melambaikan tangannya dengan keanggunan seorang dewi.
Seketika, beberapa bilah pedang raksasa yang terbuat dari kristal es muncul dari udara tipis, membelah udara dan melayang stabil beberapa inci di atas tanah.
"Naiklah. Perjalanan menuju sekte bukan untuk kaki yang lambat. Kita akan melintasi batas ruang yang memisahkan dunia fana dengan tempat suci kami," ucap Penatua Yun. Suaranya datar, tanpa emosi, namun memiliki otoritas yang menggetarkan sukma setiap orang yang mendengarnya.
Chen Lin melompat ke atas pedang terbang itu dengan keseimbangan yang sempurna, kakinya menapak pada permukaan kristal yang dingin namun sangat kokoh.
Di sekelilingnya, tujuh pemuda-pemudi lain yang terpilih bersamanya tampak gemetar, bukan hanya karena hawa dingin, tapi juga karena rasa takut dan kegembiraan yang meluap.
Saat pedang-pedang itu melesat membelah awan, kecepatan mereka begitu tinggi hingga angin terasa seperti cambuk yang menghantam pelindung energi transparan yang diciptakan oleh Penatua Yun.
Mereka terbang menuju puncak gunung tertinggi yang puncaknya seolah-olah ditelan oleh langit. Penatua Yun merapal sebuah mantra kuno dengan bahasa yang terdengar seperti derit es yang pecah.
Ruang di depan mereka tiba-tiba berdesir, memperlihatkan gerbang cahaya tersembunyi yang merupakan titik lipatan dimensi. Begitu melewati gerbang itu, pemandangan berubah total.
Di hadapan mereka terbentang sebuah lembah raksasa yang melayang di antara awan-awan es. Bangunan-bangunan megah yang terbuat dari marmer putih dan kristal giok berjajar rapi, memancarkan aura kuno yang sangat kental, seolah-olah tempat ini telah ada sejak awal penciptaan dunia.
Pelataran Salju Murni dan Hukum Es
Saat mendarat di Alun-Alun Salju Murni, mereka disambut oleh hembusan angin yang membawa serpihan kristal spiritual.
Di sana, telah menunggu seorang pria tua berpakaian abu-abu dengan jenggot panjang yang membeku hingga ke dada. Ia adalah Penatua Lu, penanggung jawab urusan murid baru di Halaman Luar.
"Selamat datang di Sekte Bing Si," suara Penatua Lu bergema pelan namun memiliki resonansi yang menusuk hingga ke tulang.
"Bagi kalian, ini mungkin terlihat seperti surga. Tapi bagiku, ini adalah tempat di mana kalian akan dihancurkan untuk kemudian dibentuk kembali menjadi senjata."
Ia mulai menjelaskan struktur sekte dengan nada bicara yang monoton namun penuh tekanan, seolah setiap katanya adalah hukum yang tak terbantah.
"Sekte Bing Si terbagi menjadi dua bagian: Halaman Luar dan Halaman Dalam. Selama kalian masih berada di ranah Marrow Purification, kalian hanyalah Murid Halaman Luar. Status kalian tidak lebih berharga daripada debu hingga kalian berhasil menembus ranah Pure Essence. Hanya mereka yang mencapai Pure Essence yang berhak melangkahkan kaki ke Halaman Dalam dan mendapatkan akses ke teknik-teknik sejati sekte kami."
Penatua Lu kemudian menunjuk ke arah barisan gunung yang mengelilingi lembah, di mana kabut energi spiritual tampak lebih tebal dan berkilau.
"Halaman Luar dijaga oleh sembilan Penatua hebat yang berada di ranah True Essence Tingkat 7 hingga 9. Namun, Halaman Dalam justru lebih eksklusif, hanya diisi oleh 5 Penatua, tetapi ranah mereka semuanya berada di tahap Birth Soul Tingkat 2. Dan di atas mereka semua, berdiri Wakil Ketua Sekte di tingkat 6, Ketua Sekte di tingkat 7, serta Penatua Agung yang juga berada di tingkat 6. Di sini, kekuatan adalah segalanya."
Chen Lin mendengarkan dengan saksama. Meskipun wajahnya tetap datar seperti danau yang membeku, batinnya bergejolak.
Ranah Birth Soul adalah puncak yang sangat tinggi, namun lingkungan dengan konsentrasi energi setinggi ini membuat Esensi Tulang Rembulan di dalam tubuhnya berdenyut penuh semangat, haus akan pemurnian.
Setelah Penatua Lu selesai memberikan instruksi, dua orang murid senior melangkah maju dari balik pilar es raksasa untuk memandu para murid baru.
Salah satunya adalah seorang pria berwajah ramah bernama Feng Jian, dan di sampingnya berdiri seorang gadis dengan kuncir kuda yang energik bernama Li Mei. Keduanya mengenakan jubah biru tua yang berkualitas lebih baik daripada seragam murid baru.
"Jangan terlalu tegang, Adik-adik," ujar Feng Jian sambil tersenyum lebar. Suaranya kontras dengan aura dingin di sekitarnya.
"Penatua Lu memang terlihat seperti mayat yang membeku, tapi dia adalah guru yang paling peduli pada keselamatan murid luar selama kalian tidak melanggar aturan."
Li Mei, yang memiliki mata bulat yang ceria, berjalan mengitari para murid baru sebelum berhenti di depan Chen Lin. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap mata Chen Lin dengan penuh minat.
"Wah, jadi ini pemuda misterius yang menempati peringkat ketiga di ujian Ibukota? Namamu Chen Lin, kan? Aku sudah mendengar desas-desus tentangmu sejak pagi tadi."
Chen Lin hanya mengangguk singkat, tetap mempertahankan sikap pria yang dingin dan pendiam.
"Benar, Senior," jawabnya pendek.
"Aduh, dingin sekali cara bicaramu!" Li Mei terkekeh, suaranya terdengar seperti lonceng perak yang berdenting.
"Tapi tidak apa-apa, di sekte ini, sikap dingin adalah aksesori terbaik. Mari, kami akan menunjukkan jalan menuju asrama. Ikuti kami dan jangan sampai tersesat, atau kau akan berakhir menjadi patung es sebelum malam tiba."
Sambil berjalan menyusuri jalanan setapak yang dipahat langsung dari punggung gunung, Feng Jian menunjuk ke arah sebuah paviliun kayu yang tertutup salju.
"Itu adalah Aula Pengobatan. Tempat yang harus kau hindari jika kau tidak ingin mencium bau belerang dan ramuan pahit sepanjang hari. Tapi di sebelah sana," ia menunjuk ke arah sebuah lembah kecil. "adalah Kebun Tanaman Obat Es. Tempat itu cukup damai bagi mereka yang suka menyendiri."
Li Mei menyikut lengan Feng Jian sambil melirik Chen Lin.
"Hei, Feng Jian, jangan menakutinya. Chen Lin, sebagai peringkat tiga, kau akan tinggal di gubuk pinus es yang sedikit lebih dekat dengan sumber energi spiritual. Ini adalah hak istimewa, tapi juga beban. Murid senior lainnya mungkin akan merasa iri dan mencoba mengujimu."
"Aku tidak keberatan diuji," jawab Chen Lin dengan tenang.
Li Mei tertawa lagi. "Aku suka kepercayaan dirimu! Baiklah, ini adalah area asrama murid luar. Gubuk nomor 307 adalah milikmu. Jika kau merasa kedinginan malam ini, jangan gunakan api biasa, itu hanya akan memecahkan kristal dindingnya. Gunakan napas spiritualmu untuk menyelaraskan diri dengan suhu ruangan."
Keseharian di Bawah Bayang-Bayang Es
Setelah berpisah dengan Feng Jian dan Li Mei, Chen Lin menetap di gubuk kecilnya.
Kesehariannya di Sekte Bing Si dimulai jauh sebelum fajar menyingsing. Setiap pagi, saat udara di lembah mencapai titik terendahnya hingga napas pun membeku menjadi butiran es kecil, seluruh murid luar diwajibkan berkumpul di Tebing Napas Es.
Tugas mereka adalah duduk bermeditasi selama empat jam di bawah air terjun es yang mengalirkan energi spiritual yang sangat tajam.
Bagi murid biasa, ini adalah siksaan fisik yang tak tertahankan. Suara gemuruh air yang jatuh menghantam batu es menciptakan suasana yang mencekam, ditambah dengan teriakan-teriakan tertahan dari murid-murid yang tidak kuat menahan rasa sakit.
Namun bagi Chen Lin, momen ini adalah saat di mana ia merasa paling hidup. Ia duduk setenang patung marmer di bawah guyuran air es yang menghujam bahunya. Di balik jubahnya yang longgar, kulitnya yang halus mulai memancarkan cahaya perak tipis yang ritmis.
"Biarkan air terjun ini menghancurkan sisa-sisa kotoran di meridianmu, Chen Lin," suara Lin XingYu bergema lembut namun kuat di dalam kesadarannya.
"Identitasmu sebagai wanita memberikanmu fleksibilitas energi yang tidak dimiliki murid pria lainnya. Gunakan itu untuk menyerap esensi dingin tanpa membuat meridianmu menjadi kaku."
Chen Lin memejamkan mata, membiarkan setiap tetes air es seperti jarum energi yang menjahit kembali setiap celah di dalam susunan sumsum tulangnya.
Ia merasa sangat nyaman, seolah-olah ia sedang berendam di dalam rahim alam semesta yang murni dan tenang. Kesunyian di bawah air terjun itu menjadi dunianya sendiri.
Setelah meditasi pagi yang ekstrem, tugas harian dimulai. Berdasarkan instruksi Li Mei sebelumnya, Chen Lin seringkali menghabiskan waktunya di Kebun Tanaman Obat Es.
Tugasnya terlihat sederhana menyalurkan energi spiritual es miliknya ke akar-akar tanaman langka seperti Bunga Kristal Salju agar mereka tetap hidup.
Namun, ini sebenarnya adalah latihan kontrol energi yang sangat rumit. Jika ia menyalurkan terlalu sedikit energi, tanaman itu akan mati layu dalam hitungan detik. Jika terlalu banyak, tanaman itu akan membeku dan hancur berkeping-keping.
Di sini, Chen Lin belajar bagaimana membagi energinya menjadi ribuan helai tipis yang lebih halus daripada rambut manusia, menyusup ke dalam sel-sel tanaman dengan penuh kelembutan.
"Lihat dia," bisik beberapa murid senior yang sedang lewat sambil membawa keranjang hasil panen.
"Si peringkat tiga itu... dia sudah duduk di depan tanaman itu selama enam jam tanpa berkedip.Apakah otaknya sudah membeku?"
"Biarkan saja dia," sahut yang lain dengan nada sinis.
"Peringkat ujian masuk tidak berarti apa-apa jika dia hanya berakhir menjadi tukang kebun selamanya. Dia hanya membuang-buang bakatnya."
Chen Lin hanya tersenyum tipis di dalam hati. Mereka tidak tahu bahwa dengan melakukan ini, ia sedang melatih presisi serangannya hingga ke level yang belum pernah ia capai sebelumnya.
Bagi Chen Lin, setiap daun dan akar adalah medan pertempuran kecil yang mengasah ketajamannya.
Rahasia di Mata Air Tersembunyi
Malam hari adalah waktu yang paling krusial sekaligus paling berbahaya bagi Chen Lin.
Di Sekte Bing Si, para murid pria biasanya mandi bersama di kolam air hangat spiritual yang besar sambil membicarakan teknik dan ambisi mereka. Suara tawa dan perdebatan mereka seringkali terdengar hingga ke area asrama.
Chen Lin selalu menghindari tempat itu dengan berbagai alasan. Ia lebih memilih untuk berjalan jauh ke arah hutan belakang sekte, melewati barisan pohon pinus kristal yang mengeluarkan cahaya biru samar.
Di sana, terdapat sebuah mata air kecil yang tersembunyi di balik gua es alami.
Di bawah sinar bulan perak yang menembus celah gua, Chen Lin akhirnya bisa melepaskan jubah beratnya dan kain pengikat dada yang menyesakkan.
Dan tak lupa dia melepas penyamarannya, Dan wajah cantik itu mulai terlihat kembali.
Saat ia melangkah masuk ke dalam air yang jernih, ia merasa bebannya terangkat. Air mata air itu membantu menstabilkan suhu tubuhnya yang seringkali menjadi terlalu dingin akibat kultivasi Tulang Rembulan yang agresif.
Ia menatap bayangannya di permukaan air yang tenang. Wajah yang cantik dan feminin itu tampak kontras dengan bekas luka kecil di bahunya akibat latihan pedang yang keras.
"Sampai kapan aku harus terus bersembunyi seperti ini, XingYu?" bisiknya pelan, suaranya bergetar karena sedikit rasa kesepian.
"Sampai kau mencapai puncak, Chen Lin," jawab Lin XingYu, muncul dalam bentuk proyeksi cahaya lembut di sampingnya.
"Dunia ini tidak ramah bagi mereka yang memiliki bakat besar namun dianggap lemah secara fisik. Identitasmu sebagai pria adalah perisai terbaikmu saat ini. Gunakan itu untuk menutupi rahasia Tulang Rembulanmu."
Xinyue menghela napas, uap putih keluar dari bibirnya. Ia membersihkan tubuhnya dengan gerakan yang anggun namun penuh kewaspadaan, telinganya tetap tajam mendengarkan setiap suara di luar gua.
Setelah membersihkan diri, ia segera kembali menyamar mengenakan pakaiannya kembali dan mulai berlatih Jurus 7 Pedang Bayangan di ruang sempit gua tersebut.
Pedang besi es pemberian sekte kini sudah terasa seperti perpanjangan tangannya sendiri.
Ia mengayunkannya ribuan kali, menciptakan bayangan-bayangan pedang yang semakin hari semakin padat dan terlihat seperti kristal padat yang nyata. Suara dentingan pedang yang bergesekan dengan udara di dalam gua itu menjadi melodi malam bagi Chen Lin.
Kesehariannya yang tenang akhirnya terusik. Di Sekte Bing Si, ada sistem poin kontribusi yang menentukan jatah makanan dan sumber daya kultivasi.
Sebagai murid baru dengan peringkat tinggi, Chen Lin secara otomatis mendapatkan sejumlah poin awal yang cukup besar. Hal ini memicu kecemburuan di kalangan murid senior yang merasa posisi mereka terancam.
Suatu sore, saat Chen Lin berjalan pulang dari kebun obat dengan tubuh yang masih beraroma tumbuhan es, tiga murid senior mencegatnya di sebuah lorong sempit yang dibatasi oleh dinding es tinggi.
Pemimpin mereka adalah seorang pria bertubuh tegap bernama Zhao Kang, yang sudah berada di puncak Marrow Purification selama dua tahun.
"Berhenti di sana, junior," ujar Zhao Kang dengan senyum sinis yang merendahkan. Kedua rekannya tertawa pelan sambil mengepung Chen Lin dari arah samping.
Chen Lin berhenti, matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah Zhao Kang. "Ada apa?"
"Kau murid baru peringkat tiga, kan? Kudengar poin kontribusimu cukup banyak. Di Halaman Luar ini, ada aturan tidak tertulis, murid baru harus memberikan 'pajak pengenalan' kepada senior sebagai bentuk rasa hormat," ucap Zhao Kang sambil melepaskan aura energinya yang kasar, mencoba menekan mental Chen Lin.
"Aku tidak pernah mendengar aturan seperti itu dari Penatua Lu," jawab Chen Lin datar.
"Minggir, aku ingin lewat."
"Berani sekali kau!" Wajah Zhao Kang memerah karena marah.
"Hanya karena kau menang di ujian Ibukota, kau pikir kau sudah hebat? Di sini, kami telah ditempa oleh es selama bertahun-tahun. Berikan poinmu sekarang, atau aku akan memastikan kau tidak bisa berjalan ke Tebing Napas Es besok pagi!"
Zhao Kang menerjang maju, tangannya membentuk cakar es yang tajam.
Namun, Chen Lin bahkan tidak menghunus pedangnya. Ia hanya menggerakkan tangannya dengan kecepatan yang sulit diikuti mata.
Dengan memanfaatkan prinsip kontrol energi yang ia pelajari di kebun obat, ia melepaskan satu helai energi es murni dari lapisan kedua Jurus 7 Pedang Bayangan.
Sebuah bayangan pedang transparan meledak tepat di depan kaki Zhao Kang, menciptakan kawah es sedalam satu meter dan melemparkan pria itu ke belakang hingga menabrak dinding es. Debu es menyelimuti lorong tersebut.
"Jika aku ingin menyerang jantungmu, bayangan itu sudah berada di sana sebelum kau sempat mengedipkan mata," ucap Chen Lin dengan suara dingin yang membuat darah ketiga senior itu membeku.
"Jangan pernah menggangguku lagi, atau es di sekte ini akan menjadi peti matimu."
Chen Lin melanjutkan perjalanannya tanpa menoleh sedikit pun. Zhao Kang dan teman-temannya hanya bisa terpaku dengan wajah pucat pasi, menyadari bahwa perbedaan kekuatan antara mereka dan murid baru ini bagaikan bumi dan langit.
"Apakah dia benar-benar berada di peringkat ke-3 di ujian, aku dengan juara 1 hanya di tanah Marrow Purification Tingkat 3. Tapi Dia! "
Ucap Zhao Kang dengan ekspresi tak percaya.
Malam itu, Chen Lin duduk bersila di atas atap gubuknya yang tertutup salju tipis. Dari tempatnya, ia bisa melihat cahaya lampu-lampu di Halaman Dalam yang melayang tinggi di atas awan. Di sana, ia tahu bahwa tantangan yang sesungguhnya sedang menantinya.
Ia teringat pada rekan-rekannya Yan Bo, Lu Han, dan ketiga gadis itu. Apakah mereka juga sedang berjuang sepertinya di sekte masing-masing? Apakah mereka sedang menatap bulan yang sama dan memikirkan perpisahan mereka?
"Kau sedang melamun?" tanya Lin XingYu.
"Hanya sedikit mengingat masa lalu," jawab Chen Lin pelan.
"Tempat ini sangat dingin, XingYu. Bukan hanya suhunya, tapi juga orang-orangnya. Persaingan di sini jauh lebih brutal daripada yang kubayangkan."
"Itulah sebabnya es adalah elemen yang paling cocok untukmu saat ini. Es tidak membutuhkan kehangatan untuk menjadi kuat; ia hanya butuh ketegasan," balas Lin XingYu dengan nada yang membangkitkan semangat.
"Jangan biarkan dirimu terhanyut oleh emosi manusia yang dangkal. Teruslah berlatih. Pure Essence adalah langkah pertamamu untuk benar-benar menguasai takdirmu."
Chen Lin mengangguk, matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Ia menutup matanya kembali, memulai sirkulasi energi sumsumnya yang ke-108 untuk malam itu.
Di bawah langit Bai Xue yang luas, di tengah ribuan praktisi yang sedang bermimpi tentang kekuasaan, sang dewi yang terperangkap dalam raga pemuda itu terus mengasah kekuatannya secara diam-diam.
Setiap napas yang ia tarik adalah hawa dingin yang mematikan, dan setiap napas yang ia keluarkan adalah janji akan kehancuran bagi siapa pun yang berani menghalangi jalannya.
Keseharian di Sekte Bing Si yang tampak membosankan bagi orang lain, bagi Chen Lin, adalah kawah candradimuka yang akan melahirkan legenda baru yang akan mengguncang seluruh Utara.
Dan saat mentari es besok pagi terbit, ia akan kembali menjadi Chen Lin yang pendiam, namun dengan kekuatan yang kian mendekati puncak yang ia dambakan.