Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Jadi Sopir
Kedua mata Ipah langsung bersinar terang. "Oh, die ...."
Ketika Ipah hendak bergerak ke depan, pria itu langsung menghalangi. "Tapi Mpok jangan bilang macem-macem ya?" Wajahnya tampak khawatir.
"Macem-macem apenye?" Wanita itu mulai mengulum senyum.
"Ya ... cerita soal akulah ...." Suaranya mengecil nyaris tak terdengar. Sepertinya Collins takut kakak angkatnya ini membocorkan rahasia.
"Iye, iye ...." Ipah menepuk bahu Collins, berusaha menenangkan.
Collins melihat saja ketika Ipah mendatangi Aida. Keduanya mengobrol sebentar dan kemudian Ipah mengajaknya masuk. Pria itu memilih keluar dan duduk di beranda. Tak lama Aida keluar. Terdengar langkah kaki dan tongkatnya.
"Sudah?" tanya Collins.
"Oh, iya." Wajah wanita itu terlihat sumringah.
"Ayo, aku antar Mbak. Sekalian aku mau ke toko." Collins melirik Ipah yang ikut mengantar. Wanita itu hanya tersenyum penuh arti. Collins sedikit gugup saat membonceng Aida karena Ipah memperhatikannya.
"Assalamualaikum," sahut Aida.
"Waalaikumsalam," ujar Ipah sambil menutup pagar.
****
"Mpok bisa jahitnya 'kan?" Collins tiba-tiba datang bertanya.
"InshaAllah," sahut Ipah.
"Beneran, bisa 'kan?" Collins mengerut dahi. Ia masih ragu dengan kemampuan Ipah.
"Iye, bawel!" Ipah mencubit pipi Collins yang putih dengan gemas, meninggalkan bekas merah yang terlihat.
"Ah, Mpok!" Collins menepis tangan Ipah dengan kasar.
Namun, bukannya marah, Ipah tertawa.
"Aku promosiin, juga, Mpok ...." Collins merengut kesal.
"Iya, terima kasih, adikku Sayang ...." Ketika Ipah mulai hendak menyentuh wajah Collins sekali lagi, pria itu menghindar.
"Wee ... gak kena," ledek Collins. Ia kini tertawa.
Ipah mengangkat telunjuknya. "Pinter lu ye, sekarang!" Senyumnya masih terukir di wajah. Tampaknya adik angkatnya ini mulai terbiasa dengannya dan tidak sekaku dulu saat menghadapinya.
"Harus pinterlah, punya Mpok kayak gini," tangkis Collins. Ia dengan gayanya yang sombong melangkah ke kamar.
Babe dan enyak yang tengah makan malam bersama, hanya menggeleng-gelengkan kepala. Enyak menatap Babe. Ia begitu senang Collins terlihat nyaman tinggal di sana. Wanita itu bahkan hampir menitikkan air mata karena mendapatkan kembali keramaian di rumah itu yang pernah hilang bersama kepergian anak bungsunya.
"Nah, pan, nangis lagi. Dah ah! Kite seharusnye sadar tidak ada yang abadi di dunia enih. Lu tau itu, pan? Tuhan mengirim die untuk membuat kite bahagia, jadi nikmati aje nyang ada sekarang, iye pan?" Babe berkomentar.
Enyak mengangguk pelan.
"Dah, jangan nangis. Ntar anak kite keder lagi, ngeliat kite begini ...."
Enyak menghapus air matanya dan mulai tersenyum. Mereka melanjutkan makan malam mereka yang tertunda.
****
Collins memperhatikan pria di sampingnya dengan curiga. Sebagian besar perhatian pria itu tertuju pada Aida.
"Sudah semua?" Collins mengangkat wajahnya menatap ke arah cermin kecil yang berada di atasnya. Dua wanita yang berada di belakang terlihat santai.
Pak Aji, pria di sampingnya menoleh ke belakang. "Ibu Aida, tidak ada yang ketinggalan, 'kan?"
"Oh, tidak ada."
Collins sedikit kesal. Sebentar-sebentar pria itu menoleh ke belakang menatap Aida. Daripada hatinya memanas, Collins mulai menjalankan mobil.
Mobil itu berada di deretan paling belakang dari rombongan bus para pelajar. Ada dua mobil dan mobil yang dibawa Collins berada paling terakhir, sehingga ia bisa lebih santai menjalankan mobil karena hanya perlu mengikuti mobil di depannya.
Sesekali Pak Aji melirik cermin kecil itu. Pastinya untuk melihat Aida yang sedang mengobrol dengan guru wanita yang satu lagi. Collins berusaha abai. Ia tidak ingin kecemburuannya merusak suasana. "Eh, Pak Aji guru apa?"
"Guru matematika."
'Pantas membosankan. Semembosankan wajahnya!' Collins bertahan agar wajah merengutnya tak terlihat. Ia mencengkram stir mobil dengan kuat. 'Aku tidak boleh begini. Aku menyukai Aida tapi tidak harus secemburu ini bila ada yang menyukainya, kenapa tiba-tiba aku jadi seboddoh ini? Apa aku makin posesif padanya? Ini gila namanya. Aku 'kan ke sini mencari ketenangan bukan mencari jodoh, ah ....'
Collins coba mengalihkan pikirannya. Ia memutar wajah melihat pemandangan di sekeliling. 'Aku akan kembali ke Jakarta. Mudah-mudahan tidak ada yang mengenaliku di sana.' Pria itu merapikan topinya.
****
Seorang wanita cantik yang berpenampilan mewah dengan baju rumahannya, tengah makan siang bersama anak laki-laki berusia tiga tahun. Banyak hal yang ia lakukan sekaligus. Sambil makan ia juga menyuapi sang anak dan juga fokus menguping. Wanita ini tengah menguping pembicaraan sang suami dengan beberapa orang yang datang menemuinya di ruang tamu.
'Mmh ... jadi Collins pergi tak jauh. Heh! Sudah bisa dipastikan dia takkan bisa hidup tanpa kekayaan ayahnya! Anak manja itu ... pasti dia melakukan ini hanya untuk menakut-nakuti Hardyn. Lihat saja, Collins. Saat harta ayahmu jatuh ke tanganku, kau akan kubuat mengemis padaku! Itu balasannya bila kau menolak cintaku!' Netra Miranda memicing saat mengingat kejadian tujuh tahun lalu.
Ya, Miranda saat itu adalah sekretaris baru direktur, tapi ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Collins yang waktu itu masih SMA dan datang ke kantor direksi. Penampilan Collins yang santai dan tak acuh itu membuat Miranda tergila-gila. Padahal Miranda hanya beda beberapa tahun di atasnya, tapi bujuk rayunya sia-sia karena pemuda itu menolaknya.
Miranda marah dan melampiaskan dengan menggoda Hardyn, ayah Collins. Pria paruh baya itu sama kerasnya dengan Collins, hingga suatu saat Miranda melihat peluang itu. Pria itu rapuh setelah sang istri meninggal. Cinta satu malam karena alkohol memuluskan jalan Miranda menjadi nyonya Grow. Ia hamil. Walau sempat keguguran, Hardyn tak menceraikannya.
Hanya saja Miranda masih bingung bagaimana menyetir suaminya agar ia bisa ikut terlibat dalam mengurus Collins. Hardyn sama sekali tak membiarkan sang istri ikut campur dalam membuat keputusan.
"Karena tak jauh, sebaiknya ada orang yang disebar di sekitar pinggir Jakarta, kalau ingin cepat membuahkan hasil. Sementara, Saya sudah meletakkan kembali barang-barang anak Anda di lokernya," sahut pria berjaket hitam.
"Aku sudah melakukan itu tapi tak berhasil! Aku heran, kenapa orang-orang sudah disebar tapi seolah anakku hilang ditelan bumi?"
"Sabar, Tuan. Perkiraan Saya pasti gak salah, hanya saja ...."
"Hanya saja apa?" Hardy melirik tajam ke arah pria itu.
"Mungkin anak Anda bertemu seseorang yang bisa menyembunyikannya," ucap pria itu hati-hati. "Jangan berpikiran buruk ...."
"Aku pasti berpikiran buruk! Aku bisa gila!" Hardyn menendang meja di depannya dengan keras. Deretan cangkir yang ada di atasnya ikut bergetar dan airnya tumpah.
Miranda ikut mendengarkan. Entah kenapa ia juga khawatir. 'Aku juga harus menyewa orang, kalau begitu!'
****
"Mbak juga mau mengumpulkan kerang?" tanya Collins ketika ia melihat Aida membuka wadah berpenutup yang keluar dari dalam tasnya.
"Eh, iya. Aku ingin coba bikin prakarya nanti di sekolah, seperti yang akan dikerjakan para murid."
"Biar aku bantu!" Collins meraih wadah itu dari tangan Aida.
"Eh, tapi ...."
"Mbak ngak bakal bisa nyarinya," potong Collins. "Dia ada di pasir yang ada batu-batunya atau harus menggali pasir. Sementara kalau lewat bebatuan, Mbak pasti jatuh kesandung."
"Eh, tapi ...." Aida menggigit bibir bawahnya. Ia tak mau menyusahkan pria itu.
"Mbak duduk aja dulu di sini, nanti aku carikan sampai penuh. Mbak mau yang apa? Kerang? Rumah keong?"
"Terima kasih ya." Aida tersenyum walau tak rela.
Collins tak sengaja melihat Pak Aji tak jauh dari sana memperhatikan Aida. Ia kembali kesal. Collins bisa begitu dekat dengan Aida karena Aida sendiri mengaku kalau Collins adalah kerabatnya.
Bersambung ....