NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

 "SATU SENTUHAN SAJA DI KULIT ISTRIKU, AKU PASTIKAN HIDUPMU HANCUR LEBUR TAK BERSISA! MENGERTI KAMU?!"

Aira yang berada di dalam pelukan yang hangat itu tertegun hebat. Ia bisa merasakan hangatnya tubuh Elvano yang melindunginya sepenuhnya. Kekuatan genggaman tangan di pinggangnya yang tidak mau melepas sedikitpun, seolah berkata "Dia milikku". Aroma wangi maskulin yang khas dan menenangkan menguar kuat dari baju pria itu, membuat rasa takut Aira perlahan hilang, digantikan oleh jantung yang berdebar kencang karena malu dan... nyaman.

Natasha ternganga lebar melihat pemandangan di depannya. Mulutnya terbuka tapi tak bisa mengeluarkan suara. Elvano memeluk wanita itu?! Elvano melindungi wanita itu dengan cara yang begitu posesif?!

“Kamu… kamu benar-benar memilih dia daripada aku?” tanya Natasha tak percaya, suaranya pecah dan bergetar hebat. Air matanya mengalir deras membasahi pipi. “Kamu lupa siapa aku?! Elvano itu cuma milikku! Selalu dan akan selalu jadi milikku! Dia cuma istri diatas kertas! Dia cuma pengisi kursi doang! Dia gak pantas bersanding di samping kamu!"

“Dia adalah istriku!” potong Elvano keras dan tegas, ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Aira, seolah ingin menyatukan tubuh mereka. “Dan dia jauh lebih berharga dari apapun yang pernah kamu miliki! Dia jauh lebih mulia daripada sikap kamu ada yang tidak tahu malu ini! Keluar! Sekarang juga! Sebelum aku benar-benar hilang kesabaran dan bertindak dengan kasar!”

“Aku tidak akan pergi! Aku tidak bisa menerima ini!” Natasha mulai histeris parah, ia menarik-narik rambutnya sendiri frustrasi. “Aku benci kalian berdua! Kamu akan menyesal! Dia tidak bisa membuatmu bahagia seperti aku! Nanti juga kamu akan bosan dan dia akan jadi janda muda! Itu sudah takdir! Dan itu pasti akan terjadi!"

Elvano tidak lagi menanggapi ocehan gila wanita itu. Ia langsung menekan tombol interkom di meja makan dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi masih tetap menggenggam erat jari-jemari Aira, saling mengunci, memberikan kekuatan yang luar biasa.

“Pak Budi! Keluarkan wanita ini dari rumah saya sekarang juga! Jangan ada ampun!”

Beberapa detik kemudian, satpam dan asisten datang menyeret Natasha yang terus memberontak, menendang, dan meneriaki ancaman-ancaman yang jahat. Namun Elvano sama sekali tidak melepaskan Aira dari lindungannya, sampai pintu utama tertutup rapat dan suara teriakan itu hilang ditelan malam.

Setelah Natasha pergi, suasana di dalam rumah kembali hening. Namun kehangatan masih terasa sangat nyata di antara tubuh mereka berdua.

Aira masih berdiri sangat dekat dengan Elvano. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Jarak mereka hanya tinggal beberapa senti saja.

Perlahan dan sangat lembut, Elvano melepaskan pelukan di pinggang Aira, tapi tangannya langsung bergerak naik, memegang kedua pipi gadis itu menggunakan kedua telapak tangannya yang besar, hangat, dan sangat lembut.

Wajah Aira yang masih pucat dan ketakutan kini berada di dalam genggaman tangan suaminya.

Ibu jari Elvano mengusap pelan dan lambat di bawah mata Aira, menyapu bersih sisa air mata yang hampir jatuh membasahi pipi putih itu. Gerakannya sangat halus, sangat penuh perhatian, sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sikap dingin dan kejamnya tadi pada Natasha.

“Dia sudah pergi…” bisik Elvano pelan, suaranya rendah, berat, dan bergetar menenangkan. “Jangan takut. Ada aku di sini. Tidak ada yang bisa menyakitimu selama aku masih ada.”

Aira menatap manik mata hitam tajam milik suaminya itu, merasa tenggelam di dalam lautan ketenangan. Jantungnya berdegup kencang bukan main, rasanya ingin meledak.

“M… Mas…” panggilnya lirih.

“Dia tidak akan pernah bisa mengancammu lagi,” lanjut Elvano, tangannya masih setia memegang wajah Aira, lalu perlahan bergerak turun memegang kedua bahu gadis itu, mengusapnya perlahan untuk menghilangkan rasa gemetar di tubuh istrinya. “Selama aku masih bernapas, tidak ada yang berhak menyakiti istri sahku. Mengerti, Sayang?”

Panggilan 'Sayang' itu keluar begitu saja tanpa sadar dari mulut Elvano, membuat Aira tersentak dan wajahnya memerah bak kepiting rebus.

“I… iya Mas…” Aira mengangguk pelan, matanya berbinar haru. “Te… terima kasih banyak sudah lindungi Aira. Aira rasa… Aira tidak akan takut lagi kalau ada Mas di samping Aira.”

Elvano tersenyum tipis, senyuman yang sangat langka dan mematikan. Ia kemudian menggenggam kedua tangan Aira, mengangkatnya lalu menempelkan telapak tangan halus itu ke dadanya sendiri yang bidang, agar gadis itu bisa merasakan betapa jujur dan kuatnya detak jantungnya saat ini.

“Janji sama aku,” ucap Elvano serius dan dalam. “Jangan pernah dengerin omongan dia soal janda atau apa. Itu tidak akan pernah terjadi. Karena aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu. Selamanya.”

Sentuhan itu terasa begitu nyata, begitu hangat, dan begitu memiliki. Aira merasa seolah ada aliran listrik yang menjalar dari ujung kaki sampai ke ubun-ubunnya. Di luar dugaan, pria dingin ini ternyata memiliki sisi yang begitu melindungi, posesif, dan sangat romantis tanpa ia sadari.

“Mas Elvano…” bisik Aira lirih, hatinya meleleh melihat ketulusan di mata suaminya.

“Masuk ke kamar,” ajak Elvano lembut, tak melepaskan genggaman tangan Aira. Ia menggandeng tangan istrinya itu erat-erat, jari-jemari mereka saling bertautan sempurna, berjalan beriringan meninggalkan ruang makan. “Aku pastikan tidak akan ada yang bisa mengganggu ketenangan kita malam ini.”

Dan di sepanjang jalan menuju kamar utama yang megah itu, tangan mereka tak terpisahkan. Hangat, kokoh, dan penuh dengan janji suci yang baru saja terucap.

*****

Sudah beberapa hari ini Aira memutuskan untuk menginap di rumah orangtuanya, dengan alasan ingin menghabiskan waktunya dengan keluarganya sebelum pindah ke rumah yang sudah disiapkan oleh Elvano.

Hari itu matahari bersinar sangat cerah, menyinari bumi dengan hangatnya yang luar biasa. Sinar keemasan itu menembus celah-celah jendela rumah sederhana keluarga Maharani, seolah ikut menyambut sebuah awal yang baru bagi kehidupan seorang gadis muda yang bernama Aira Maharani.

Namun, bagi Aira sendiri, rasanya campur aduk bak berada di antara awan-awan yang lembut namun juga menakutkan. Ada rasa bahagia yang meluap-luap, ada rasa gugup yang membuat jantungnya berdegup dengan kencang tak karuan, dan ada rasa tidak percaya yang menghinggapi seluruh sanubarinya. Hari ini adalah hari di mana ia resmi pindah meninggalkan rumah orang tuanya, untuk tinggal bersama suaminya, Elvano Praditya, di kediaman pribadi sang CEO muda yang terkenal megah dan mewah itu.

“Ra, jangan kaku begitu dong. Senyum dikit sayang, kamu cantik lho kalau senyum,” bisik lembut Ibunya sambil mengusap tangannya yang halus. Ibunya juga menyempurnakan letak baju yang dikenakan putrinya itu agar terlihat sopan dan anggun.

Mata Ibunya berkaca-kaca penuh haru dan juga kesedihan karena harus berpisah dengan anak gadis semata wayangnya. Melepas anak untuk membina rumah tangga sendiri adalah momen yang paling berat sekaligus paling membahagiakan bagi seorang ibu.

“Ibu… Aira gugup sekali, Bu…” jawab Aira pelan, suaranya bergetar sedikit. Tangannya saling mencengkeram kuat di depan dada, tanda bahwa ia sedang sangat cemas. “Rumahnya besar sekali Bu, orang-orang di sana pasti orang-orang hebat, berpendidikan, dan berkelas. Aira takut nanti salah tingkah, salah bicara, atau tidak bisa menyenangkan hati Mas Elvano. Aira takut tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka semua.”

Ibu tersenyum lembut, lalu mengusap kepala Aira dengan penuh kasih sayang. “Dengarkan Ibu baik-baik, Nak. Kamu itu gadis yang sangat baik, pintar, sopan santunmu luar biasa, rajin, dan hatimu tulus seperti emas. Itu adalah modal paling besar di dunia ini. Pasti semua orang bakal sayang sama kamu, apalagi kamu sudah menjadi istri sah Tuan Elvano. Yang paling penting, niatkan semuanya karena Allah, jalani dengan hati yang tulus, insyaallah semuanya bakal lancar seperti air yang mengalir.”

“Terima kasih banyak ya Bu…” Aira tidak kuasa menahan air mata harunya. Ia langsung memeluk ibunya erat-erat, menumpahkan segala rasa haru, rasa takut, dan rasa sayangnya di dalam pelukan hangat itu. “Aira janji bakal jadi istri yang baik, bakal jadi menantu yang sholehah. Aira bakal jaga nama baik keluarga.”

“Iya Nak, Ibu tahu kamu pasti bisa.”

Tiba-tiba saja, suara klakson mobil yang berat, gagah, dan berwibawa terdengar keras dari halaman depan rumah. Suara itu bukan klakson biasa, melainkan suara khas mobil mewah yang menandakan kedatangan seseorang yang sangat penting.

Tuuut… tuuut…

Suara itu terdengar dua kali, tidak terlalu keras namun cukup jelas didengar sampai ke dalam rumah.

“Nah, itu dia suamimu sudah datang menjemput,” kata Ayah Aira yang baru saja muncul dari arah pintu kamar dengan wajah tersenyum bangga namun juga sedih. “Ayo, kita antar keluar nak. Tunjukkan kalau kamu gadis yang kuat dan percaya diri.”

Aira menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia merapikan bajunya sekali lagi, menguatkan hati, lalu berjalan perlahan keluar rumah bersama kedua orang tuanya.

Di depan teras, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam pekat yang sangat gagah dan berkelas sudah terparkir rapi. Kaca jendelanya sedikit terbuka, memperlihatkan sosok pria tampan dan dingin di balik kemudi. Elvano Praditya.

Setelah berpamitan kepada kedua orang tua Aira, mobil mewah itu pun akhirnya melaju dengan sangat mulus dan stabil di jalanan kota Surabaya yang mulai ramai. Kabin mobil terasa sangat kedap suara, membuat dunia luar seakan terpisah jauh dari mereka berdua.

Suasana di dalam mobil awalnya terasa hening, sunyi, dan sedikit canggung. Aira duduk di kursi penumpang sebelah supir dengan posisi tubuh yang sangat tegak dan kaku. Matanya menatap lurus ke depan atau sesekali melirik ke luar jendela memperhatikan pemandangan kota yang berlalu lalang begitu cepat.

Sesekali ia melirik curi-curi pandang ke arah pria di sampingnya itu. Elvano tampak sangat tampan dan gagah hari ini. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru tua yang bahan kainnya terlihat sangat mahal dan halus. Lengan kemeja itu digulung sedikit hingga ke siku, memperlihatkan lengan tangannya yang putih, berotot, dan urat-urat halus yang terlihat sangat maskulin saat ia memegang stir mobil dengan santai namun penuh kuasa.

Wajahnya terlihat tenang, fokus, dan sangat tampan dengan garis rahang yang tegas. Aira benar-benar merasa bersyukur diberi suami yang begitu sempurna fisiknya, namun di sisi lain ia juga merasa minder dan takut tidak bisa menyeimbangi kesempurnaan pria itu.

“Kamu capek?”

Suara berat dan dalam milik Elvano tiba-tiba saja memecah keheningan yang menyelimuti mereka. Pertanyaannya singkat, padat, namun terdengar sangat lembut dan perhatian. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari jalan, matanya tetap fokus menatap depan.

Aira tersentak sedikit kaget karena tiba-tiba diajak bicara. “Eh… ti… tidak kok, Mas. Aira tidak capek sama sekali,” jawabnya cepat sedikit terbata-bata.

“Nanti kalau ngantuk atau lelah, tidur saja sebentar. Perjalanan masih agak lama karena kita harus menempuh jalan tol dan masuk ke kawasan perumahan elit yang agak di dalam. Istirahat saja,” kata Elvano lagi, nada suaranya tetap tenang.

“I… iya Mas. Makasih banyak perhatiannya,” jawab Aira sopan, wajahnya sedikit memerah karena merasa diperhatikan.

Sepanjang perjalanan, ada momen-momen kecil yang membuat jantung Aira berdegup dengan kencang. Saat mobil melewati polisi tidur atau jalan yang agak bergelombang, tubuh mungil Aira akan sedikit terguncang ke samping. Dan beberapa kali, bahunya yang halus nyaris bersentuhan dengan bahu kokoh Elvano.

Setiap kali hal itu hampir terjadi, Aira akan buru-buru menegakkan badannya kembali atau sedikit menggeser tubuhnya menjauh dengan gerakan yang sangat kaku dan canggung. Wajahnya akan langsung memerah padam menahan malu yang luar biasa.

Elvano sebenarnya sangat menyadari hal itu. Dari sudut matanya, ia bisa melihat tingkah laku istrinya yang polos, pemalu, dan sangat menjaga batas itu. Di sudut bibirnya yang selalu tampak datar itu, terulas senyum tipis yang sangat halus. Rasanya lucu, menggemaskan, dan membuat hatinya terasa hangat melihat kepolosan Aira.

“Rumah kita itu bukan istana yang berisi raksasa atau monster, Ra,” ucap Elvano tiba-tiba, kali ini nada bicaranya sedikit terdengar bercanda dan santai. “Jadi jangan takut atau merasa asing dan kaku begitu. Itu rumahmu juga sekarang. Kamu Nyonya di sana, bukan tamu.”

Aira menoleh mendengar ucapan itu. “Aira… Aira cuma belum terbiasa aja, Mas. Soalnya selama ini Aira tinggal di rumah yang kecil, sederhana, dan semuanya serba biasa saja. Tiba-tiba masuk ke lingkungan yang serba mewah dan besar, rasanya Aira kayak orang yang salah tempat gitu.”

“Maka dari itu, mulai sekarang kamu harus belajar terbiasa,” jawab Elvano lembut namun tegas. “Kamu istri aku. Nyonya Praditya. Semua orang di sana wajib hormat sama kamu, dan kamu berhak merasa nyaman, berhak merasa menjadi pemilik di sana. Jadi buang jauh-jauh rasa minder itu. Mengerti?”

“Iya Mas…” Aira mengangguk pelan, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut suaminya itu. “Aira bakal berusaha keras buat terbiasa dan jadi Nyonya yang baik.”

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!