NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Di lantai atas gedung lama milik keluarga Darragh, ada ruangan yang berbeda dari ruang bawah tanah tempat Pearl dikurung.

Bukan gelap. Bukan lembap.

Ruangan itu terang benderang, lampu putih yang menyilaukan, dinding bersih, udara steril yang terasa seperti ruang operasi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih mencekam dari kegelapan mana pun.

Orla duduk terikat di kursi besi di tengahnya.

Kacamata hitam besarnya sudah pecah di lantai. Riasan matanya luntur, bercampur keringat dan air mata yang sudah kehilangan fungsi manipulasinya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Orla terlihat seperti dirinya yang sebenarnya.

Pintu terbuka.

Lorcan masuk tanpa jas, hanya kemeja hitam dengan lengan digulung ke siku, membawa map tipis berisi dokumen yang lebih dari cukup untuk menghancurkan seseorang. Ia menarik kursi, membaliknya, dan duduk mengangkang tepat di depan Orla dengan jarak yang tidak menyisakan ruang untuk berpura-pura.

"Lorcan, sayang--"

"Jangan."

Satu kata. Diucapkan dengan nada yang begitu rendah dan begitu final hingga Orla menghentikan kalimatnya di tengah jalan.

"Jangan pernah gunakan kata itu lagi," lanjutnya pelan. "Kamu sudah cukup menggunakannya untuk membodohi orang yang salah."

Orla mengubah strategi dengan cepat, seperti yang selalu ia lakukan, seperti yang selalu Pearl lihat kakaknya lakukan sejak kecil. Senyum kecil di sudut bibir yang bergetar, mata yang dibuat terlihat terluka.

"Aku kabur karena takut, Lorcan. Kamu tahu sendiri betapa dominannya kamu, aku belum siap. Tapi ini semua bukan salahku. Pearl yang merencanakannya. Pearl yang memberiku uang untuk pergi supaya dia bisa mengambil posisiku."

Lorcan tidak menjawab langsung.

Ia duduk diam, menatap Orla dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. Dan di balik ketenangannya itu, pikirannya bergerak ke tempat yang tidak ia izinkan sebelumnya, Pearl yang mengigau ketakutan dalam demamnya. Pearl yang memasak tanpa diminta.

Semua itu sangat jauh dari gambaran perempuan yang merencanakan sesuatu.

Lorcan meraih ponselnya.

Ia memutar sebuah rekaman.

Suara Orla mengisi ruangan yang steril itu percakapan di sebuah bar, beberapa jam sebelum pertemuan di kafe. Suaranya penuh dengan kepuasan yang tidak disembunyikan.

"...aku akan menjebak adikku. Begitu Lorcan datang, aku akan membuatnya seolah Pearl yang ada di balik semua ini. Lorcan sangat membenciku, dia akan mudah percaya bahwa Pearl bekerja sama denganku. Setelah itu, aku peras dia."

Rekaman berhenti.

Ruangan kembali sunyi.

Wajah Orla berubah, warna meninggalkannya dalam hitungan detik, seperti cat yang disiram air.

"Masih ingin melanjutkan ceritamu?" tanya Lorcan.

Ia berdiri, berjalan perlahan memutari kursi Orla dengan langkah yang terukur. "Pearl tidak pernah meminta apa pun dariku. Bahkan saat demam tinggi, yang ia minta hanya satu, agar ibunya tetap hidup. Sementara kamu..." ia berhenti di belakang Orla, "...kamu mengancam nyawa ibu kandungmu sendiri sebagai alat pemerasan."

"Itu hanya gertakan! Aku tidak sungguh-sungguh--"

"Diam."

Lorcan mencengkeram sandaran kursi di kiri kanan Orla, menundukkan kepalanya hingga bibirnya hampir di telinga Orla.

"Kamu menghancurkan kepercayaan orang yang mencintaimu. Kamu mempermalukan keluargaku di depan semua orang. Dan sekarang kamu mencoba menghancurkan satu-satunya orang dalam kekacauan ini yang tidak punya dosa apa pun."

Ia melepaskan sandaran kursi dan mundur.

"Sekarang katakan padaku dengan jelas, apa yang kamu katakan pada Pearl sampai dia mau menemuimu diam-diam?"

Orla menangis.

Kali ini bukan tangisan yang dibuat-buat — ini tangisan orang yang sudah tidak punya lagi yang bisa disembunyikan. "Aku bilang... aku bilang akan melakukan sesuatu pada infus Ibu jika Pearl tidak datang." Suaranya turun menjadi gumaman yang pecah. "Dia datang untuk memohon padaku agar jangan menyentuh Ibu. Dia tidak pernah berencana apa pun. Dia tidak tahu aku sudah menyiapkan semua ini."

Deg.

Sesuatu di dalam dada Lorcan berhenti.

Ia berdiri diam di tengah ruangan steril itu, menatap lantai, membiarkan kata-kata Orla meresap masuk satu per satu seperti air yang menembus retakan batu.

Pearl di lantai beton. Pearl yang merangkak dan memegang ujung celananya.

"Jadi dia datang untuk melindungi ibunya," bisik Lorcan, bukan pertanyaan, lebih seperti seseorang yang sedang memaksa dirinya menghadapi sesuatu yang sudah seharusnya ia lihat dari awal.

"Dia tidak melindungimu!" Orla berteriak, satu-satunya senjata yang tersisa adalah kata-kata. "Dia tidak peduli padamu! Dia membencimu!"

Lorcan tidak mendengarkan.

Ia sudah berjalan ke pintu.

"Jaga dia," perintahnya pada pengawal di luar tanpa menoleh. "Polisi akan datang menjemputnya atas tuduhan pemerasan. Pastikan dia tidak kemana-mana sampai mereka tiba."

**

Di dalam lift, jari Lorcan menekan tombol berulang kali meski tombol itu sudah menyala.

Pikirannya tidak bisa diam.

Ia mengingat dinginnya lantai beton di ruang bawah tanah itu. Mengingat betapa kecilnya tubuh Pearl saat ia meringkuk di pojok ruangan. Mengingat semua yang sudah ia lakukan atas nama dendam yang ternyata salah alamat.

"Bodoh," gumamnya pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar dengan cara yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya. "Kamu benar-benar bodoh."

**

Mobil Lorcan melaju terlalu cepat di jalan yang hampir sepi.

Ia tidak peduli.

Satu-satunya hal yang ada di kepalanya adalah Pearl, Pearl yang ia tinggalkan dalam kegelapan total, tanpa cahaya, tanpa kehangatan, dengan piring roti di lantai yang mungkin tidak ia sentuh sama sekali.

Begitu rodanya berhenti di halaman mansion, Lorcan tidak menunggu mesin mati sepenuhnya.

Ia berlari.

Menuruni tangga menuju ruang bawah tanah dengan langkah yang tidak lagi terukur, tidak lagi terkontrol, tangannya gemetar saat kunci menyentuh lubang pintu, lebih dari sekali meleset sebelum akhirnya berhasil.

Pintu terbuka.

"Pearl!"

Kegelapan menjawab dengan diam.

Lorcan meraih dinding, menemukan sakelar, menyalakan lampu dan matanya langsung menemukan sosok kecil di pojok ruangan.

Pearl tergeletak miring di lantai beton, tubuhnya meringkuk dengan lutut ditarik ke dada. Piring roti masih tidak tersentuh di tempat ia letakkan tadi.

Lorcan berlutut di sampingnya dalam sekejap.

"Pearl." Tangannya menyentuh bahunya. "Pearl, bangun. Aku di sini."

Pearl membuka matanya perlahan.

Tapi tatapannya tidak langsung fokus, jauh, hampa, seperti seseorang yang sudah lama tidak mengizinkan dirinya berada sepenuhnya di satu tempat. Ia menatap Lorcan tanpa ekspresi, seperti tidak yakin apakah yang ia lihat nyata atau tidak.

Lorcan mengangkat tubuhnya, dingin, sangat dingin, jauh lebih dingin dari yang seharusnya dan memeluknya.

Bukan dengan gerakan yang terukur. Bukan dengan cara yang ia rencanakan. Hanya dengan cara seseorang yang baru menyadari sesuatu terlambat dan tidak tahu cara lain untuk mengatakannya.

"Maafkan aku," bisiknya. Suaranya pecah di tepi kata-kata itu. "Pearl. Maafkan aku."

Pearl tidak merespons.

Tubuhnya ada di sana, di dalam pelukan itu, di dalam kehangatan yang tiba-tiba, tapi matanya masih menatap ke tempat yang tidak bisa Lorcan lihat. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama sendirian di kegelapan hingga lupa bagaimana caranya kembali.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!