Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.
Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.
Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Setibanya di kamar President Suite, kemegahan ruangan bernuansa emas dan marmer itu sama sekali tidak mengurangi rasa dongkol di hati Tristan. Dengan hati-hati namun tetap ketus, ia membaringkan tubuh lemas Ananda di atas ranjang king size yang empuk.
Tristan segera melangkah ke area depan kamar dan memanggil salah seorang pelayan wanita hotel yang sejak tadi bersiaga.
"Tolong gantikan pakaian wanita di dalam. Lepaskan blusnya yang kotor dan pakaikan dia handuk kimono putih yang baru," perintah Tristan dengan nada dingin yang tegas. "Dan satu lagi, urus pakaian kotornya untuk segera di laundry."
"Baik, Tuan," jawab pelayan wanita itu sopan sembari membungkuk hormat.
Sementara pelayan hotel mengurus Ananda, Tristan melangkah ke ruang tengah kamar suite tersebut. Ia melepas jas mahalnya yang sudah ternoda dengan ekspresi muak, lalu meraba ponselnya untuk menghubungi anak buahnya yang lain. "Siapkan pakaian ganti yang baru untukku sekarang. Antar langsung ke kamar President Suite nomor 1001. Cepat!"
Beberapa saat kemudian, setelah pelayan hotel menyelesaikan tugasnya dan pamit undur diri, Tristan kembali melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama. Kini, ia hanya mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya sudah terbuka serta lengannya digulung rapi hingga ke siku, dipadukan dengan celana kain panjangnya.
Tristan berjalan mendekati ranjang tempat tidur, lalu mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur yang empuk. Pandangannya langsung terkunci pada sosok Ananda yang kini terlelap damai dengan balutan kimono handuk berwarna putih bersih. Wajah wanita itu tampak begitu polos tanpa riasan, menyisakan kecantikan alami yang entah mengapa terasa begitu familiar.
Tristan memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat garis wajah Ananda dari jarak yang sangat dekat. Di dalam benaknya, Tristan mencoba memproyeksikan jika wajah halus itu dipasangi sepasang kacamata bulat bertangkai tebal, seperti yang selalu dipakai oleh si itik buruk rupa dulu. Begitu bayangan itu terbentuk di kepalanya, jantung Tristan berdegup kencang. Kemiripan ini terlalu akurat untuk sebuah kebetulan!
Bzzz... Bzzz...
Tepat saat kecurigaannya memuncak, ponsel di saku celananya bergetar nyaring. Tristan menunduk dan melihat nama Ronal, orang kepercayaannya yang ia utus untuk menguliti latar belakang sang sekretaris, kini terpampang di layar. Tanpa buang waktu, ia langsung menggeser tombol hijau.
"Bagaimana, Ronal? Apa yang kau dapatkan?" tanya Tristan langsung, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak mengganggu tidur Ananda.
Dari seberang telepon, suara berat Ronal terdengar formal. "Tuan, saya sudah mendapatkan beberapa poin penting terkait latar belakang Nyonya Ananda Ayunindia. Berdasarkan data yang saya himpun, beliau ternyata pernah menempuh kuliah di Universitas Airlangga."
Deg!
Mendengar nama universitas tersebut, tubuh Tristan seketika menegang. Universitas Airlangga adalah kampus tempat dirinya dan si itik menimba ilmu enam tahun yang lalu!
Ronal melanjutkan laporannya, "Namun pada saat itu, beliau mendadak mengajukan pindah kuliah dengan alasan mengikuti program transmigrasi keluarganya ke Pulau Sumatra, tepatnya di Kota Palembang. Di sana, beliau kemudian menikah dengan seorang pria setempat bernama Radit. Namun malang, sang suami mengalami kecelakaan tragis saat berangkat bekerja di salah satu pabrik di sana hingga meninggal dunia. Saat itu, usia pernikahan mereka baru seumur jagung, Tuan."
Tristan terdiam seribu bahasa, mencerna setiap rentetan informasi yang mengalir masuk ke telinganya. Matanya perlahan kembali menatap wajah Ananda yang masih terpejam. Fakta bahwa Ananda pernah berada di universitas yang sama dengannya membuat semua teka-teki ini mulai mengerucut pada satu kesimpulan gila.
"Ronal..." sela Tristan, suaranya mendadak berubah menjadi sangat serius dan tajam. "Bisa kau cari informasi yang jauh lebih detail lagi soal sekretarisku selama dia berkuliah di Universitas Airlangga? Aku butuh foto-foto lamanya saat di kampus, rekam jejak akademis, serta biodata aslinya sebelum dia pindah ke Palembang."
"Baik, Tuan. Saya akan langsung berkoordinasi dengan informan di kampus itu. Nanti akan saya kabari lagi secepatnya begitu berkas foto dan datanya lengkap," jawab Ronal patuh.
"Bagus. Aku tunggu malam ini," tegas Tristan sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Tristan menurunkan ponselnya perlahan, meletakkannya di atas nakas. Kamar mewah itu kembali diselimuti keheningan. Tristan kembali memandangi wajah Ananda, kini dengan sorot mata yang dipenuhi gejolak emosi yang membara. Kecurigaannya bahwa Ananda adalah si itik buruk rupa yang bertransformasi kini sudah mencapai angka 90%.
Jika wanita di hadapannya ini benar-benar si itik yang ia nodai enam tahun yang lalu, maka Tristan bersumpah tidak akan pernah melepaskannya lagi untuk kedua kalinya.
*
*
Setelah melangkah tergesa-gesa keluar dari Hotel Permata untuk menyusul Tuan Samuel, Andre langsung memisahkan diri begitu ada kesempatan. Napasnya masih terasa agak sesak, dan bayangan wajah bengis Tristan di toilet tadi benar-benar meneror pikirannya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Andre merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Ia buru-buru mencari sebuah kontak lama di daftar teleponnya, nomor milik Indra.
"Aduh, gue mohon... semoga nomor si Indra masih aktif," gumam Andre panik pada dirinya sendiri.
Ia menekan tombol panggilan dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. Nada sambung terdengar berdering beberapa kali, membuat jantung Andre berdegup kencang. Beruntung sekali, tepat pada deringan keempat, panggilan itu akhirnya diangkat.
"Halo, selamat siang. Maaf, ini siapa ya?" tanya suara berat di seberang telepon, terdengar sangat formal dan tegas.
Andre langsung menghembuskan napas panjang, merasa sangat lega. "Dra! Ini gue... Andre!"
Mendengar nama itu disebut, Indra yang berada di seberang sana terkejut setengah mati. Suara formalnya seketika runtuh.
"Hah?! Lo beneran Andre? Gila, gue pikir elo sudah pindah alam, Bro!"
"Sialan lo, Dra! Lo malah nyumpahin gue mati!" omel Andre sambil mendengus kesal mendengar respons sahabat lamanya itu.
Indra terkekeh pelan di seberang telepon, mencoba mencairkan ketegangan.
"Canda, Dre. Ya habisnya lo menghilang bak ditelan bumi. Kau tahu sendiri lah bagaimana si monster Tristan enam tahun yang lalu saat dia ngamuk ke kita? Rasanya seperti mau kiamat! Gue bahkan langsung tobat hari itu juga, Dre. Gue milih berhenti kuliah dari sana dan masuk sekolah perwira karena saking takutnya dikejar-kejar sama Bratadikara Group."
"Bagus deh kalau lo insyaf. Gue juga udah insyaf kok sekarang," sahut Andre dengan nada yang kembali serius. "Tapi lo tahu tidak? Hari ini apes banget gue. Tadi gue ketemu sama si Tristan di restoran Hotel permata, dan gue disudutkan terus dicekik sama dia di toilet! Sumpah, Dra, hampir saja gue mampus kehabisan napas di tempat. Makanya sekarang gue telepon lo... Elo bisa bantuin gue, Dra?"
Mendengar penuturan Andre, Indra di seberang telepon mendadak terdiam sejenak. Sebagai seorang penegak hukum sekarang, ia tentu harus berhati-hati.
"Bantu apa dulu, Dre? Selagi tidak melanggar hukum dan norma-norma kedinasan gue, gue pasti bantu elo," jawab Indra dengan nada penuh pertimbangan.
Mendengar lampu hijau dari Indra, Andre menghembuskan napasnya lega. Perlahan, ia mulai menceritakan situasi yang dihadapinya, termasuk ancaman maut dari Tristan jika ia tidak bisa menemukan wanita masa lalu mereka.
"Jadi gini, Dra... Tristan kasih gue kesempatan hidup dengan syarat gue harus bisa mencari keberadaan si itik buruk rupa yang menghilang enam tahun lalu. Dan lo tahu? Sepertinya si Tristan itu kena karma sekarang, Dra. Dia itu cinta mati sama si itik!" Cerita Andre menggebu-gebu.
Indra di seberang telepon tidak tampak terkejut. Ia justru menghela napas, seolah ingatan masa lalunya kembali berputar. "Sudah kuduga, Dre. Enam tahun lalu sebelum kejadian itu, gue sebenarnya pernah beberapa kali memperhatikan Tristan diam-diam. Dia itu suka curi-curi pandang dan merhatiin si itik kalau di kampus. Aku rasa dia memang sudah memiliki hati sama gadis itu, bahkan sebelum kejadian malam naas di hotel itu terjadi."
"Hah? Serius lo, Dra?!" Andre membelalakkan matanya tak percaya. "Ah, kenapa lo baru bilang sekarang sih? Gue gak habis pikir, putra mahkota dan penerus tunggal perusahaan raksasa Bratadikara Group bisa jatuh hati dengan wanita buruk rupa yang bahkan sering dia bully sendiri. Ini memang benar-benar karma instan buat dia!"
"Ya begitulah takdir, Dre. Penyesalan memang selalu datang terakhir," sahut Indra tenang. "Ya sudah, tidak aman kalau kita bahas ini panjang lebar di telepon. Besok kalau bisa kita ketemuan saja langsung di kafe biasa, biar gue bisa bantu lacak lewat jaringan gue."
"Oke, siap, Dra! Makasih banyak ya. Sampai ketemu besok!" ucap Andre penuh rasa syukur.
Setelah sambungan telepon diputus, Andre akhirnya bisa bernapas dengan lega. Dengan status Indra yang kini sudah menjadi seorang polisi intelijen, Andre merasa sangat yakin bahwa sahabatnya itu pasti bisa mendeteksi keberadaan si itik buruk rupa dengan cepat, sekaligus menyelamatkan nyawanya dari amukan Tristan selanjutnya.
Bersambung...