Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deeptalk—10
Suhu pendingin ruangan di kamar Danny terasa semakin menusuk tulang, namun netra Aletha masih enggan terpejam. Jam digital di nakas sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Di sampingnya, di atas ranjang king-size yang sama, Danny tampak tertidur dengan posisi membelakangi dirinya—sangat tenang, seolah tidak terpengaruh sedikit pun oleh eksistensi seorang wanita di kamarnya.
Aletha menghela napas pelan. Berbaring dalam keheningan justru membuat otaknya berputar terlalu aktif. Akhirnya, ia memutuskan untuk turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara.
Langkah kakinya yang terbalut piyama satin navy blue membawanya menuju kulkas mini yang terletak di sudut ruangan. Setelah mengambil sekotak camilan ringan, Aletha menggeser pintu kaca besar menuju balkon luar kamar.
Angin malam langsung menyapu wajahnya, menerbangkan beberapa helai rambut cepolnya yang mulai longgar. Aletha menyandarkan kedua lengannya di pagar besi balkon, mendongak menatap hamparan bintang yang malam itu tampak cukup jelas menghiasi langit Jakarta. Ia mengunyah camilannya pelan, menikmati kesunyian yang langka ini.
"Kamu nggak bisa tidur, Aletha?"
Deg.
Aletha tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke samping dan mendapati Danny sudah berdiri di sana, bersandar pada pilar balkon dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana hitamnya. Kausnya sedikit bergerak tertiup angin. Pria itu tampak sangat terjaga, seolah sejak tadi memang tidak beneran tidur.
"Bikin kaget aja," gerutu Aletha sembari mengelus dadanya, mencoba menetralkan detak jantungnya yang sempat melompat. "Iya, nggak biasa tidur di tempat baru."
Danny menatap lurus ke arah jalanan depan mansion yang sepi, lalu berucap tanpa menoleh, "Kamu kalau ngomong sama saya jangan terlalu formal. Lagipula, aneh rasanya denger gaya bicara sekaku itu keluar dari mulut bocah kayak kamu."
Aletha menaikkan sebelah alisnya, merasa sedikit tersinggung dengan kata 'bocah', namun rasa herannya jauh lebih mendominasi. "Maksudnya... kita pakai gaya bahasa 'gue-elu'? Kalau lagi berdua aja?"
Danny menoleh, menatap mata Aletha di bawah temaram cahaya bulan, lalu mengangguk singkat. "Iya. Biar nggak kaku."
"Oke, deal. Lagian gue juga pegel harus pakai bahasa baku terus dari kemarin," sahut Aletha enteng. Ia kembali memakan camilannya, lalu terdiam sesaat sebelum sebuah pertanyaan yang sejak kemarin mengusik otaknya meluncur begitu saja.
"Tapi... gue penasaran deh," Aletha menatap samping wajah tegas Danny dari dekat. "Dari sekian banyak cewek di luar sana, kenapa lo malah milih buat bikin kontrak aneh kayak gini sama gue? Secara... banyak banget loh cewek kedudukan tinggi atau model-model seksi yang suka dan ngesot-ngesot pengen sama lo?"
Danny terkekeh sinis, ada kilat dingin sekaligus lelah di matanya saat menatap hamparan langit malam.
"Gue nggak peduli, Aletha, seberapa banyak perempuan yang suka sama gue," jawab Danny, suaranya terdengar lebih rileks. "Entahlah... kayaknya sulit buat gue mau memulai sebuah hubungan yang normal lagi."
Aletha mengangguk-angguk paham, mendeteksi ada luka lama atau trauma tersembunyi di balik kalimat itu. Namun, sebagai seorang psikolog amatir bagi ego para pria, Aletha langsung membelokkan topik ke arah dirinya sendiri.
"Terus... ekspektasi lo tentang gue apaan emang? Pas pertama kali lo mutusin buat pasang target ke gue?" tanya Aletha, menantang isi kepala sang CEO.
Danny mengubah posisinya, kini ikut menyandarkan punggungnya di pagar balkon, menghadap penuh ke arah Aletha. Ia memperhatikan penampilan gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menilai yang jujur.
"Ya... perempuan elegan, mungkin?" jawab Danny berterus terang. "Tapi aslinya, gue sama sekali nggak berekspektasi apa pun dari lo, Aletha. Mengingat usia lo yang masih muda, pastinya lo masih pengen main-main dan nikmati masa muda lo dengan bebas, kan?"
Aletha menahan senyum liciknya agar tidak lolos. Bermain-main? batin Aletha geli. Danny benar, dia memang sangat suka bermain. Hanya saja, Danny tidak tahu kalau permainan yang dimaksud Aletha bukanlah sekadar nongkrong atau belanja di mal layaknya anak kuliahan 20 tahun pada umumnya, melainkan permainan takhta asmara yang sedang menjebak pria itu saat ini.
"Pilihan yang cerdas, Mr. Danny," bisik Aletha misterius, ikut menatap ke depan. "Karena tebakan lo nggak salah. Gue emang suka banget... menikmati permainan."
Aletha meletakkan kotak camilannya di atas meja kecil balkon, lalu memutar tubuhnya menghadap Danny sepenuhnya. Angin malam berembus sedikit lebih kencang, membuat piyama satin navy blue yang ia kenakan bergerak lembut. Dengan tatapan yang tajam namun penuh selidik, ia menopang dagunya di atas pagar besi.
"Menurut lo, nikah itu apa sih?" tanya Aletha, nadanya terdengar santai tapi sarat akan rasa penasaran. Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu terkekeh pelan. "Kok ya... maksud gue, bisa-bisanya pria sekelas lo dengan entengnya bikin ide nikah kontrak kayak gini?"
Danny terdiam. Pandangannya yang tadi tertuju pada Aletha perlahan beralih ke arah kerlip lampu gedung-gedung pencakar langit di kejauhan. Seringai sinis yang biasanya menghiasi wajah tegas itu perlahan pudar, digantikan oleh ekspresi datar yang sulit dibaca.
"Bagi gue?" Danny menjeda, suaranya terdengar lebih berat di bawah keheningan malam. "Nikah itu cuma status legalitas di atas kertas. Sebuah transaksi komitmen biar orang-orang—termasuk nyokap gue—berhenti mendikte gimana cara gue harus hidup."
Ia menoleh kembali ke arah Aletha, menatap mata gadis itu dengan tatapan yang kosong.
"Gue udah terlalu sering liat pernikahan di lingkaran sosial kita, Aletha. Semuanya cuma omong kosong. Di depan kamera dan media, mereka pamer kemesraan dan cinta sejati, tapi di belakang? Si suami punya simpanan, si istri sibuk belanja pakai duit suami buat ganti rugi perasaan, dan mereka bertahan cuma demi reputasi bisnis keluarga. Jadi buat apa gue repot-repot nyari 'cinta' kalau ujung-ujungnya cuma jadi panggung sandiwara?"
Danny mendengus pelan, seolah menertawakan konsep romantis yang diagung-agungkan orang kebanyakan.
"Makanya gue tawarin nikah kontrak ke lo. Hubungan ini bisnis, transparan, dan nggak ada manipulasi perasaan di dalamnya. Lo dapet keuntungan buat reputasi lo, gue dapet ketenangan dari bokap nyokap gue. Adil, kan?"
Aletha mendengarkan setiap bait kalimat Danny dengan saksama. Di balik topeng ketenangannya, otak licik Aletha langsung mencerna informasi itu sebagai sebuah kemenangan besar. Oh, jadi si CEO agung ini punya trauma sama hubungan palsu di sekitarnya, batin Aletha bersorak puas.
Itu artinya, Danny sebenarnya adalah tipe pria yang sangat membenci kebohongan. Dan fakta bahwa dirinya sendiri saat ini sedang membohongi Danny dengan topeng—padahal aslinya suka ngebungkus cowok bayaran—membuat adrenalin Aletha semakin terpacu gila. Permainan ini bakal jauh lebih menghancurkan jika Danny sampai tahu siapa dia yang sebenarnya nanti.
Aletha menegakkan tubuhnya, menatap Danny dengan senyuman tipis yang tampak begitu tulus dan teduh, menyembunyikan taring serigalanya dengan sangat rapi.
"Pandangan yang realistis," ucap Aletha lembut, seolah bersimpati pada pemikiran Danny. Ia melangkah mendekati pintu kaca balkon untuk kembali ke dalam kamar. Sebelum melangkah masuk, ia menoleh sedikit ke arah Danny yang masih terpaku di pembatas balkon.
"Tapi inget, Danny... kadang permainan yang paling rapi sekalipun bisa berjalan di luar kendali penulis skenarionya. Yuk masuk, tidur. Besok gue ada kelas pagi di kampus."