Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Kamar yang biasanya tertata rapi kini bagai medan perang. Tirai kusut, bantal berserakan, meja rias miring dengan laci-laci terbuka, dan lantai penuh pecahan kaca yang berkilat di bawah cahaya lampu. Semua itu adalah hasil luapan amarah Grace setelah menerima kabar yang tidak bisa ia terima.
Ponsel mahalnya tergeletak di lantai, terbelah dua. Tadi, Violet yang selama ini selalu berada di sisinya menghubungi hanya untuk mengatakan bahwa mereka tidak lagi bisa berteman. Alasannya singkat dan dingin, lalu sambungan telepon terputus sebelum Grace sempat memprotes.
"Berani-beraninya dia…" gumam Grace dengan rahang terkunci, matanya menyala seperti bara.
Emosinya kian meledak saat dia mencoba menghubungi Luci tetapi meski panggilan tersambung berulang kali, gadis itu sama sekali tidak mengangkat.
"Gadis sialan… kalian pikir kalian siapa?" tendangnya ke pecahan kaca hingga berderak, suaranya memantul di dinding kamar.
Ketukan di pintu memecah suasana tegang. "Masuk" bentaknya.
Seorang pelayan masuk dengan langkah ragu, menunduk sopan. Di tangannya, sebuah kotak kado berlapis kertas emas mengilap, dihiasi pita merah yang tampak terlalu mencolok.
"Ada apa?" tanya Grace, suaranya pendek dan tak sabar.
"Seseorang mengantarkan ini, Nona. Katanya… hadiah dari Nona Luci. Permintaan maaf karena belum sempat menjawab panggilan Nona." Pelayan itu menunduk sopan, meski suaranya terdengar ragu.
Senyum sinis melintas di wajah Grace. "Hah… menjilat seperti biasa." Tangannya terulur, meraih kotak itu dengan gerakan cepat. "Pergilah."
Pelayan itu mengangguk dan segera keluar, menutup pintu dengan hati-hati.
Grace duduk di tepi ranjang. Matanya menyapu kotak itu dari atas ke bawah. Dia sudah bisa menebak, Luci selalu memberikan perhiasan mahal setiap kali ingin meredakan amarahnya. Mungkin anting berlian atau kalung emerald.
Namun, begitu tutup kotak itu terbuka… napasnya tercekat.
Bukan kilau perhiasan yang menyambutnya.
Bukan surat permintaan maaf.
Yang ada hanyalah… potongan jari manusia, dagingnya pucat kebiruan, dengan kuku yang masih dicat merah muda. Dan di bawahnya, terselip beberapa lembar foto.
Grace memungut satu. Tangannya bergetar.
Foto itu memperlihatkan Luci… tubuhnya penuh luka sayatan, matanya terbelalak kosong, darah menodai pipinya. Ada tali kasar yang melilit tubuhnya, dan latar belakangnya adalah ruangan gelap tanpa jendela.
Potret berikutnya lebih mengerikan. Kepala Luci miring ke satu sisi, seolah digantung, dan ada coretan tinta merah di bagian bawah foto.
Kau selanjutnya...
"Ahhhhhh!!!"
Jeritan histeris Grace memecah udara, bergema hingga ke lantai bawah. Suara itu membuat beberapa pelayan dan Harreta bergegas menuju kamar Grace.
Mereka menemukan Grace meringkuk di sudut ranjang, wajahnya pucat pasi, matanya liar seperti binatang yang terperangkap.
"Sayang, apa yang terjadi?" Harreta berlari menghampiri, suaranya setengah panik.
Grace hanya menutupi kepalanya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat. Jari telunjuk kanannya gemetaran menunjuk ke arah kotak yang tergeletak di lantai.
"B… bawakan itu…" suaranya patah-patah, hampir tak terdengar.
Salah satu pelayan, seorang pria muda, maju dengan ragu. Tapi begitu ia mengintip isi kotak itu, wajahnya langsung pucat seperti kapur. Dia mundur spontan, menutup mulutnya rapat-rapat agar tak berteriak.
"Ada apa?! Ambil saja, itu cuma..." Harreta mendekat, tapi kata-katanya terhenti.
Matanya terbelalak saat melihat isi kotak. Darahnya serasa membeku, pupilnya mengecil.
"Siapa… siapa yang mengirimkan ini?" suaranya rendah tapi sarat dengan kemarahan dan ketakutan.
Tak ada yang menjawab. Para pelayan hanya saling berpandangan, wajah mereka diliputi ngeri.
"Singkirkan!" bentak Harreta. "Jangan sampai orang luar tahu masalah ini! Cepat!"
Dalam hati, Harreta tahu siapa yang ada di dalam foto itu dan tahu pula betapa berbahayanya jika orang lain melihatnya. Potongan jari di dalam kotak itu bisa dengan mudah mengarah pada satu kesimpulan. Grace akan dicurigai.
Dan jika pelaku benar-benar mengincar putrinya…
Harreta merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia menatap pintu kamar yang kini tertutup rapat, seolah di luar sana ada mata yang sedang mengawasi.
Dia harus segera memberi tahu suaminya, sebelum semuanya terlambat.
🥀🥀🥀
Kantor Kepolisian Pusat – Pagi Hari
Kabar penemuan sebuah peti kayu di area parkir kantor kepolisian pusat telah membuat seluruh markas geger. Di dalamnya, terbaring jasad seorang remaja perempuan dengan kondisi mengenaskan. Tubuh penuh luka sayatan dan tusukan, wajah pucat, mata terpejam seolah tidur, namun aroma kematian yang menusuk membuyarkan ilusi itu.
Di ruang kerja Kepala Inspektur, udara terasa menegang. Dean, pria berperawakan tegap dengan rahang mengeras, berdiri di belakang mejanya. Kedua tangannya menghantam permukaan kayu meja dengan keras, membuat berkas-berkas di atasnya bergetar.
"Bagaimana mungkin kita kecolongan seperti ini?!" suaranya bergemuruh, menusuk telinga semua yang hadir. Tatapannya beralih cepat, menelusuri wajah-wajah para bawahannya yang kini menunduk tak berani menatap balik. "Apa gunanya petugas yang berjaga? Apa gunanya CCTV yang kita pasang di setiap sudut jika pelaku bisa menaruh peti berisi mayat di halaman kita sendiri?"
Jacob, salah satu perwira senior, maju setengah langkah. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipis. "Tidak, Pak… semua petugas berjaga seperti prosedur. Tidak ada aktivitas mencurigakan semalam. Tapi entah kenapa… pada jam kejadian, semua rekaman CCTV hanya menunjukkan layar hitam. Seperti… seperti diretas."
Dean menyipitkan mata. "Diretas? Kau yakin itu ulah orang luar? Atau ada seseorang di sini yang sengaja memutus sistem?" Nada suaranya menajam, memunculkan tatapan waspada di antara yang hadir.
Jacob tercekat, namun sebelum ia menjawab, suara lembut namun tegas terdengar. "Pak," ucap Angel, satu-satunya polisi wanita di ruangan itu, melangkah maju sambil memegang map tebal. "Kami sudah mencocokkan hasil forensik. Polanya identik dengan dua korban sebelumnya. Luka sayatan dan tusukan berasal dari jenis senjata yang sama. Dan… pelaku kembali meninggalkan tanda yang sama."
Dean mencondongkan tubuh. "Bunga mawar itu?"
Angel mengangguk. "Ya. Diletakkan di atas kepala korban sebagai mahkota, persis seperti yang lalu. Mawar merah segar, seolah baru saja dipetik."
Keheningan menggelayut. Hanya terdengar dengus napas berat Dean. Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba meredam amarah sekaligus kecemasan yang mulai merayap.
"Aku rasa…" Dean berkata perlahan, suaranya rendah namun penuh ancaman, "…pelaku sedang bermain-main dengan kita. Dia tahu kita akan menemukan jasad itu. Dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa masuk ke halaman kita tanpa tersentuh."
Angel menambahkan, suaranya terukur namun mengandung nada khawatir, "Atau… dia sedang mengirim pesan. Kita adalah target berikutnya?"
Jacob menelan ludah.
Dean menatap mereka semua satu per satu. "Mulai hari ini, semua orang bekerja dua kali lipat. Jacob, kau pimpin tim keamanan internal, periksa setiap sudut markas ini temukan celahnya. Angel, kau dan divisi investigasi, gali semua kemungkinan. Telusuri asal bunga mawar itu, penjualnya, bahkan tanah yang menempel di batangnya kalau perlu. Aku tidak peduli berapa lama. Kita akan temukan dia."
"Baik, Pak!" seru mereka, Dean tahu… permainan ini baru saja dimulai.
🥀🥀🥀
Di Athena, suasana tak kalah menghebohkan. Terutama di kelas tempat Alma. Fenomena aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah berdirinya sekolah ini menjadi topik hangat yang menyebar lebih cepat daripada kabar ujian mendadak.
Semua orang tahu, setiap siswa yang sudah menjadi incaran anak-anak Polaris tidak mungkin bisa selamat. Hari-harinya pasti akan dipenuhi hinaan, siksaan, dan teror yang secara perlahan menggerogoti kewarasan. Seolah seluruh sistem sosial di Athena diciptakan hanya untuk mempertahankan hierarki itu.
Namun yang terjadi kali ini di luar prediksi semua orang. Meja Alma, yang kemarin penuh coretan hinaan, kotoran, dan bekas goresan cutter, kini terganti dengan meja baru yang bersih tanpa cela. Permukaan kayunya mulus, bahkan masih menguarkan aroma pernis segar. Semua tahu, percuma saja mengganti meja karena dalam hitungan jam coretan itu akan kembali tertulis di sana, seakan tangan-tangan kejam itu tidak pernah kehabisan cara.
Bisik-bisik mulai memenuhi ruangan.
"Aneh, bukan?" suara seorang siswi di barisan depan terdengar setengah berbisik, setengah ingin didengar.
"Ya… padahal baru kemarin," timpal yang lain, matanya melirik ke arah meja baru itu.
"Apa sebenarnya yang terjadi? Siapa yang berani menghapus tanda Polaris?"
"Koneksi keluarganya mungkin?" celetuk seorang siswa lelaki.
"Kau bodoh. Seberapa berpengaruhnya perusahaan tekstil kecil? Itu bahkan bukan salah satu sponsor Athena."
"Lalu kalau bukan itu?"
"Entahlah. Kita hanya bisa menebak-nebak. Tapi kalau benar ada yang menantang Polaris… itu gila."
Bisikan-bisikan itu terhenti mendadak ketika Alma memasuki kelas. Semua kepala menoleh bersamaan, tatapan mereka serempak menelusuri sosok gadis itu seperti sedang mengamati spesies langka dari kebun binatang. Tidak ada yang berani bersuara, tetapi rasa ingin tahu jelas membakar di mata mereka.
Alma menunduk, berpura-pura tidak peduli. Dia melangkah menuju mejanya, namun sebelum sempat duduk, dia mendapati Sherin sudah berada di sana, berdiri dengan raut wajah cemas.
"Alma! Aku dengar… anak-anak Polaris membawamu kemarin?" Suara Sherin terdengar seperti letupan panik yang tak bisa ia tahan.
"Iya…" jawab Alma pelan, suaranya hampir tenggelam oleh detak jantungnya sendiri.
"Sial… apa yang mereka lakukan padamu? Harusnya aku tidak pulang duluan kemarin." Sherin menunduk, wajahnya menegang. "Kalau aku menunggu, mungkin aku bisa membawamu pergi sebelum mereka sempat..."
Alma menggeleng sambil tersenyum tipis, berusaha menenangkan. "Tidak apa-apa. Kalau kau ikut campur kemarin, justru kau yang akan mendapat masalah."
Sherin membuka mulut, ingin membantah, namun pandangannya teralih pada meja yang kini terlihat asing karena terlalu bersih. "Lalu ini…" Dia menunjuk meja itu, suaranya merendah seolah takut meja itu akan mendengar. "Apa yang terjadi?"
"Entahlah. Aku juga tidak mengerti…" Alma menatap meja itu sebentar, seolah mencoba menemukan jawaban tersembunyi.
Karin masuk ke kelas, matanya langsung tertuju pada pemandangan yang tak biasa itu. Ia tidak langsung menuju bangkunya, melainkan menghampiri mereka dengan alis terangkat. "Wow… aku rasa kau satu-satunya orang yang bisa selamat dari malapetaka ini."
Sejak mereka membicarakan kasus pembunuhan beberapa waktu lalu, Karin merasa keduanya cukup menyenangkan diajak bicara. Jadi, baginya tidak masalah untuk ikut bergabung.
Mata Sherin berbinar, ia mengangguk cepat. "Iya kan? Aku pikir juga begitu. Ini seperti rekor dunia yang terpecahkan."
Alma menghela napas, sedikit meringis, "Haruskah aku merasa bersyukur karena ini?"
"Tentu saja," tukas Sherin cepat.
"Benar kata Sherin," Karin menimpali, nada suaranya berubah serius. "Kau tahu, orang yang sudah ditandai sebagai target tidak akan berakhir dengan baik. Bahkan jika dia pindah sekolah sekalipun, lingkaran setan itu akan tetap membuntutinya. Terakhir, murid beasiswa yang jadi target… aku dengar dia bunuh diri. Jadi, ini mungkin keajaiban pertama yang terjadi di Athena."
Alma terdiam sejenak, jemarinya memainkan tepi meja. "Atau… mungkin saja aku salah target?" ucapnya setengah bercanda, setengah ragu.
Sherin meliriknya cepat. "Teori itu bisa dimasukkan… juga sedikit masuk akal."
Karin mendecak. "Kalau memang salah target, kita akan tahu nanti. Tapi… perasaan ini aneh. Seolah seseorang sedang dilindungi...".
Tidak ada yang pasti.
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?