Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: KABUR DARI RUMAH
Bab 15: Kabur Dari Rumah
Malam telah turun sepenuhnya, membawa kepekatan yang terasa jauh lebih pekat dan mencekam dari malam-malam biasanya. Di dalam kamarnya yang gelap tanpa seberkas cahaya pun dari lampu neon, Revan duduk di tepi kasur. Matanya menatap lurus ke arah pintu kayu yang tertutup rapat, namun pandangannya kosong, mati rasa. Pipi kirinya sudah tidak lagi terasa panas, bekas tamparan Ibu sore tadi telah mendingin, meninggalkan memar tak kasat mata yang justru meremukkan seluruh urat-urat waras di dalam dadanya.
Dari lantai bawah, sayup-sayup masih terdengar suara langkah kaki Ayah yang baru saja pulang kerja, disusul oleh suara isak tangis Ibu yang sedang menceritakan kronologi kehilangan uang sore tadi. Revan memejamkan mata rapat-rapat, namun tidak ada satu pun air mata yang keluar. Sumber air matanya telah mengering, digantikan oleh gumpalan dendam dan rasa sakit hati yang kini telah membatu sempurna.
Gak ada gunanya gue bertahan di sini, batin Revan, suaranya terdengar sangat dingin di dalam kepalanya sendiri. Rumah ini cuma punya satu anak. Dan anak itu bukan gue.
Dengan gerakan yang lambat namun pasti, Revan berdiri. Ia menarik tas ransel hitam besarnya dari dalam lemari pakaian. Tanpa memedulikan kerapian, ia merenggut lusinan baju kaos, beberapa potong celana jins, jaket-jaket paruh waktunya, hingga seluruh tabungan koin dan uang receh hasil sisa kembalian bensin yang ia simpan di dalam laci meja belajar. Semua barang yang ia rasa adalah murni miliknya dimasukkan ke dalam tas hingga ritsletingnya mencuat tegang karena kepenuhan.
Revan menyampirkan tas ransel yang berat itu ke kedua pundaknya. Sebelum melangkah keluar, ia menatap kamarnya untuk terakhir kali. Kamar yang menjadi saksi bisu bagaimana dia tumbuh sebagai nomor dua, kamar tempat dia selalu menangis dalam diam setiap kali piala-piala Arka dipajang di ruang tamu.
Klek.
Revan membuka pintu kamarnya perlahan, lalu melangkah keluar ke koridor lantai dua yang remang-remang. Langkah kakinya yang berat sengaja tidak ia sembunyikan. Saat ia melewati depan pintu kamar Arka, pintu itu tampak tertutup rapat, namun Revan tidak peduli lagi. Ia tidak tahu bahwa di balik pintu itu, Arka sedang terbaring lemah di atas ranjang dengan selang oksigen portabel yang terpasang di hidungnya, sisa dari serangan sakral sore tadi.
Begitu Revan menginjakkan kaki di ruang tengah lantai bawah, langkahnya langsung dihadang oleh Ayah dan Ibu yang rupanya sudah menunggu di dekat meja makan. Wajah Ayah tampak sangat tegang, guratan amarah tercetak jelas di dahinya. Sementara Ibu berdiri di samping Ayah dengan mata yang bengkak dan memerah, memegangi selembar kertas yang Revan tahu adalah surat panggilan dari sekolah kemarin.
"Mau ke mana kamu membawa tas sebesar itu, Revan?!" bentak Ayah, suaranya menggelegar membelah keheningan malam, menatap ransel besar di punggung anak bungsunya.
Revan menghentikan langkahnya, namun ia tidak menundukkan kepala. Ia justru menatap lurus sepasang mata Ayahnya dengan pandangan yang menantang, tanpa ada lagi rasa takut atau hormat yang tersisa. "Bukan urusan Ayah. Revan mau pergi dari rumah sialan ini."
"REVAN! Kurang ajar kamu ya!" Ayah melangkah maju, mencengkeram kerah jaket Revan dengan kasar hingga tubuh cowok itu sedikit tertarik ke depan. "Sudah mencuri uang Ibumu, berani membentak Abangmu sampai dia drop, sekarang kamu mau kabur begitu saja setelah bikin malu keluarga dengan nilai rapot kamu yang sampah itu?! Kamu bener-bener anak gak tahu diri!"
Revan tertawa. Sebuah tawa hambar, sumbang, dan sangat menyakitkan yang keluar dari tenggorokannya. "Mencuri kata Ayah? Sampai detik ini, gak ada satu pun dari kalian yang percaya kalau bukan gue yang ambil uang itu! Kalian langsung nunjuk gue cuma karena si anak emas kesayangan kalian itu terlalu suci buat ngelakuin kesalahan!" Revan menepis tangan Ayah dari kerahnya dengan sentakan yang sangat kuat, membuat Ayah sempat mundur satu langkah karena terkejut.
"Revan... jangan pergi, Nak... Ibu mohon, bicarakan baik-baik..." Ibu mulai terisak, langkah kakinya hendak maju untuk menggapai tangan Revan, namun egonya yang telanjur terluka membuat Revan mundur menjauh, menolak disentuh oleh tangan yang sore tadi mendaratkan tamparan di pipinya.
"Jangan sebut nama gue lagi, Bu," desis Revan tajam, suaranya bergetar hebat karena menahan tangis kemarahan yang mendesak di dadanya. "Mulai malam ini, anggap aja anak Ibu cuma satu. Anggap aja Revanza Dirgantara udah mati atau gak pernah lahir di dunia ini! Urus aja terus pahlawan genius kalian itu sampai kalian puas!"
Tepat di saat ketegangan itu berada di puncaknya, sebuah suara pintu yang terbuka dari lantai dua terdengar. Arka berdiri di atas sana, memegangi pagar pembatas tangga dengan tubuh yang gemetar hebat. Selang oksigennya sudah ia lepas paksa, membuat napasnya terdengar sangat pendek dan tersedat-sedat. Wajahnya seputih kain kafan, menatap ke bawah dengan pandangan yang dipenuhi rasa bersalah yang amat sangat dalam.
"Revan... jangan pergi, Van... Gue mohon..." panggil Arka dengan suara yang sangat parau, nyaris berupa bisikan yang hilang ditelan malam. "Uang itu... bukan lo yang ambil... Jangan pergi gara-gara gue, Van... Ughh..." Arka tiba-tiba memegangi dadanya yang terasa sesak, tubuh kurusnya melorot hingga ia terduduk di anak tangga teratas, menahan nyeri ginjal yang kembali mengamuk akibat stres emosional malam ini.
"Arka!" Ibu langsung berteriak panik. Tanpa berpikir dua kali, Ibu memalingkan tubuhnya dari Revan, berlari terbirit-birit menaiki anak tangga untuk menghampiri dan memeluk tubuh Arka yang mulai lemas. Ayah pun ikut berlari menyusul Ibu, meninggalkan Revan sendirian di pintu depan.
Revan menatap pemandangan itu untuk yang terakhir kalinya. Sebuah senyuman getir terukir di bibirnya yang terluka. Bahkan di detik-detik terakhir saat dia memutuskan untuk pergi, perhatian orang tuanya dengan sangat mudah dialihkan kembali kepada Arka. Rumah ini memang tidak pernah memiliki ruang untuknya.
Selamat tinggal, rumah sialan, batin Revan dingin.
Revan berbalik badan, membuka pintu depan, lalu melangkah keluar menembus dinginnya udara malam. Ia berjalan cepat menuju motor matic-nya yang terparkir di halaman. Tanpa memedulikan rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi, Revan menyalakan mesin motornya, menarik tuas gas sedalam-dalamnya, lalu melesat pergi meninggalkan pagar rumah Dirgantara yang tertutup di belakangnya. Di bawah guyuran hujan yang kian menderu, Revan bersumpah di dalam hatinya bahwa dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi di rumah itu seumur hidupnya.
Ia pergi membawa ranselnya yang berat, melangkah menuju jalanan malam yang bebas namun dingin, tanpa pernah tahu bahwa kepergiannya malam ini adalah awal yang mengunci mereka berdua dalam labirin penyesalan yang teramat besar di masa depan.
Bersambung.....
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...