NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Disuruh menghilang

"MONIQUE!! CUKUP!!!" teriak Alan dengan suara menggelegar, membuat seisi ruangan mendadak senyap mencekam. Napas pria itu memburu, matanya merah padam menatap istrinya sendiri.

​Nyonya Monique sempat tersentak, namun sedetik kemudian ia mendengus remeh. "Kenapa kamu bentak aku, Lan? Kamu belain dia? Perempuan yang udah jelas-jelas bikin kamu kelihatan kayak orang bodoh beberapa tahun lalu?"

​Xarena tidak ingin mendengar lebih banyak. Dadanya terasa sesak, namun otaknya masih bisa berpikir jernih. Dia tidak ingin berdebat, apalagi menjadi tontonan di tengah drama rumah tangga atasannya. Dengan tenang—meski tangannya sedikit gemetar—Xarena mulai merapikan barang-barangnya yang baru satu jam lalu ia tata di meja darurat tersebut.

​"Xarena, kamu jangan ke mana-mana. Tetap di sini," perintah Alan, suaranya melembut namun penuh penekanan saat melihat Xarena memasukkan laptop ke dalam tas.

​"Maaf, Pak Alan," sahut Xarena datar tanpa melihat ke arah Alan. "Saya rasa kehadiran saya di sini hanya memicu kegaduhan. Demi kenyamanan bersama dan profesionalitas kerja, saya memilih untuk resign hari ini juga."

​"Tuh, dengar! Dia aja tahu diri!" seru Monique puas, menyilangkan kedua dadanya dengan angkuh.

​"Monique, diam kamu!" bentak Alan lagi, lalu beralih mendekati meja Xarena. "Ren, tolong jangan begini. Ini masalah pribadi saya sama Monique, kamu gak perlu korbatin kerjaan kamu."

​Xarena menarik napas dalam-dalam, mengunci tasnya, lalu menyampirkannya di bahu. Ia menatap Alan dengan pandangan kosong. "Ini keputusan saya, Pak. Surat resmi akan saya kirim lewat email. Permisi."

​Tanpa menunggu jawaban dari Alan atau makian lanjutan dari Monique, Xarena melangkah cepat keluar dari ruangan tersebut. Begitu pintu kaca besar itu tertutup di belakangnya, hawa dingin koridor langsung menyambutnya.

​Suasana di luar ternyata tidak kalah mencekam. Kubikel-kubikel karyawan yang tadinya sibuk, kini mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada Xarena. Suara teriakan Monique yang melengking tadi jelas terdengar sampai ke luar.

​Xarena berjalan menuju meja kerja aslinya di luar untuk mengambil sisa barang yang tertinggal. Di sana, beberapa rekan kerjanya menatapnya dengan pandangan yang dipenuhi rasa iba.

​"Ren... kamu beneran mau pergi?" bisik Tari, teman sesama sekretaris di divisi sebelah, matanya berkaca-kaca.

​"Iya, Tar. Kayaknya emang udah waktunya," jawab Xarena mencoba tersenyum, meski senyum itu terlihat sangat getir.

​"Tapi, Ren... anak kamu gimana? Ciara kan bulan depan harus bayar uang pangkal TK? Belum lagi pengobatan Mommy Bela," timpal Riko, staf keuangan yang duduk tak jauh dari sana.

​Semua karyawan di divisi itu tahu betul perjuangan Xarena. Mereka tahu Xarena adalah tulang punggung tunggal yang bekerja membanting tulang demi menghidupi ibunya yang sakit-sakitan dan putri kecilnya, Ciara. Mereka tahu betapa sopan dan profesionalnya Xarena selama ini. Mendengar Xarena dituduh sebagai wanita penggoda oleh istri bos mereka rasanya sangat tidak adil.

​"Gak apa-apa, kok. Jalan rezeki bisa dari mana aja. Duluan ya semua, makasih bantuan kalian selama ini," ujar Xarena pamit. Ia mempercepat langkahnya menuju lift sebelum pertahanannya runtuh di depan semua orang.

​Tiba di rumah kontrakan kecilnya, pertahanan Xarena benar-benar hancur. Begitu menutup pintu depan, kakinya terasa lemas hingga ia terduduk di lantai ruang tamu. Tangisnya pecah seketika, terisak-isak menahan sesak yang mendalam.

​Mommy Bela yang sedang melipat baju di kamar langsung keluar karena mendengar suara tangisan yang sangat familier.

​"Astaga, Xarena! Kamu kenapa, Nak?" tanya Mommy Bela panik, langsung berlutut dan memeluk erat tubuh putrinya.

​"Mom... Xarena dipecat... Xarena gak punya kerjaan lagi," tangis Xarena tergugu di pundak ibunya. "Istri Pak Alan datang ke kantor. Dia maki-maki Xarena di depan semua orang. Xarena bingung harus gimana, Mom. Biaya rumah sakit Mommy, susu Ciara..."

​Mommy Bela mengusap punggung Xarena dengan penuh kasih sayang, air matanya sendiri ikut menetes. "Sssttt... udah, sayang. Gak apa-apa. Ada Mommy di sini. Jangan dipikirin dulu ya? Kita pasti ada jalan. Yang penting kamu keluar dari sana, biar hati kamu gak makin sakit setiap hari ketemu Alan."

​Xarena hanya bisa menangis pasrah dalam pelukan hangat ibunya, menumpahkan segala rasa lelah dan ketakutan yang berkecamuk di dalam dadanya. Beruntung, Ciara sedang tidur siang di kamar dalam, sehingga tidak perlu melihat ibunya yang hancur seperti ini.

​Malam harinya, suasana rumah terasa sangat sepi. Ciara sudah tidur lelap setelah makan malam. Xarena dan Mommy Bela duduk di ruang tamu yang temaram, mencoba berdiskusi kecil tentang tabungan yang mereka miliki untuk bertahan hidup beberapa bulan ke depan.

​BRAK! BRAK! BRAK!

​Pintu rumah mereka digedor dengan sangat keras, membuat kedua wanita itu tersentak kaget.

​"Siapa malam-malam begini ketuk pintu kayak mau roboh?" gumam Mommy Bela cemas.

​"Biar Xarena yang buka, Mom. Mommy di sini aja," kata Xarena waspada.

​Begitu Xarena membuka pintu, jantungnya serasa berhenti berdetak. Dua orang pria asing bertubuh kekar dengan setelan hitam dan berwajah sangar langsung melangkah masuk tanpa permisi, mendorong pintu hingga terbuka lebar. Di belakang mereka, Nyonya Monique melangkah masuk dengan santai sambil mengibas-ngibaskan kipas tangan mahalnya, memandang sekeliling rumah kontrakan yang sempit itu dengan tatapan jijik.

​"Wah, wah... ternyata di sini tempat tinggal kamu sekarang, Xarena? Kumuh banget ya, mirip sama orangnya," sindir Monique pedas, langsung duduk di satu-satunya sofa usang di ruangan itu tanpa dipersilakan.

​"Nyonya Monique? Mau apa Anda ke sini? Tolong keluar, ini rumah saya!" ujar Xarena tegas, mencoba melindungi Mommy Bela yang kini berdiri di belakangnya dengan tubuh gemetar.

​"Eh, jaga mulut kamu ya! Kamu pikir saya sudi lama-lama di tempat bau kayak begini?" sahut Monique ketus. Ia kemudian memberi kode pada salah satu pria kekar di sampingnya. Pria itu maju satu langkah dengan wajah mengancam, membuat Xarena refleks mundur.

​"Saya ke sini cuma mau mastiin satu hal, dan ngasih peringatan terakhir buat kamu sama ibu kamu yang penyakitan ini," kata Monique, matanya melirik sinis ke arah Mommy Bela. "Pergi dan menghilanglah dari pandangan Alan sekarang juga. Keluar dari kota ini!"

​"Saya sudah keluar dari perusahaan, Nyonya. Hubungan kerja saya dengan Pak Alan sudah selesai. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk pergi dari kota ini," bantah Xarena, berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.

​Monique tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat sinis dan meremehkan. "Kamu pikir saya bodoh? Saya lihat foto anak perempuan kamu yang ada di meja kerjamu tadi siang sebelum kamu beresin."

​Deg. Jantung Xarena berdegup kencang.

​Monique berdiri dari sofa, melangkah mendekati Xarena hingga jarak mereka sangat dekat. "Mata anak itu... kecil, tajam, persis kayak mata Alan sewaktu dia masih muda. Kamu gak bisa bohongin saya, Xarena. Anak itu pasti anak Alan, kan?!"

​"Bukan! Ciara anak saya dan almarhum suami saya, Hasan!" potong Xarena cepat, suaranya sedikit meninggi karena panik rahasia terbesarnya akan terbongkar.

​"Halah, gak usah ngeles! Saya punya insting yang kuat sebagai perempuan," ancam Monique, wajahnya berubah menjadi sangat kejam. "Dengar ya, jalang. Kalau sampai kamu masih berani muncul di depan Alan, atau kalau sampai Alan tahu keberadaan anak itu... jangan harap kehidupan kalian bakal tenang. Terutama anak perempuan kecilmu itu, si Ciara. Gampang banget buat saya bikin dia 'hilang' dalam semalam."

​"Jangan berani-berani Anda menyentuh cucu saya!" teriak Mommy Bela yang akhirnya tidak bisa tinggal diam mendengar cucunya diancam.

​"Makanya, bawa anak dan cucumu ini pergi jauh-jauh dari sini! Jangan pernah tunjukin muka kalian lagi di kota ini, atau kalian berdua bakal tahu akibatnya!" bentak Monique kasar. Ia kemudian berbalik, memberi isyarat pada kedua pengawalnya. "Ayo kita pergi. Gerah saya di sini."

​Sebelum benar-benar keluar, Monique menoleh sekali lagi ke arah Xarena yang kini pucat pasi memikirkan keselamatan Ciara. "Ingat, Xarena. Saya gak pernah main-main sama ucapan saya."

​Setelah pintu ditutup dengan bantingan keras, Xarena langsung lemas dan jatuh terduduk di lantai. Ancaman Monique bukan main-main, dan kini keselamatan putri kecilnya benar-benar berada di ujung tanduk.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!