Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengawasi memikirkan
Siang menjelang sore, setelah urusan rumah duka selesai… satu nama terus muncul di kepala Raffa.
Shintia.
Mobil hitam milik Raffa berhenti cukup jauh dari area kampus Universitas Mandala. Kali ini bukan mobil yang biasa dipakainya, melainkan sedan abu gelap yang jarang diketahui orang-orang hotel.
Raffa duduk diam di balik kemudi sambil mengenakan kacamata hitam tipis. Tatapannya lurus ke arah gerbang kampus.
Aswin yang duduk di kursi samping tampak beberapa kali melirik heran.
“Pak… kita benar-benar nungguin mahasiswa?”
Raffa tidak langsung menjawab.
“Aku cuma mau memastikan sesuatu.”
“Saya boleh tahu apa?”
Raffa menyandarkan tubuhnya pelan.
“Shintia itu tipe orang yang gampang peduli ke semua orang… atau cuma ke aku.”
Kalimat itu membuat Aswin makin bingung.
Namun ia memilih diam. Beberapa menit kemudian, mahasiswa mulai ramai keluar masuk area kampus.
Dan tak lama… Sosok Shintia muncul.
Gadis itu berjalan pelan sambil memeluk beberapa buku di dadanya. Wajahnya terlihat jauh lebih pucat dibanding terakhir kali Raffa melihatnya di pantai.
Mata gadis itu sembab, Seperti habis menangis.
Deg.
Entah kenapa dada Raffa langsung terasa tidak nyaman melihatnya.
“Dia sakit?” gumamnya pelan.
Aswin ikut memperhatikan. “Kelihatannya lagi banyak pikiran.”
Raffa terdiam.
Tatapannya tidak lepas dari Shintia sedetik pun. Gadis itu terlihat tidak fokus, bahkan nyaris menabrak mahasiswa lain saat berjalan.
Ponselnya terus berada di genggaman, seolah sedang menunggu sesuatu.
Atau seseorang.
Dan Raffa tahu… kemungkinan besar itu dirinya.
Perasaan aneh muncul di dada pria itu. Hangat, Sekaligus merasa bersalah, Karena ia telah datang… dan menghilang tanpa kabar, dan jelas di wajah Shintia ia tengah tak baik-baik saja.
“Pak…” panggil Aswin pelan.
“Hm?”
“Mau saya panggil?”
“Jangan.”
Jawaban Raffa cepat.
Ia belum ingin muncul di depan Shintia sekarang. dengan hal ini Raffa ingin tahu' apakah Shintia bisa mencintai laki-laki yang datang dan hilang begitu saja, dan apakah Shintia akan cepat melupakannya.
Di dalam mobil, Raffa masih diam memperhatikan Shintia dari kejauhan.
Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari gadis itu. Bahkan ketika Tari datang sambil berceloteh heboh di samping sahabatnya, perhatian Raffa tetap tertuju pada satu orang.
Shintia memang tersenyum.
Bahkan sempat tertawa kecil karena tingkah Tari.
Namun mata gadis itu tidak berbohong.
Ada kesedihan di sana.
Kesedihan yang sejak tadi membuat dada Raffa terasa aneh.
“Pak…” Aswin akhirnya kembali bersuara pelan. “Kalau boleh jujur… dia kelihatan kehilangan.”
Raffa tersenyum tipis hambar.
“Padahal aku belum jadi siapa-siapa buat dia.”
“Tapi mungkin Bapak sudah ninggalin kesan.”
Kalimat itu membuat Raffa terdiam beberapa detik.
Kesan.
Ya… mungkin itu benar.
Karena bahkan dirinya sendiri tidak menyangka bisa terus memikirkan Shintia hanya dalam waktu dua hari.
Dari kejauhan, Tari terlihat sedang memegang bahu Shintia sambil bicara panjang lebar. Gadis itu akhirnya mengangguk pelan, lalu tersenyum lagi walau dipaksakan.
Raffa memperhatikan semuanya tanpa sadar.
Cara Shintia menunduk saat sedih.
Cara gadis itu menggigit bibir ketika menahan sesuatu.
Dan cara tangannya terus menggenggam ponsel seolah berharap benda itu tiba-tiba berbunyi.
Menunggu dirinya.
“Pak… jadi gak mau muncul?” tanya Aswin hati-hati.
Raffa menggeleng pelan.
“Belum.”
“Kenapa?”
Pria itu menyandarkan kepala ke kursi sambil tetap menatap ke arah luar.
“Aku mau lihat seberapa lama dia bakal inget sama aku.”
Aswin langsung terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa terasa rumit sekaligus egois.
Sementara di luar sana…
Shintia sama sekali tidak sadar ada seseorang yang terus memperhatikannya sejak tadi.
“Ayo pulang,” ujar Tari sambil menarik lengan sahabatnya pelan.
“Hm.”
“Kamu serius gak mau cerita?”
Shintia tersenyum kecil.
“Cerita apa…”
“Yaelah, muka lo kayak orang ditinggal kawin.”
“Ish.”
Tari mendecakkan lidah.
“Dari kemarin bengong mulu. Jangan bilang gara-gara cowok pantai itu.”
Jantung Shintia langsung berdegup cepat.
Namun ia buru-buru menggeleng.
“Bukan.”
“Bohong.”
“Aku cuma capek.”
Tari menatapnya lama seolah tidak percaya.
Namun akhirnya gadis itu menghela napas kecil lalu menggandeng tangan Shintia menuju parkiran kampus.
Dari dalam mobil, Raffa melihat semuanya.
Dan tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis saat melihat Shintia merajuk kecil pada Tari.
Masih lucu.
Masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu.
Namun senyum kecil itu perlahan hilang saat melihat wajah pucat gadis itu lagi.
Raffa mengambil ponselnya, ia berniat memotret gadis itu.
Baginya nampak lucu, juga kasihan. Raffa tahu Shintia mungkin mengira dirinya meninggal dari kabar berita.
Jarinyanya bergerak pelan, Namun akhirnya berhenti.
Ragu.
Entah kenapa… ada bagian dalam dirinya yang ingin terus melihat reaksi Shintia secara langsung.
“Aku jahat ya?” gumamnya pelan tanpa sadar.
Aswin yang mendengar langsung melirik.
“Kalau menurut saya… sedikit.”
Raffa malah terkekeh pelan untuk pertama kalinya hari itu.
“Berani juga kamu.”
“Maaf Pak. Tapi kasihan juga lihat dia.”
Tatapan Raffa kembali lurus ke depan.
Kasihan.
Ya… ia juga sadar.
Namun setelah terlalu lama hidup di antara orang-orang yang mendekat karena nama dan hartanya, Raffa jadi sulit percaya pada perasaan seseorang.
Dan Shintia…
Gadis itu terasa berbeda. Karena itulah Raffa ingin memastikan sendiri.
Apakah Shintia benar-benar peduli pada dirinya ... Atau hanya hanyut sesaat karena perhatian yang ia berikan.
***
Malam harinya…
Sebuah restoran mewah di pusat kota terlihat cukup ramai.
Lampu gantung berwarna keemasan memantulkan suasana hangat di dalam ruangan.
Di salah satu meja dekat jendela, Andreas duduk berhadapan dengan Sella.
Pria itu tampak jauh lebih santai dibanding beberapa bulan terakhir.
Senyum tipis beberapa kali muncul di wajahnya setiap mendengar wanita di depannya bicara.
Sella malam itu terlihat sangat anggun dengan dress hitam sederhana dan rambut yang dibiarkan tergerai.
Berbeda dari sikapnya di hotel tadi pagi, di depan Andreas wanita itu tampak lembut dan tenang.
“Maaf tadi siang batal,” ucap Sella sambil tersenyum kecil.
“Gapapa.”
“Kamu marah?”
Andreas terkekeh pelan.
“Kalau aku gampang marah, mungkin kamu udah kabur dari dulu.”
Sella ikut tertawa kecil.
Dan untuk sesaat… suasana di antara mereka terlihat benar-benar hangat.
Andreas memandang wanita itu cukup lama.
Dalam hati ia mengakui…
Sella memang berhasil membuat hidupnya perlahan terasa hidup lagi.
Setelah kehilangan tunangannya dulu, Andreas sempat berpikir dirinya tidak akan bisa membuka hati untuk siapa pun.
Namun Sella datang perlahan.
Menemani, Mendengarkan.
Dan membuatnya merasa tidak sendiri.
“Kamu cantik malam ini,” ucap Andreas tiba-tiba.
Sella tersenyum manis.
“Baru sadar?”
Andreas menggeleng.
Namun di balik senyum cantiknya… Pikiran Sella justru sesekali melayang pada Raffa.
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄