NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tantangan dari Kelas Lain

Kabar tentang tuduhan bullying yang gagal menyebar cepat. Seperti api di padang rumput kering, dalam hitungan jam semua orang di Alessandra High School sudah tahu: Saskia menuduh Valeria Allegra mendorongnya di toilet, tapi tuduhan itu terbukti palsu karena Allegra punya alibi kuat.

Reaksi siswa beragam. Sebagian membela Saskia "Kasihan Siska, pasti dia cuma salah lihat" sebagian membela Allegra "Dasar tukang fitnah, pengen ngejatohin orang aja" tapi kebanyakan hanya menikmati drama.

Satu hal yang pasti: nama Valeria Allegra sekarang lebih dikenal dari sebelumnya.

Bukan hanya sebagai murid pindahan misterius dengan motor Ducati dan kacamata rantai emas. Bukan hanya sebagai gadis yang berani melawan si kembar dan menampar Raka. Tapi juga sebagai murid yang mengalahkan Fiona peringkat dua sekolah dengan selisih 8 poin.

Dan itu mengundang perhatian dari kelas lain.

Saat jam istirahat, Alessandra sedang duduk di bangku taman dekat perpustakaan, membaca buku sejarah Ateris. Mutiara ada di sampingnya, juga membaca. Laras sedang membeli jajanan di kantin.

Dua orang mendekat.

Laki-laki.

Satu berambut panjang diikat ke belakang, wajah tajam dengan tindik di bawah bibir. Satu lagi bertubuh lebih besar, berotot, dengan rambut pendek dan rahang persegi. Seragam mereka sama hitam-putih dengan almamater burung gagak tapi cara mereka berjalan menunjukkan status: mereka bukan siswa biasa.

Rambut panjang itu tersenyum miring. "Valeria Allegra?"

Alessandra tidak mendongak. Matanya tetap pada buku. "Iya."

"Gue Renata. Ketua kelas XII MIPA 2." Dia menunjuk temannya. "Ini Oktav, wakil ketua."

"Ada yang bisa saya bantu?" Alessandra masih tidak menoleh.

Renata tertawa kecil. "Keren juga lo, baru pindah udah bikin geger. Ngerecokin Fiona, ngelawan si kembar, ngebuat Siska nangis—"

"Saya tidak membuat siapa pun menangis," potong Alessandra datar. "Dia menangis sendiri."

"Terserah." Renata menyandarkan tubuh ke pohon di dekat bangku. "Gue denger lo pinter banget. Dapet 100 di ulangan Matematika, ngancurin Fiona di Fisika. Lo peringkat berapa di sekolah sebelumnya?"

Alessandra perlahan menutup bukunya. Dia menatap Renata dengan mata dingin. "Tidak pernah diperingkatkan."

"Wah, jadi lo anak biasa aja? Atau sekolah sebelumnya gak ada peringkatnya?"

"Sekolah sebelumnya tidak perlu peringkat untuk mengukur kemampuan."

Renata mengangkat alis. Oktav yang dari tadi diam, ikut menyilangkan tangan di dada.

"Berarti lo pede banget dong sama kemampuan lo," ucap Renata. "Gue tantang lo. Besok, istirahat kedua, di ruang OSIS. Adu cepat mengerjakan soal Matematika, Fisika, dan Kimia. Masing-masing 5 soal, waktu 30 menit per mapel."

Alessandra merapikan kacamatanya. "Apa hadiahnya?"

"Hadiah?"

"Saya tidak mau bersaing hanya untuk bersaing. Itu buang-buang waktu."

Renata dan Oktav saling pandang. Seperti tidak percaya dengan jawaban itu.

"Lo... minta hadiah?" Oktav bersuara untuk pertama kalinya. Suaranya berat.

"Apakah salah?" Alessandra menatap Oktav dengan tenang. "Waktu saya berharga. Jika saya menghabiskan 90 menit untuk mengerjakan soal, saya ingin imbalan yang sepadan."

Renata tertawa lagi. "Serius lo minta hadiah? Kayak kontraktor aja."

"Saya pengusaha. Setiap ada yang meminta waktu saya, harus ada kompensasi."

Pengusaha. Kata itu terdengar aneh dari mulut seorang gadis SMA. Tapi cara Alessandra mengatakannya tegas, penuh otoritas membuat Renata tidak bisa mengejek.

"Baik," Renata menghela napas. "Gue kasih hadiah. Kalau lo menang, gue dan seluruh kelas XII MIPA 2 akan ngakuin lo sebagai yang terpintar di angkatan ini. Kami akan sebarkan itu ke seluruh sekolah."

"Dan jika saya kalah?"

"Lo harus traktir gue dan teman-teman gue makan di restoran paling mahal di Acelia."

Alessandra menatap Renata beberapa saat. Matanya seperti membaca sesuatu—mungkin menilai apakah pria ini serius atau hanya iseng.

"Baik. Saya terima."

Renata mengulurkan tangan. "Salaman, tandanya setuju."

Alessandra tidak menyambut tangannya. Dia berdiri, mengambil buku di pangkuannya, lalu berkata, "Saya tidak berjabat tangan dengan orang yang belum saya kenal. Tapi janji tetap janji. Besok istirahat kedua, ruang OSIS."

Dia berjalan pergi meninggalkan Renata dan Oktav yang terdiam.

Mutiara yang dari tadi hanya bisa melongo, buru-buru berdiri dan mengikuti Alessandra.

"Vale! Lo serius? Mereka itu juara kelas, lo tahu? Renata peringkat 4, Oktav peringkat 6. Mereka sering ikut olimpiade!"

"Peringkat bukan segalanya, Mutiara."

"Tapi—"

"Percayalah." Alessandra merapikan kacamatanya. "Saya tidak akan kalah."

Keesokan harinya, suasana di sekitar ruang OSIS berbeda.

Biasanya ruangan itu sepi, hanya dipakai untuk rapat atau kegiatan organisasi. Tapi hari ini, puluhan siswa berkumpul di luar. Mereka berdesakan di koridor, ada yang naik ke atas kursi, ada yang jongkok di lantai, semuanya demi melihat pertarungan otak antara Valeria Allegra dan perwakilan kelas XII MIPA 2.

Fiona ikut datang, berdiri di pojok dengan tangan bersilang. Wajahnya masam, tapi matanya penasaran. Di sampingnya, Saskia ikut hadir dengan wajah polosnya kembali, seolah tidak pernah terjadi tuduhan bullying kemarin.

Raka dan Riko juga ada. Mereka berdiri di antara teman-temannya, ikut menyaksikan.

"Si Vale berani banget lawan Renata," bisik Raka.

"Dia memang beda sekarang," jawab Riko pelan.

Di sudut lain, pemuda dengan rambut panjang hampir menutupi mata dan pengintip misterius itu juga hadir. Dia bersandar di dinding, buku catatan kecil di saku, matanya tidak lepas dari pintu ruang OSIS.

Jam menunjukkan pukul 12.30. Istirahat kedua.

Pintu ruang OSIS terbuka.

Di dalam, sebuah meja panjang telah disiapkan. Di atasnya, tiga lembar soal dari Matematika, Fisika, Kimia masing-masing 5 nomor. Dua kursi di hadapan meja: satu untuk Alessandra, satu untuk Renata.

Renata sudah duduk lebih dulu. Dia tersenyum percaya diri.

Alessandra masuk.

Ruangan yang tadinya ramai tiba-tiba sunyi.

Dia berjalan ke kursinya dengan langkah tegap. Seragam hitam-putih rapi. Pita merah di rambut. Kacamata rimless dengan rantai emas bergelantung. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

Tanpa basa-basi, dia duduk.

"Aturannya," ucap Renata, "kita kerjakan bareng. Selesai satu mapel langsung dinilai. Siapa cepat dan benar, dia menang. Setuju?"

"Setuju."

"Mulai."

Matematika. 5 soal. Waktu maksimal 30 menit.

Alessandra membaca soal pertama: integral lipat tiga dengan batas fungsi trigonometri. Sulit. Tapi dia pernah mengerjakan soal seratus kali lebih rumit saat menyusun strategi logistik mafia.

Dia mulai menulis.

Coret. Hitung. Tulis.

Langkah-langkah rapi, efisien, tanpa satu pun coretan.

Renata di sampingnya juga bergerak cepat. Dia adalah juara olimpiade matematika tingkat kota. Soal-soal ini sudah sering dia latih.

Tapi Alessandra... lebih cepat.

7 menit untuk 5 soal.

Dia meletakkan pulpen dan menekan bel kecil di meja.

Ding!

Semua orang di luar tersentak.

"Sudah? 7 menit?!"

Renata menoleh, matanya melebar. Dia baru menyelesaikan soal ketiga.

Wasit yaitu guru Matematika, Pak Budi mendekat dan memeriksa jawaban Alessandra.

Wajahnya berubah. "Benar semua. Nilai 100 untuk sesi Matematika."

Bisik-bisik di luar semakin keras.

Renata menggigit bibir. Tapi dia tidak menyerah.

Fisika. 5 soal. Waktu 30 menit.

Sekali lagi, Alessandra menyelesaikan dalam 6 menit. Soal tentang mekanika kuantum, relativitas, dan termodinamika semuanya dia jawab dengan sempurna.

Pak Budi memeriksa. "Benar semua. Nilai 100."

Renata baru sampai soal keempat.

Kimia. 5 soal. Waktu 30 menit.

Alessandra menyelesaikan dalam 8 menit. Soal tentang kesetimbangan kimia, elektrokimia, dan kimia organik.

"Benar semua," ucap Pak Budi dengan suara sedikit bergetar. "Nilai 100. Total nilai Valeria Allegra: 300. Renata: belum selesai, tapi dari 3 mapel nilainya 270."

Kekalahan telak.

Renata meletakkan pulpennya. Dia menghela napas panjang, lalu berdiri dan menatap Alessandra.

"Lo... serius ini baru pertama kali lo ikut adu cepat seperti ini?"

"Iya," jawab Alessandra datar. "Karena biasanya saya tidak perlu membuktikan kemampuan saya kepada siapa pun. Tapi Anda yang meminta."

Renata tertawa kecil bukan ejekan, tapi kekaguman. "Baik, gue kalah. Janji gue: seluruh kelas XII MIPA 2 akan ngakuin lo sebagai yang terpintar di angkatan ini."

"Terima kasih. Tapi saya tidak butuh pengakuan. Saya hanya ingin waktu saya tidak terbuang sia-sia."

Dia berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan keluar ruangan.

Saat dia melewati kerumunan, semua mata tertuju padanya. Beberapa bersorak. Beberapa berbisik kagum. Fiona memilih pergi, wajahnya tidak bisa menyembunyikan kekesalan.

Saskia tersenyum manis tapi di balik senyum itu, ada rasa frustrasi.

Dan pemuda misterius di sudut koridor, dia tersenyum tipis.

Di buku catatannya, dia menulis:

Valeria Allegra. Matematika: 7 menit. Fisika: 6 menit. Kimia: 8 menit. Kecepatan dan akurasi di luar nalar. Bukan sekadar pintar. Ini level... master.

Siapa sebenarnya dia?

Dia menutup buku itu, menyimpannya di saku, lalu pergi sebelum Alessandra sempat melihatnya.

Tapi Alessandra sudah melihat.

Dari ujung matanya, dia menangkap gerakan pemuda itu berbalik, berjalan cepat, menghilang di balik pintu.

Dia selalu ada, pikir Alessandra. Mengawasi. Mencatat. Kapan aku akan mencari tahu identitasmu?

Dia merapikan kacamata.

Mungkin segera.

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!