"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Gunung Kembar dan Tembok Es
Gunung Kembar dan Tembok Es
Kabar baik itu seharusnya membuatku tenang. Mbak Siska sudah mulai bisa berjalan kecil dan wajahnya sudah tidak sepucat dulu. Tapi bagiku, ini adalah awal dari siksaan baru. Gavin kembali menjadi CEO yang sibuk, dan di rumah, dia benar-benar memperlakukanku seperti pajangan. Dia bicara seperlunya, menatapku seperlunya, benar-benar mode "Suami Saleh" yang taat aturan.
"Rum, mending kita cuci mata deh. Gue suntuk banget liat muka lo yang udah kayak kanebo kering begini," ajak Bella sambil menarik lenganku paksa di parkiran kampus.
Di Mall Grand Central - Pukul 14.00
"Rum! Rum! Liat jam 2! Itu bukannya Mas Gavin?" Tiara menunjuk ke arah restoran Italia kaca transparan yang sangat mewah.
Jantungku mencelos. Di sana, Gavin duduk dengan kemeja putih yang lengannya digulung rapi. Sangat tampan. Tapi dia tidak sendirian.
Di depannya, duduk seorang wanita yang membuatku merasa seperti remah-remah rempeyek. Wanita itu memakai blazer ketat yang terbuka sangat rendah. Dia benar-benar "bohay". Dada besarnya hampir menyentuh meja saat dia mencondongkan tubuh ke arah Gavin. Dia tertawa sambil menyentuh lengan Gavin secara terang-terangan.
"Waduh... Rum, kayaknya lo dapet lawan spek 'Final Boss' nih," celetuk Bella dengan mulut menganga. "Liat tuh, itu mah bukan saingan lagi, itu mah penggusuran! Gemoy banget, dadanya aja kayaknya lebih gede dari masa depan gue."
"Iya, Rum. Liat cara dia ketawa, duh... tangannya nemplok terus di lengan Mas Gavin. Dan Mas Gavin... kok dia diem aja?" Tiara menatapku prihatin.
Darahku mendidih. Aku melihat Clarissa—rekan bisnisnya—sengaja menjatuhkan pena. Saat dia membungkuk untuk mengambilnya, belahan dadanya benar-benar tersaji di depan mata Gavin. Dan Gavin? Pria itu tetap tenang, menyesap kopinya tanpa ekspresi, tapi dia tidak menepis tangan wanita itu!
"Gue mau samperin," ucapku ketus.
"Eh! Jangan gila lo, Rum! Lo mau ngapain? Inget, lo cuma adik ipar!" Bella menahan lenganku.
"Gue nggak cemburu ya! Gue cuma... gue cuma kasihan sama Mbak Siska! Dia di rumah lagi berjuang buat sembuh, eh suaminya malah asyik liatin 'gunung' di mall! Gue nggak bisa biarin Mbak Siska dikhianati!" aku mencari alasan paling logis untuk menutupi rasa sesak di dadaku.
Aku melangkah masuk ke restoran dengan kepala tegak. "Mas Gavin? Lho, kok di sini?" tanyaku ketus.
Gavin mendongak. Matanya yang dingin langsung mengunci mataku. "Arum? Kamu belanja?"
Clarissa menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Oh, ini adik iparmu yang sering kamu ceritakan itu, Gav? Manis ya... sangat... muda," ucapnya dengan nada meremehkan.
"Iya, saya muda. Dan saya punya mata buat liat mana urusan bisnis, mana urusan... gatal," sindirku tajam.
Clarissa membelalak. "Gav, adik iparmu ini tidak sopan sekali ya?"
Gavin meletakkan cangkir kopinya perlahan. Bunyi klenting cangkir itu terdengar sangat dingin. "Arum, pulang sekarang. Aku sedang ada pertemuan penting."
"Pertemuan penting atau lagi cari hiburan karena istri di rumah lagi sakit?" suaraku bergetar. "Mas nggak mikirin perasaan Mbak Siska? Dia lagi berjuang buat sembuh, Mas! Dan Mas malah biarin wanita ini pegang-pegang tangan Mas?"
Gavin berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi besar seketika mengintimidasi atmosfer di meja itu. "Clarissa, maaf. Pertemuan kita selesai sampai di sini."
Gavin menarik lenganku keluar dari restoran tanpa berkata apa-apa lagi. Langkahnya lebar dan cepat, membuatku nyaris berlari mengejarnya. Di parkiran VIP, dia melepaskan tanganku dengan kasar.
"Apa yang kamu lakukan tadi sangat memalukan, Arum," desis Gavin. Wajahnya tidak merah karena marah, tapi matanya sangat dingin seolah bisa membekukan darahku.
"Aku cuma belain Mbak Siska! Mas keterlaluan!"
"Belain Siska?" Gavin tertawa pendek, tawa yang sangat hambar. "Sejak kapan kamu peduli pada Siska sampai harus mencampuri urusan bisnisku? Apa karena kamu kasihan padanya, atau kamu cuma butuh alasan buat marah padaku?"
"Aku... aku beneran kasihan sama Mbak Siska!"
Gavin maju satu langkah, membuatku terdesak ke pintu mobilnya. Dia tidak menyentuhku. Dia hanya menatapku dengan jarak yang sangat dekat, tapi tangannya tetap masuk ke saku celana. Tidak ada sosoran, tidak ada dekapan. Hanya tembok es yang sangat tinggi.
"Dengar, Arum. Clarissa adalah klien besar. Apa yang dia lakukan pada lenganku tidak berarti apa-apa bagiku. Tapi apa yang kamu lakukan tadi... itu menunjukkan betapa kekanakannya kamu," ucap Gavin pelan namun menusuk.
"Mas Gavin yang jahat! Mas berubah jadi dingin begini cuma buat nutupin kalau Mas sebenernya seneng kan digodain cewek bohay itu?"
Gavin mendekatkan wajahnya ke telingaku. Aku sudah bersiap dia akan membisikkan sesuatu yang sensual, tapi harapanku pupus.
"Jangan gunakan nama Siska sebagai alasan untuk kecemburuanmu yang tidak berdasar itu. Pulanglah. Naik taksi atau panggil Raka-mu itu. Aku masih punya urusan," ucapnya dingin.
Dia masuk ke mobil, menutup pintunya dengan bunyi yang tegas, dan melesat pergi begitu saja tanpa menoleh lagi. Dia benar-benar meninggalkanku di parkiran mall sendirian.
"Wuidih... Rum, lo beneran ditinggal?!" Bella dan Tiara lari menghampiriku.
"Sumpah ya, si Gavin itu hatinya terbuat dari apa sih? Bekuan air AC?" Bella geleng-geleng kepala. "Lo udah secantik ini, udah ngamuk demi kakaknya, eh malah ditinggal."
"Sabar ya, Rum. Mungkin dia lagi pengen ngetes iman," Tiara mencoba menghibur. "Tapi jujur ya, kalau gue jadi lo, gue bakal makin panas sih. Liat tuh, dia bahkan nggak peduli lo pulang naik apa."
Aku menatap sisa asap knalpot mobil Gavin dengan mata berkaca-kaca. Aku benci dia. Aku benci betapa dinginnya dia. Dan yang paling aku benci... aku tahu alasanku tadi bohong. Aku tidak hanya kasihan pada Mbak Siska. Aku ingin dialah yang menyentuhku, bukan Clarissa.
"Gue bakal bikin dia nyesel karena udah ngetawain gue hari ini," gumamku sambil menghapus air mata dengan kasar.
"Gimana caranya?" tanya Bella kepo.
"Gue bakal bikin dia liat kalau gue bisa jauh lebih 'mahal' dari cewek gemoy itu," jawabku mantap.
Aku masih berdiri mematung di aspal parkiran yang panas, menatap kosong ke arah mobil Gavin yang sudah menghilang di balik tikungan. Rasanya seperti baru saja ditampar kenyataan bahwa aku benar-benar bukan siapa-siapa di matanya. Dinginnya Gavin kali ini jauh lebih menyakitkan daripada kemarahannya.
"Rum, udah yuk. Jangan diliatin terus, nanti mata lo bintitan nangisin knalpot mobil," celetuk Bella sambil menarik tanganku pelan.
"Iya, mending kita ke toko bra tadi aja. Kita cari yang push-up maksimal. Kita buktiin kalau aset lo juga bisa bikin mata melotot kalau mau!" Tiara mencoba mencairkan suasana dengan celotehan sengkleknya yang nggak kenal tempat.
Aku hanya mendengus, mencoba menghapus sisa air mata yang nyaris jatuh. "Gue nggak butuh busa tambahan, Ti. Gue cuma butuh dia sadar kalau dia itu brengsek."
Tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Jantungku sempat melonjak, berharap itu dari Gavin yang merasa bersalah dan ingin balik menjemputku. Tapi harapanku pupus saat melihat nama pengirimnya.
Raka: "Rum, lu di mall ya? Gue liat Snapgram Bella. Gue jemput sekarang ya? Kita cari makan sore."
Aku menatap layar ponsel itu dengan hampa. Raka, pria yang selalu ada tapi tidak pernah bisa memberikan getaran yang sama. Aku melirik ke arah Bella dan Tiara yang masih sibuk berdebat soal ukuran cup di depanku.
"Balas aja, Rum! Suruh si Raka ke sini sekarang. Biar Mas Gavin tau kalau lo nggak butuh tumpangan mobil mahalnya itu!" kompor Bella.
Aku mengetik jawaban dengan cepat, menyetujui ajakan Raka. Tapi mataku kembali beralih ke arah pintu masuk mall, berharap sosok tinggi tegap itu muncul kembali.
Nggak akan, Arum. Dia lagi sibuk bayangin Clarissa, batinku pahit.
"Ayo balik ke dalem," ajakku dingin. "Gue mau beli lipstik yang paling merah. Gue mau tunjukin ke dia kalau dia udah salah besar karena udah ninggalin gue hari ini."
"Nah! Gitu dong! That's my girl!" seru Tiara girang.
Sambil melangkah kembali masuk ke mall, aku meraba leherku. Bekas yang ditinggalkan Gavin dulu sudah benar-benar pudar, persis seperti perhatiannya padaku saat ini. Tapi di balik rasa benciku, ada satu janji yang tertanam kuat di hati: Kalau dia mau bermain peran sebagai pria suci, maka aku akan menjadi iblis yang paling menggoda yang pernah dia temui.
Permainan ini belum selesai, Mas Gavin. Kamu pikir gunung kembar Clarissa itu ancaman? Tunggu sampai aku benar-benar berhenti menjadi adik iparmu yang penurut.
jngan y thor