NovelToon NovelToon
Asmara Setelah Menikah

Asmara Setelah Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Obsesi / Keluarga / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: yesstory

Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Tara tengah bersiap-siap untuk ke rumah sakit saat suara ketukan pintu terdengar. Tara keluar kamar dan membuka pintu depan.

“Devan?” Tara menatap terkejut pada lelaki yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan menyunggingkan senyuman manisnya.

“Hai. Boleh aku masuk?”

Tara melihat ke sekitarnya lalu menggeser tubuhnya. Devan tersenyum lalu masuk ke dalam.

“Kamu nggak ngajar?” Tara melihat Devan yang sudah duduk di sofa. Tara ikut duduk di seberangnya.

“Aku lagi nggak enak badan.”

Dahi Tara mengernyit. “Terus ngapain kamu ke sini kalau lagi nggak enak badan?”

“Karena obatnya ada di sini.”

“Obat? Obat apa?”

“Obatnya ya kamu.”

Tara melongo dan menunjuk dirinya sendiri. “Aku? Tapi aku bukan dokter. Mana ngerti aku obat yang kamu butuhkan.”

Devan berdecak. “Ck. Obatnya itu ya kamu, Tara. Aku nggak enak badan karena kangen sama kamu. Aku kesepian di rumah. Rasanya nggak enak. Apa-apa malas. Nggak bersemangat. Ya udah aku datang ke sini aja.”

Tara menghela napas. “Ku rasa otak kamu miring dikit deh. Ini bukan Devan yang ku kenal.”

“Oh ya? Terus seperti apa Devan yang kamu kenal?”

Tara memutar bola matanya. “Please, Dev. Kalau tujuan kamu datang ke sini itu nggak penting, mending kamu pergi deh. Aku nggak tertarik mendengar gombalanmu itu.”

Devan tak menjawab. Ia mengambil ponsel di sakunya, mengotak atiknya sebentar lalu memandang Tara.

“Cek hape kamu, Ra.”

Tara mengernyit bingung. “Maksudnya?”

“Cek aja.”

Tara berdiri, masuk ke dalam kamarnya lalu keluar sembari membawa ponselnya.

“Kamu yang kirimin aku uang, Dev?” Tara melihat layar ponselnya. Ada notifikasi uang masuk sebesar sepuluh juta.

“Itu nafkah dariku.”

Tara melihat Devan. “Nafkah? Buat apa? Kita udah berpisah.”

“Selama pengadilan belum mengetuk palu, maka selama itu kamu masih jadi istriku, Tara. Dan aku berhak ngasih kamu nafkah seperti biasanya.” Devan menatap sendu wajah istrinya.

“Apa maumu, Dev? Kamu ingin aku kembali? Kamu ingin kita mengulang kisah itu? Atau apa?“

Devan mengangguk lemah. “Aku tahu kamu kecewa. Aku tahu kamu nggak peduli masalah nafkah itu. Aku tahu penyebab kamu ingin bercerai dariku bukan karena aku nggak bisa ngasih nafkah batin itu. Aku salah. Sangat bersalah. Tapi, sebelum kamu mengurus semuanya di pengadilan, bisakah kita tetap bersama kayak dulu?”

“Bersama kayak apa? Tinggal serumah? Melihat kamu sama cowok itu tidur bareng gitu?” Tara berdecih sinis.

Devan terdiam.

“Aku nggak bisa melupakan kejadian di kamar kita waktu itu. Hubungan kita sudah hancur sejak detik itu. Dan aku nggak berniat sedikitpun untuk kembali sama kamu. Aku memang belum memproses perceraian kita. Tapi itu bukan berarti kamu punya kesempatan. Kamu sudah kehilangan kesempatan itu, Dev. Dari pada kamu berusaha ingin aku kembali lagi, lebih baik kamu bantu aku. Bantu aku urus surat-surat perceraian. Bantu aku buat melanjutkan hidup. Dan kamu pun juga bisa melanjutkan hidup sesuai keinginanmu,” lanjutnya.

Devan mengambil tas, membuka isinya, dan mengeluarkan sebuah buku berwarna hijau dan merah.

“Aku masih sangat berharap kamu mau memaafkan dan kembali ke aku, Ra. Tapi, aku nggak akan maksa kamu. Ini buku yang kamu butuhkan.” Devan meletakkan kedua buku nikah itu di atas meja.

Tara menatap datar pada kedua buku yang menjadi bukti mereka pernah menjadi suami istri. Buku yang bertahan selama tiga tahun pernikahan mereka. Dan sekarang, buku itu akan diserahkan untuk memutus ikatan pernikahan mereka.

Devan berdiri. “Jangan menjauh dariku, Ra. Aku harap hatimu mau terbuka lagi untukku. Aku kesepian, Tara. Aku harap kamu yang datang ke rumah. Bukan tukang pos yang mengantar surat pemanggilan dari pengadilan. Aku mencintaimu, Tara. Maaf kalau aku terlambat menyadarinya. Aku sayang sama kamu.”

Tara bergeming. Hingga Devan pergi meninggalkan rumahnya pun Tara masih diam menatap kedua buku yang teronggok bisu di atas meja. Matanya memerah, berkaca-kaca. Dan satu tetes air mata turun dengan lancangnya.

“Aku juga sayang sama kamu, Dev. Hatiku juga sakit, Dev. Berat pisah sama kamu. Tapi untuk bersama pun, aku akan lebih sakit. Maafkan aku, Dev. Jalan terbaik untuk kita adalah berpisah.”

Tara mengambil dua buku nikah itu dan memeluknya erat dengan tangis lara dan bahu terguncang. Semuanya telah berakhir. Ia akan segera mengurus semuanya agar tak terus larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.

***

Devan mencengkram kuat kemudinya. Matanya pun memerah menahan tangis juga rasa sesak di dadanya. Tara tak menahannya untuk pergi. Tara belum memaafkannya hingga saat ini walau kedatangannya di terima.

“Apa yang harus aku lakukan, Tara? Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau bersamaku lagi, Sayang?”

Devan tetap melajukan mobilnya walau pikirannya tak tertuju ke jalan di depannya. Sesekali ia mengusap air mata yang turun. Ia tidak pernah menangisi seseorang sampai seperti ini. Ia tidak pernah seperti ini karena seseorang. Apalagi seorang perempuan.

“Aku sayang sama kamu, Tara. Aku bisa menuruti segala permintaanmu asal jangan berpisah dariku.”

“Bodoh! Bodoh! Harusnya aku minum saja obat perangsang itu agar Tara bisa hamil anakku. Dengan begitu, Tara nggak akan pernah pergi dariku. Kenapa kamu menolaknya, Devan! Kenapa! Sekarang sesal pun nggak guna! Nggak ada sesuatu yang bisa mengikat Tara agar dia tetap bersamaku!”

Devan memukuli kepalanya dengan satu tangan dan tangan lainnya mengemudikan setir. Ponselnya di saku bergetar. Devan mengambilnya dan melihat siapa yang meneleponnya.

“Halo, Ma.”

“Dev, Papa masuk rumah sakit. Kamu dimana?” Suara Mia terdengar panik di ujung sambungan.

Devan terbelalak. “Papa kenapa, Ma?”

“Hari ini Papa harus operasi hernia, Dev. Bisa kamu datang ke rumah sakit Central Hospital?”

“Iya, Ma. Aku ke sana sekarang.”

Devan menghapus air matanya dan kembali fokus mengemudi. Ia harus segera sampai ke rumah sakit untuk menemui orang tuanya.

“Dev, kamu nggak kabarin Tara tentang keadaan Papa?” tanya Mia menatap putranya.

Keduanya tengah duduk di depan ruang operasi menunggu Gunawan yang sedang ditangani dokter.

“Tara masih marah, Ma.”

Mia menghela napas pelan. “Dia akan selalu marah sama kamu, Dev. Jangankan marah. Tara membencimu juga wajar aja.”

Devan meraih jemari Mia dan menggenggamnya erat. “Maafkan aku, Ma. Aku nggak bisa jadi anak yang baik. Dan sekarang aku nggak bisa jadi suami yang baik untuk Tara. Aku orang yang nggak berguna. Cuma bisa nyakitin hati orang-orang yang sayang sama aku.”

Mia tersenyum lirih. “Semuanya sudah terjadi. Walaupun Mama juga menyesali tindakanmu, tapi apa boleh buat. Semuanya sudah terlanjur. Sepertinya Tara nggak akan mau kembali sama kamu, Dev. Tapi apapun yang terjadi, kamu tetaplah anak Mama dan Papa. Kami sayang sama kamu. Selamanya. Dan kami akan selalu untukmu, Devan. Jangan merasa sendirian ya. Bagaimana kalau kamu tinggal di rumah kami aja, Nak? Keluar dari sekolah dan mengurus bisnis Papa aja. Papa kamu udah nggak sekuat dulu. Lihat sekarang. Papa kecapekan sampai kena hernia.”

Devan menggeleng. “Aku mau mandiri, Ma. Aku suka jadi guru.”

“Tapi kamu sendirian di rumah. Tara udah nggak ada. Siapa yang merhatiin kamu nantinya?”

Devan tersenyum, menatap Ibunya. “Aku nggak papa, Ma. Aku bisa jaga diriku sendiri. Mama jangan khawatir ya.”

Mia mengangguk, tak ingin memaksa putranya untuk menuruti keinginannya walau kekhawatiran itu jelas ada.

Devan melihat ke arah ruang operasi. Tiba-tiba ia punya ide. Devan berdiri.

“Mau kemana, Dev?” Mia mengernyit bingung.

“Sebentar, Ma. Ada urusan. Aku segera kembali.”

Devan melangkah pergi, mencari tempat untuk menelepon Tara. Ia akan menggugah sisi sentimentil sang istri. Selama ada celah, maka Devan akan terus mencobanya.

“Halo, Tara.”

Bersambung …

1
Atik R@hma
ok ka yes,salam kenal🤣🤣
yesstory: Terima kasih banyak kak Atik yang setia baca karyaku. Semoga suka ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!