Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.
Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.
Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.
Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.
Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam
Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5 Buat Suamiku Berhenti Mencari Wanita Itu
"Paman Leo, kurasa Paman harus berhenti memakai parfum itu. Aromanya seperti toko roti yang terbakar," ucap Sean santai sambil mengoleskan selai kacang ke rotinya.
Leo yang sedang asyik menyeruput kopi langsung tersedak. Ia menatap keponakannya dengan mata melotot.
"Hei, Bocah! Ini parfum mahal, edisi terbatas! Wanginya maskulin, tahu!"
"Maskulin?" Sean mengangkat sebelah alisnya, ekspresi datarnya sangat mematikan. "Kalau maskulin yang Paman maksud adalah membuat lalat pingsan saat berjarak satu meter, maka ya, Paman berhasil. Sebaiknya Paman ganti sebelum mengantarku ke sekolah, atau guru-guruku akan mengira aku tinggal di pabrik biskuit gosong."
Venus yang sedang menyiapkan bekal di dapur tak bisa menahan tawa.
Pagi ini, suasana rumah terasa jauh lebih ringan. Sean bersikap seolah tidak ada percakapan menyakitkan tentang ayahnya kemarin malam.
"Sudah, sudah," lerai Venus sambil meletakkan kotak bekal di depan Sean. "Leo, dia benar. Parfummu memang agak unik pagi ini."
"Kalian berdua benar-benar bersekutu untuk menindasku, ya?" gerutu Leo, meski tangannya tetap bergerak lincah menyisir rambut Sean dengan sayang. "Ayo cepat habiskan rotimu, Tuan Muda. Aku tidak mau kena denda lagi karena kau terlambat masuk kelas."
Sean menghabiskan susunya dalam satu tegukan, lalu berdiri. Ia menghampiri Venus dan menarik ujung baju ibunya.
Saat Venus merunduk, Sean mendaratkan kecupan hangat di pipi ibunya.
"Mama, semangat kerjanya ya. Jangan terlalu stres menghadapi penjahat, mereka biasanya tidak lebih pintar dari aku," bisik Sean, memberikan senyum tipis yang sangat tulus.
Hati Venus menghangat.
"Iya, Sayang. Oh iya, sepertinya Mama akan pulang terlambat. Bos Mama baru saja mengirim pesan, ada laporan yang harus selesai malam ini. Kau di rumah bersama Paman Leo, ya? Jangan buat dia menangis karena ejekanmu."
Sean melirik Leo yang sudah berdiri di pintu. "Aku tidak janji, Ma. Tergantung apakah dia bisa menyetir dengan benar atau tidak."
"Anak nakal! Cepat sini!" Leo merangkul leher Sean dan membawanya keluar menuju mobil.
Sebelum pintu tertutup, Leo menoleh ke arah Venus. "Jangan khawatirkan kami, kakak ipar. Fokuslah pada tugasmu. Ingat, sesulit apa pun teka-teki yang kau hadapi di luar sana, rumah ini adalah tempatmu pulang. Jangan bawa beban kantor ke dalam hatimu."
Venus tersenyum, mengangguk pelan. "Terima kasih, Leo."
Saat mobil menjauh, Venus terdiam sejenak di ruang makan yang kini sunyi. Ia menyadari satu hal penting yang sering ia lupakan karena ambisinya mencari Dante, kebahagiaan tidak selalu berarti menemukan apa yang hilang, tapi menghargai apa yang masih ada di genggaman.
*****
"Tanda tangani cek ini, dan kau bisa mengisi angka berapa pun yang kau mau. Aku akan membayar mu lima kali lipat dari apa yang ditawarkan suamiku."
Venus terpaku menatap lembaran kertas berharga di atas meja kerjanya.
Di hadapannya, Bianca berdiri dengan angkuh. Wanita itu tidak melepas kacamata hitamnya, seolah-olah kulit wajah Venus yang rusak adalah polusi yang bisa merusak indra penglihatannya.
"Saya tidak mengerti maksud anda, Nyonya Bianca," ucap Venus berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
Bianca mendengus kesal, jemarinya yang berhias cat kuku merah darah mengetuk meja dengan tidak sabar. "Jangan berlagak bodoh, detektif Ve. Aku tahu Dante menyewa mu untuk mencari hantu dari masa lalunya. Istri yang entah sudah jadi abu atau dimakan cacing tanah itu."
Venus mengepalkan tangan erat di bawah meja hingga buku jarinya memutih. Rasa panas menjalar di dadanya mendengar dirinya sendiri dihina sedemikian rupa.
"Lalu, apa hubungannya dengan cek ini?"
"Sederhana saja." Bianca mencondongkan tubuhnya. "Buat laporan palsu. Katakan kau menemukan bukti bahwa wanita itu sudah mati. Atau katakan jejaknya hilang sama sekali dan mustahil ditemukan. Buat suamiku berhenti mencari wanita itu. Selamanya."
Venus mendongak, menatap bayangan dirinya di lensa kacamata hitam Bianca. "Boleh saya tahu alasannya? Bukankah sebagai istri yang baik, anda seharusnya mendukung keinginan suami anda untuk mendapatkan ketenangan?"
Bianca tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak tulus.
"Ketenangan? Kau tidak tahu betapa terobsesinya Dante pada wanita itu. Selama tujuh tahun, aku yang berdiri di sampingnya! Aku yang merawat lukanya, aku yang memberikan aliansi kekuasaan padanya! Aku yang berhak memiliki Dante seutuhnya!" Bianca membenarkan letak kacamatanya dengan gerakan angkuh.
"Semua usahaku selama ini akan sia-sia. Aku tidak akan membiarkan wanita yang sudah mati mengalahkan aku yang masih hidup. Jadi, kau bisa melakukannya, kan? Hilangkan harapan Dante," ucap Bianca.
"Apa anda sangat tidak percaya diri dengan posisi anda di hati tuan Dante, Nyonya?" tanya Venus telak.
"Kau!" Bianca nyaris memekik. "Kau hanya detektif rendahan dengan wajah menjijikkan, jangan berani-beraninya menilai ku! Ambil uangnya dan lakukan tugasmu!" Bianca berbalik dengan gusar, hendak meninggalkan ruangan.
Namun, langkahnya mendadak terhenti. Tubuhnya membeku saat melihat sosok tinggi tegap berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada.
"Dante?" lirih Bianca. Hilang sudah keberaniannya yang tadi meluap-luap.
Dante melangkah masuk, auranya begitu dingin hingga suhu di ruangan itu terasa anjlok. Matanya yang tajam menatap cek di atas meja, lalu beralih pada istrinya. "Kenapa kau ada di sini, Bianca? Sejak kapan kau tertarik dengan urusan penyelidikan ku?"
"Aku... aku hanya ingin memastikan detektif ini bekerja dengan cepat, Sayang," Bianca terbata, mencoba meraih lengan Dante dengan gemetar.
"Aku ingin bebanmu segera hilang agar kau bisa fokus pada kita."
Dante tidak menyambut tangan itu. Pandangannya beralih pada Venus, yang kini sibuk merapikan berkas-berkas di mejanya.
Wanita itu memalingkan wajah seolah-olah drama rumah tangga di depannya hanyalah angin lalu.
"Detektif Ve," panggil Dante dengan suara rendah. "Apa yang istriku bicarakan padamu?"
Venus menghela napas, ia meletakkan pulpennya dan menatap lurus ke arah dinding, menghindari kontak mata dengan Dante.
"Nyonya Bianca hanya memberikan motivasi tambahan, Tuan. Tapi maaf, saya lebih suka bekerja sesuai fakta daripada sesuai pesanan. Urusan rumah tangga anda, silakan diselesaikan di luar kantor saya," ucap Venus menunjuk ke arah pintu.
Bianca, menarik jas Dante dengan panik. "Ayo pulang, Sayang. Di sini pengap, wajah detektif ini membuatku pusing."
"Pergilah lebih dulu, Bianca. Aku ada urusan sebentar dengannya," perintah Dante tanpa menerima bantahan.
Setelah Bianca keluar dengan wajah merah padam, Dante kembali menatap Venus.
"Kau punya integritas yang tinggi untuk seseorang yang butuh uang, Nona Ve. Atau mungkin, ada alasan lain kenapa kau menolak uang itu?" tanya Dante.
Venus hanya tersenyum tipis di balik topengnya. "Uang tidak bisa mengubah sejarah, Tuan Dante. Sejarah hanya bisa ditemukan atau dikubur oleh pelakunya sendiri."
Dante terdiam, merasa ada sesuatu yang sangat familiar dalam cara wanita berwajah rusak itu bicara. Sesuatu yang membuatnya tidak ingin berpaling.
Venus segera menunduk kembali dan mengubur semua emosinya dalam-dalam. "Sial! Kenapa aku gugup begini ditatap olehnya," batinnya dengan dada berdegup kencang.
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣