Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 29
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu? Kalau ingin membeli roti, silakan pilih di etalase. Tapi kalau hanya ingin mengobrol, mohon maaf kami sedang jam kerja. Bisa tunggu jam istirahat tiba," ujar Rumi tenang, suaranya datar namun tegas.
"Halah! Jangan sok berkelas kamu, Rumi!" bentak Bu Siti sambil menggebrak meja kasir.
"Gara-gara kamu, anak saya Dona jadi dihujat orang! Kamu yang menghasut Fathur supaya benci sama Dona, kan? Padahal Dona cuma mau silaturahmi!"
Dona menimpali dengan wajah yang dibuat-buat sedih.
"Iya, Rum. Tante Sri sampai jatuh sakit gara-gara memikirkan sikap kamu yang keterlaluan. Kamu tidak tahu ya kalau sekarang Tante Sri sedang sekarat di rumah? Itu semua karena sikap sombong dan durhaka kamu kepada mertua!"
Rumi terdiam sejenak, namun bukan karena takut. Dia meletakkan nampan roti dengan perlahan, lalu melepas sarung tangan plastiknya. Ia berdiri tegak, menatap langsung ke bola mata Bu Siti, lalu beralih ke Dona tanpa ada sedikit pun keraguan.
"Selesai bicaranya? Bicara omong kosongnya?" tanya Rumi dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk.
"Heh, kamu berani?" suara Bu Siti naik satu oktaf membuat semua pelanggan melihat ke arah mereka.
"Pertama, saya bekerja di sini bukan karena kurang nafkah. Suami saya, Mas Fathur, memberikan lebih dari cukup. Saya bekerja karena saya punya martabat, saya ingin punya penghasilan sendiri tanpa harus mengemis atau mengharapkan belas kasihan orang lain. Berbeda dengan orang yang hanya bisa berdandan cantik tapi tangannya selalu menengadah minta bantuan, bukan?" Rumi melirik Dona yang wajahnya mulai memerah.
"Soal Mas Fathur bosan atau tidak, sepertinya Anda salah alamat. Kalau Anda merasa dia merindukan Anda, kenapa Anda malah berakhir di toko roti ini hanya untuk memaki saya? Kenapa tidak langsung temui dia? Ah, saya lupa... Anda bahkan tidak diizinkan lewat gerbang depan, kan?"
"Masa lalu yang memaksa masuk dengan segala cara untuk merebut suamiku yang baru saja naik jabatan. Lalu kemana kamu di saat dia susah? Bahkan kamu menghina karena pekerjaannya yang hanya karyawan biasa!"
"Kurang ajar!" Bu Siti menggebrak meja.
"Kamu itu cuma perempuan kampung yang beruntung!"
Rumi tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat merendahkan bagi mereka.
"Kalau keberuntungan saya adalah menjadi istri sah Fathur, maka kesialan Anda adalah terus-menerus mengejar milik orang lain yang sudah jelas-jelas membuang Anda. Dan Bu Siti, daripada mengurusi dapur saya, lebih baik urusi rumah Bu Sri yang berantakan itu. Kasihan, anak-anaknya semua laki-laki dewasa tapi tidak ada yang becus membersihkan rumah sampai Ibu Sri harus pura-pura sakit supaya diperhatikan." tidak dengan suara tinggi seperti mereka, namun mampu membuat mereka kalah telak.
Dona terperanjat. "Kamu..."
"Kamu... kamu pasti memata-matai kami!" tuduh Dona dengan suara yang mulai mencicit, kehilangan taringnya. Rumi hanya menaikkan satu alisnya.
"Memata-matai? Karena aku sudah sangat kenal sifat seluruh keluarga suamiku. Termsuk tujuan kamu mendekati suamiku! Termasuk pesan singkatmu semalam yang memohon-mohon pinjaman uang dengan alasan pengobatan ayahmu yang nyatanya sehat dan berada di mobil itu!" tunjuk Rumi ke arah mobil Dona yang terparkir di depan toko.
Beberapa pengunjung toko mulai tertawa terang-terangan. Seorang ibu di antrean depan bahkan berceletuk cukup keras,
"Duh, cantik-cantik kok tukang tipu."
Wajah Bu Siti berubah ungu menahan malu. Dia yang tadinya merasa di atas angin kini merasa seperti badut di tengah panggung.
"Ayo Dona, kita pulang! Tidak level bicara dengan pelayan toko seperti dia!" ujar Bu Siti berusaha menyelamatkan muka, sambil menarik paksa tas branded KW milik anaknya.
"Benar, silakan pulang," potong Rumi cepat sebelum mereka sempat melangkah.
"Tapi sebelum itu, tolong ganti rugi kerusakan ini."
Rumi menunjuk ke meja kasir yang tadi digebrak dengan keras oleh Bu Siti hingga sebuah vas bunga kecil di pojoknya jatuh dan retak. Dan juga beberapa roti yang terjatuh ke lantai karena ulah Dona.
"Lima puluh ribu rupiah untuk vasnya dan tolong bayar untuk roti-roti yang anda jatuhkan ke lantai. Kalau tidak, saya punya rekaman CCTV yang cukup jelas untuk melaporkan tindakan tidak menyenangkan dan pengrusakan ke kantor polisi. Kebetulan, anak Bu Vania memiliki kenalan polisi berpangkat yang sering berbelanja ke sini!"
Mendengar kata 'polisi', nyali Bu Siti menciut seketika. Dengan tangan gemetar, ia merogoh dompetnya, mengeluarkan selembar uang, dan melemparnya ke meja tanpa berani menatap mata Rumi.
"Ambil itu! Dasar perempuan ular!" maki Bu Siti pelan, namun langkah kakinya justru setengah berlari menuju pintu keluar tanpa mengambil roti yang jatuh.
Dona mencoba mengikuti ibunya dengan terburu-buru, namun karena terlalu panik dan malu, ia tersandung kaki meja hingga hampir tersungkur. Suara tawa pengunjung toko meledak seketika. Dona bangkit dengan wajah merah padam, menutupi wajahnya dengan tas, dan lari tunggang langgang keluar toko tanpa menoleh lagi.
Rumi menarik napas dalam-dalam, mengambil uang di meja, lalu merapikan letak vas yang retak itu dengan tenang.
"Maaf ya, semuanya. Sedikit hiburan gratis di sore hari," ucap Rumi santai kepada para pelanggan.
Rumi kembali bekerja, membuktikan bahwa martabat tidak dibangun dengan teriakan, melainkan dengan ketenangan yang mematikan. Karena orang-orang seperti mereka tak akan pernah ada kapoknya sebelum benar-benar mendapatkan keinginannya.
"Rum," panggil Asti pelan mengusap bahunya bersama dengan Mbak Yanti di sana. Rumi tersenyum dan mengusap tangan kedua temannya.
"Aku kuat. Aku harus kuat demi anakku! Aku tak mau saat dia lahir menjadi anak yang tersik-sa seperti ibunya dulu. Anakku harus bahagia nantinya! Aku tak akan membiarkan siapapun mencoba untuk melenyapkannya lagi. Atau pun mencoba menyakitinya suatu hari nanti. Walau dengan atau tanpa ayahnya nanti,"
"Apa kamu ragu kepada Fathur? Bukankah dia sudah berubah? Dia sudah memilih kamu, Rum,"
"Aku tidak tahu, Asti. Aku hanya pasrahnya semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Aku tak mau terlalu berharap dan berekspektasi tinggi. Aku takut kecewa kembali. Aku jalani semuanya seperti air yang mengalir. Aku tak mau sakit dan kecewa mendalam seperti sebelumnya," Rumi tersenyum. Dia benar-benar sudah berada di titik menjalani hidup sesuai alur yang di ciptakan Tuhan tanpa terlalu bergantung kepada sesamanya.
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/