Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 Semakin Nyaman
Acara Tabligh Akbar berakhir. Jamaah mulai membubarkan diri. Seluruh keluarga Mansur kembali ke lounge.
"Mbak, saya peluk ya? Saya bangga sama Mbak Dini." Santaka berbisik.
Sang Gus benar-benar menempelkan bibirnya di telinga Nandini yang tertutup hijab. Bulu kuduk Nandini meremang.
"Gus Taka, astagfirullahaladziiim, sampeyan benar-benar ya, setelah menikah baru ketauan ternyata seganas ini!" Sarah kembali menghujat pasangan baru itu.
Semua tergelak mendengar omelan Sarah. "Biarin saja, Ning Sarah. Namanya juga pengantin baru. Ini membuktikan teori, yang diem itu lebih menghanyutkan," seloroh Danendra.
Tawa kembali berderai. Santaka hanya tersenyum simpul. Nandini menunduk. Salah tingkah juga ditertawakan semua. Suaminya itu memang keterlaluan, tak lihat situasi. Modus tingkat tinggi.
Petinggi penyelenggara acara menghampiri Mansur sekeluarga. Ia mencium tangan Mansur dan menjabat takzim kepada para gus. Ia menganggukkan kepala kepada Lastri dan seluruh menantu.
"Yai, maasya Allah, acara hari ini luar biasa. Materi Yai dan Gus Yasa, seperti biasa. Selalu menyentuh tapi ringan. Mudah dicerna umat." Sang petinggi bicara sambil manggut-manggut. Mansur dan Abyasa tersenyum.
"Gus Nendra, jangan lupa minggu depan agenda kita." Sang petinggi menoleh ke arah Danendra, yang mengangguk kepada pria paruh baya itu.
"Gus Taka, maasya Allah ternyata punya istri dengan public speaking yang unik. Bisa jadi daya tarik bagi jamaah." Giliran Santaka yang diajak bicara si petinggi.
"Mungkin nanti kalau acara khusus akhwat, Mbak Dini bisa dikasih porsi lebih banyak. Saya yakin akan banyak peminatnya."
Abyasa tertawa kaku. "Pak Reza, adik ipar saya ini masih harus banyak belajar dulu. Sedang dibimbing istri saya. Beliau kebetulan kan backgroundnya bukan dakwah."
Sarah tersenyum lebar. Ia menatap tajam pada Nandini. Istri Santaka itu hanya bisa menghela napas. Tak mungkin meladeni Sarah di depan Mansur. Ia masih memiliki adab.
Ndak mau aku, Ning, jadi pendakwah. Tau diri aku juga. Ndak perlu merasa menang begitu. Aku memang bukan levelmu.
Santaka tersenyum simpul. "Istri saya masih senang belajar, Pak Reza. Mau fokus belajar dan mengembangkan diri dulu di Al Fatih."
Nandini menatap Santaka yang kembali membelanya. Ia menggigit bibir. Desir hatinya muncul kembali.
Mansur tersenyum. "Insyaa Allah, Pak Reza, doakan kami sekeluarga bisa bermanfaat bagi umat. Bagi masyarakat. Barokah, aamiin."
Sang petinggi alias Reza mengaminkan harapan Mansur. Setelah sedikit berbasa-basi, ia undur diri.
Beberapa panitia memohon izin untuk bisa berfoto bersama dengan keluarga Mansur. Tentu saja diizinkan.
Sesudah berfoto bersama sekeluarga, mereka menghampiri Santaka dan Nandini. "Gus Taka, Mbak Dini, berkenan ndak foto sama kami?" Perwakilan mereka meminta izin pada pengantin baru itu.
"Oh boleh, Mbak. Yuk, di samping saya ya." Nandini merangkul salah satu dari panitia. Para panitia pun berfoto bersama dengan pasangan viral teranyar di kota Solo.
Acara telah rampung. Santaka dan Nandini memisahkan diri. Mereka membawa mobil sendiri. Tidak bergabung dengan rombongan Mansur. Tak muat juga, tergabung dalam satu mobil.
Sarah menghadang langkah Nandini. "Mbak Dini, harus konsisten ke depannya. Kalau ada yang muji-muji lagi, bilang masih mau belajar. Jangan besar kepala!"
Sarah kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan Santaka dan Nandini yang melongo melihat kelakuan kakak ipar mereka.
*
*
Santaka membuka pintu kamarnya. Nandini yang sedang komat-kamit murojaah atau mengulang hafalan lama surat Al Qur'an, menoleh. Suaminya itu membawa semangkok mie goreng.
"Hadiah buat yang sukses di tabligh akbar. Saya buatin mie goreng. Makan dulu yuk." Santaka mengaduk mie kecoklatan itu. Ia menggulung makanan panjang itu di garpu.
"Aaa..." Santaka ikut membuka mulut ketika meminta Nandini menganga. Sang istri memutar bola matanya namun tetap membuka mulut. Tak konsisten antara netra dan bibir.
"Enak?" Santaka ikut menyuap dirinya sendiri dengan garpu yang sama.
"Enak... Banget..." Nandini manggut-manggut.
"Alhamdulillah... Nanti minta ongkos capeknya ya." Santaka mengerlingkan mata.
"Ih, ndak ada yang minta dibuatin ya! Kenapa harus ada bayarannya? Mau modus ya?" Nandini mendelik tapi kemudian kembali menganga. Kembali tak sinkron bersikap.
Santaka terkekeh. "Tadi sama Umi, mau dipeluk. Sama saya, kapan?" Nandini menghentikan kunyahannya. Mulutnya mencebik.
"Emang pengen banget dipeluk?" tanya Nandini setelah menelan mie di mulutnya. Ia menganga lagi.
"Iya. Kan sama istri sendiri." Santaka kembali menyuapi sang istri. Nandini menipiskan bibirnya. Dadanya berdegup kencang.
"Gus, Ning Sarah itu bener-bener ndak suka sama saya ya?" Nandini mengalihkan pembicaraan. Ia masih menimang-nimang permintaan suaminya.
Santaka terdiam. "Hhmm, karena awalnya ndak suka sama saya. Mbak Dini istri saya, jadi ikut-ikutan ndak dia suka."
"Kenapa dia ndak suka sama Gus? Karna... Gus ndak mau aktif di pondok?"
"Ya... Karna itu... Dia kecewa saya ndak mau bantu suaminya."
Nandini melipat bibirnya. Mie goreng buatan Santaka sudah habis. Sang suami menyimpan mangkok kosong di nakas. Ia kemudian mengangsurkan gelas berisi air putih pada istrinya.
Nandini meneguk air itu dan meletakkan kembali gelas di nakas. "Hhmm, Gus... Saya boleh nanya?" Santaka mengangguk atas pertanyaan sang istri.
"Kenapa... Gus ndak mau... aktif di pondok?" Nandini bertanya dengan hati-hati.
Santaka termangu. Matanya nampak melirik ke kiri. Wajahnya nampak sendu. Nandini bingung. Ada apa sehingga wajah teduh itu begitu sedih? Seperti ada luka tersimpan.
"Karna... Saya mau fokus besarin usaha saya. Banyak yang bergantung sama usaha saya. Karyawan, supplier. Kalau saya ninggalin mereka begitu saja, zolim saya." Santaka menatap lantai kamar.
Nandini tersenyum dan mengelus lengan suaminya. Santaka raih tangan itu. Nandini membiarkannya.
Sudah menjadi adegan biasa dengan sang suami. Lagipula Santaka terlihat sedih saat ini. Nandini tak setega itu, menolak tak jelas.
Bagaimanapun Santaka memang suami Nandini yang berhak atas dirinya. Bahkan lebih dari sekadar pegang tangan, namun Nandini belum bisa memberikannya. Ia sadar diri, jadi biarlah tangannya digenggam oleh sang suami.
Nandini kini menganggap dirinya sedang pacaran setelah menikah. Pacaran halal. Aktivitas fisiknya bertahap.
Santaka genggam tangan halus Nandini. Matanya menerawang. Nandini jadi penasaran alasan suaminya semelankolis ini.
"Gus... SS kan baru setahun, kalau dulu alasannya apa ndak mau aktif di pondok?" Nandini memiringkan kepalanya.
Santaka kembali tercenung. Ia tersenyum sendu. "Saya merasa bisa dakwah di mana saja. Ndak perlu di pangggung atau di pondok."
Nandini menatap mata suaminya. Seperti ada kabut yang menyelimuti. Ada yang disembunyikan oleh Santaka.
"Bahagia saya di dapur. Boleh kan saya, beda?" Mata Santaka kian sendu. Nandini mengangguk.
"Gus, mau saya peluk?" Nandini tak tega melihat Santaka sesedih ini. Padahal selama sebulan bersama, Santaka yang selalu menghibur dan menyemangati Nandini. Menenangkan sang istri.
Nandini merasa sekarang gilirannya untuk menenangkan sang suami. Bukankah menjadi suami istri itu harus bersikap saling, membalas kebaikan pasangan?
Santaka mengangguk. Ia peluk Nandini, erat. Matanya terpejam. Mencoba mengusir luka itu.
Santaka lebih banyak diam hingga waktu tidur. Sudah tak ada guling di antara mereka namun Nandini masih tidur membelakangi suaminya. Masih belum siap melayani Santaka.
Mata Nandini mendadak membeliak. Tangan Santaka tiba-tiba melingkar di lehernya. Memeluknya dari belakang.
"Mbak, izinin saya peluk malam ini. Saya ndak minta lebih. Saya... butuh pelukan Mbak sekarang. Malam ini. Seperti ini cukup."
Nandini mengangguk perlahan. Suara Santaka terdengar sedih. Ia menarik tubuh Nandini, mengeratkan pelukan itu.
Tangan Santaka melingkar di perut Nandini. Pipinya menempel di rambut Nandini. Sang istri mengelus lembut tangan kokoh sang suami.
Akhirnya suara nafas lembut terdengar dari keduanya. Mereka tertidur dalam kenyamanan yang baru mereka kenali.
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj