NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Hampir ketahuan

Pagi-pagi sekali Hanum telah terbangun, kira-kira pukul tiga. Setelah melaksanakan salat tahajud, dia membersihkan kamarnya sambil menunggu waktu subuh tiba. Kemudian, dia keluar dan menanti Bunda yang tengah bersiap untuk pergi ke pasar.

Kemarin, Bunda mengajak nya untuk pergi ke pasar. Bersama dengan Bi Inah, mereka bertiga pergi dengan angkot.

Sementara itu, Devan yang baru saja bangun tidak menemukan orang rumah. Dia memanggil Bunda dan Bi Inah, sesekali juga Hanum tetapi tidak ada sahutan. Hingga akhirnya dia meraih ponselnya dan mengecek pesan yang masuk.

"Bunda lagi ke pasar sama Hanum dan Bi Inah. Sarapan udah ada di meja ya."

Itu pesan dari Bunda yang dikirim tadi subuh.

Devan berjalan menuju dapur dan duduk di meja makan, membuka tudung saji. Sepiring nasi goreng dan roti bakar dengan selai cokelat tersaji di atas meja. Dia pun menyantap sarapannya sebelum akhirnya pergi bersiap untuk berangkat ke kantor.

Hanum? Hari ini dia gak kerja? Devan segera mengetikkan pesan di ponselnya.

"Kamu hari ini ke butik?" dia pun mengirim pesan itu.

Beberapa menit kemudian, terdengar balasan lewat notifikasi ponselnya. Sementara Devan yang baru saja selesai mandi itu meraih ponselnya sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer.

"Iya, aku sama Bunda lagi di jalan. Kalau kamu mau berangkat, duluan aja."

Devan meletakkan hair dryer itu dan membalas pesan Hanum.

"Kita berangkat bareng aja. Aku masih ada waktu."

Hanum yang sekarang berada di dalam angkot bersama dengan Bunda dan Bi Inah yang sibuk berceloteh sambil menenteng barang belanjaan itu pun membalas pesan Devan.

"Oke."

"Devan chat kamu ya?" celetuk Bunda tiba-tiba.

"Iya, Bun. Dia nanya berangkat bareng," ujar Hanum. Lalu dia memeriksa sayur yang ada dalam tas jinjing nya itu.

"Lain kali kalau dia ngajak lagi, kamu sesekali tolak aja deh," kata Bunda lagi. "Biar dia was-was sendiri," Bunda dan Bi Inah terlihat cekikikan.

Hanum tersenyum saja mendengarnya. Dia memang tak punya pilihan lain untuk menolak tawaran dari Devan. Meskipun berkali-kali dia menolak, tetap saja ada celah bagi pria itu untuk tetap membantunya.

"Hanum, jujur saja Bunda maunya kamu sama Devan itu saling akrab," ucap Bunda tiba-tiba.

Hanum memperbaiki posisi duduknya. Untungnya dalam angkot itu hanya ada mereka bertiga. Jadi, dia bisa agak leluasa untuk duduk lapang.

"Kamu mau kan?" tanya Bunda.

"Hm.., mau kok Bun. Aku sama Devan kan udah temenan dari dulu," jawab Hanum sopan. Dia berpikir agak lama sebab baru kali ini Bunda menanyainya seperti itu. Hanum meraih botol minumnya dan mulai meneguknya.

"Kalau kamu nikah sama Devan, mau?"

"Uhuk! Uhuk!" Sontak saja Hanum terbatuk-batuk saat mendengar kalimat yang terlontar dari Bunda barusan. Tanpa disadarinya, ternyata pembicaraan ini mengacu pada pernikahan.

"Maksud Bunda apa?" tanya nya tanpa mengurangi kesopanan nya.

"Bunda sebenernya mau kamu sama Devan menikah. Cuman Bunda gak tau gimana perasaan kamu ke Devan, begitu juga perasaan Devan ke kamu. Ya, barangkali itu cuma angan-angan Bunda saja. Tidak usah terlalu dipikirkan." Bunda kembali terdiam. Sedangkan Hanum hanya termenung sesaat. Memikirkan apa yang diucapkan oleh Bunda tadi.

"Hanum juga belum tahu, Bun. Rasanya menikah sekali lagi itu benar-benar berat..," ucap Hanum kemudian. Dia menatap lurus ke depan, melirik Mang sopir yang dari tadi tangannya gesit menekan tombol-tombol yang ada di dekat tempat duduknya. Tampaknya dia hendak memutar musik, tetapi ada masalah.

"Hanum juga sejujurnya gak bisa, Bun. Apalagi untuk Devan pribadi, dia belum pernah menikah dan tidak seharusnya dia menikahi Hanum yang sekarang hidup sebagai janda. Dia harus mendapatkan yang lebih baik lagi daripada Hanum," kata Hanum menjelaskan isi hatinya.

"Tapi Hanum mengganggap Devan sebagai teman saja, Bun," sambungnya lagi.

"Bunda mengerti kok, Nak. Itu hak kamu dan Bunda cuma bisa memberikan nasihat saja. Hanya saja tidak ada salahnya kamu mencoba untuk membuka pintu hati kamu kepada pria lain. Sebab kamu juga masih perempuan yang perawan, bukan?" ucap Bundanya lagi.

Hanum mengangguk pelan.

"Sekali lagi Bunda tidak mau membebani kamu, Nak. Kamu bisa pikirkan itu untuk tiga bulan ke depan."

"Baik, Bun.. Terimakasih banyak..," kata Hanum dengan lemah lembut. Ingin sekali dia mengutarakan isi pikiran nya yang kini telah tercampur aduk. Memikirkan bagaimana caranya dia membuka hatinya, apa yang harus dia lakukan nanti jika dia tidak lagi ada di rumah keluarga mereka. Tetapi sebelum dia berbicara, tiba-tiba Mang Sopir yang membawa angkot berseru senang.

"Akhirnya, elok juga," ucapnya.

Lagu Sambalado yang dinyanyikan oleh Ayu Ting Ting itu pun mengalun, membuat Bi Inah tertawa.

"Teross, Mang!" serunya, kebetulan Bi Inah duduk di belakang kursi Mang Sopir. Mereka sama-sama tertawa.

Setelah mereka tiba di rumah, Hanum membantu Bunda membawakan barang belanjaan. Di depannya Devan berdiri dan langsung membawakan barang belanjaan yang dibawa oleh Hanum, Bunda, dan Bi Inah.

"Emang ya, kalau urusan angkat beban Mas Devan juaranya," ucap Bi Inah tertawa.

"Lain kali kamu ikut kuli bangunan, Nak. Biar badan mu makin kekar," kata Bunda menambahkan.

"Tanpa kuli pun badan Abang udah kekar, Bun. Nih tengok!" Devan menunjukkan roti-roti yang menggembung di perutnya. Perempuan mana yang tak akan terpikat oleh Devan jika dia melihat harta berharga tersebut. Satu hal yang tidak dia sadari, Hanum juga ikut melihatnya dan kini tengah menatap pria itu.

"Aduh, Mas! Cukup, cukup! Jangan dipamerin," kata Bi Inah tertawa. Begitu juga dengan Bunda yang mencubit pipi putra nya.

"Aduh, Bun! Ampuun!" seru Devan berlari dari cubitan selanjutnya. Hingga dia menatap Hanum yang kini tersenyum lebar.

Langsung saja dia berubah ke setelah awalnya.

"Ehem, cepet aku tunggu," katanya lalu pergi ke luar untuk memeriksa mobilnya di garasi. Sesekali menceracau akan dirinya tadi.

Hanum melihat wajah pria itu kini memerah. Asumsinya pasti karena tersipu malu. Dia pun izin pada Bunda dan segera masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap.

"Kabari aku kalau kamu udah pulang," ucap Devan sebelum Hanum turun dari mobil.

"Iya..," Hanum melihat sebuah pesan dari ponsel Devan.

Baron:

Bro, gw bawa bekal nih dari bini gw

Masak iya lo g ada

awokawokawok

Devan yang menyadarinya pun langsung meraih ponselnya. Dalam hatinya dia ingin sekali melempar temannya itu ke Samudra Hindia.

"Temen-temen kamu suka bawa bekal?" tanya Hanum.

"... Ya itu. Mereka suka bawa." Devan menjawab dengan cepat.

"Jadi, kamu suka makan di luar?" tanya Hanum lagi.

"Ya.., sesekali. Kadang nggak."

Hanum berpikir sejenak. "Kenapa kamu gak mau bawa bekal dari rumah?"

"Aku.., gak kepikiran aja." Kali ini Devan benar-benar kehabisan ide untuk menjawab pertanyaan perempuan di sebelahnya.

"Kalau Bunda tahu, pasti dia bakalan ngomel. Gimana kalau aku aja yang buatin bekal? Mau?" entah kenapa Hanum melontarkan ucapannya begitu saja.

"Serius?" Devan agak tersentak mendengarnya.

"Ya. Mulai besok. Dah, aku duluan ya," mobil berhenti di depan Butik, Hanum melambaikan tangan dan menatap Devan hingga benar-benar pergi.

Sejenak, dia menepuk pipinya sendiri. "Astaghfirullah! Kok bisa-bisanya aku ngomong kayak gitu????"

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!