Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Kelompok Aris yang masih bernyawa
Garis polisi kuning masih berkibar tertiup angin kencang di area proyek yang kini menyerupai zona perang. Papan peringatan bertuliskan "BAHAYA: TANAH LABIL" tertancap miring di antara tumpukan beton yang hancur. Di tengah keheningan, hanya suara alat berat di kejauhan dan langkah sepatu bot para relawan pencari yang terdengar.
Seorang relawan terhenti langkahnya saat melewati tumpukan reruntuhan dan pipa baja yang saling tumpang tindih di area lubang besar yang sedikit dalam. Awalnya ia mengira itu hanya pergeseran tanah biasa, namun tiba-tiba tumpukan reruntuhan di depannya bergerak. Sebuah tangan yang kotor penuh debu menyembul dari celah kecil, bergerak lemah seolah memanggil.
"Tolong... di sini..." suara itu terdengar parau dan sangat lirih.
Relawan itu tersentak. "Ada yang selamat! Di sini! Cepat bantu saya!" teriaknya sekuat tenaga ke arah rekan-rekannya yang berada di sebelahnya.
Dalam hitungan detik, beberapa petugas dan relawan lain berlari mendekat. Mereka mulai mengangkat material reruntuhan dengan sangat hati-hati, menggunakan tangan kosong dan linggis kecil agar tidak memicu longsoran susulan. Setelah gumpalan tanah dan potongan semen berhasil disingkirkan, sesosok pria dengan baju safety oranye yang sudah compang-camping perlahan ditarik keluar.
Ternyata itu adalah Jaka. Wajahnya tertutup debu tebal, matanya merah, dan ia terus terbatuk-batuk menghirup udara segar yang sudah berhari-hari tidak ia rasakan.
Seorang petugas medis segera berlutut di sampingnya. "Tenang, Pak. Anda sudah aman. Apakah masih ada orang lain di bawah sana?"
Jaka menarik napas dalam-patah, mencoba menjernihkan tenggorokannya yang kering. "Masih... masih ada sekitar lima orang lagi. Di bawah sana... kawan saya ada yang terluka," jawabnya sambil menunjuk ke lubang sempit tempat ia baru saja keluar.
Mendengar hal itu, tim penyelamat bekerja dua kali lebih cepat. Tak lama kemudian, tubuh Maman berhasil dievakuasi. Kondisinya paling mengkhawatirkan; ia masih tidak sadarkan diri akibat hantaman pipa besi sebelumnya, namun petugas medis memastikan denyut nadinya masih berdenyut meski lemah. Setelah Maman, giliran Agus dan Ridwan yang ditarik keluar. Tubuh mereka dipenuhi luka sayatan dan memar di bagian kepala, namun mereka masih dalam kondisi sadar meskipun hanya bisa mengerang menahan sakit.
"Segera bawa ke tenda darurat! Siapkan ambulans!" perintah komandan lapangan.
Di tengah evakuasi tersebut, Jaka terus mencari-cari ke sekeliling dengan pandangan kabur. "ada dua lagi... di mana mereka?" gumamnya lemah sebelum petugas mengangkat tandunya menuju mobil ambulans.
Kabar mengenai ditemukannya anggota kelompok Aris segera sampai ke telinga petugas pusat. Salah satu petugas lapangan langsung merogoh radio komunikasinya. "Lapor, kelompok yang dipimpin Aris Ardiansyah telah ditemukan di sektor utara. Empat orang selamat, kondisi kritis hingga luka berat. Siapkan tim medis disana dan segera hubungi Detektif Rasyid."
...----------------...
Di sisi lain kota, Rasyid yang sedang mempelajari catatan denah Liora di dalam mobilnya, tersentak saat ponselnya berbunyi. Sebuah pesan teks muncul, "kelompok Aris ditemukan.".
Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia segera memutar kunci kontak dan menginjak gas dalam-dalam menuju lokasi proyek.
"Tetap di sana, tunggu saya!" tegas Rasyid membalas pesan teks sambil mengendarai mobilnya. Harapannya melambung; jika Jaka selamat, maka peluang Aris dan Liora untuk hidup masih ada, meskipun misteri tentang di mana mereka sekarang justru semakin menebal.
...----------------...
Rasyid memarkirkan mobilnya dengan kasar di dekat garis polisi. Debu beterbangan saat ia melompat turun dan langsung menuju ke arah tenda medis darurat. Langkahnya terhenti saat melihat tiga ambulans sudah melaju pergi dengan sirine meraung, menyisakan satu orang yang masih terduduk lemas di bangku lipat dengan masker oksigen menggantung di lehernya.
"Hanya dia yang kondisinya cukup stabil untuk bicara, Pak," lapor seorang petugas proyek sambil menunjuk ke arah pria berlumuran tanah itu. "Yang lain sudah dilarikan ke rumah sakit karena luka kepala dan patah tulang."
Rasyid mengangguk singkat dan berjongkok di depan Jaka. Ia tidak ingin membuang waktu. "Pak, nama anda siapa?, saya Detektif Rasyid. Apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana sebelum tanah itu ambruk?"
Jaka terbatuk, suaranya parau tertutup debu yang masih menyumbat tenggorokannya. "Saya Jaka, semuanya terjadi begitu cepat, Pak. Awalnya kami cuma mengecek pondasi dan pipa seperti biasa. Tapi tiba-tiba ada pipa yang bergetar sangat kuat. Belum pernah saya dengar suara pipa seperti itu, seperti ada tekanan di dalamnya."
"Di mana lokasi tepatnya?" tanya Rasyid sambil menyodorkan selembar denah, meski ia tahu Jaka mungkin sulit membacanya.
"Kami di sektor pipa lama, yang sudah tidak aktif," jawab Jaka lemah. "Aris sempat berteriak lewat radio agar kami menjauh dari pipa itu karena guncangannya semakin gila. Tapi pipa itu lepas... menghantam Maman sampai dia terkapar. Belum sempat kami menyeretnya jauh, suara retakan besar terdengar dari atas... lalu semuanya gelap."
Rasyid mencatat setiap kata dengan saksama. "Apa ada instruksi atau perilaku aneh dari Aris atau Liora sebelum itu? Sesuatu yang tidak biasa?"
Jaka menggeleng perlahan, matanya menerawang mencoba mengingat-ingat. "Tidak ada yang aneh soal pekerjaan, Pak. Mereka berdua baik Pak. Aris bahkan sangat peduli soal keselamatan kami. Tapi..." Jaka terdiam sejenak.
"Tapi apa?" Rasyid mendesak.
"Ada satu hal. Sore hari setelah kami selesai, saat jam tugas hampir habis, Aris menyuruh kami berempat kembali ke permukaan lebih dulu. Dia bilang dia dan Liora mau mengecek satu titik lagi di dalam, takut ada baut atau pondasi yang belum di periksa. Itu saja yang saya tahu. Mereka masih di dalam saat kami sudah mulai berkemas."
"Tapi kamu tahu kapan mereka keluar?" tanya Rasyid lagi.
"Tidak Pak. Kami langsung menuju pos untuk melapor. Tapi saya yakin mereka tidak lama disana, karena kalau mereka terlalu lama pasti petugas jaga disini akan langsung mencari." lanjut Jaka.
Rasyid berdiri perlahan, pandangannya tertuju pada lubang amblasan yang masih mengepulkan debu. Informasi dari Jaka justru menambah lapisan misteri baru. Jika Aris dan Liora sengaja tetap tinggal di bawah tanah setelah jam kerja berakhir, mungkin ada sesuatu yang mereka ingin cari atau mungkin kejadian ini rencana mereka. Tapi rencana apa?
Rasyid teringat kliping-kliping di rumah Liora. Seorang yang mengerti tata kota dan seorang montir nekat tetap di dalam lorong yang tidak tercatat di peta... Rasyid mulai mencurigai dampak dari sesuatu yang mereka temukan di dalam sana.
"Mereka tidak tertimbun," gumam Rasyid pelan pada dirinya sendiri. "Mereka mungkin selamat."
...----------------...
Rasyid baru saja duduk di dalam mobilnya, ketika ponselnya bergetar. Itu adalah telepon dari informan rahasianya.
"Pak, saya punya info baru. Aris dan Liora ternyata sempat mendatangi rumah sakit pusat sebelum proyek dimulai. Mereka menemui dokter forensik bernama Ferdi, orang yang menangani jenazah Pak Jaya," suara di seberang telepon terdengar terburu-buru.
Mendengar itu, Rasyid langsung menyalakan mesin mobilnya lalu menginjak gas. Ia memacu mobilnya menuju rumah sakit. Setibanya di sana, di dekat lobi ruang forensik, ia berpapasan dengan seorang pria berkacamata yang tampak rapi dan sedang menjinjing tas kerja.
"Permisi, apakah Anda tahu di mana saya bisa bertemu dokter forensik bernama Ferdi?" tanya Rasyid.
Pria itu berhenti dan menoleh. "Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Rasyid menunjukkan lencananya. "Detektif Rasyid. Saya butuh waktu sebentar untuk berbincang soal mendiang Pak Jaya."
Dokter Ferdi tampak sedikit terkejut, namun ia mengangguk dan mempersilakan Rasyid masuk ke ruangannya yang dingin dan berbau antiseptik.
"Pak Jaya... ya, kasus yang aneh," ujar Ferdi sambil duduk di balik mejanya. Ia menjelaskan secara medis bahwa Pak Jaya meninggal karena kegagalan organ yang sangat cepat, mirip dengan kondisi dehidrasi ekstrem namun dalam skala yang tidak masuk akal.
"Apakah ada kerabat atau siapa pun yang mengunjungi jenazahnya selama di sini?" tanya Rasyid tajam.
"Hanya dua orang. Namanya Aris dan Liora. Mereka tampak sangat peduli," jawab Ferdi dengan tegas.
Rasyid memiringkan kepalanya. "Apa yang mereka lakukan di sini? Hanya melihat jenazah?"
Ferdi terdiam sejenak sebelum menjawab. "Mereka datang dua kali. Terakhir, mereka memberikan saya sebuah sampel... semacam kerak atau residu yang mereka temukan. Mereka minta saya memeriksanya."
"Lalu, apa hasilnya?" tanya Rasyid.
"Tidak ada yang aneh. Hanya mineral biasa dan sisa pembersihan yang mengeras," jawab Ferdi cepat. Namun, Rasyid menangkap kegelisahan di mata dokter itu. Ferdi terus melirik jam tangannya, tangannya sedikit gemetar saat merapikan berkas di meja.
"Maaf sekali, Pak, tapi saya benar-benar harus pergi sekarang," Ferdi berdiri dengan terburu-buru. "Hari ini ulang tahun anak saya, istri saya sudah menunggu untuk perayaan kecil di rumah. Saya tidak bisa terlambat."
Rasyid menatap Ferdi lurus-lurus, mencoba mencari celah di balik sikap defensif itu. Ia merasa Ferdi menyembunyikan hasil pemeriksaan sampel yang sebenarnya. Namun, karena tidak punya cukup alasan untuk menahannya, Rasyid mengangguk. "Silakan, Dok. Selamat ulang tahun untuk anak Anda."
Setelah Ferdi pergi, Rasyid tidak lantas pulang. Ia melangkah menuju ruang penjaga kamar mayat, tempat di mana jenazah biasanya disimpan sebelum diambil. Di sana, ia menemui seorang penjaga tua yang sedang menyeruput kopi.
"Pak, maaf ganggu, saya Rasyid. Bapak ingat jenazah yang bernama Pak Jaya? Pemilik toko besi yang meninggal beberapa minggu lalu?"
Penjaga itu mengangguk. "Aduh siapa yang bisa lupa Pak, Kondisinya aneh, badannya kering sekali seperti sudah berbulan-bulan meninggal, padahal baru satu malam loh."
"Siapa yang membawa jenazahnya pergi?"
"Bapak siapa? Kok banyak nanya?" ujar penjaga itu keheranan.
Lantas Rasyid pun mengeluarkan lencana nya, "saya detektif kepolisian Pak..." tegas Rasyid.
Melihat lencana di depan mata, penjaga itu cengengesan. "ehe... Maaf Pak saya tidak tahu," sambil mengusap-usap kedua tangannya.
Penjaga itu mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Begini, Pak... tiga hari setelah dia masuk ke sini, ada sekelompok orang datang. Mereka mengaku kerabat jauh. Tapi gerak-gerik mereka tidak seperti orang berduka. Mereka datang dengan mobil ambulans sendiri, memakai masker, dan sangat buru-buru. Mereka langsung mengurus administrasi dan membawa jenazahnya pergi. Saya bahkan tidak sempat melihat wajah mereka dengan jelas."
Rasyid terdiam di lorong rumah sakit yang sepi itu. Pikirannya kalut. Jika bukan keluarga asli yang membawa Pak Jaya, berarti ada kemungkinan Aris dan Liora sedang berhadapan dengan organisasi yang bisa masuk ke mana saja termasuk rumah sakit pemerintah.
Sekali lagi, Rasyid menemui jalan buntu. Tidak ada catatan pemakaman, tidak ada jenazah, dan tidak ada saksi. Satu-satunya harapan yang tersisa hanyalah catatan-catatan misterius di rumah Liora yang kini terasa seperti sebuah teka-teki.
...****************...