Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan Sebelum Badai
Pukul 05.00 pagi. Sektor Tujuh biasanya sudah mulai berisik dengan suara mesin pembersih otomatis dan pengantar paket logistik yang melintas di jalur magnetik. Namun, pagi ini berbeda. Kota itu terjebak dalam keheningan yang menyesakkan, seolah-olah seluruh oksigen di atmosfer telah ditarik paksa oleh gravitasi yang tak terlihat.
Arthur berdiri di balkon apartemennya, menatap ke arah timur. Matahari belum terbit, namun cakrawala sudah mulai menampakkan warna ungu kemerahan yang tidak wajar. Ia bisa merasakan getaran di bawah telapak kaki telanjangnya, getaran frekuensi rendah yang membuat kaca jendela apartemen bergetar halus tanpa henti.
Di tangannya, Heart of Gaia sudah tidak lagi berwarna hijau. Kristal itu kini bersinar putih terang, hampir transparan, memancarkan suhu panas yang stabil. Benda itu sedang bekerja keras, menahan tekanan dari dasar Samudra Pasifik agar daratan Sektor Tujuh tidak retak lebih awal.
"Arthur? Kau sudah bangun?" suara Clara terdengar serak dari arah ruang tengah.
Arthur segera memasukkan kristal itu ke dalam tas sekolahnya dan menutupnya rapat-rapat. Ia berbalik, memasang wajah mengantuk yang paling meyakinkan. "Aku haus, Kak. Udara pagi ini terasa sangat kering."
Clara berjalan mendekat, mengusap matanya yang masih sembab. Ia membuka keran wastafel, namun yang keluar hanyalah suara desis udara dan beberapa tetes air keruh. "Aneh sekali. Tekanan air di gedung ini mendadak hilang. Mungkin ada perbaikan pipa di pusat sektor."
Arthur tahu itu bukan perbaikan pipa. Cairan di seluruh sektor sedang ditarik oleh anomali magnetik dari Jembatan yang mulai terbuka. Ia menatap Clara dengan serius, sebuah tatapan yang membuat Clara mendadak merasa merinding tanpa alasan yang jelas.
"Kak, hari ini jangan pergi ke kampus," ujar Arthur pelan. "Tetaplah di dalam apartemen. Jika kau merasa pusing atau mual, masuklah ke dalam kamar mandiku dan duduk di sana. Aku sudah menaruh 'batu keberuntungan' di bawah bak mandi."
Clara tertawa kecil, meskipun hatinya merasa gelisah. "Batu keberuntungan? Kau ini ada-ada saja. Tapi ya, kepalaku memang agak berat sejak tadi malam. Mungkin aku akan izin absen hari ini dan bersih-bersih rumah saja."
Arthur mengangguk lega. Batu keberuntungan yang ia maksud sebenarnya adalah serpihan kecil dari Heart of Gaia yang sengaja ia patahkan semalam untuk melindungi Clara. Selama Clara berada di dalam radius apartemen ini, dia akan aman dari radiasi dimensi yang akan segera menyapu bumi.
Setelah sarapan sederhana dengan roti kering tanpa air, Arthur berangkat ke sekolah. Ia sengaja berjalan kaki, membiarkan indranya merasakan setiap perubahan di lingkungan sekitarnya.
Hewan-hewan di sepanjang jalan tampak gelisah. Kucing-kucing liar berkumpul di tempat-tempat tinggi, menatap ke arah laut dengan bulu yang berdiri. Anjing-anjing penjaga di depan pertokoan melolong panjang, suara mereka terdengar menyayat hati di tengah kota yang sunyi.
Sementara itu, dua ribu kilometer dari sana, di tengah Samudra Pasifik, suasana adalah neraka yang nyata. Armada Kedelapan milik GDC dikelilingi oleh air laut yang mendidih. Uap putih membubung tinggi, menutupi pandangan mata sejauh mata memandang.
Kapal induk The Absolute bergoyang hebat di atas ombak yang tingginya mencapai dua puluh meter. Di dalam ruang kendali, Valerius berdiri dengan tangan memegang erat pinggiran meja taktis. Di sampingnya, layar monitor menampilkan grafik energi yang sudah menembus batas maksimal.
"Komandan! Suhu air di bawah kapal mencapai 100 derajat Celcius!" teriak seorang operator radar. "Sensor tekanan menunjukkan ada objek masif yang sedang keluar dari palung! Massanya... massanya tidak bisa diukur!"
Valerius menelan ludah. Ia melihat ke arah koordinat yang dikirim Arthur tempo hari. Tepat di sana, sebuah pusaran air raksasa berdiameter sepuluh kilometer terbentuk. Dari tengah pusaran itu, sebuah cahaya ungu terang melesat ke langit, menembus awan dan menciptakan lubang di lapisan ozon.
"Siapkan meriam fusi!" perintah Valerius, suaranya gemetar. "Ingat, jangan menembak sebelum aku memberikan perintah! Kita hanya di sini untuk mengalihkan perhatian!"
Ia teringat kata-kata Arthur: Jangan mencoba bertempur melawan apa yang keluar dari sana. Valerius tahu, dengan seluruh armada ini pun, mereka tidak akan sanggup menggores apa pun yang sedang merayap naik dari dasar samudra.
Kembali ke sekolah, Arthur duduk di kelasnya. Suasana kelas sangat tegang. Bu Hera mencoba memberikan pelajaran sejarah, namun suaranya sering terputus karena ia harus berkali kali meminum air. Semua murid tampak lesu, beberapa bahkan sudah menyandarkan kepala di atas meja karena pusing hebat akibat penurunan tekanan udara.
Mia, yang biasanya paling berisik, kini hanya diam memegangi kepalanya. "Arthur... rasanya kepalaku mau pecah. Seperti ada yang menekan telingaku dari dalam."
Arthur meletakkan tangannya di atas pundak Mia sebentar. Ia menyalurkan sedikit energi penenang untuk menstabilkan tekanan darah gadis itu. "Tarik napas panjang, Mia. Ini hanya karena cuaca buruk. Sebentar lagi akan lewat."
Mia menarik napas panjang dan merasa sedikit lebih baik. "Terima kasih, Arthur. Kau selalu tenang dalam situasi apa pun."
Arthur menatap jam dinding. Pukul 09.15.
Tepat saat itu, cahaya di dalam kelas mendadak berubah menjadi ungu redup. Bayangan benda-benda di lantai sekolah mulai bergerak ke arah yang salah, melawan arah cahaya matahari. Sebuah dengungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga terdengar di seluruh penjuru kota, membuat kaca-kaca jendela di Sektor Tujuh pecah secara serentak.
KRAK!
Langit di atas Sektor Tujuh seolah-olah retak. Sebuah garis hitam panjang muncul di cakrawala, memanjang dari utara ke selatan. Bukan awan, melainkan sebuah robekan pada kain realitas.
Anak-anak di kelas mulai berteriak panik. Bu Hera mencoba menenangkan mereka, namun ia sendiri jatuh terduduk karena gempa bumi mendadak yang mengguncang pondasi sekolah.
Arthur berdiri dari kursinya. Ia mengambil tas sekolahnya dan memakainya dengan perlahan. Wajahnya yang polos kini tidak lagi tampak seperti anak kecil; ada aura keagungan yang mulai terpancar dari tubuh mungilnya.
"Mia, tetaplah di bawah meja. Jangan keluar sampai paman berbaju emas itu datang menjemput kalian," ujar Arthur dengan nada yang sangat berwibawa.
"Arthur? Kau mau ke mana?" tanya Mia dengan suara gemetar di tengah reruntuhan langit-langit sekolah yang mulai berjatuhan.
Arthur tidak menjawab. Ia berjalan menuju pintu kelas yang sudah terlepas dari engselnya. Di koridor, ia melihat Silas sedang berlari ke arahnya, wajahnya penuh luka lecet akibat pecahan kaca.
"Arthur! Mereka sudah di sini! Jembatan itu terbuka sepenuhnya!" teriak Silas, terengah engah. "Armada Pasifik sedang dalam bahaya! Valerius tidak bisa menahan mereka!"
Arthur menatap Silas dengan tenang. "Aku tahu. Pergilah ke ruang kendali sekolah. Aktifkan protokol evakuasi bunker bawah tanah. Gunakan namaku untuk mengakses sistem cadangan GDC. Aku akan pergi ke pusat retakan."
"Tapi bagaimana kau bisa sampai ke Pasifik dalam waktu singkat?" tanya Silas bingung.
Arthur tersenyum tipis. "Pasifik? Aku tidak perlu ke sana. Mereka sudah membawa targetnya kepadaku."
Arthur menunjuk ke arah langit di atas gedung sekolah. Dari robekan hitam tadi, muncul sebuah kapal perang berbentuk cakram raksasa yang panjangnya mencapai tiga kilometer. Kapal itu melayang tepat di atas Sektor Tujuh, menutupi seluruh cahaya matahari.
Itu adalah The Arbiter, kapal induk utama para Architects. Mereka tidak lagi bersembunyi di laut. Mereka telah memindahkan seluruh armadanya langsung ke jantung pemukiman manusia, tepat di mana anomali terbesar yaitu Arthur terdeteksi.
"Mereka ingin menjemput ku dengan meriah," gumam Arthur. "Baiklah. Mari kita lihat seberapa kuat logam dimensi mereka menghadapi satu jentikan jari Sang Sovereign."
Arthur melompat ke arah balkon koridor, lalu melesat naik menuju langit, menembus awan debu dan reruntuhan, menuju kapal raksasa yang siap menghapus peradaban manusia dari peta galaksi.