INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Gudang tua itu berdiri sunyi di pinggir pelabuhan, cat dindingnya mengelupas.
Aroma besi dan debu bercampur dengan aroma air laut yang asin.
Lampu-lampu mercusuar tempat dimana Aditya melakukan penyeludupan.
Di dalam gudang.
Lampu-lampu gantung berayun pelan tertiup angin malam yang menyelinap di celah atap seng.
Hari ini, Nayla Malika sudah melepaskan perban lamanya.
Luka di tangan kiri sudah mengering dan jahitannya sudah di lepas, begitu juga di betis kanannya.
Meski di betis kanannya masih meninggalkan garis kemerahan.
Malam ini Nayla Malika mengenakan atasan lengan pendek warna hitam dan celana warna hitam senada, rambutnya terurai wajahnya tanpa ekspresi.
Sepatu boots di kakinya berwarna senada.
Di sampingnya gadis berdiri mengenakan atasan tanpa lengan warna Navy, dan bawahan celana hitam.
Tak lupa di kanan dan kiri lengannya penuh dengan tatoo, "lu masuk dan silahkan balas dendam."
Di dalam gudang.
Nayla melihat ada tujuh wanita di sandera, duduk di kursi kayu dengan tangan terikat.
Wajah-wajah para wanita yang pernah menghuni masa kecil Nayla, mereka adalah orang yang sudah menghina bahkan mencemoohnya.
Para wanita itu terduduk di kursi kayu dengan tangan terikat, salah satu wanita yang seusianya.
"Kamu siapa? dan apa salah kami?" tanya salah satu wanita yang seusia Nayla.
Nayla perlahan melangkahkan kaki mendekati Fidia, sepatu boots hitamnya beradu dengan lantai semen, suara langkahnya menggema di kegelapan malam.
"Hallo Fidia apa kamu mengenalku," ucap Nayla yang membawa tongkat baseball.
Fidia hanya tersendu wajahnya ketakutan dan sudah pucat, dirinya memang selalu menghina Nayla.
Bukan karena itu, dirinya menghina Nayla karena dulu sang ibu selalu membandingkannya dengan Nayla.
"Kamu ini nilainya segini, liat noh Nayla! meski anak tanpa bapak bisa rangking satu!" omel sang ibu.
"Nay, aku minta maaf...," ucap Fidia dengan lirih.
Nayla berdecih.
Kaki Nayla menendang kursi yang Fidia duduki membuat kepala wanita itu terbentur keras.
Kaki Nayla menginjak dadanya sampai susah bernapas.
Para wanita lain menjerit histeris, ketakutan.
Sementara Gani tersenyum sambil menikmati rokoknya, lalu entah setan darimana tongkat baseball itu mengayun.
Hingga mengenai kepala Fidia.
Sontak kepala Fidia bocor dengan cairan merah mengalir.
"Nayla ampunnnn," jerit mereka semua histeris.
"Nayla, kami hanya ikut-ikutan, kami tak tahu," teriaknya dengan ketakutan di tengah kesunyian malam.
Gani menggelengkan kepalanya, dirinya tersenyum sinis.
"Nggak tahu! Lo harusnya mikir sebelum ikut-ikutan!" ucap Gani memukul kepala salah satu wanita paruh baya dengan botol kaca bir.
Gani menatap salah satu wanita dan tersenyum, lalu mendekati Nayla dan membisikan sesuatu.
"Iya lo boleh pilih mana aja, tapi tunggu urusan gua selesai dulu ama nih tujuh kuntilanak!" tegas Nayla.
"Oke siap Kakak Nayla yang cantik," puji Gani tersenyum.
Sebenarnya apa yang di minta Gani, sudah bisa di tebak pasti soal urusan ranjang.
Nayla menatap satu persatu wajah di hadapannya, wajah yang dulu mencemooh dan mencaci makinya, kini terlihat rapuh.
"Dulu, kamu ingat kalian ingat termasuk kau Ismi melempari aku dengan batu," suara Nayla datar.
Tak ada yang berani membantah hanya isak tangis.
"Ampun Nayla," ucapnya.
"Sekarang kalian aku akan lempari dengan penderitaan!" tegas Nayla.
Mereka semua saling menatap sementara Fidia sudah lemas karena kekurangan darah.
"Kami khilaf Nayla," ujarnya.
Nayla tertawa, lalu diikuti Gani.
"Lu denger nggak Gani, mereka jawab khilaf. Kok lucu ya," ujar Nayla tertawa.
Lalu tiba-tiba tatapan matanya tajam menatap mereka semua.
"Kalo begitu aku juga akan khilaf!" ucap Nayla sambil tertawa selayak kesenangan melihat penderitaan semua orang yang menoreh noda pada masa lalunya.
"Gani!" perintahnya.
"Iya kakak," ucap Gani.
"Bawa mereka ke kapal kita akan jual mereka ke Kartel Sinaloa di Mexico jadikan mereka p*lacur disana!" titah Nayla dengan tegas.
Mereka semua berteriak histeris saat mendengar apa yang akan Nayla lakukan pada mereka.
"Nayla jangan! Nayla aku mau menikah!" ujar Fidia dan Ningsih.
Nayla menyalakan rokoknya lalu menghisap rokoknya dalam lalu menyembulkan asapnya ke wajah Ningsih.
"Huft!" Ningsih menjadi terbatuk-batuk.
"Kamu ingat dulu kamu bilang tak ada yang mau menikahiku karena tak memiliki bapak, sekarang tak akan ada yang mau menikahimu karena kamu akan jadi p*lacur!" ucapnya.
"Gani! perintah gua berubah kali ini!" ucap Nayla.
Gani menatap Nayla dengan heran, lantaran apa rencana selanjutnya.
Sementara tujuh wanita yang Nayla sekap, menatapnya antara lega dan takut.
"Panggilin temen geng kita malam ini kalian sebagai hadiah boleh menikmati tubuh mereka," titah Nayla.
Gani tersenyum sumringah menatap Nayla, sementara tujuh wanita berteriak histeris dan memohon agar Nayla tak melakukan itu.
"Wuihh serius kak!" ucap Gani memeluk Nayla dengan erat.
"Iyaa!" jawab Nayla tegas.
"Nayla jangan!" jerit Ismi.
"Tolong maafin kita!" jerit Ningsih yang mau menikah.
"Maaf Nayla!" isak semuanya.
Nayla tersenyum bahagia menikmati penderitaan mereka, mengingat dulu Nayla selalu nangis karena perlakuan mereka.
Sekarang merekalah yang menangis, karena Nayla akan sepenuhnya menghancurkan hidup mereka.
Sebelum mereka dijadikan Sundal untuk Kartel Sinaloa, Nayla akan membiarkan teman-teman geng Keihn yang menjadi kaki kananya mencicipi tubuh mereka.
"Gani gua akan tunggu di depan pintu," ucap Nayla pergi berlalu.
"Terimakasih Kakak Nayla!" ucap para Kartel serempak----mereka ada lebih dua puluh orang.
Mereka berjanji setelah ini akan mengabdi pada Nayla sepenuh hati, sedangkan ke tujuh wanita ini berteriak memohon ampun.
Nayla keluar menangis, jujur saja hati nuraninya tak tega melakukan hal ini.
Tapi karena logika dan dendam dirinya rela melakukan hal ini, Nayla menangis tapi buru-buru tangannya mengusap air mata itu dengan kasar.
"Mereka pantas menerima itu!" tegasnya menoleh ke arah pintu dimana para wanita sedang di nodai satu persatu.
"Selanjutnya gua akan beresi para Aparat yang menghalangi jalan gua, gua akan buat rencana dengan Yuka untuk membunuh siapa saja yang menghalangi jalan gua," tekadnya yang semakin menjadi-jadi.
Nayla menghisap rokoknya menyembul ke udara menikmati jeritan para gadis yang menghinanya, bahkan dulu melempari batu padanya.
Merebut mainannya yang sudah susah payah di tabung.
Malam ini mereka kehilangan harga diri dan kehormatan mereka, Nayla menikmati rokoknya dengan tersenyum senang.
Suara desahan, teriakan dan tawa dari dalam seolah menjadi kenikmatan tersendiri di telinga Nayla Malika.
*
*
*