NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Berdarah di Atas Takhta

Roda kereta kayu berlapis besi berderit memekakkan telinga saat membelah jalanan berlumpur di bawah langit kelabu Aethelgard. Angin dingin dari utara berhembus kasar, membawa aroma pinus busuk yang membuat napas para prajurit terasa sesak.

Ratusan ksatria berkuda melangkah dengan ritme kaku dan diwarnai ketegangan yang sangat pekat. Mata mereka terus melirik liar ke arah pepohonan gelap di sisi jalan, seolah maut sedang mengintai di setiap bayangan dahan.

Baron Kaelos memimpin di barisan terdepan dengan postur membungkuk yang sangat menyedihkan untuk seorang komandan. Keringat dingin terus mengucur deras membasahi kerah zirah bajanya yang terasa terlalu sempit mencekik lehernya.

Setiap kali rantai kekang kudanya bergemerincing, jantung pria tambun itu seakan berhenti berdetak sesaat karena panik. Ketakutan absolut pada pemuda iblis di dalam kereta hitam di belakangnya telah menelan habis seluruh akal sehatnya.

Di dalam kabin kereta yang berguncang pelan, Valerius duduk menyilangkan kakinya dengan keanggunan yang mematikan. Matanya yang hitam kelam menatap pantulan wajahnya sendiri pada bilah Belati Penyedot Jiwa di tangannya.

Ia mengusap pelan gagang tulang belati itu, merasakan sensasi dingin yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya sendiri. Senjata iblis ini seolah berbisik di dalam pikirannya, merengek meminta tetesan darah segar untuk memuaskan dahaganya.

Valerius menyeringai tipis, sebuah lengkungan bibir asimetris yang memancarkan kekejaman murni tanpa dasar. "Bersabarlah sedikit lagi, aku akan memberimu pesta darah yang jauh melebihi ekspektasi rakusmu," bisiknya pelan pada udara kosong.

Sistem di dalam pikirannya tetap diam membisu, hanya menampilkan pendaran merah redup yang menandakan kesiapan tempur. Perjalanan menuju ibu kota ini barulah tahap pemanasan sebelum ia benar-benar mengguncang pilar kekuasaan para dewa dan bangsawan.

Sementara itu, jauh di jantung ibu kota, kemegahan Istana Draken berdiri angkuh seolah menantang awan di langit. Pualam putih berkilau dan emas murni menghiasi dinding aula utama yang kini dipenuhi tawa arogan para bangsawan.

Aldrich van Draken duduk di kursi berlapis beludru merah dengan senyum congkak yang sangat merendahkan siapa pun yang melihatnya. Pewaris utama keluarga Duke itu mengenakan jubah sutra emas yang memancarkan kesombongan tanpa batas.

Ia menyesap anggur merah dari gelas kristalnya sambil menikmati lenggokan tarian para budak wanita di tengah aula. Matanya memancarkan kepuasan absolut seorang pemenang yang merasa telah menaklukkan seluruh takdir di tangannya.

"Pangeran kedua yang bodoh itu pasti sudah menjadi kotoran monster di Lembah Tengkorak sekarang," tawa Aldrich menggelegar ke seluruh ruangan. Para bangsawan penjilat di sekelilingnya serempak ikut tertawa, berlomba-lomba memberikan pujian palsu demi sekerat kebaikan darinya.

Tiba-tiba, pintu aula utama pualam itu didorong terbuka perlahan, menampilkan sosok kepala pelayan tua yang gemetar hebat. Pelayan itu melangkah tertatih-tatih membawa sebuah nampan perak yang di atasnya terdapat gulungan perkamen berikat benang hitam.

Suasana tawa di aula itu perlahan mereda saat melihat raut wajah pucat pasi sang pelayan yang seolah baru melihat hantu. Aldrich mengerutkan keningnya dengan kesal, merasa pestanya telah diganggu oleh ketidakbecusan bawahan rendahan.

"Ada apa dengan wajah menyedihkanmu itu, Pak Tua?" bentak Aldrich seraya membanting gelas kristalnya ke atas meja hingga retak. "Jika surat itu bukan berisi kabar kematian adikku, aku akan memenggal kepalamu sekarang juga!"

Pelayan tua itu jatuh berlutut di atas lantai pualam, tangannya yang keriput mengangkat nampan perak itu tinggi-tinggi. "S-Surat ini baru saja tiba dari Benteng Besi Hitam, Tuan Muda... d-dan ada segel aneh di atasnya."

Aldrich berdiri dari kursinya dengan kasar, merampas gulungan perkamen itu dari nampan perak dengan tatapan berang. Ia menarik putus benang hitam pengikatnya, lalu membuka gulungan surat itu dengan sekali sentakan kasar.

Bau anyir darah manusia yang sangat pekat langsung menyambar indra penciumannya, membuat perutnya mendadak mual. Tulisan kaligrafi elegan di atas perkamen itu ditulis sepenuhnya menggunakan cairan merah kental yang mulai mengering hitam.

Mata Aldrich berlari cepat membaca setiap kalimat sarkastik dan penuh ancaman yang terukir indah di sana. Jantungnya seketika berdegup kencang layaknya genderang perang saat otaknya memproses makna dari pesan berdarah tersebut.

Kesan arogan di wajahnya luntur tak bersisa, digantikan oleh keringat dingin yang tiba-tiba menetes dari pelipisnya. Tangannya yang memegang surat itu mulai bergetar tak terkendali, meremas tepian perkamen hingga kusut berantakan.

Di bagian bawah surat tersebut, tertempel sebuah cincin perak bermata rubi merah yang sangat ia kenali. Itu adalah cincin stempel milik pemimpin kelompok pembunuh bayaran elit yang ia bayar mahal secara rahasia.

"T-Tidak mungkin... ini sama sekali tidak masuk akal!" teriak Aldrich histeris, suaranya melengking tinggi memecah keheningan aula. Ia melempar surat berdarah itu ke lantai pualam seolah perkamen itu baru saja membakar telapak tangannya.

Para bangsawan di sekelilingnya terbelalak kaget, perlahan memundurkan langkah mereka melihat pewaris keluarga Draken itu kehilangan akal sehatnya. Wajah Aldrich kini sepucat mayat, napasnya tersengal-sengal menahan teror yang tiba-tiba mencengkeram paru-parunya.

"Anjing-anjing bayaran itu... mereka semua tewas?" gumam Aldrich dengan pupil mata yang bergetar penuh kepanikan. Ilusi kekuasaan mutlaknya baru saja dihancurkan lebur oleh selembar surat yang dikirim dari wilayah perbatasan yang kotor.

Adiknya yang lemah dan naif itu tidak hanya selamat dari racun maut, tapi juga berhasil membantai seluruh pasukan pembunuh profesional. Kemarahan dan ketakutan kini berbaur menjadi racun psikologis yang menggerogoti kewarasan Aldrich dari dalam.

"Panggil seluruh ksatria penjaga istana! Lipat gandakan pertahanan di setiap gerbang sekarang juga!" raung Aldrich kalap, membalikkan meja kayu berisi hidangan mewah hingga hancur berantakan.

Ia menatap cincin rubi berdarah di lantai itu dengan pandangan horor yang tak bisa disembunyikan lagi. Sang mangsa yang dulu ia buang ke neraka, kini telah menjelma menjadi pemangsa buas yang sedang berjalan pulang untuk menagih nyawanya.

Kembali ke jalanan perbatasan yang berlumpur, rombongan kereta Valerius baru saja memasuki area Hutan Kabut Hitam. Pohon-pohon raksasa dengan dahan melengkung tajam menutupi cahaya matahari, menciptakan terowongan alam yang gelap gulita.

Kaelos mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi, memberi isyarat agar seluruh pasukan menghentikan laju kuda mereka seketika. "Keluarkan senjata kalian! Ada yang tidak beres dengan kesunyian hutan ini," teriak sang Baron dengan suara serak yang bergetar.

Hanya suara rintik hujan pelan yang terdengar menyentuh dedaunan mati, namun insting para prajurit veteran itu menjeritkan bahaya. Kuda-kuda perang mulai meringkik gelisah, mengentakkan kuku baja mereka ke tanah berlumpur karena mencium aroma agresi di udara.

Tanpa peringatan sedikit pun, puluhan anak panah berapi melesat keluar dari balik rimbunnya pepohonan di sisi kiri dan kanan jalan. Panah-panah itu menghujani barisan prajurit benteng, menciptakan jeritan kesakitan saat ujung besi panasnya menembus zirah baja.

"Penyergapan! Buat formasi perisai melingkar sekarang juga!" raung komandan regu bawahan Kaelos, mencoba menutupi kepanikan anak buahnya.

Lebih dari lima puluh orang bandit berpakaian kulit kumal bermunculan dari semak-semak dengan senjata tajam berkarat terhunus. Mereka berteriak liar seperti sekawanan serigala kelaparan, mengincar kereta kuda mewah di tengah barisan yang terlihat penuh harta.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!