NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Berpindah Tempat Secara Tak Terduga

Damian mengibaskan tangannya dengan gusar. "Pergi sana. Aku sedang ingin ketenangan malam ini."

Dominic membungkuk hormat tanpa membantah. Ia melangkah mundur perlahan ke dalam kegelapan koridor, meninggalkan sang Raja Demon yang kembali merutuki ketidakpekaan pelayan setianya itu di bawah guyuran cahaya bulan.

"Kenapa aku harus memikirkan gadis lemah itu lagi?" Damian mengacak rambutnya frustrasi. Sial, tatapan mata zamrud itu menolak hilang dari benaknya.

"Ck, untuk apa juga aku mengkhawatirkannya?" Damian mendengus sinis pada dirinya sendiri. "Aku sudah memasang barrier di sekeliling rumahnya. Dia tidak akan bisa kabur dari sana sampai pagi menjelang."

Sedetik kemudian, Damian tertawa menggelegar. Gema suaranya memantul di dinding kastil yang sunyi, sementara tatapan matanya berkilat berbahaya.

"Gadis bodoh! Kau tidak akan pernah bisa lari, bahkan untuk mengakhiri hidupmu sendiri sekarang. Takdir sudah mengikatmu bersamaku," desis Damian. Ia meraba dada kirinya, di mana jantungnya berdegup abnormal.

Senyum getir terukir di wajah tampannya. "Namun sial... takdir sialan itu ternyata ikut menyeretku bersamamu."

****

"Awss...!" Evelyn meringis kencang. "Tubuhku serasa remuk. Tulang-tulangku seperti patah semua."

Evelyn menggerutu memaki rasa sakit fisik yang mendera. Ia memaksakan jemarinya bertumpu pada pinggiran meja dapur, berusaha berdiri perlahan sambil terus mencengkeram punggungnya yang berdenyut nyeri akibat hantaman ke lantai tadi.

Dengan langkah gontai dan terseok-seok, ia berjalan kembali ke kamarnya. Evelyn menghempaskan tubuh kurusnya ke atas kursi belajar, lalu menyalakan layar ponsel. Jam digital di sana sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Saat hendak meletakkan kembali ponselnya, netra hijau zamrud Evelyn tidak sengaja menangkap selembar kertas yang mencuat dari celah laci meja.

Itu adalah surat pemberitahuan izin orang tua untuk agenda tur sekolah ke sebuah pantai besok pagi. Berhubung sebentar lagi adalah hari kelulusan, study tour itu dikhususkan untuk anak kelas 3 SMA Vesperanian High School. Besok ia harus pergi ke sana. Namun, jangankan mengemas barang, Evelyn bahkan belum sempat memberi tahu sang ibu, apalagi meminta tanda tangan persetujuan.

Dulu, ia terlalu takut untuk bicara karena tahu ibunya pasti akan langsung menolak dengan kasar. Namun sekarang? Semuanya sudah terlambat. Kini ia benar-benar sebatang kara di dunia ini. Sang ibu telah tiada, tewas mengenaskan beberapa jam lalu setelah diserang dan dimangsa hidup-hidup oleh ras Demon liar tepat di depan mata kepalanya sendiri.

Isakan tertahan mulai lolos dari tenggorokan Evelyn saat bayangan mengerikan tentang makhluk bertanduk yang merobek tubuh ibunya kembali berputar di otaknya.

Evelyn menarik kertas izin itu dengan tangan yang gemetar hebat. Sebuah tawa getir yang sarat akan keputusasaan lolos dari bibir pucatnya.

"Kenapa... kenapa takdir harus sekejam ini?" bisiknya lirih pada kesunyian kamar yang mencekam. "Di saat aku masih membutuhkan Ibu, di saat aku sama sekali belum siap untuk hidup sendiri... kenapa kalian berdua harus pergi dan meninggalkanku sendirian di dunia yang mengerikan ini?"

****

Di tempat berbeda, tepatnya di dalam rumah kayu sederhana di Hutan Perak Vespera, Benjamin masih sibuk meracik ramuan herbal. Namun mendadak, sebuah firasat aneh yang tidak menyenangkan menghantam kesadarannya.

Pergerakan tangannya yang tengah mengaduk kuali ramuan sihir terhenti seketika. "Apa lagi kali ini?" bisik Benjamin parau.

Ia mencengkeram jubah di bagian dadanya. "Kenapa jantungku kembali berdebar abnormal seperti ini?"

Sang Mage Naga menarik napas dalam-dalam. Ia memaksa tangannya kembali mengaduk ramuan, berusaha keras mengabaikan gejolak asing yang mengusik batinnya. "Fokus. Semua perbekalan ini harus selesai sebelum tengah malam," gumamnya, mempercepat gerakan. "Sedikit lagi selesai."

Setelah seluruh cairan magis itu berhasil dikemas ke dalam botol-botol kaca, Benjamin menghela napas lega. Ia melangkah menuju kamar, membaringkan tubuh tegapnya di atas kasur empuk yang nyaman, lalu perlahan memejamkan mata untuk menjemput sisa malam.

Sementara itu, di rumah sewa kumuhnya, Evelyn berusaha mengalihkan trauma dengan membereskan perlengkapan tur untuk besok pagi, sekaligus merapikan kamarnya yang berantakan.

Di luar sana, hujan deras mulai tumpah ruah. Suara guntur bersahutan membelah langit malam, namun Evelyn sama sekali tidak merasa takut. Badai di luar tidak ada apa-apanya dibanding badai di dalam kepalanya.

Evelyn sempat berpikir untuk menelepon polisi. Namun, logikanya segera menepis niat itu. Jika ia melapor bahwa ibunya tewas dikunyah habis oleh monster Demon liar hingga tak bersisa, pihak berwajib pasti akan menjebloskannya ke rumah sakit jiwa. Ia juga sudah mencoba menghubungi beberapa tetangga untuk meminta bantuan, namun nihil. Semua nomor mereka tidak aktif, seolah-olah ada kekuatan tidak kasat mata yang sengaja memutus akses komunikasinya dengan dunia luar.

Terjebak dan tidak bisa ke mana-mana karena pintu dan jendela masih tersegel rapat oleh barrier Damian, Evelyn hanya bisa menggantungkan harapan pada keajaiban esok hari, atau berharap semua kengerian ini hanyalah mimpi buruk yang panjang.

Begitu seluruh barangnya masuk ke dalam ransel, perhatian Evelyn teralih oleh suara cipratan air. Air hujan mulai bocor dan menembus atap rumahnya di sana-sini. Ia bergegas ke dapur, mengambil baskom dan ember untuk menampung air yang kian menderas.

"Bocornya semakin parah," keluh Evelyn frustrasi.

Gadis itu sibuk mondar-mandir menguras ember yang mulai penuh. Namun sial, dalam ketergesaannya, kaki Evelyn tidak sengaja menginjak genangan air yang licin di atas ubin.

Tubuhnya langsung limbung, kehilangan keseimbangan. Evelyn terhuyung ke depan dan menabrak tembok.

BRUKK!

Evelyn memejamkan mata, bersiap menyambut hantaman tembok atau lantai keras yang akan membuat tubuhnya semakin remuk setelah cedera jatuh sebelumnya. Namun, alih-alih rasa sakit, tubuh kurusnya justru mendarat di atas permukaan yang sangat empuk dan hangat.

Secara ajaib, tubuh Evelyn menembus dinding pembatas yang entah bagaimana telah terdistorsi oleh dua energi takdir, menghubungkan rumah sewanya langsung dengan kamar seorang pria.

Evelyn jatuh terduduk tepat di atas kasur.

Sementara itu, sang pemilik ranjang sontak berteriak kaget, "Aaa... siapa kau?!"

Dia adalah Benjamin Emerson. Mage itu baru saja memejamkan mata setelah selesai meracik ramuannya. Namun, ia justru dikejutkan oleh sesosok gadis yang tiba-tiba ambruk di sampingnya.

Evelyn yang baru menyadari situasinya segera melompat turun dari ranjang. Pandangannya menatap liar sekaligus heran ke sekeliling ruangan yang asing.

Kenapa ia bisa berpindah tempat? Sementara kamarnya yang mirip gudang, entah bagaimana, terlihat jelas berada tepat di seberang kamar ini, seolah kedua rumah mereka sengaja ditempelkan menjadi satu.

"Bukankah Anda... Tuan tampan yang waktu itu?" tanya Evelyn hati-hati setelah mengenali wajah pria berambut merah di hadapannya.

Benjamin yang masih syok tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan melewati Evelyn untuk memeriksa kamar gadis itu yang terhubung aneh dengan kamarnya sendiri.

Indra magisnya mendeteksi adanya benturan keras antara sisa barrier kegelapan milik Demon dan energi naga di dalam dirinya yang memicu distorsi ruang ini.

"Kau... siapa kau sebenarnya? Penyihir dari mana kau? Apa yang sudah kau perbuat dengan rumahku?"

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!