NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Bayangan Pembunuh

Malam itu, Lin Fan tidak tidur. Ia duduk bersila di tengah gubuknya, jarum hitam dari Sekte Bulan Terbelah diletakkan di atas telapak tangannya. Cahaya bulan yang masuk melalui celah atap menerangi ukiran rune halus pada logam gelap itu.

Manik Giok di Dantian-nya berdenyut pelan, merespons energi dingin dan tajam yang dipancarkan jarum tersebut. Ini bukan sekadar senjata fisik; ini adalah alat kultivasi yang telah diresapi dengan niat membunuh tingkat tinggi. Bagi kultivator biasa, memegang jarum ini terlalu lama bisa membuat mental mereka goyah karena bisikan pembunuhan yang tertanam di dalamnya.

Tapi Lin Fan tidak terpengaruh. Manik Giok menyerap energi negatif itu, memurnikannya menjadi esensi Qi netral yang dingin, lalu mengalirkannya kembali ke meridian Lin Fan untuk memperkuat ketajaman indranya.

"Sekte Bulan Terbelah," gumam Lin Fan. "Organisasi pembunuh bayaran yang beroperasi di bawah tanah seluruh Benua Azure. Mereka tidak pernah gagal. Dan mereka tidak pernah meninggalkan jejak... kecuali jika mereka ingin ditemukan."

Pertanyaannya: Mengapa?

Apakah Lin Hu begitu putus asa hingga menyewa pembunuh bayaran elit? Tidak mungkin. Lin Hu bangkrut. Dia tidak punya uang untuk membayar harga Sekte Bulan Terbelah, yang konon dimulai dari seratus Batu Spirit Tingkat Tinggi per kontrak.

Apakah Clan Yan? Elder Huo mungkin curiga, tapi dia lebih tipe orang yang menggunakan kekuatan terbuka daripada intrik gelap seperti ini. Selain itu, Clan Yan sedang sibuk memperbaiki reputasi mereka setelah insiden Lembah Hitam.

Jadi, siapa?

Lin Fan memejamkan mata, mencoba menghubungkan titik-titik. Ada satu kemungkinan yang membuatnya merinding.

Peta Palsu.

Ketika Lin Fan menciptakan peta palsu itu, dia melakukannya dengan sangat hati-hati. Tapi apakah mungkin ada seseorang yang melihat proses pembuatannya? Atau lebih buruk lagi, apakah ada seseorang yang mengetahui bahwa peta itu palsu, dan sekarang ingin membungkam sumbernya sebelum kebenaran terbongkar?

Jika pembunuh itu datang untuk membunuh Lin Fan, artinya identitas Lin Fan sebagai dalang di balik malapetaka Clan Yan sudah diketahui oleh pihak ketiga.

Lin Fan membuka matanya. Tatapannya dingin.

"Dia akan datang malam ini," bisiknya. "Pembunuh dari Sekte Bulan Terbelah tidak menunda. Mereka menyerang saat target paling lengah."

Ia tidak akan menunggu di gubuk. Gubuknya terlalu terbuka, terlalu mudah diakses. Jika ia tinggal di sana, ia akan mati.

Lin Fan berdiri. Ia mengambil tas kecil berisi pil racun, jarum akupuntur, dan sisa bahan peledak asap buatan sendiri. Ia mengenakan pakaian hitamnya, lalu keluar melalui jendela belakang, menghilang ke dalam kegelapan malam.

Tujuannya bukan untuk lari. Tapi untuk berburu.

Hutan kecil di belakang pemakaman klan adalah tempat yang sunyi dan sepi. Pepohonan tua menjulang tinggi, menghalangi cahaya bulan, menciptakan bayangan-bayangan yang tampak seperti hantu. Angin berhembus melalui daun-daun kering, menciptakan suara desis yang mirip dengan bisikan.

Lin Fan bersembunyi di atas dahan pohon ek raksasa, tubuhnya menyatu dengan kegelapan berkat Teknik Napas Besi yang menekan aura dan suaranya. Ia menunggu.

Satu jam berlalu. Dua jam.

Tidak ada apa-apa.

Apakah instingnya salah? Apakah jarum itu hanya sisa dari konflik masa lalu yang tidak berkaitan dengannya?

Tiba-tiba, udara berubah.

Suhu turun drastis. Daun-daun di sekitarnya berhenti bergerak, seolah-olah waktu sendiri membeku.

Lin Fan merasakan kehadiran itu sebelum dia melihatnya. Sebuah niat membunuh yang murni, dingin, dan tajam seperti pisau bedah, mengarah tepat ke tengkuknya.

Dia tidak menoleh. Dia bergerak.

Lin Fan menjatuhkan diri dari dahan pohon, berguling di udara, dan mendarat di tanah dengan posisi siap tempur.

Shhh!

Sebuah bayangan hitam melintas di tempat kepala Lin Fan berada sepersekian detik sebelumnya. Sebuah pedang pendek berwarna abu-abu menusuk batang pohon ek, menembus kayu keras itu seolah-olah itu adalah mentega.

Dari kegelapan, seorang sosok muncul.

Dia mengenakan jubah hitam ketat dengan tudung yang menutupi seluruh wajahnya, kecuali sepasang mata yang bersinar dingin seperti es. Di tangannya, terdapat dua pedang pendek berbentuk melengkung, mirip dengan taring binatang buas.

"Penglihatanmu tajam, anak muda," kata sosok itu. Suaranya datar, tanpa emosi, seperti mesin. "Jarang ada target yang bisa menghindari serangan pertama 'Fang'."

Lin Fan menelan ludah. Fang. Salah satu kode nama pembunuh elit Sekte Bulan Terbelah. Level kultivasinya sulit ditebak, tapi auranya jauh lebih stabil dan mematikan daripada Yan Lie. Minimal Tahap Qi Level 8, atau bahkan awal Tahap Fondasi.

"Siapa yang menyewamu?" tanya Lin Fan, suaranya tenang meskipun jantungnya berdebar kencang.

"Fang tidak bertanya. Fang hanya melaksanakan," jawab pembunuh itu. Dia mencabut pedangnya dari batang pohon dengan gerakan halus. "Tapi karena kau akan mati, aku bisa memberitahumu satu hal. Kontrakmu berasal dari seseorang yang sangat menginginkan kematianmu diam-diam. Seseorang yang tahu rahasiamu."

Rahasiamu?

Lin Fan mengerutkan kening. Apa rahasia? Bahwa dia memiliki Manik Giok? Bahwa dia Level 6? Atau bahwa dia dalang di balik insiden Lembah Hitam?

"Tidak penting," kata Fang. "Waktunya habis."

Fang menghilang.

Kecepatannya luar biasa. Lin Fan hampir tidak bisa mengikutinya dengan mata telanjang. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengandalkan insting dan pendengarannya yang telah diasah.

Kiri!

Lin Fan memiringkan kepalanya. Pedang kiri Fang menggores pipinya, meninggalkan garis tipis darah.

Kanan!

Lin Fan memutar tubuhnya, menggunakan Teknik Napas Besi untuk mengeraskan bahunya, dan menabrak tubuh Fang yang sedang berputar.

Bum!

Tabrakan itu membuat Fang terhuyung sedikit, terkejut. Dia tidak menyangka pelayan lemah ini memiliki pertahanan fisik sekeras batu.

Kesempatan!

Lin Fan tidak membuang waktu. Ia melemparkan tiga jarum akupuntur yang telah diolesi racun paralisis ke arah celah armor leher Fang.

Fang menepis dua jarum dengan pedangnya, tapi jarum ketiga mengenai bahunya.

"Hmph," desis Fang. Dia melihat jarum itu, lalu mencabutnya dengan mudah. "Racun grade rendah? Kau meremehkan aku."

Tapi Lin Fan tidak tersenyum. Racun itu memang tidak akan membunuh Fang. Tapi racun itu bereaksi dengan Qi dingin Fang, menciptakan uap putih tebal yang menyengat.

Bom Asap!

Ledakan kecil terjadi di bahu Fang, menciptakan awan asap putih pekat yang memenuhi area sekitar.

Dalam kekacauan visual itu, Lin Fan tidak lari menjauh. Dia justru mendekat.

Dia tahu dia tidak bisa mengalahkan Fang dalam pertarungan langsung. Tapi dia punya satu kartu as: Tinju Panas.

Lin Fan memusatkan semua Qi-nya di tinju kanannya, memutar energinya dengan pola spiral dari manuskrip api yang ia pelajari. Tinjunya memanas, udaranya bergetar.

Dari dalam asap, ia mendengar napas Fang yang sedikit terganggu karena racun dan asap.

Sekarang!

Lin Fan menerobos asap, tinjunya melayang lurus ke arah dada Fang.

Fang, yang terbiasa dengan serangan jarak jauh dan kecepatan, tidak mengharapkan serangan frontal yang begitu berani. Dia mengangkat pedang kirinya untuk menangkis.

TAK!

Tinju Lin Fan bertemu dengan bilah pedang.

Bukan daging yang hancur, melainkan logam yang berdentum. Kekerasan Teknik Napas Besi menahan pedang itu, sementara panas dari Tinju Panas mengalir melalui logam pedang, menuju tangan Fang.

"Aargh!" Fang meraung kesakitan saat panas itu membakar telapak tangannya yang terlindungi sarung tangan tipis.

Pedang Fang terlepas.

Lin Fan tidak berhenti. Dia mengikuti dengan tendangan putaran ke perut Fang, mengirimkan pembunuh elit itu terbang mundur dan menabrak pohon.

Fang jatuh ke tanah, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya yang tertutup tudung kini terlihat sedikit miring. Matanya yang dingin kini dipenuhi keterkejutan dan kemarahan.

"Kau..." Fang menggigit giginya. "Siapa kau sebenarnya?"

Lin Fan berdiri di depan, dadanya naik turun. Tubuhnya sakit di mana-mana. Tulang rusuknya terasa retak akibat benturan tadi. Tapi dia masih hidup.

"Aku hanya pelayan," kata Lin Fan, suaranya berat. "Dan kau sudah kalah."

Fang tertawa terbahak-bahak, tawa yang kering dan pahit. "Kalah? Anak bodoh. Aku baru saja memanaskan diri."

Tiba-tiba, aura Fang meledak. Tekanan udara di sekitarnya menjadi berat sekali. Tanah di bawah kakinya retak.

Lin Fan menyadari kesalahan fatalnya. Dia telah melukai Fang, tapi tidak menghabisinya. Dan sekarang, Fang tidak lagi bermain-main.

Fang berdiri perlahan, mengeluarkan sebuah pil merah dari sakunya dan menelannya. Wajahnya memerah, urat-uratnya menonjol. Dia mengaktifkan teknik darah yang meningkatkan kekuatan secara drastis dengan mengorbankan umur.

"Malam ini, kau akan mati. Dan aku akan membawa kepalamu pulang," geram Fang.

Lin Fan mundur selangkah. Kakinya gemetar. Dia kelelahan. Qi-nya hampir habis. Dia tidak bisa bertarung lagi.

Tapi dia punya satu pilihan terakhir.

Dia merogoh sakunya, mengambil benda terakhir yang ia curi dari gudang obat Lin Hu: Pil Ledakan Api Grade Rendah yang tidak stabil. Pil eksperimen yang gagal, yang disimpan Lin Hu untuk dibuang.

Lin Fan melemparkan pil itu ke kaki Fang.

"Menangkap!" teriak Lin Fan.

Fang, yang refleksnya tinggi, secara instingtif menepis benda itu dengan pedangnya.

BOOM!

Ledakan itu tidak besar, tapi cukup kuat untuk menciptakan gelombang kejut dan api yang menyilaukan. Tanah berguncang. Debu dan bara api beterbangan.

Lin Fan tidak menunggu. Dia berbalik dan lari sekuat tenaga, masuk ke dalam kegelapan hutan, menuju arah sungai di mana ia bisa menghapus jejak aromanya.

Di belakangnya, terdengan raungan kemarahan Fang yang tertahan oleh rasa sakit.

Lin Fan berlari tanpa henti hingga paru-parunya terasa terbakar. Ia jatuh ke dalam air sungai yang dingin, hanyut arus sejauh ratusan meter sebelum akhirnya merangkak ke tepian di sisi lain kota.

Ia aman. Untuk saat ini.

Tapi ia tahu, Fang tidak akan berhenti. Sekte Bulan Terbelah tidak menerima kegagalan. Dan sekarang, mereka tahu wajah Lin Fan.

Lin Fan berbaring di tanah basah, menatap langit malam yang berbintang. Darahnya mengalir dari luka-lukanya, tapi matanya bersinar dengan tekad baja.

"Aku harus menjadi lebih kuat," bisiknya pada kegelapan. "Aku harus mencapai Tahap Fondasi. Hanya itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup."

Permainan kucing dan tikus telah berakhir. Sekarang, perang sesungguhnya dimulai.

1
Femi Lestari
Bagus! Aku suka
Femi Lestari
seru! ceritanya ga langsung buat mc overpower, justru lebih pakai otaknya dibanding ototnya.
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!