"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 17
Tidak berselang lama saat Bi Inah yang tengah buru-buru menuruni anak tangga ketika di panggil majikannya Laras. "Iyaa, Nyonya ... Ada apa?" tanya Bi Inah menunduk, tidak berani menatap Laras karena tahu pasti akan terkena marah sebenar apapun dia. Nafasnya sedikit terperengah ketika menghadap Laras, namun ia coba sembunyikan.
"Lama amat sih?! ... Saya panggil-panggil juga dari tadi!" bentak Laras, padahal ia baru saja memanggil Bi Inah yang kurang dari 2 menit sudah menghadapnya sekarang.
"Maaf, Nyonya ... Saya habis membereskan—"
"Op. Op. Op. Diem! Saya nggak pengen denger alesan kamu!" kata Laras dengan nada suara yang sedikit keras ketika berbicara dengan orang yang lebih tua darinya. "Cepat siapkan air hangat untuk mas Adi mandi."
Tangan Laras tinggi bersedekap di atas dada, tidak ingin melihat Bi Inah lama-lama dan enggan juga sebenarnya ketika ia harus berbicara lama seperti ini. Bi Inah langsung mengangguk. Berbalik badan dan berlalu meninggalkan Laras masih dengan menunduk. "Baik Nyonya ..." balas Bi Inah, sebelum pergi meninggalkan Laras.
"Cepetan !!!" bentak Laras, ketika melihat jalan Bi Inah yang di nilai sangat lambat. Laras berdecih, sebelum berlalu lenggang meninggalkan tempatnya untuk pergi ke dalam kamarnya di lantai atas. Tanpa rasa bersalah, dan tanpa rasa menyesal sedikit pun.
"Pak Tono ... Permisi~"
Tono yang sedang berkesiap siaga merasa kaget ketika ada yang mendengar memanggilnya. Ia langsung segera beranjak dari kursinya dan keluar dari basecamp nya.
"Eh, Anya ... Repot-repot ampe di bawain kemari ..." ucap Tono, dengan senyum yang merekah menyambut kedatangan Anya yang berdiri membawa kopi untuknya.
"Nggak apa-apa pak ..." balas Anya, dengan senyum ramahnya ketika memberikan kopi yang ia pegang.
"Terimakasih, yaa ... Saya jadi nggak enak," sahutnya, sambil merasa sungkan namun tetap menerima kopi buatan Anya.
Anya terkekeh kecil, melihat kelakuan pak Tono yang sedikit menghiburnya. "Iyaa, sama-sama pak ... Yaudah, kalo gituh saya permisi dulu yaa .. Mau nyiapin masakan dulu di dapur, buat makan malam ..." balas Anya, sebelum pergi meninggalkan Tono yang masih tersenyum.
"Iyaa, Anya ..."
Kere ... Ket! Suara pintu yang di buka oleh Bianca ketika masuk ke dalam kamar mamihnya. Ketika berada di dalam, ia melihat Laras sedang tiduran sambil tersenyum-senyum sendiri melihat kalung mahal pemberian Adi.
"Ciee ... Elah !!! Yang lagi seneng, di beliin kalung berlian mahal ..." ucap Bianca, sambil berjalan perlahan menghampiri Laras yang kemudian beranjak dari tidurnya. "Bian jadi iri, tau mih ..." sambungnya, seraya kini duduk di samping Laras.
"Iyaa, ih! Mamih seneng banget tau Bian ... Kamu tau aja sih, selera mamih?" tanya Laras, bola matanya menatap Bian dengan senyum merekahnya yang masih tumbuh.
"Tau dong! ..." sahut Bianca, bibirnya menipis seakan menampilkan ekspresinya yang terlihat ingin meminta sesuatu. "Bian boleh minjem mih?" sambungnya pelan.
"Jangan dong! ..." jawab Laras dengan cepat, seraya terus menatap suka berlian yang sudah berada di lehernya. Seketika itu juga Bianca langsung menunjukan sikap malasnya. Melihat jawaban penolakan Laras.
"... Mamih di suruh pakai ini nanti, buat acara pesta di rumah ini ..." sambungnya Laras, masih dengan perasaan yang berbunga-bunga di hatinya.
"Pesta? ... Pesta apaan?" tanya balik Bianca, alisnya mengkerut karena tidak mengerti ucapan mamihnya sendiri.
"Iyaa pesta! Papih kamu mau ngadain pesta meriah di rumah ini ... Katanya, buat acara ulang tahun mamih sekaligus menghibur para pegawai perusahaannya," ujar Laras, masih dengan senyumnya yang perlahan kembali normal. "Emang kamu belum tahu?" sambungnya jengah.
"Belum ... Ih seru dong! Bian boleh undang, temen-temen Bian juga?" tanya balik Bianca, matanya membulat menahan antusias yang juga ikut merasa senang ketika mendengar kabar pesta ini.
"Boleh dong sayang ... Asal jangan pinjem kalung mamih ..." balas Laras, sambil memerkan kalung berlian mahal yang kini ia miliki. "Tapi nanti, kamu tanya papih kamu lagi aja ... Harusnya, sih boleh."
Bianca mengedikkan bahunya ke depan, seraya memasang ekspresinya ketika merajuk di depan Laras karena merasa iri sebenarnya dengan mamihnya. "Apaan, sih mih ... Iyaa-iyaa ... Bian nggak bakal minjem," kata Bian menjawab sikap Laras yang menyebalkan.
Di sisi lain.
Tepatnya di dalam dapur ketika Anya seorang diri bergelut dengan bahan masakan tanpa bantuan Bi Inah. Suara-suara potongan sayuran yang Anya kerjakan kini bahkan memenuhi ruangan besar di sekitar Anya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Karena peraturan yang Laras buat, membuat pekerjaan Anya semakin berat. Dan saat ini, Bi Inah hanya bisa melihat Anya dari sudut yang cukup jauh. "Anya ..." suaranya pelan, dengan mata sayu yang merasa tidak enak saat melihat Anya bekerja keras sendiri untuk menyiapkan makan malam dari keluarga Adiwijaya.
Tidak butuh waktu lama bagi Anya yang sekarang sudah mulai terbiasa bekerja seperti ini, terlihat sekarang Anya tengah berkesiap membawa hasil masakannya ke meja makan. Yang dimana, di meja makan itu sudah berada Adiwijaya, Laras, dan Bianca yang sedang menunggu makan malamnya.
Dengan telaten dan apik Anya membawa satu persatu piring yang berisi makanan dan menata nya di meja makan keluarga mereka. Sesekali juga Anya terlihat menunjukan kesopanannya saat hendak meletakan piringnya sambil sedikit menunduk.
"Bi Inah, kemana? ... Saya belum melihatnya hari ini ..." kata Adi, menyapu pandangannya mencari masakan sambal kesukaannya yang sering di buat Bi Inah. Namun, ia tidak menemukan sambal itu di meja makan nya saat ini.
Mendengar kalimat itu, Anya dan Laras yang memahami kondisinya saling bertukar pandang beberapa detik. Laras mengeraskan alisnya, menatap Anya dengan penuh penekanan agar cepat-cepat menyingkir dari sini sekarang.
Sedangkan Bianca yang tidak tahu apa-apa, hanya sibuk menyiapkan nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.
Namun ketika Anya hendak berbalik melangkah, langkah nya terhenti. Saat suara Adiwijaya bertanya. "Anya ... Apakah kamu yang memasak ini semua? ... Dimana Bi Inah? Saya ingin menyuruhnya membuatkan sambal ..." ucap Adi, dengan ramah menatap Anya yang baru saja hendak ingin pergi.
Anya kembali berbalik, menatap Laras sekilas lalu melihat pak Adiwijaya sebelum akhirnya menunduk. "Bi Inah—"
"Yaa berdua dong pih, sama Bi Inah ... Masa Anya bekerja sendiri menyiapkan ini semua ..." kata Laras, memotong ucapan Anya dengan bola matanya yang mulai melebar mengancam. "... Ya, kan Anya?" sambungnya pelan, dengan senyum. Namun bukan senyum yang ramah, melainkan senyum yang terpaksa Laras buat agar memberi tekanan kepada Anya.
"I-iyaa, tuan ... Saya di bantu Bi Inah," balas Anya ragu, dengan ketakutan yang menghiasi wajahnya saat ini sambil menunduk.
Melihat suaminya ingin sambal buatan Bi Inah, Laras pun mau tidak mau harus memanggilnya saat ini juga. "Bibi ... Bi Inah!" panggil Laras, dengan nada nya yang sedikit keras dari kursinya.
Bi Inah pun datang menghampiri keluarga Adiwijaya yang sedang ingin makan malam itu, dengan berlari pelan. "Iyaa, maaf sebelumnya ... Ada apa?" kata Bi Inah ragu, menatap bergantian kearah Adi dan Laras.
"Begini Bi ... Tiba-tiba, saya ingin makan sambal buatan Bibi ... Tolong buatin yaa?" pinta Adiwijaya, berbicara dengan ramah dan sopan ketika meminta tolong kepada Bi Inah.
Bi Inah yang tahu tidak boleh membantu pekerjaan Anya, mendengar permintaan pak Adi, malah sekarang menatap Nyonya Laras karena merasa takut salah. Walaupun sebenernya, apapun yang para pembantunya lakukan itu selalu salah sih di mata Laras.
Karena menurutnya, ketika tidak ada pak Adiwijaya, keputusan Nyonya besar Laras adalah mutlak. Dan itu merupakan peraturan pertama yang tidak tertulis dan harus di patuhi para pekerja di kediaman keluarga ini.
"Tapi—"
"Yaa di bikinin dong Bi ... Kok, malah ngelihatin saya?" tanya Laras lagi-lagi memotong ucapan para pembantunya, terkekeh kecil mencairkan suasana sambil menutup mulutnya agar tidak mencuri perhatian suaminya.
Entah kenapa, aura penekanan yang di keluarkan Laras, sama seperti saat berbicara kepada Anya. Dan karena hal itu, Bi Inah juga jadi merasa ragu dan gugup. "Ba-baik Tuan ... Saya akan buatin," ujar Bi Inah, yang berlalu pergi lalu kemudian di susul oleh Anya yang berpamitan sebelum pergi meninggalkan meja makan.
Setelah Anya dan Bi Inah pergi, Bianca terlihat menyadari sesuatu. Ia memperhatikan Laras yang sedikit merasakan kecemasan di wajahnya ketika melihat Adiwijaya saat ini. Namun Bianca tidak perduli, apapun yang mamihnya itu lakukan. Tangannya terlalu sibuk menyuap makanan ke mulutnya sendiri dengan santai.