Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Nikmati Kemenangan
Selena membeku di balik pilar besar koridor kantor yang sudah mulai sepi. Napasnya tertahan di tenggorokan saat telinganya menangkap suara tawa renyah Pertiwi yang terdengar sangat kontras dengan suasana duka yang selama ini mereka tunjukkan.
"Sepuluh tahun, Raka. Sepuluh tahun kita menyuntikkan 'racun pelan' itu ke dalam sistem tubuhnya lewat suplemen dan makanannya," suara Pertiwi terdengar penuh kemenangan, namun ada nada geram yang terselip.
"Harusnya jantungnya sudah berhenti total malam itu di Bali. Obat itu dirancang untuk membuat jantungnya meledak saat dia melakukan aktivitas fisik berat. Dan dia melakukannya! Tiga ronde dengan penulis itu harusnya sudah cukup mengirimnya ke liang lahat."
Selena menutup mulutnya dengan tangan, air mata kemarahan mulai mengalir deras. Jadi, kondisi Biru bukan murni karena penyakit? Itu adalah pembunuhan berencana yang dilakukan oleh keluarganya sendiri.
"Tapi si bodoh Biru itu lebih licik dari dugaan kita," geram Raka, terdengar suara gelas pecah yang dilempar ke lantai.
"Dia sudah menyiapkan benteng pertahanan terakhir. Dia memberikan semua aset utamanya pada perempuan itu! Kita yang bekerja keras menghancurkan tubuhnya, tapi si penulis miskin itu yang menikmati hasilnya."
"Tenanglah, Raka," Pertiwi menimpali dengan nada dingin yang mematikan.
"Biru sudah koma. Dia sudah berada di 'garis finish' seperti rencana kita. Sekarang tinggal masalah waktu sebelum jantungnya benar-benar menyerah. Soal Selena... dia hanya kerikil kecil. Jika kita bisa melenyapkan Biru, melenyapkan seorang wanita tanpa koneksi seperti dia akan jauh lebih mudah."
Selena gemetar hebat. Tubuhnya terasa lemas, namun otaknya bekerja cepat. Informasi ini adalah bom atom.
Malam panas di Uluwatu yang selama ini ia sesali karena dianggap memperburuk kondisi Biru, ternyata adalah jebakan yang memang sudah disiapkan oleh Raka dan Pertiwi melalui dosis obat-obatan jahat itu. Biru tidak bersalah, Biru tidak meninggalkannya karena bosan—Biru sedang sekarat karena pengkhianatan yang paling keji.
Dengan langkah sepelan mungkin, Selena mundur menjauh dari ruangan itu. Ia harus keluar dari gedung ini hidup-hidup. Sekarang ia tahu, ia tidak boleh hanya menjadi CEO pengganti yang pasif.
Ia memegang 51 persen saham bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai satu-satunya senjata yang diberikan Biru padanya untuk menghancurkan para pengkhianat ini.
"Kamu tidak akan mati, Mas," bisik Selena dengan tekad yang membara di tengah isak tangisnya saat mencapai parkiran. "Dan aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh satu rupiah pun dari apa yang kamu bangun dengan nyawamu."
Selena mengemudikan mobilnya dengan tangan yang bergetar hebat, namun matanya menatap lurus ke depan dengan kilatan yang belum pernah ada sebelumnya. Ia tidak lagi menangis.
Kesedihan telah mengkristal menjadi kemarahan yang dingin dan murni.
Ia menepi di bahu jalan yang sepi, lalu menyambar ponselnya, kembali menelpon Cakra. Ia mengirimkan satu pesan singkat ke nomor Cakra, namun kali ini bukan pesan berisi makian atau tuntutan penjelasan.
"Aku tahu tentang racun itu, Cakra. Aku tahu Raka dan Pertiwi ingin membunuhnya di Bali. Kalau kamu tidak memberitahuku di mana dia sekarang, aku akan membawa bukti ini ke polisi dan menghancurkan Hermawan Grup malam ini juga. Jangan biarkan dia mati sendirian di tangan mereka."
Selena menunggu dengan jantung berdebar kencang. Satu menit... dua menit... Tiga menit....
Tapi tak ada balasan dari asisten suaminya yang sangat dingin itu.
"Brengsek kamu Cakra!" Teriak Selena seraya memukul kemudinya. Tadinya ia ingin mencari Biru di semua rumah sakit di kota ini tapi kemudian ia memutar kemudi dengan gerakan tajam, membatalkan niatnya untuk mengejar Cakra.
Amarah yang tadinya meledak-ledak kini mendingin, berubah menjadi kalkulasi yang licik. Ia sadar, jika ia pergi ke rumah sakit sekarang tanpa perlindungan, ia hanya akan menjadi sasaran empuk bagi Raka dan Pertiwi untuk dilenyapkan sekalian.
"Kalian ingin bermain drama?" bisik Selena sambil menatap bayangannya di spion tengah. Matanya yang sembab kini memancarkan aura predator.
"Baik, aku akan menuliskan skenario kehancuran kalian."
Ia kembali ke mansion besar milik Biru—tempat yang selama hampir tiga puluh hari hari ini ia benci karena terasa seperti kuburan. Namun malam ini, mansion itu adalah benteng pertahanannya.
Begitu tiba di dalam, Selena tidak langsung beristirahat. Ia masuk ke ruang kerja pribadi Biru, mengunci pintu dari dalam, dan menyalakan laptop yang telah diberikan akses penuh oleh sang pengacara tadi siang. Sebagai pemegang 51 persen saham, ia memiliki kunci ke seluruh "kerajaan" Biru.
Selena mulai melakukan apa yang paling ahli ia lakukan sebagai penulis, yaitu Riset.
Langkah Pertama: Ia mencari laporan audit suplemen dan katering pribadi Biru selama tiga tahun terakhir. Ia menemukan satu nama vendor yang selalu direkomendasikan oleh Pertiwi.
Langkah Kedua: Ia mengaktifkan kembali rekaman CCTV tersembunyi di area dapur dan ruang kerja mansion yang ternyata selama ini Biru pasang tanpa sepengetahuan siapa pun—sebuah langkah proteksi sang CEO yang kini menjadi senjata bagi Selena.
Langkah Ketiga: Ia membuka brankas kecil di balik lukisan yang kodenya merupakan tanggal pernikahan mereka—angka yang tadinya ia kira hanya formalitas, namun ternyata adalah simbol perlindungan Biru untuknya.
Di dalam brankas itu, Selena menemukan sebuah perekam suara digital milik Biru. Saat ia memutarnya, suara berat Biru terdengar, terengah-engah, direkam sepertinya beberapa hari sebelum mereka ke Bali.
"Selena... jika kamu mendengar ini, artinya dugaanku benar. Tubuhku sudah dikhianati oleh darahku sendiri. Jangan percaya pada Raka atau Pertiwi. Gunakan sahammu untuk memutus aliran dana mereka di Hermawan Grup. Buat mereka kelaparan sebelum mereka sempat menelan hartaku."
Air mata Selena jatuh, namun ia segera menyekanya dengan kasar. "Aku tidak akan membuat mereka kelaparan, Mas. Aku akan membuat mereka membusuk di penjara."
Malam itu juga, Selena menyusun draf dokumen legal. Ia tidak akan menjadi CEO yang hanya duduk diam. Besok pagi, instruksi pertamanya adalah melakukan Audit Forensik menyeluruh dan membekukan semua tunjangan operasional untuk anggota keluarga direksi dengan alasan "Restrukturisasi Darurat".
Ia juga menghubungi pengacara Biru, namun kali ini dengan nada yang jauh lebih mengancam.
"Katakan pada Cakra, aku tahu siapa yang meracuni suamiku. Aku tidak butuh lokasi rumah sakitnya sekarang, yang aku butuhkan adalah tim keamanan pribadi paling elit untuk menjagaku di mansion ini malam ini juga. Jika dia masih setia pada Biru, dia akan mengirim mereka dalam satu jam."
Selena berdiri di balkon kamar, menatap kegelapan malam. Ia bukan lagi Selena sang penulis novel yang rapuh.
Ia adalah Selena Hermawan, pemegang takhta tertinggi Hermawan Grup, yang akan memastikan bahwa setiap tetes air mata yang ia jatuhkan akan dibayar dengan kehancuran Raka dan Pertiwi.
"Nikmati kemenangan kalian malam ini," gumamnya dingin sambil menggenggam erat surat wasiat Biru. "Karena besok pagi, neraka kalian baru saja dimulai."
***
jin ouch jin sentuh itu selena...