Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.
Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.
" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya
" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.
Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"
" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "
Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.
Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konten Yang Canggung.
Jam setengah empat pagi, dermaga masih gelap kecuali lampu-lampu kuning dari warung kopi yang buka paling awal. Kabut tipis menggantung di atas permukaan air, dan aroma asin laut bercampur solar kapal menyambut siapa pun yang datang.
Mbak Nina sudah hadir lebih dulu dengan tas besar berisi peralatan, rambut dikuncir rapi, dan semangat yang menggebu-gebu.
"Pagi semua! semoga konten kita hari ini viral! Semangat Semangat gaeesss! " serunya begitu melihat Dinara dan Mas Ferdi turun dari motor.
" Aamiin "
Dinara menatapnya dengan tatapan datar seorang manusia yang baru tidur tiga jam. Ferdi cuma senyum aja untuk menghormati tim marketing digital Resto Kembang Desa.
Mas Teguh sang fotografer sudah berdiri di tepi dermaga, memandang laut dengan ekspresi seniman yang sedang menghayati karya. Kameranya tergantung di leher dan tangannya memegang kopi hitam.
"Keren banget spot ini, kita bisa dapat foto dan video yang bagus. " gumamnya puas.
"Mas Teguh, nanti yang penting wajahku nggak keliatan ya," kata Dinara langsung.
"Lho kenapa, Mbak?"
" Aku nggak pede, nanti disangka janda gatel lagi gegara tampil di konten Resto. " Jawabanya tak percaya diri.
Mas Ferdi tertawa.
" Ya ampun Mbak, sampe segitunya. Mikirmu kejauhan Mbak Ra, peranmu disini cuma pegang ikan, bukan pegang k0nd*m! " ujar Mas Teguh
Mbak Nina mencatat sesuatu di catatan kecilnya dengan ekspresi sutradara yang tidak mau diganggu.
Mas Langit muncul lima menit kemudian dari arah gudang, sudah berpakaian kerja dengan sepatu bot karet, buku catatan di tangan seperti biasa.
Ia menatap kamera Mas Teguh, lalu menatap Mbak Nina yang sedang menyiapkan pencahayaan tambahan, lalu menatap ring light kecil yang dibawa Mbak Nina dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Itu lampu buat apa?" tanya Mas Langit
"Buat supaya wajah Mas Langit glowing di kamera!" jawab Mbak Nina riang gembira.
"Saya tidak butuh glowing."
"Semua orang butuh glowing, Mas."
"Saya tidak." jawabnya tegas.
Ternyata benar kata Mbak Ra, dia orangnya judes dan kaku. Pantesan Mbak Ra nggak mau bantu, ini aja aku udah kena mental, batin Nina.
Mbak Nina menghela napas pelan, ia mengalah daripada Mas Langit ngambek nggak mau shooting.
"Baik Mas, lampunya kita singkirin. Kita pakai cahaya alami saja."
Dinara berdiri agak di pinggir, memegang kopi yang tadi ia beli dari warung. Ia berusaha terlihat sangat sibuk mengamati laut. Strateginya hari ini sederhana: datang, kerja, catat stok ikan, pulang.
Ia tidak menyapa Mas Langit lebih dari keperluan kerja, tidak membuat percakapan yang tidak perlu, tidak memberikan celah untuk kena skakmat lagi. Biar Mbak Nina dan team yang handle.
Protokol aman. Dinara mode profesional!
Kapal pertama merapat jam empat kurang lima belas menit.Mas Teguh langsung bergerak mengambil gambar dari berbagai sudut. Mbak Nina di sampingnya berbisik-bisik mengarahkan.
"Mas Teguh, ambil yang itu! Nelayan lagi turunin ikan, bagus banget viewnya!"
"Siap."
"Mbak Ra, bisa tolong berdiri di sana? Di sebelah peti ikan yang biru itu, pura-pura lagi ngecek daftar!"
Dinara menatap Mbak Nina.
"Aku pikir kita sepakat wajahku nggak masuk frame."
"Cuma punggung doang, Mbak. Siluet gitu ala ala perempuan tangguh di dermaga subuh."
"Aku bukan siluet, aku manusia."
"Mbak Raaaaa...."
"Oke fine. Tapi kalau muka aku keliatan, videonya dihapus."
Dinara berjalan ke arah peti ikan yang dimaksud, berdiri membelakangi kamera dengan gaya yang ia rasa cukup profesional. Ia mengeluarkan catatan dari sakunya, pura-pura memeriksa angka sambil sesekali menunjuk-nunjuk ikan.
Di sebelahnya, tiba-tiba Mas Langit berdiri.
Ia juga sedang mengecek ikan, bicara dengan anak buahnya dalam bahasa campuran Jawa-Sunda yang cepat. Tidak sadar bahwa ia dan Dinara kini berdiri sangat berdekatan karena area peti ikan memang sempit.
Mas Teguh memotret dari kejauhan.
Mbak Nina melihat hasilnya di layar kamera, langsung menahan napas.
"Mas Teguh... itu bagus banget." Mbak Nina kasih jempol.
"Oke Mbak."
"Keduanya masuk frame kan? "
"Iya."
"Natural banget kayak pasangan yang lagi kerja bareng."
" Setuju! "
Mbak Nina menatap Mas Ferdi dengan mata berbinar. Mas Ferdi balas menatap dengan ekspresi ambigu. Tapi Mbak Nina sudah tidak bisa ditahan lagi sebab dialah sutradaranya.
"Mas Langit! Mbak Ra! Bisa tolong kelihatan sedikit lebih... berinteraksi? Kayak lagi ngobrolin ikan gitu?"
Dua kepala menoleh ke arah kamera bersamaan. Mas Langit berkerut kening.
Dinara langsung menyibukkan diri dengan catatannya.
Ish Mbak Nina ini nyebelin banget sih, pengen rasanya aku masukin dia ke peti ikan biar tenang, rutuk Dinara dalam hati.
"Berinteraksi gimana maksudnya?" tanya Mas Langit datar.
"Ya ngobrol gitu Mas, natural aja! Pura-pura diskusi soal ikan. Biar keliatan tim work-nya!" jelas Mbak Nina antusias.
Mas Langit menatap Dinara tapi Dinara menatap catatannya.
Hening dua detik.
"Ini ikan Cakalang tadi sudah dihitung?" tanya Mas Langit akhirnya, suaranya datar seperti biasa.
"Sudah," jawab Dinara tanpa mengangkat muka dari catatan.
"Jumlahnya?"
"42 kilo, masih kurang 8 kilo dari pesanan."
"Iya, sisanya di kapal kedua."
Mbak Nina merekam dengan semangat penuh, mengangguk-angguk puas. Meskipun yang dibicarakan mereka berdua sangat kaku.
"Bagus! Bagus banget! Tapi... bisa sedikit lebih akrab nggak? Nggak kaku gitu? Ketawa-ketawa sedikit!"
Mas Langit menatap Mbak Nina dengan tatapan yang menjelaskan bahwa ia tidak suka ide itu.
Dinara menatap Mbak Nina dengan tatapan yang menjelaskan bahwa ia tidak mau mati kena semprot sebelum adzan subuh berkumandang.
"Kita lanjut ke bagian sortir ya, Mbak Nina," kata Dinara cepat, memilih kabur ke meja sortir.
Momen paling awkward terjadi tiga puluh menit kemudian.
Mbak Nina meminta pengambilan gambar di bagian timbangan, di mana Mas Langit biasanya berdiri mengawasi proses penimbangan ikan sebelum dicatat ke buku pesanan.
"Mbak Ra, kamu berdiri di sebelah Mas Langit ya. Mas, tolong tunjukin cara baca timbangan ke Mbak Ra."
"Saya sudah bisa baca timbangan," kata Dinara kesal.
"Tapi ini untuk keperluan konten Mbak Ra."
"Saya tahu itu untuk keperluan konten, tapi saya benar-benar sudah bisa baca timbangan, Mbak Nina."
"Allahuakbar Mbak Ra, ini bukan soal bisa atau nggak bisa, tapi...."
"Oke fine." Dinara sudah mulai keluar tanduk.
Dinara berdiri di samping Mas Langit di depan timbangan gantung besar. Jaraknya sekitar setengah langkah orang dewasa. Terlalu dekat untuk Dinara yang punya protokol aman, tapi tidak cukup dekat untuk Mbak Nina yang ingin hasil frame yang bagus.
"Geser dikit ke kiri, Mbak Ra."
Dinara geser sejengkal.
"Satu langkah lagi." Mbak Nina gemas.
Dinara geser lagi. Sekarang jaraknya tinggal sejengkal dari bahu Mas Langit.
Kenapa ini terasa kayak hukuman, batin Dinara.
"Mas Langit, bisa tolong tunjuk timbangan itu sambil menjelaskan sesuatu?"
Mas Langit menoleh ke kamera sebentar dengan ekspresi yang datar, lalu ia menoleh ke timbangan.
"Ini jarum harus di angka nol sebelum ditimbang," ucapnya dengan nada yang sama persis seperti ia menjelaskan ke anak buahnya setiap hari. Datar. Informatif. Tidak ada embel-embel senyum atau ekspresi wajah tambahan.
"Bagus Mas! Sekarang pura-pura timbang ikannya, sambil Mbak Ra catat!"
Mas Langit mengambil ikan kakap dari peti terdekat dan meletakkannya di timbangan. Jarum bergerak dan Dinara mencatat angka di buku.
"Mantap! Sekarang Mbak Ra, tolong minta konfirmasi angkanya ke Mas Langit. Natural aja!"
Dinara menoleh ke arah timbangan.
"3.1 kilo," kata Mas Langit sebelum Dinara sempat bertanya.
"Oh," jawab Dinara.
"Sudah dicatat?"
"Sudah."
Hening.
Mbak Nina menatap layar preview kamera dengan ekspresi putus asa. "Kalian kelihatan kayak dua orang yang lagi ngantri di kantor pajak."
Mas Ferdi yang dari tadi menonton di pinggir akhirnya tidak tahan dan menunduk menahan tawa.
"Gimana kalau Mas Langit ketawa sedikit?" usul Mbak Nina nekat.
"Untuk apa?" tanya Mas Langit.
"Biar keliatan ramah, Mas." jawab Mbak Nina.
"Saya ramah."
"Tapi mukanya datar."
"Ini muka saya sehari-hari."
Dinara benar-benar tidak bisa menahan diri. Sesuatu yang tertahan di dadanya dari tadi akhirnya jebol dalam bentuk tawa kecil yang keluar tanpa izin. Satu suaranyang mestinya tidak terdengar tapi sayangnya Mas Langit berdiri tepat di sampingnya.
Ia langsung menutup mulut dengan tangan.
Mas Langit menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Mas Langit dengan sorot mata yang tegas.
"Nggak apa-apa."
"Kamu ngetawain saya?"
"Ge-er banget sih Mas, tadi tuh batuk aja."
"Itu bukan suara batuk"
" Yaudah aku ganti jawaban, aku keselek." Dinara udah di fase pengen minggat dari sini.
"Kamu tidak sedang makan apapun, mana mungkin keselek."
Dinara mengeratkan catatannya di depan dada seperti tameng. Ia memilih tak melayani perbincangan konyol itu lagi.
Mas Langit menatapnya tiga detik dengan ekspresi yang tidak berubah, lalu kembali menatap timbangan. Entah kenapa hubungan baik yang terjalin selama ini jadi rusak hanya gegara basa basi yang dinilai sebuah kekepoan oleh Mas Langit,
Di belakang kamera, Mbak Nina dan Mas Ferdi bertukar pandang. Mas Teguh masih memotret dengan tenang, tapi sudut bibirnya bergerak sedikit ke atas.
Sesi terakhir adalah pengambilan gambar di bagian pengepakan, di mana ikan-ikan segar dimasukkan ke kotak styrofoam berisi es untuk dikirim ke restoran.
Mbak Nina meminta Dinara memegang satu sisi kotak, Mas Langit memegang sisi yang lain, keduanya mengangkat bersama untuk adegan penutup yang simbolis menunjukkan kerjasama.
"Siap? Angkat!" perintah Mas Langit.
Mereka mengangkat Kotak yang berat. Es dan ikan di dalamnya mungkin sekitar 20 kilo.
Dinara yang posisinya sedikit lebih rendah karena tubuhnya lebih pendek dari Mas Langit, tanpa sadar harus sedikit memiringkan kotak ke arahnya agar seimbang.
Akibatnya, es batu dari celah kotak yang tidak tertutup sempurna meluncur pelan dan jatuh tepat ke ujung sepatu Dinara.
Dingin.
Sangat dingin.
"ADUH DINGIN!" refleksnya berbicara lebih cepat dari otaknya.
Kakinya terangkat sebentar. Kotak oleng dan Mas Langit dengan cepat menyesuaikan pegangannya, menahan beban dari dua sisi sekaligus agar tidak jatuh. Dia sangat tenang tanpa ekspresi panik, hanya gerakan cepat yang sudah terlatih.
Dan akhirnya mereka berhasil menstabilkan kotak.
"Kakimu kenapa?" tanya Mas Langit.
"Tadi es-nya jatuh ke sepatu."
Mas Langit melirik ke bawah. Memang ada beberapa batu es berserakan di sekitar kaki Dinara. Ia meletakkan kotak pelan ke meja, lalu mengecek celah penutupnya.
"Celahnya kurang rapat. Aku minta maaf."
Dinara menatap Mas Langit dengan ekspresi terkejut ringan karena tiga kata terakhir itu adalah kata paling manusiawi yang pernah ia dengar dari mulut pria itu sejak kenal beberapa minggu lalu.
"Oh. Nggak apa-apa."
Mas Langit sudah kembali memeriksa kotak berikutnya. Sementara di belakang kamera, Mbak Nina menekan tombol stop rekaman dengan wajah puas.
"Dapat!" bisiknya ke Mas Teguh.
"Yang bagian mana?"
"Yang bagian dia minta maaf. Ekspresif banget untuk pria dingin seperti dia." ujar Mbak Nina yang sudah mencium benih-benih asmara subuh.
Mas Teguh mengangguk.
"Natural Mbak."
Mas Ferdi berjalan ke arah Dinara yang sedang mengibaskan air es dari ujung sepatunya.
"Gimana, Mbak Ra? Misi selesai?" bisiknya.
Dinara meniup ujung jari yang kedinginan.
"Misi selesai. Tapi kalau Mbak Nina minta sesi dua, aku ijin sakit."
Mas Ferdi tertawa pelan. "Tapi tadi lumayan lho, kalian nggak sekaku yang aku bayangkan."
"Tapi aku jadi ahli istighfar karena rajin ngucap astagfirullah setiap dua menit sekali." jawab Dinara datar.
Matahari mulai naik di atas cakrawala dermaga, mewarnai langit dengan gradasi oranye dan merah muda yang memang indah seperti yang Mbak Nina janjikan.
Suara tawar-menawar dari pasar sudah mulai ramai. Dinara menyimpan catatannya ke tas. Pesanan hari ini beres, konten beres, martabat masih utuh meski harus mengorbankan kehangatan ujung sepatu.
Ia melangkah pergi dari pasar induk dan tidak menoleh ke belakang. Tidak melihat bahwa Mas Langit sempat melirik ke arahnya satu kali sebelum kembali ke buku catatannya.
ihhh gemezzz deh SM ms langit 🤭