NovelToon NovelToon
Mawar Memar

Mawar Memar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siuman

“Rex, jasad ibunya Delana masih ada di rumah sakit. Mau kita apakan?”

“Kuburkan segera.”

“Nggak nunggu Delana siuman dulu, siapa tau dia ingin melihat untuk terakhir kalinya.”

“Lebih cepat lebih baik, jangan menunda pemakaman lebih lama. Pilih tempat yang paling bagus.”

“Baik.”

Dari sudut mata Delana, menetes buliran bening.

“Lana, apa aku benar kali ini? Aku harap kamu bisa setuju dengan keputusanku,” ujar Rex sambil menggenggam erat tangan Delana.

“Lana, sayang. Ayo bangun, aku sangat rindu. Banyak yang harus kita bicarakan. Bangun, Lana. Aku mohon.”

Mata Delana kembali mengeluarkan air mata. Meski Rex tidak tahu apa arti dari air mata itu, tapi dia merasa senang karena itu artinya Delana merespons dirinya. Selama otaknya masih berfungsi, maka tak apa jika Delana masih berbaring tidak sadarkan diri. Setidaknya tubuh dia istirahat dari lelahnya perjalann hidup yang dia lalui, pikir Rex.

“Lana, aku pergi sebentar. Kamu akan ditemani Tias. Kamu senang kan kalau dia ada sama kamu. Aku pamit sebentar ya, sayang.” Rex mengecup kening Delana.

“Jaga dia baik-baik, Tias.”

“Siap, Pak.”

Dengan berat hati Rex harus pergi karena Angga mengabari jika Sharga sudah tertangkap.

Tias memeriksa seluruh ruangan, memeriksa setiap selang yang menempel pada tubuh Delana, memastikan semuanya ada pada posisi yang semestinya.

“Delana, mau aku bacakan sebuah cerita? Eh, iya. Kamu akan bosan denger cerita. Lalu, aku harus apa?”

Tias menatap sendu wajah Delana. Bagi Tias, Delana adalah anugerah karena berkat dia sikap Rex banyak berubah, dan itu membawa perubahan baik untuk semuanya.

“Apa yang kamu pikirkan Delana? Kenapa kamu malah mengkhianat Sharga? Kalaupun kamu memang benar mengkhianati Pak Rex, nasib kamu gak akan begini. Pak Rex hanya akan marah dan kalau kamu memohon maaf, dia pasti akan memaafkan kamu.”

Tias berbicara sendiri, dia tidak tahu dan tidak mendengar penjelasan dokter waktu itu jika Delana bisa mendengar dan merasakan sekitar meski samar.

“Pak Rex pasti tidak akan berbuat kejam sama kamu, lagian dia sendiri pun salah karena menjebak kamu. Hmmm, kamunya malah terjebak. Andai saja kamu mencurigai kenapa lemari itu terbuka padahal berkas-berkas penting ada di sana.”

Tias merapikan selimut Delana, memeriksa suhu kakinya.

Saat dia menoleh untuk melihat Delana setelah memeriksa kaki gadis itu, Tias terkejut. Dia berteriak histeris memanggil dokter saat mata Delana terbuka.

...***...

Rex duduk di kursi, sementara tangan Sharga terikat ke belakang, leher si rantai bak bintanga yang sedang dijinakkan.

Tidak, dia tidak seperti Delana yang kondisinya sangat memprihatinkan. Sharga masih sehat, dia masih utuh. Tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya.

“Ampun, Pak Rex. Saya bertaubat. Saya tidak akan mengganggu Delana lagi.”

Rex tidak menggubris, pria itu hanya duduk sambil menghisap cerutu nya.

“Katakan, siapa menyuruhmu melakukan itu semua?”

Sharga diam.

Sejak awal tua bangka itu memang tidak mau berkata apapun. Mulutnya terkunci.

“Beginilah bentuk anjing yang sesungguhnya. Setia.”

Sharga masih membungkuk. Nafasnya tersengal-sengal karena dia sangat ketakutan. Entah apa yang akan dilakukan Sharga padanya.

“Jangan main kasar, Angga. Wanitaku akan sangat marah.”

“Siap, Pak.”

“Dwi, satukan dia dengan kawanan nya.”

“Baik, Bos.”

Mendengar hal itu, Sharga semakin ketakutan. Dia tidak mengerti apa maksud Rex hanya saja ….

Matanya membelalak begitu dia mendengar anjing menggonggong.

Dari balik pintu gudang yang besar, dua orang anak buah Rex membawa anjing dengan gonggongan yang sangat berisik. Air liur nya menetes sejak dari jauh. Tidak hanya air liurnya yang berlebihan, tapi juga berbusa. Anjing itu nampak sangat agresif dan bersiap menggigit apa saja yang ada di dekatnya.

“Jangan lakukan ini, Pak Rex. Apapun akan saya lakukan asal selamatkan saya sekarang.”

Rex menghisap cerutu itu tanpa memperdulikan ucapan Sharga.

Pria itu panik, bergerak tanpa arah yang justru membuat anjing yang terindikasi rabies semakin agresif dan mengincar nya.

Kayaknya tontonan gladiator, Sharga berusaha menghindar dengan tangan terikat dan leher dijerat, sementara anjing itu terus mengejar.

Teriakan Sharga membuat seringai penuh kepuasan di wajah Rex.

“Kembalikan dia ke rumahnya. Dan pastikan anjing itu diurus oleh pihak terkait agar tidak menginfeksi orang lain.”

“Siap, Bos.”

“Pak,” seru Angga sambil mendekatinya. “Delana sudah siuman.”

Rex membuang cerutu itu, dia melepaskan jas nya, lalu dengan sigap Angga memberikan tisu basah yang memang selalu dia bawa untuk menyeka mulut Rex. Berjaga-jaga takut dia bertemu Delana mendadak saat Rex usai menghirup benda itu.

Seperi saat ini.

Sesampai nya di rumah sakit, Rex langsung mencari keberadaan Delana. Dia melihat gadis itu tengah berbaring dengan mata terbuka. Beberapa selang yang menjadi alat-alat bantunya sudah dilepas.

“Lana ….” Suaranya lirih. Tias yang saat itu sedang duduk di samping Delana, seketika menghindar.

“Lana.”

Delana tersenyum kecil. Memberikan isyarat pada Rex bahwa dia baik-baik saja.

Koma merupakan kondisi di mana tubuh tidak bisa mengikuti perintah otak. Dia terdiam untuk beberapa waktu yang lama. Hingga saat pasien sudah siuman, maka tubuh butuh penyesuaian untuk kembali bisa bergerak sesuai fungsi awal.

Delana masih terlihat lemah. Untuk bicara saja dia masih harus berusaha kuat.

“Pak ….”

“Apa? Aku di sini. Ada apa? Butuh sesuatu? Ada yang sakit?” Tanya Rex panik.

Delana mengerjapkan mata sebagai pengganti kata “tidak”.

Gadis itu menghela nafas seolah dia merasa sangat lelah. Rex mencium keningnya.

“Istirahat lah sebentar lagi. Aku akan ada di sini. Oke? Jangan takut. Aku tidak akan pergi.”

Delana tersenyum tipis.

1
Mujria Ria
padahal ceritanya bagus TPI belum ada yg baca yaa?? di tunggu kelanjutannya thor
Chaw_Mully: Hehehe gak apa-apa kak, mungkin belum rezekinya 😄. Makasih ya udah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!