Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Pagi itu halaman rumah kembali kedatangan mobil hitam.
Laura yang sedang menyiram tanaman tidak menghentikan kegiatannya. Ia hanya melirik sekilas dari sudut mata, cukup untuk mengenali jenis mobil dan cara ia berhenti dengan rapi, percaya diri, seolah rumah itu memang menantinya.
Pintu mobil terbuka. Seorang perempuan berusia sekitar awal empat puluhan turun dengan langkah mantap. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya keras, pakaian kerjanya sederhana namun mahal. Tatapannya langsung mengarah ke rumah, bukan ke Laura.
Perempuan itu melangkah mendekat tanpa senyum.
“Kamu Laura?” tanyanya.
Laura menutup selang air, menoleh penuh. “Iya. Bisa saya bantu?”
Perempuan itu mendengus kecil. “Aku Ratna. Mulai hari ini, aku bekerja di sini.”
Laura mengangguk ringan. “Oh, selamat datang.”
Ratna menatap Laura dari ujung rambut sampai ujung kaki begitu lama, menilai, lalu berkata, “Aku direkrut langsung oleh Ny.Amara.”
Nada suaranya menuntut reaksi.
Laura hanya tersenyum tipis.
“Pantas.”
“Kamu tidak terkejut?” tanya Ratna curiga.
“Tidak,” jawab Laura jujur. “Rumah besar seperti ini memang butuh lebih dari satu tangan.”
Ratna mengerutkan kening. Ia jelas mengharapkan sikap berbeda entah gugup, entah defensif.
“Aku lebih senior,” kata Ratna tegas. “Dan aku terbiasa memegang kendali.”
Laura membuka pintu rumah, memberi isyarat masuk. “Silakan. Kita bisa atur pembagian tugas dengan tenang. Karena saya sebenarnya hanya bekerja untuk megurusi semua keperluan Pak Haikal.”
“Aku tidak perlu diatur,” potong Ratna. “Aku yang akan mengatur.”
Laura berhenti sejenak, lalu menoleh dengan senyum yang tetap sopan. “Baik. Selama semua pekerjaan selesai.”
Nada itu netral. Tidak menantang. Tidak tunduk. Ratna merasa untuk pertama kalinya posisinya tidak sekuat yang ia bayangkan.
Tak lama kemudian, Haikal turun dari tangga. Ia berhenti mendadak saat melihat Ratna berdiri di ruang tamu. Karena hari Haikal agak kesiangan berangkat ke kantor.
“Siapa ini?” tanyanya, kaget.
Ratna melangkah maju sebelum Laura sempat bicara. “Saya Ratna, Pak. Pembantu baru. Direkrut langsung oleh mertua anda.”
Haikal mengernyit. “Pembantu baru?”
“Iya, Pak,” jawab Laura. “Mulai hari ini.”
Haikal menatap Laura ada pertanyaan di sana. Laura membalasnya dengan tatapan tenang, seolah berkata, Ini bukan keputusan saya.
“Kenapa tidak ada pemberitahuan kepada saya? Kenapa mama bertindak semau nya tanpa meminta persetujan saya dulu.” tanya Haikal.
Ratna tersenyum tipis. “Nyonya ingin semuanya berjalan rapi.”
Haikal menghela napas.
“Baiklah.”
Namun ketika ia berjalan ke dapur, ia menyadari sesuatu yang tidak biasa, Laura tidak berada di sana seperti biasanya. Ratna yang menyeduh kopi gerakannya cepat, kaku, tanpa perhatian pada detail yang biasa Haikal nikmati.
“Kopinya tuan,” kata Ratna sambil meletakkan cangkir.
Haikal menyesap. Rasanya… biasa.
Ia melirik ke arah lorong. Laura tidak terlihat.
Perasaan jengkel yang tak jelas sebabnya muncul.
Malam harinya ..
Ratna mengambil alih banyak hal. Ia mengatur jadwal, membagi tugas dengan nada perintah, dan yang paling terasa ia selalu ada di tempat yang sama dengan Laura dan Haikal.
Setiap percakapan terpotong. Setiap kebersamaan menjadi formal.
Hari ini Haikal pulang lebih cepat. Ia berharap menemukan Laura di teras belakang seperti biasanya. Yang ia temukan justru Ratna, duduk dengan map catatan.
“Laura di mana?” tanya Haikal.
“Di dapur tuan,” jawab Ratna. “Saya tugaskan untuk memasak dan membersihkan perabotan selesai masak makan malam.”
Nada saya tugaskan membuat Haikal menahan diri.
Di dapur, Laura sedang menyiapkan makan malam. Ia menoleh saat Haikal masuk.
“Pak,” sapa Laura seperti biasa.
“Kenapa kamu mau aja disuruh suruh, tugas kamu itu hanya melayani saya dan hanya ikut perintah saya saja?” tanya Haikal langsung.
Laura menutup panci.
“Gak apa-apa pak. Banyak pekerjaan soalnya.”
“Biasanya tidak begini.”
Laura tersenyum kecil. “Biasanya juga tidak ada pengawasan ekstra.”
Kalimat itu pelan, tapi jelas.
Haikal menghela napas. “Saya tidak minta ini Laura, maaf jika kamu merasa tidak nyaman.”
“Saya tahu,” jawab Laura tenang.
Ada jeda. Jarak fisik yang sama, tapi jarak batin yang mulai terasa menyiksa bagi Haikal.
“Laura,” kata Haikal pelan, “keadaan ini membuat saya… tidak nyaman.”
Laura menatapnya lurus. “Ketidaknyamanan sering muncul ketika kita kehilangan kebebasan pak.”
“Dan kamu?” tanya Haikal.
“Saya akan menyesuaikan,” jawab Laura. “Seperti yang selalu saya lakukan.”
Ia kembali bekerja. Haikal berdiri, merasa sesuatu yang berharga perlahan menjauh. Di balik Pengawasan
Laura tahu persis peran Ratna. Dan ia tahu, perlawanan terbuka hanya akan menguatkan posisi Ratna.
Maka Laura memilih jalan lain.
Ia mulai memberi Ratna panggung.
“Bu Ratna lebih berpengalaman,” kata Laura suatu pagi, sengaja di depan Haikal. “Lebih baik Ibu yang atur jadwal.”
Ratna tersenyum puas.
“Tentu.”
Laura mundur selangkah, secara kasat mata. Namun di balik itu, ia mengamati.
Ia mencatat kebiasaan Ratna yang terlalu kaku, terlalu sering menilai, terlalu ingin terlihat berkuasa. Ia juga melihat satu celah yaitu Ratna suka melapor, tapi tidak suka mendengar.
Suatu siang, Laura menghampiri Ratna dengan nada ringan. “Bu Ratna, Pak Haikal lebih suka kopi disajikan tanpa banyak gula dan tambahkan sedikit creamer. Katanya, itu membantunya berpikir.”
Ratna mengangguk, merasa mendapat informasi penting.
"Tapi tetap saya lebih senior dari pada kamu." Ketua Ratna tak mau kalah.
Keesokan harinya, Haikal mendapat kopi, tanpa kata, tanpa perhatian. Ia mengernyit, merasa ada yang hilang. Laura sengaja tidak terlihat saat Haikal dimeja makan. Ia ingin membuat Haikal merasa kehilangan dan pasti nanti Haikal akan melakukan hal nekat agar mereka bisa bertemu.
Haikal berdiri lama di ruang makan.
“Laura?” panggilnya tanpa sadar.
Tidak ada jawaban.
Ratna muncul. “Ada yang bisa saya bantu, tuan?”
Haikal menatapnya, lalu menggeleng. “Tidak.”
"Barusan saya dengar tuan memanggil Laura."
"Mungkin sudah kebiasaan."
"Oh begitu." Ucap Ratna merasa ganjil.
Di kamarnya, Haikal duduk dengan gelisah. Ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya berat, ia merindukan kehadiran Laura, cara gadis itu mendengarkan, cara ia memberi ruang, cara ia membuat rumah terasa hidup, cara ia melayani Haikal dengan baik.
Kini semua terasa terawasi.
Malam nya, Haikal bertemu Laura di koridor.
“Kita perlu bicara,” katanya.
Laura berhenti. “Sekarang pak?”
“Iya.”
Mereka berdiri berhadapan. Tidak dekat. Tidak jauh.
“Sata tidak suka keadaan ini,” kata Haikal jujur. “saya merasa… dibatasi.”
Laura mengangguk. “Saya juga. Bu Ratna membuat semuanya terasa kaku. Tapi saya paham bu Ratna hanya menjalankan tugasnya,” jawab Laura tenang. “Seperti saya.”
Haikal menatapnya lama. “Saya jadi sadar satu hal.”
“Apa?”
“Bahwa saya mulai mendambakan sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan,” katanya lirih. “Dan sekarang… itu terasa dijauhkan dari saya.”
Laura menahan napas sejenak. Lalu berkata pelan, “Perasaan seperti itu tumbuh karena kebiasaan, Pak. Bukan karena paksaan.” ucap Laura padahal dalam hatinya ia ingin tersenyum puas.
“Dan sekarang?” tanya Haikal.
“Sekarang diuji,” jawab Laura.
Hening.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Haikal akhirnya.
Laura tersenyum kecil. “saya selalu baik-baik saja. Saya tahu cara bertahan.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Haikal dengan kesadaran pahit, pengawasan itu bukan hanya membatasi Laura tetapi juga membuka mata Haikal tentang apa yang telah ia gantungkan pada kehadiran gadis itu.
Di ruang tamu, Ratna menulis laporan singkat untuk Ny.Amara.
Di lantai atas, Haikal memandang langit-langit, resah.
Dan di kamarnya, Laura duduk tenang, berpikir jika
Pengawasan Ratna adalah pedang bermata dua.
Dan mereka baru saja menyerahkan gagangnya kepadaku.
Pagi itu berjalan seperti pagi-pagi lain setidaknya di permukaan.
Ratna berdiri di dapur dengan punggung tegak, gerakannya cepat dan presisi. Ia menyeduh kopi dengan takaran yang ia yakini tepat. Tidak ada ragu. Tidak ada sentuhan personal. Semuanya efisien.
Ketika Haikal masuk, Ratna langsung bergerak.
“Pagi, tuan,” katanya singkat sambil meletakkan cangkir di meja makan.
Haikal duduk. Ia menatap cangkir itu sejenak, lalu menyesapnya.
Satu teguk.
Dua.
Ia meletakkan cangkir perlahan.
“Rasanya biasa,” katanya datar.
Ratna tersenyum tipis. “Saya mengikuti standar, tuan.”
Haikal mengangguk kecil, lalu menghela napas seolah sedang memutuskan sesuatu.
“Bu Ratna,” katanya akhirnya.
“Iya, tuan?” jawab Ratna sigap.
“Saya ingin memperjelas tugas anda di rumah ini.”
Ratna menegakkan bahu. “Silakan, tuan.”
“Mulai sekarang,” lanjut Haikal tenang namun tegas, “tugas anda fokus pada kebersihan rumah, pengaturan gudang, dan pekerjaan umum lainnya.”
Ratna berkedip. “Baik, tuan.”
“Untuk urusan kebutuhan pribadi saya seperti sarapan, kopi, jadwal harian, tetap ditangani Laura.”
Kalimat itu jatuh jelas. Tidak bertele-tele. Tidak bisa ditafsirkan ganda.
Ratna terdiam sesaat. Ia tidak menyangka arahnya akan sejelas ini.
“Boleh saya tahu alasannya, tuan?” tanyanya hati-hati.
Haikal menatapnya lurus. “Karena saya sudah terbiasa.”
Sederhana tapi final.
Laura yang berdiri di ambang dapur tersenyum puas meliat ekspresi Ratna. Ia tidak bergerak, tidak ikut bicara. Ia membiarkan Haikal menarik garisnya sendiri.
Ratna mengangguk perlahan. “Saya mengerti, tuan.”
Nada suaranya patuh. Wajahnya netral. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bergerak cepat.
"Menarik,"batinnya.
Sangat menarik.
Haikal berdiri. “Pastikan rumah tetap rapi. Selebihnya… ikuti pembagian itu.”
“Baik, Pak,” jawab Ratna.
Haikal melirik Ratna . “Katakan pada Laura, kopi saya besok seperti biasa.”
Ratna mengangguk. “Siap, Tuan.”
Tidak ada senyum. Tidak ada lirikan berlebihan. Justru itu yang membuat pernyataan Haikal terasa semakin kuat.
Haikal melangkah pergi, meninggalkan perempuan itu di ruang makan.
Setelah Kepergian Haikal
Beberapa detik berlalu dalam sunyi.
Ratna menoleh ke arah Laura. Tatapannya tidak lagi arogan, melainkan menilai ulang.
“Kamu cepat sekali mendapatkan kepercayaan,” kata Ratna.
Laura menjawab ringan, “Kepercayaan tidak didapat dengan meminta.”
Ratna tersenyum kecil. “Atau mungkin dengan memberi apa yang orang butuhkan.”
Laura menatapnya. “Kebutuhan bukan selalu sesuatu yang terlihat.”
Ratna tertawa pendek. “Kamu pintar.”
“Dan Ibu sangat berpengalaman,” balas Laura tenang.
Ratna merapikan celemeknya. “Jangan salah paham. Keputusan barusan bukan kemenangan.”
Laura mengangguk. “Saya tidak menganggapnya begitu.”
“Itu justru bukti,” lanjut Ratna, suaranya merendah, “bahwa Ny.Amara tidak salah mengirim saya ke sini.”
Laura tersenyum tipis. “Silakan laporkan apa pun yang Ibu anggap perlu.”
Ratna mengangkat alis. “Kamu tidak takut?”
Laura menatapnya lurus. “Kalau saya takut, saya tidak akan berdiri di sini.”
Ratna terdiam sejenak. Lalu untuk pertama kalinya sejak datang ia tersenyum dengan makna ganda. Bukan senyum puas. Bukan senyum ramah. Senyum seseorang yang baru saja menemukan bukti.
“Terima kasih,” kata Ratna.
“Kamu baru saja memberiku bahan laporan yang sangat jelas.”
Laura membalas dengan senyum yang sama tenangnya. “Sama-sama, Bu. Kejelasan memang penting.”
Ratna melangkah pergi menuju ruang kerja kecil di belakang. Di tangannya, ponsel sudah siap.
Laura kembali ke aktivitasnya, menyusun piring dengan gerakan rapi. Wajahnya tenang, pikirannya tajam.
"Biarkan mereka mengawasi", batinnya,"Setiap pengawasan selalu meninggalkan jejak.
Dan jejak itulah yang akan kupakai."
Di dalam perjalanan Haikal merasa sedikit lega dan sekaligus gelisah.
Ia baru saja membuat keputusan yang tampak sederhana.
Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu bahwa Keputusan itu bukan tentang kopi.
Bukan tentang kebiasaan.
Itu tentang siapa yang ingin ia pertahankan di dekatnya.