Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Limabelas
Secepat kilat pula tangan pria itu menyambar pergelangan tangan Daniela, lalu mencengkeramnya erat dan menyeret wanita itu turun dari atas stage dengan kasar.
"A-apa yang kamu lakukan di-di sini, Darren?"
Seketika mata Daniela melotot sempurna.Suara dan tubuhnya bergetar hebat karena terkejut bercampur rasa tskut. Apalagi melihat tampang Darren yang dingin dan seperti sedang memendam kemarahan.
Daniela berusaha sekuat tenaga untuk memberontak dan melepaskan diri, tetapi kekuatannya sama sekali tidak ada seujung kuku pun jika dibandingkan dengan tenaga Darren yang saat ini sedang diliputi emosi membara.
Di dekat meja bar, Bastian sudah bersiap mengambil tindakan untuk melangkah maju dan menolong Daniela. Tapi, langkahnya langsung terhenti ketika Haruni menahan tangannya dengan cepat sambil menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Jangan melakukan apa pun, Bastian. Kita semua bisa dalam bahaya."
Kening Bastian berkerut dalam, sambil melirik wajah sahabatnya yang kini sudah pucat pasi. Ia benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.
"Dia suaminya Daniela."
"Apa?! Gimana ceritanya? Kapan Daniela menikah? Bukankah laki-laki itu Darren Callister, salah satu pengusaha properti paling sukses?"
Berondongan pertanyaan dari Bastian yang bertubi-tubi itu semakin membuat telinga Haruni sakit, bercampur dengan rasa takut yang teramat besar akan amukan Darren.
"Tapi Daniela gimana? Kita gak bisa berdiam diri saja melihat dia diseret seperti itu."
"Gue juga nggak tahu harus gimana, tapi untuk sekarang lebih baik kita diam. Jangan sampai kita nekat bertindak, tapi nanti malah Daniela yang terkena imbasnya."
Sementara para pengunjung pun heboh dan kecewa saat Daniela dibawa pergi. Tapi tak ada yang bisa berbuat apa-apa, karena dari pensnpilannya saja sudah terlihat, kalau orang yang membawa Daniela itu bukan lah orang sembarangan. Ditambah ada beberapa bodyguard yang berbadan besar-besar, menyertainya.
Pada akhirnya kedua sahabat Daniela pun hanya bisa diam dan terjebak dalam rasa serba salah.
***
Beberapa saat yang lalu sebelum kekacauan itu terjadi.
Darren melangkah masuk ke Neon Beats. Ia segera duduk di salah satu meja VIP bersama Reymond dan beberapa pria bertubuh besar yang menjemputnya dari bandara Soekarno-Hatta tadi.
Meski Darren tampak letih, aura penguasa tetap terpancar kuat dari tubuhnya yang menjulang dan atletis. Wajahnya begitu maskulin dengan rahang tegas, mata tajam, alis tebal, serta hidung mancung yang proporsional. Namun, terlepas dari pesona yang melekat padanya, ada hawa dingin yang menguar saat tatapannya jatuh pada sang istri di atas panggung.
Pemandangan erotis di depan matanya itu langsung menghantam harga diri lelaki itu hingga ke titik nadir. Ia harus melihat wanita yang berstatus istrinya mengekspos hampir seluruh tubuhnya. Meliuk-liuk dengan sensual, dan menjadi objek fantasi liar ratusan pria asing di tempat menjijikkan ini.
Emosi Darren kini sudah naik ke level tertinggi. Kepalanya hampir mengeluarkan asap. Rahangnya mengeras, membuat telapak tangannya terkepal kuat.
"Dasar perempuan murahan."
Ia berdiri saat seorang lelaki mabuk naik ke atas stage dan siap melakukan hal tak senonoh pada Daniela. Lalu melangkah ke arah mereka. Reymond dan para bodyguard pun ikut berdiri dan mengikuti langkah Darren.
Saat tiba di stage, tanpa ampun Darren menendang punggung laki-laki mabuk yang tak lain adalah Bagas, hingga dia terlonjak membentur meja DJ, lalu jatuh tersungkur.
Bagas ingin membalas tindakan Darren, namun seorang bodyguard menghadang dan dengan mudah kembali melemparkannya ke lantai.
Sementara Darren yang sudah berhasil membawa Daniela turun terus menyeretnya ke pintu keluar. Tak ada seorang pun yang berani mencegah tindakannya. Bahkan para bodyguard-nya tak membiarkan seorang pun bisa merekam kejadian itu dengan kamera apa pun.
"Reymond, berikan kunci mobilmu dan urus semua kekacauan di sini. Kamu dan yang lainnya tidak perlu mengikutiku!" titah Darren saat mereka sudah berada di parkiran di sebelah mobil Reymond.
"Baik bos, laksanakan," katanya sambil menyerahkan kunci mobil.
Darren pun membuka pintu di bagian penumpang.
"Masuk!" desisnya pada Daniela.
Gadis itu ingin membangkang tapi sorot mata Darren tak membiarkan itu terjadi. Akhirnya dengan tubuh gemetar Daniela menurut.
Tak ada yang bicara sepanjang perjalanan. Raut wajah Darren masih menyiratkan kemarahan yang nyaris tak bisa dibendung. Hingga mobilnya berbelok ke sebuah hotel mewah.
"Kenapa ke sini?" tanya Daniela kaget.
Tapi Darren tetap diam. Mobil pun berhenti di drop off.
Seorang petugas valet menghampiri dan membuka pintu mobil untuk Darren. Laki-laki itu langsung turun dan berjalan memutar ke arah pintu penumpang lalu membukanya.
"Turun!"
"Nggak mau!"
"Aku bilang turun!" suara Darren jauh lebih dingin dari biasanya, membuat bulu kuduk Daniela meremang.
"Kamu tidak lihat pakaianku seperti apa?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku malu Darren!"
Tawa sinis Darren meledak meski tidak keras.
"Perempuan murahan seperti kamu masih punya rasa malu. Lalu bagaimana dengan tadi, saat kamu mempertontonkan tubuh telanjangmu itu?"
"Aku tidak telanjang!"
"Bagiku itu telanjang dan sangat menjijikkan! Ayo cepat turun atau kamu akan lebih malu!"
Ancaman Darren akhirnya berhasil membuat Daniela keluar dengan tubuh yang masih gemetaran. Terlebih ia sangat malu saat masuk lobi semua orang yang ada di situ memperhatikannya. Darren benar-benar sudah mempermalukannya.
Setelah selesai melakukan check-in, Darren langsung menarik tangan Daniela menuju lift. Ada perasaan puas di hatinya melihat Daniela merasakan malu.
Ketika tiba di depan pintu kamarnya, Darren membuka pintu itu dengan kasar lalu membantingnya kembali dengan gerakan yang sama kasarnya.
Setelah pintu tertutup rapat, ia mencengkeram kedua bahu Daniela dan menyudutkannya ke pintu. Akal sehatnya sudah hilang total akibat amarah yang membakar dada.
"Darren, lepas! Tolong jangan kayak gini!" jerit Daniela terisak, berusaha mendorong dada bidang suaminya.
"Diam! Kamu berani pamer tubuh di depan ratusan laki-laki, tapi sekarang belaga suci di depanku? Menggelikan!" bentak Darren dengan suara yang sangat menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Tatapannya sinis dan sangat merendahkan.
Daniela nyaris pingsan dengan kenyataan ini. Dia tak tahu harus melawan dengan cara apa supaya bisa menurunkan emosi lelaki itu.
Tapi jangankan emosinya mereda, Darren malah menarik corset top berbahan brokat itu dari tubuh Daniela.
Sret!
Sekali tarik langsung robek dan terlepas sepenuhnya. Daniela menjerit sambil menutupi area sensitifnya dengan kedua telapak tangannya. Dia tak kuasa lagi menahan tangisnya.
"Kumohon Darren, jangan lakukan ini. Aku tak seperti yang kamu pikirkan!" Daniela melolong, memohon belas kasih lelaki itu. Tapi amarah sudah sepenuhnya menguasai otak Darren. Dia malah menarik tangan Daniela dan dibawa ke atas kepala gadis itu. Mata Darren langsung menggelap melihat pemandangan di depannya. Kulit mulus Daniela yang terekspos serta gunung kembarnya yang membusung tanpa penghalang, justru semakin memicu emosinya untuk menghancurkan harga diri gadis itu.
Tanpa membuang waktu, Darren menyergap tubuh Daniela, lalu mengempaskannya ke atas ranjang. Tubuh besarnya langsung menindih, mengunci mati setiap pergerakan hingga Daniela tidak berkutik sama sekali.
"Darren, jangan! Aku mohon!" tangis Daniela semakin histeris, menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan air mata yang mengalir deras membasahi bantal.
Darren sama sekali tidak memedulikan penolakan itu. Dengan satu tangan yang mencengkeram erat kedua pergelangan tangan Daniela di atas kepala, tangan lainnya bergerak kasar melucuti sisa pakaian yang masih melekat pada tubuh gadis itu hingga tak bersisa. Rasa terhina yang membakar dada membuat Darren bertindak brutal.
Setelah membuat Daniela benar-benar tak berdaya, Darren menarik diri sejenak untuk menanggalkan pakaiannya sendiri. Dengan gerakan cepat yang didorong emosi, ia mempreteli kancing kemejanya hingga terlepas semua, lalu menurunkan celananya dengan terburu-buru demi menyingkirkan semua penghalang di antara mereka.
Daniela sempat mencoba memanfaatkan celah sempit itu untuk bergeser dan kabur, namun gerakan Darren lebih cepat. Dengan tubuhnya yang kini sama-sama polos tanpa selembar benang pun, Darren kembali menindih Daniela.
Dalam kepungan amarah yang memuncak, tanpa melakukan Foreplay terlenih dahulu, Darren langsung memaksakan sebuah penyatuan di antara mereka, mengabaikan seluruh jeritan dan rontaan Daniela.
"AAAAHH! SAKIT! DARREN, LEPAS!"
Daniela menjerit sejadi-jadinya saat rasa sakit yang luar biasa menghantam tubuhnya. Air matanya mengalir semakin deras, sementara tubuhnya bergetar hebat di bawah kungkungan Darren.
Namun, tepat setelah penyatuan paksa itu terjadi, Darren mendadak membeku. Gerakan kasarnya terhenti seketika. Tubuhnya yang tegang langsung kaku di atas tubuh Daniela.
Napas Darren memburu di ceruk leher istrinya, tetapi matanya terbelalak tak percaya. Ada hambatan yang sangat ketat dan nyata yang baru saja ia terobos dengan paksa. Di atas seprai putih hotel yang bersih, bercak merah segar kini mulai menodai kain di bawah tubuh mereka.
Darren terpaku. Namun, ego dan sisa amarah yang terlanjur menguasai diri membuatnya enggan untuk langsung berhenti. Alih-alih menarik diri, ia justru meneruskan aksinya demi menuntaskan gairahnya yang masih sangat bergejolak. Hingga akhirnya ia memuntahkan seluruh benihnya jauh di dalam rahim Daniela.
Setelah semuanya selesai, Darren langsungenggulingkan tubuhnya ke sisi Daniela. Ia meraih tubuh bergetar itu ke dalam dekapannya, dengan rasa sesal yang sulit untuk dijelaskan.
"Maaf!" Hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya.
Daniela hanya diam, tak bereaksi sama sekali. Tapi tubuhnya masih menggigil. Rasa sakit hati dan terhina, serta sakit fisik yang tak terperi, menyatu di dalam dirinya.
kak jgn jahat2 sama Daniela yx kak ,,
lgi hamil looo dy ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
para readers tercinta, jika buku induk ada kesamaan dengan buku lain, mohon jangan nge-judge ini plagiat ya. otor bersumpah demi apapun tak ada plagiat karena sudah merasakan bagaimana rasanya di-plagiat-n. mungkin hanya kesamaan beberapa part aja.
terimakasih 🙏🫶
bayinya gimana Thor nasibnya 🫣😭😭
🤭🤭🤭🤭🤭
next kak
lanjut