NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak Sama CEO Es, Malah Hamil Anaknya

Nikah Kontrak Sama CEO Es, Malah Hamil Anaknya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kentos46

Aluna butuh 3M buat nebus utang kakaknya. CEO es batu Arsen Asmara nawarin nikah kontrak setahun. Syaratnya gampang: Tidur pisah ranjang, dilarang jatuh cinta.

Tapi semua berantakan gara-gara satu malam salah kamar. Aluna hamil anak CEO paling ditakuti se-Indonesia.

Pas foto mereka satu selimut viral + saham anjlok 12%, Arsen bukannya marah malah pasang badan hajar mantanku. Katanya ini cuma kontrak... tapi kenapa ciumannya bikin jantungku mau copot?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CEO Paling Ditakuti Itu Menawar Rahimnya

Lift turun perlahan menuju lobby hotel, tetapi bagi Aluna rasanya seperti jatuh ke dasar jurang tanpa ujung. Tangannya gemetar sejak tadi menutupi mulut sendiri agar suara tangisnya tidak keluar terlalu keras. Air mata terus jatuh tanpa bisa dihentikan. Dadanya sakit sekali sampai rasanya sulit bernapas.

Tiga tahun.

Tiga tahun hidupnya habis buat laki-laki yang bahkan tidak memilih dirinya ketika ada perempuan yang lebih kaya datang membawa masa depan lebih menjanjikan.

Begitu pintu lift terbuka, Aluna langsung berjalan cepat keluar sambil menundukkan kepala. Dia malu. Malu pada dirinya sendiri. Malu karena sudah begitu bodoh mempercayai cinta.

Lobby hotel masih ramai oleh tamu-tamu yang datang dan pergi. Musik piano mengalun lembut di sudut ruangan, kontras dengan isi kepala Aluna yang berantakan. Gadis itu berusaha menghapus air matanya sambil berjalan cepat menuju pintu keluar. Dia cuma ingin pulang sekarang. Ingin mengurung diri di kamar kontrakan sempitnya lalu menangis sampai tertidur.

Namun langkahnya tiba-tiba berhenti ketika seseorang menabrak bahunya cukup keras.

Tubuh Aluna oleng ke belakang. Kalau saja tangan besar itu tidak cepat menarik pinggangnya, mungkin dia sudah jatuh di lantai marmer lobby.

“Lihat jalan.”

Suara laki-laki itu rendah dan dingin, membuat Aluna refleks mengangkat kepala.

Dan napasnya langsung tertahan.

Laki-laki di depannya tinggi sekali. Bahunya lebar dengan setelan jas hitam yang tampak mahal. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas dan mata tajam tanpa kehangatan sedikit pun. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara jam tangan silver di pergelangan tangannya terlihat seperti harga satu rumah.

Namun yang paling membuat suasana berubah adalah aura laki-laki itu.

Dingin.

Menekan.

Berbahaya.

Di belakangnya berdiri beberapa pria berseragam hitam yang langsung terlihat tegang begitu Aluna menyentuh tubuh lelaki tersebut. Bahkan receptionist hotel buru-buru menundukkan kepala.

“Maaf...” lirih Aluna cepat sambil mundur satu langkah.

Tatapan laki-laki itu turun ke wajah Aluna yang sembab. Mungkin dia baru sadar kalau gadis di depannya habis menangis.

“Menangis di hotel semahal ini bukan ide bagus,” ucapnya datar.

Aluna langsung menunduk malu. Dia tidak tahu kenapa kalimat itu terasa menampar harga dirinya.

“Sekali lagi maaf.”

Dia buru-buru ingin pergi, tetapi tiba-tiba suara laki-laki itu kembali terdengar.

“Kamu habis diputusin?”

Aluna langsung membeku.

Pertanyaan itu terlalu tepat sampai rasanya memalukan.

Dia menoleh pelan dan mendapati laki-laki itu masih menatapnya tanpa ekspresi. Seolah pertanyaan tadi cuma fakta biasa.

“Bukan urusan Anda,” jawab Aluna pelan sambil menahan tangis lagi.

Anehnya, sudut bibir laki-laki itu sedikit bergerak. Bukan senyum hangat. Lebih seperti tertarik.

Belum sempat Aluna pergi, tiba-tiba salah satu pria berseragam hitam mendekat sambil membungkuk hormat.

“Pak Arsen, meeting dengan Direktur Han dimulai sepuluh menit lagi.”

Deg.

Aluna langsung menegang.

Pak Arsen?

Nama itu terasa familiar.

Sangat familiar.

Dan detik berikutnya mata Aluna langsung membesar ketika sadar siapa laki-laki di depannya.

Arsen Asmara.

CEO muda pemilik Asmara Group.

Laki-laki yang namanya hampir tiap hari muncul di berita bisnis. CEO paling dingin dan paling ditakuti di Indonesia. Katanya dia pernah memecat puluhan direktur hanya dalam satu malam. Katanya dia tidak pernah gagal dalam bisnis. Dan katanya tidak ada perempuan yang bisa bertahan lama di dekatnya karena sifatnya terlalu dingin.

Tubuh Aluna langsung kaku.

Orang seperti dia seharusnya tidak mungkin berdiri sedekat ini dengannya.

“Maaf, Pak,” ucap Aluna cepat sambil menundukkan kepala. “Saya benar-benar tidak sengaja.”

Arsen tidak langsung menjawab. Tatapannya masih menempel di wajah Aluna beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Kemudian pandangannya turun ke ponsel Aluna yang tiba-tiba kembali berdering.

Nama tidak dikenal.

Begitu panggilan itu diangkat tanpa sengaja, suara kasar langsung terdengar cukup keras.

“Aluna Maharani, besok terakhir pembayaran! Kalau nggak bayar, kami datengin rumah!”

Wajah Aluna langsung pucat.

Dia buru-buru mematikan telepon sambil menahan malu setengah mati. Rasanya dia ingin menghilang saat itu juga.

Namun sebelum dia sempat pergi, Arsen tiba-tiba berkata pelan,

“Kamu punya utang berapa?”

Aluna langsung mengernyit bingung. “Apa?”

“Utangmu.”

Nada suara Arsen tetap datar, seolah sedang bertanya harga kopi.

Aluna menggenggam ponselnya erat. “Itu bukan urusan Anda.”

“Jawab.”

Satu kata itu keluar tenang, tetapi entah kenapa sulit dibantah.

Aluna menelan ludah sebelum akhirnya menjawab pelan, “Tiga ratus juta.”

Salah satu bodyguard di belakang Arsen sampai melirik kaget. Bagi mereka mungkin angka itu kecil. Namun bagi Aluna, jumlah itu cukup untuk menghancurkan hidupnya.

Arsen terlihat diam sebentar sebelum bertanya lagi, “Kamu kerja apa?”

“Kasir café.”

“Gaji?”

“Empat juta.”

Arsen mengangguk kecil seolah sedang menghitung sesuatu di kepalanya. Lalu tanpa diduga, dia berkata,

“Kamu cantik.”

Aluna langsung melotot.

“Apa?”

“Kamu juga cukup bersih.”

Kalimat itu bukannya terdengar seperti pujian, malah terdengar seperti sedang menilai barang.

Harga diri Aluna langsung terusik.

“Saya permisi.”

Dia berbalik cepat, tetapi lagi-lagi suara Arsen menghentikannya.

“Saya bisa lunasi utangmu malam ini.”

Langkah Aluna berhenti total.

Jantungnya berdetak lebih keras.

Perlahan dia menoleh.

Arsen berdiri santai dengan kedua tangan di saku celana. Tatapannya tetap dingin tanpa emosi.

“Apa maksud Anda?”

“Saya tidak suka mengulang kalimat.”

Aluna mulai merasa tidak nyaman. “Nggak ada orang yang bantu orang lain gratis.”

“Benar.”

Jawaban Arsen terlalu cepat.

Dan entah kenapa itu membuat bulu kuduk Aluna berdiri.

Lobby hotel terasa semakin sunyi ketika laki-laki itu berjalan mendekat satu langkah. Tingginya membuat Aluna harus sedikit mendongak.

“Saya butuh seorang istri.”

Deg.

Otak Aluna langsung kosong beberapa detik.

“Apa?”

“Kontrak pernikahan satu tahun.” Nada suara Arsen tetap tenang. “Kamu akan tinggal bersama saya, tampil sebagai istri saya di depan publik, dan mengikuti semua aturan yang saya buat.”

Aluna menatap laki-laki itu tidak percaya.

Dia pasti gila.

“Atau Anda mabuk.”

“Saya tidak minum alkohol.”

“Kalau begitu Anda sinting.”

Untuk pertama kalinya, salah satu sudut bibir Arsen sedikit terangkat lagi. Seolah dia justru terhibur.

“Kamu berani juga.”

“Karena omongan Anda nggak masuk akal!”

Arsen tetap tenang meski Aluna mulai emosi.

“Saya serius.”

“Kenapa saya?”

“Kamu tidak punya siapa-siapa.” Tatapan Arsen tajam menembus mata Aluna. “Dan saya butuh perempuan yang bisa dikendalikan.”

Kalimat itu langsung membuat darah Aluna naik.

“Saya bukan barang!”

“Saya tahu.”

“Kalau tahu kenapa ngomong kayak gitu?”

Arsen terdiam sebentar sebelum akhirnya berkata pelan, “Karena saya tidak tertarik bermain cinta.”

Jawaban itu terasa dingin sekali.

Aluna bahkan tidak tahu harus marah atau takut sekarang.

“Aku nggak kenal Anda.”

“Kamu akan kenal nanti.”

“Saya nggak mau.”

“Kamu butuh uang.”

Sunyi.

Dan sialnya, Arsen benar.

Aluna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sambil menahan air mata. Harga dirinya benar-benar sedang diinjak malam ini. Setelah dibuang pacar karena miskin, sekarang seorang CEO asing menawarinya pernikahan kontrak seolah hidupnya bisa dibeli.

Namun sebelum dia sempat menjawab, Arsen kembali berkata,

“Saya bayar lima miliar.”

Deg.

Mata Aluna langsung membesar.

Lima miliar?

Jumlah itu bahkan terlalu besar untuk dibayangkan.

Utangnya bisa lunas. Dia bisa mulai hidup baru. Dia bisa keluar dari semua mimpi buruk ini.

Tetapi...

“Kenapa Anda butuh nikah kontrak?”

Tatapan Arsen berubah sedikit lebih gelap.

“Nenek saya ingin saya menikah sebelum ulang tahunnya yang ke tujuh puluh.”

“Dan kalau nggak?”

“Saya kehilangan hak penuh atas perusahaan.”

Aluna terdiam.

Jadi bahkan keluarga orang sekaya Arsen Asmara tetap berantakan.

Anehnya, fakta itu sedikit membuatnya sadar kalau hidup tidak pernah benar-benar mudah untuk siapa pun.

Arsen mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dompetnya lalu menyelipkannya ke tangan Aluna.

“Datang besok jam sembilan pagi kalau kamu tertarik.”

Lalu laki-laki itu pergi begitu saja bersama para bodyguardnya.

Meninggalkan Aluna yang masih berdiri membeku di tengah lobby hotel sambil memandangi kartu hitam di tangannya.

Nama itu tercetak jelas dengan huruf silver.

Arsen Asmara.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Aluna merasa hidupnya baru saja masuk ke masalah yang jauh lebih besar daripada utang tiga ratus juta.

1
MayAyunda
keren kak👍👍
kentos46: makasih kak kalau sukaa 😍
total 1 replies
Suhirno Cilok
Lanjut.👍
kentos46: sudahh yaa kak
total 1 replies
kentos46
makasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak yaa
kentos46
punya cerita lain ga kak
Clarice Diane
semangat kak💪
kentos46: makasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!