Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Noda merah
Raisa menunduk, suaranya masih lemah.
"Aku cuma telat… tiba-tiba disuruh bikin kopi, terus dia malah nyembur muka aku pakai kopi panas," ucapnya pelan.
Evan langsung mengeras ekspresinya.
"Mas nggak akan diam," katanya tegas. "Ayo kita pulang. Dia nggak akan bisa kerja di mana pun lagi."
Evan menggandeng Raisa keluar ruangan.
Di luar, beberapa pegawai terlihat cemas.
"Raisa, kamu nggak apa-apa?" tanya salah satu pegawai.
"Maaf ya Sa… tadi kami nggak berani bantu kamu," ucap yang lain pelan.
Evan menoleh tajam.
"Mulai hari ini, si Ben 7 itu bukan manajer di sini lagi," ucapnya tegas. "Kalian nggak perlu takut lagi."
"Benar, Pak?" tanya salah satu pegawai ragu.
"Iya," jawab Evan singkat. "Telepon ambulans sebelum dia makin parah di dalam sana."
Tanpa menunggu lama, Evan mengangkat Raisa dan menggendongnya keluar.
"Mas… turunin, malu…" protes Raisa lemah.
Evan tidak peduli, langsung membawanya ke mobil dan membukakan pintu.
Ia menghidupkan mesin mobil.
"Wajah kamu masih panas," ucap Evan sambil meliriknya.
Raisa menggeleng pelan.
"Bukan air mendidih… dia pakai air dari galon, tapi tetap panas."
Evan menghela napas, menahan amarahnya.
"Kita beli obat dulu," katanya. "Setelah itu mas obatin lukanya, ya."
Raisa hanya mengangguk pelan, masih menahan perih dan syok yang belum sepenuhnya hilang.
Evan menepikan mobil, lalu langsung menelepon seseorang dengan nada serius.
"Hallo, Pak Edo. Benar kafe di Jalan Cempaka itu milik Anda?" tanya Evan tegas.
"Iya, Pak Evan. Ada apa? Ada masalah?" jawab suara di seberang.
Evan menghela napas pelan, tapi nadanya tetap dingin.
"Manajer Anda, si Ben itu… dia tadi mencoba melecehkan calon istri saya."
Hening sejenak di seberang.
"Calon istri?" batin Raisa di sampingnya, terkejut.
Suara Pak Edo terdengar kaget.
"Apa? Saya mohon maaf, Pak Evan. Saya akan segera menegur dia."
Evan langsung memotong dengan suara lebih keras.
"Bukan cuma ditegur," ucapnya tegas. "Saya mau dia di-blacklist dari semua perusahaan. Orang seperti itu tidak pantas jadi pemimpin."
Pak Edo terdengar panik.
"Baik, Pak Evan… saya akan tindak lanjuti."
Evan menutup telepon tanpa banyak bicara.
Di kursi sebelah, Raisa masih diam, pikirannya berputar cepat.
"Mas Evan ngakuin aku sebagai calon istrinya…?" gumamnya dalam hati, bingung dengan apa yang baru saja ia dengar.
Evan menoleh ke arah Raisa, lalu menggenggam tangannya pelan.
"Udah… kamu nggak usah takut lagi. Ada mas di sini," ucapnya menenangkan.
Raisa menatapnya ragu.
"Mas… serius mau nikahin aku?" tanyanya pelan.
Evan mengangguk tanpa ragu.
"Kalau nggak serius, ngapain mas ngomong ke mama dan papa?" jawabnya.
Raisa masih tampak bimbang.
"Tapi… gimana dengan Mona?"
Evan menghela napas, lalu menjawab tegas,
"Mas nggak punya perasaan apa-apa ke dia. Kamu nggak perlu pikirin itu."
Raisa masih ingin bicara.
"Tapi mas—"
Evan langsung memotong lembut tapi tegas.
"Sttt… udah. Kamu nggak usah pikirin Mona. Dia juga punya banyak simpenannya diluar sana.Dia nggak akan kesepian."
Mobil perlahan berhenti di depan watsons.
"Udah sampai," kata Evan.
Ia menoleh ke Raisa.
"Kamu mau ikut masuk?"
Raisa menggeleng pelan.
"Nggak usah… aku di sini aja."
Evan mengangguk.
"Oke. Tunggu mas ya," ucapnya sebelum turun dari mobil.
Evan turun dari mobil lalu masuk ke apotek.
Ia langsung berbicara pada apoteker.
"Saya butuh salep luka bakar dan Betadine," ucapnya singkat.
"Baik, Pak. Tunggu sebentar," jawab apoteker.
Setelah membayar, Evan segera kembali ke mobil.
Raisa masih duduk diam di dalam, menahan perih di wajah dan tangannya.
"Ayo, kita pulang," kata Evan lembut sambil membuka pintu mobil.
Raisa hanya mengangguk pelan.
Mobil pun melaju menuju rumah Raisa.
Sesampainya di rumah, mereka masuk ke ruang tamu.
Raisa duduk pelan di sofa, wajahnya masih terlihat menahan sakit.
Evan langsung duduk di depannya, membuka kotak obat yang ia beli.
"Pelan ya," ucapnya.
Raisa mengangguk kecil.
Evan mulai membersihkan luka di tangan Raisa dengan Betadine.
"Perih, mas…" ucap Raisa pelan sambil meringis.
"Maaf… tahan sebentar ya," jawab Evan lembut.
Setelah itu, Evan mengoleskan salep luka bakar ke bagian wajah Raisa yang kemerahan.
"Masih panas?" tanyanya pelan.
Raisa menggeleng.
"Sedikit lebih enak…"
Evan menghela napas lega kecil.
"Untung nggak parah," ucapnya lirih.
Raisa menatapnya sebentar.
"Mas… makasih," katanya pelan.
Evan hanya mengangguk.
"Jangan dipikirin lagi kejadian tadi. Mulai sekarang, kamu aman," ucapnya tegas tapi tenang.
"Sekarang kamu mandi, terus istirahat ya," ucap Evan sambil berdiri.
Ia baru saja hendak melangkah keluar, tapi tangannya tiba-tiba ditarik Raisa.
"Temenin ke kamar…" kata Raisa pelan.
Evan menoleh, lalu tersenyum kecil.
"Aduh… manja banget kamu ternyata," ucapnya ringan.
Raisa langsung mengerutkan dahi.
"Kalau nggak mau ya udah, pulang aja sana."
Evan menghela napas kecil.
"Ya ampun… gitu aja ngambek," katanya sambil mendekat.
Sebelum Raisa sempat protes lagi, Evan langsung mengangkatnya.
"Mas! Turunin!" Raisa memukul pelan dada Evan.
"Enggak mau," jawab Evan santai sambil menggendongnya ke atas.
Sesampainya di kamar, Evan hendak menurunkan Raisa ke tempat tidur. Tapi matanya langsung menangkap noda pada sprei.
Ia langsung berhenti.
Evan menatap lebih dekat, lalu menghela napas.
Raisa langsung didudukkan di kursi dekat meja rias.
"Mas mau ngapain itu? Sprei itu baru diganti kemarin…" tanya Raisa panik.
Evan menunjuk bagian sprei itu.
"Kamu nggak lihat ini? Ada noda darah prawan kamu," ucapnya pelan.
Raisa langsung terdiam, lalu menepuk keningnya pelan.
"Ya ampun… aku lupa belum sempat nyuci tadi pagi," katanya malu.
Evan menggeleng kecil.
"Udah, biar mas aja yang beresin. Kamu duduk aja di situ."
"Enggak, aku aja yang nyuci…" Raisa buru-buru berdiri.
Evan langsung menahan.
"Nggak. Kamu istirahat."
Raisa menunduk, wajahnya merah.
"Aku jadi kelihatan jorok banget ya…"
Evan meliriknya, lalu menjawab pelan,
"Nggak. Ini juga bukan salah kamu… ini juga karena mas."
Evan baru saja selesai membereskan sprei di rendam di tempat cucian, lalu kembali ke kamar.
Ia menatap Raisa yang masih duduk di tepi ranjang.
"Kamu lapar nggak? Mas pesenin makanan ya?" tanya Evan.
Raisa menggeleng pelan.
"Nggak usah… aku masak aja."
Evan langsung mengernyit.
"Udah, nggak apa-apa. Tadi Mas masakin tadi pagi aja kamu gak makan. Mending kita beli aja ya."
Raisa masih ingin menolak, tapi sebelum sempat menjawab.
Ting… tong…
Suara bel pintu terdengar dari bawah.
Evan menoleh.
"Kayaknya ada tamu," ucapnya.
Raisa langsung teringat sesuatu, matanya membesar.
"Astaga… aku lupa! Mona mau nginep di sini…" katanya panik. "Mas… kamu di kamar aja ya, jangan keluar dulu."
Evan langsung berhenti melangkah.
"Mona ngapain nginep di sini?" tanyanya dengan nada datar.
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya