Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Ugh!
Rania melenguh saat rasa sakit semakin menusuk-nusuk perutnya. Pak Kari yang mendengar berbalik tanpa menghampiri. Menelisik tangan Rania yang memegangi perut. Ada darah merembes di sana, Rania mengernyit kesakitan.
ia mendongak dengan napas terputus-putus saat merasakan tatapan seseorang.
"Aku baik-baik saja. Fokus saja mencari daratan," katanya tersengal-sengal karena menahan rasa sakit yang tiada tara.
Sebagai mantan pasukan khusus, luka kecil itu bukan apa-apa baginya. Hanya saja, tubuh yang ia tempati sangat lemah dan tidak memiliki tenaga. Saat ini, tidak mampu menampung jiwa Rania yang terlalu kuat dan berambisi.
Rania merobek kaos bagian bawahnya untuk mengikat perut. Ia berbaring, menatap langit biru yang cerah. Kehidupan ini harus dia lewati untuk mencegah sang anak menjadi penjahat besar di masa depan. Penjahat jenius yang membuat seluruh dunia kewalahan menghadapinya.
"Sania! Sania! Kau baik-baik saja?" panggil Kari dengan cemas, ia takut Sania tidak mampu bertahan sampai daratan.
"Tenang saja. Aku hanya ingin tidur," jawab Rania tanpa beranjak dan tetap berbaring.
Pak Kari mengelus dadanya merasa lega setelah mendengar suara Rania. Ia fokus ke depan, mencari daratan terdekat.
"Aku ingat, ada dokter yang buka praktek di kota Pakis. Kota itu tidak jauh dari sini. Sebaiknya aku membawa Sania ke sana dulu," katanya seraya memutar perahu ke timur untuk mendarat di kota Pakis.
Rania menatap langit, hatinya berkecamuk penuh tanya. Siapa gadis yang tubuhnya ia tempati sekarang. Kenapa jiwanya berpindah ke tubuh Sania?
Perlahan-lahan, pandangannya memburam kemudian gelap merenggut dunianya. Rania tak sadarkan diri karena luka-luka di sekujur tubuhnya. Ia hanya berharap saat membuka mata sudah berada di kota Anggrek dan bertemu dengan sang putra. Entah seperti apa wajah anaknya itu? Semoga saat bertemu ada perasaan yang berbeda agar ia mudah mengenalinya. Bahkan, wajah yang sekarang menjadi wadah jiwanya sendiri pun ia tidak tahu.
Perahu menepi setelah empat jam terombang-ambing di lautan, di sebuah dermaga sederhana yang terbuat dari papan kayu. Kari mengikat perahunya pada sebuah kayu di ujung jembatan. Ia menghampiri Rania dan membangunkannya. Gadis itu tak tergugah, tetap terpejam dan darah kembali mengalir dari perutnya.
"Astaga! Darah lagi." Tanpa menunggu lama, Pak Kari membawa tubuh Rania ke dalam gendongan dan pergi mencari klinik dokter yang ia maksud.
Klinik itu ramai pasien, ia berteriak di depan IGD memanggil para tenaga medis. Masalah biaya biar ia pikirkan nanti.
"Dokter! Cepat tolong!" katanya seraya meletakkan tubuh Rania ke atas brankar yang dibawa seorang perawat.
Mereka membawa Rania masuk, Pak Kari menunggu di luar dengan cemas. Berharap Rania akan baik-baik saja.
"Dia gadis yang baik. Sering membantu para penduduk desa. Hanya saja kehidupannya dipenuhi dengan derita. Kali ini, Panta sudah keterlaluan. Aku berharap dia baik-baik saja," gumamnya melangitkan doa meminta kepada Tuhan untuk menyelamatkan Rania.
Setelah hampir beberapa jam, saat senja memayungi kota Pakis. Awan jingga bercampur hitam menjadi penanda berakhirnya hari. Pintu ruangan terbuka dan seorang dokter laki-laki keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter, bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Pak Kari masih dengan wajah cemas yang tidak ditutupi.
"Pasien masih kritis, masih perlu penanganan medis intensif. Saya menyarankan untuk dirawat beberapa hari di sini. Oya, dia siapa bagi Anda?" Dokter memelankan suaranya di akhir kalimat.
"Ah, dia tetangga saya, Dok. Masalah biaya, saya akan berusaha untuk mencarinya. Yang terpenting dia selamat dulu," katanya dengan ragu. Ia berharap berlayar kali ini akan mendapatkan ikan yang melimpah.
"Tidak perlu. Pulanglah. Aku yang akan menanggung biaya perawatannya, aku mengenalnya. Di temanku," ucap dokter tersebut sembari membayangkan wajah Rania yang pucat.
Hanya saja, kenapa dia menjadi lebih muda dariku? Dan kenapa ada di kota Pakis ini? Apakah dia benar-benar Rania atau bukan akan tahu saat dia terbangun nanti.
Dokter tersebut bergumam di dalam hati, berharap gadis yang ditolongnya bukanlah Rania sang sahabat dari kota Anggrek.
"Ah. Terima kasih, Dokter. Tidak menyangka, Sania punya teman hebat seperti Anda," katanya membuat dokter tersebut mengernyit.
Sania? Jadi, gadis itu bukan Rania? Tapi kenapa wajahnya mirip sekali dengan Rania?
"Kalau begitu saya titip Sania, saya akan pergi melaut," pamitnya yang diangguki dokter.
Dokter Primark namanya, sering dipanggil dokter Pri. Laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit putih. Ia tertegun, hampir tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Nama mereka berbeda, tapi wajah mereka sama. Apakah ada kejadian itu di dunia ini?
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄