NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Frontal

Lorong bawah tanah yang gelap dan dipenuhi bau anyir darah itu bergetar hebat.

Chu Chen tidak melangkah menaiki tangga batu melingkar layaknya manusia biasa. Ia berjalan menghampiri Bai dan Meng Fan, lalu masing-masing tangannya meraih kerah pakaian mereka dengan cengkeraman yang tak bisa dibantah.

"Pegang erat-erat, atau kalian akan tertinggal menjadi serpihan daging di dinding logam ini," perintah Chu Chen datar.

Sebelum Bai sempat melontarkan protes tentang harga dirinya, Chu Chen mengepakkan Sayap Tulang Naga hitam legam di punggungnya. Kepakan itu tidak memancarkan Niat Pedang seperti sebelumnya, melainkan murni daya dorong ledakan dari kekuatan fisik Lapis Kesembilan Puncak yang berpadu dengan aura Istana Jiwa Naga.

BUMMMMM!

Lantai batu di bawah kaki mereka hancur menjadi kawah. Chu Chen melesat ke atas, menentang tarikan bumi dengan kecepatan kilat hitam. Ia tidak mengikuti jalur tangga; ia terbang lurus ke atas, langsung menabrak langit-langit logam tebal yang memisahkan Kawasan Bawah dengan Kota Atas Kekaisaran Matahari Suci!

"Gila! Kau akan meremukkan kepala kita!" jerit Meng Fan, memejamkan mata rapat-rapat.

Namun, di atas kepala Chu Chen, perwujudan bayangan semu Istana Jiwa Naga memancarkan cahaya merah darah. Ujung-ujung atap istana ilusi itu memotong lempengan baja setebal puluhan tombak seolah itu hanya lapisan kertas tipis.

CRAAAT! KRAAAAK!

Langit-langit baja itu terbelah dan meleleh seketika akibat hawa panas Api Teratai Merah yang menyertai terjangan mereka.

...

Di saat yang sama, di pusat Markas Perang Kota Perbatasan.

Jenderal Agung Huang Jin, penguasa mutlak wilayah perbatasan ini, sedang duduk di singgasana emasnya dengan wajah sehitam dasar kuali. Tiga pelita jiwa yang terbuat dari giok di atas mejanya baru saja pecah berkeping-keping dalam waktu yang hampir bersamaan.

Tiga Panglima Raja Fana yang ia kirim ke Kawasan Bawah... tewas?!

"Mustahil," geram Jenderal Huang Jin, meremas pegangan singgasananya hingga hancur menjadi debu emas. "Makhluk macam apa yang bersembunyi di selokan itu? Bahkan jika itu adalah ahli Penyatuan Langit lainnya, membunuh tiga Raja Fana sekaligus tanpa memicu gejolak perang yang besar adalah hal yang tidak masuk akal!"

Di bawah singgasana, belasan komandan Istana Jiwa berlutut dengan keringat dingin membasahi punggung mereka. Tidak ada yang berani bersuara saat Jenderal Penyatuan Langit sedang murka. Alam Penyatuan Langit berarti napasnya terhubung dengan langit dan bumi; kemarahannya secara nyata membuat cuaca di sekitar markas berubah menjadi badai panas.

"Kirimkan seluruh pasukan! Ratakan Kawasan Bawah! Aku ingin—"

BLAAAAAAR!!!

Raungan Jenderal Huang Jin terpotong oleh sebuah ledakan dahsyat yang membelah bumi tepat di tengah-tengah pelataran markas perang mereka.

Lantai giok putih dan baja spiritual yang disebut-sebut mampu menahan jatuhnya batu bintang jatuh itu... meledak dari bawah ke atas! Bongkahan baja seberat puluhan ribu kati terlempar ke udara layaknya kerikil, menghancurkan tiang-tiang panji kekaisaran dan menewaskan puluhan prajurit yang sedang berjaga.

Dari dalam kawah yang menganga dan mengepulkan uap panas itu, sesosok pemuda bersayap tulang hitam melayang naik. Tangan kiri dan kanannya memegangi dua orang yang tampak sangat lemah, lalu dengan santai melemparkan kedua orang itu ke atas atap salah satu paviliun pengawas yang tidak hancur.

"Tontonlah dengan tenang. Jangan sampai darahnya memercik ke arah kalian," ucap Chu Chen kepada Bai dan Meng Fan, tanpa mempedulikan puluhan ribu prajurit kekaisaran yang kini menodongkan senjata ke arahnya.

Chu Chen perlahan menarik sayap tulangnya kembali ke bawah kulit. Ia melayang di tengah pelataran, jubah abu-abunya berkibar pelan. Matanya yang segelap malam menyapu markas perang yang megah itu, sebelum akhirnya terkunci pada sosok Jenderal Huang Jin yang kini melayang keluar dari aula utama.

"Kau..." Jenderal Huang Jin menyipitkan matanya. Matanya yang memancarkan cahaya keemasan mencoba menembus kultivasi Chu Chen. "Istana Jiwa Tahap Awal?! Jangan bercanda! Seekor semut Istana Jiwa membunuh tiga Panglima Raja Fanaku?!"

Chu Chen mengusap debu dari lengan jubahnya. Ia menatap sang Jenderal dengan tatapan bosan.

"Raja Fana kalian terlalu renyah. Aku datang kemari untuk melihat apakah dewa fana tingkat Penyatuan Langit memiliki daging yang lebih mengenyangkan."

Ketenangan dari kata-kata itu memicu keheningan mutlak di seluruh markas perang. Ribuan prajurit terbelalak tak percaya. Seseorang baru saja menawarkan diri untuk 'memakan' seorang Jenderal Penyatuan Langit di siang bolong?!

Jenderal Huang Jin tertegun selama satu detik, sebelum akhirnya meledak dalam tawa yang dipenuhi Niat Membunuh.

"Hahahaha! Begitu! Kau pasti mengandalkan racun kuno, susunan jebakan, atau pusaka kotor di dalam lorong sempit itu untuk membunuh panglimaku. Dan kini keberhasilan itu telah membuatmu gila hingga berani menantang langit secara terbuka!"

Jenderal Huang Jin merentangkan kedua tangannya.

Seketika, seluruh dunia di sekitar Chu Chen berubah. Ini bukan lagi sekadar Hukum Raja Fana yang menekan atau Ranah Istana Jiwa yang menjebak. Ini adalah Alam Penyatuan Langit.

Qi Langit dan Bumi dalam jangkauan ratusan mil tidak lagi bergejolak; Qi itu sepenuhnya tunduk dan menyatu dengan kehendak Jenderal Huang Jin. Seolah-olah sang Jenderal adalah wujud fisik dari dunia itu sendiri. Tarikan bumi, aliran angin, dan cahaya matahari di sekitar Chu Chen semuanya berbalik memusuhinya.

Udara menjadi sepadat gunung berlian.

"Kau tidak tahu apa arti dari Penyatuan Langit," suara Jenderal Huang Jin menggema dari segala arah, seakan alam semesta itu sendiri yang sedang berbicara. "Di wilayahku, aku adalah hukum. Berlututlah!"

Sebuah tekanan spiritual yang jutaan kali lebih berat dari milik Kapten Yan Kuang menghantam bahu Chu Chen. Batu giok di bawah kaki Chu Chen menguap menjadi debu karena tak sanggup menahan tekanan yang dialirkan ke bawah.

Di atas atap paviliun, Bai mencengkeram dadanya. "Itu adalah Penguasaan Alam... Di depan Penyatuan Langit, ahli Istana Jiwa bahkan tidak bisa menggerakkan satu jari pun karena dunia itu sendiri menolak keberadaan mereka. Chu Chen terlalu gegabah!"

Namun, di tengah tekanan yang bisa meremukkan kota itu, Chu Chen tidak berlutut.

Punggungnya sedikit membungkuk, namun ia perlahan mengangkat wajahnya. Celah emas vertikal di matanya menyala dengan kemurkaan purba yang menentang penciptaan.

"Menyatu dengan langit?" suara Chu Chen terdengar serak, dipaksakan keluar dari sela-sela giginya, namun penuh dengan ejekan. "Langit yang kau sembah... hanyalah kanopi rapuh yang akan kutelan."

BUMMMMM!

Chu Chen melepaskan penindasan mutlak dari Dantiannya. Bayangan semu Istana Jiwa Naga—bangunan megah dari tulang naga yang berkobar oleh Api Teratai Merah dan Niat Pedang—muncul menutupi langit di belakang Chu Chen.

Berbeda dengan Istana Jiwa manusia yang berusaha meraba hukum alam, Istana Jiwa Naga Chu Chen bersifat menghancurkan dan melahap alam.

Aura merah darah dari istana bayangan itu membakar tekanan Penyatuan Langit di sekitarnya. Wilayah hampa tercipta di sekitar Chu Chen; dunia mungkin memusuhinya, tapi dalam jangkauan sepuluh tombak dari tubuhnya, Chu Chen adalah kaisar mutlak yang menolak segala hukum.

"M-Mustahil! Kau menolak Penguasaan Alamku dengan wujud Istana Jiwa?!" Jenderal Huang Jin terbelalak, kengerian mulai merayap di hatinya. Wujud istana aneh di belakang pemuda itu memancarkan hawa pemangsa yang membuat jiwanya bergetar.

"Terlalu banyak bicara," desis Chu Chen.

Dengan kecepatan ledakan yang menghancurkan ruang hampa yang ia ciptakan sendiri, Chu Chen menerjang lurus ke arah sang Jenderal. Udara meledak di belakangnya. Ia mengalirkan gabungan sempurna dari Qi Yin-Yang, Api Teratai Merah, dan Niat Pedang Purba ke kepalan tangan kanannya.

Telapak Penghancur Matahari: Hantaman Meteor Berdarah!

Jenderal Huang Jin tidak berani meremehkan musuhnya lagi. Ia memusatkan seluruh kekuatan Penyatuan Langit-nya ke telapak tangannya sendiri, menciptakan perisai cahaya emas raksasa yang menyerap seluruh Qi alam di kota tersebut.

Hukum Mutlak Penyatuan Langit: Segel Penindas Matahari!

BLAAAAAAAAR!!!

Tinju Chu Chen berbenturan dengan telapak tangan cahaya emas sang Jenderal.

Dunia seakan menjadi tuli. Suara ledakan itu terlalu besar untuk ditangkap oleh telinga fana. Gelombang kejut raksasa berwarna merah dan emas menyapu pelataran markas perang. Ribuan prajurit yang tidak sempat melarikan diri menguap menjadi kabut darah, bangunan-bangunan baja spiritual hancur seperti istana pasir yang diterjang ombak badai.

Bai dengan panik menarik Meng Fan, membakar sisa energinya untuk membuat perisai es demi menahan hembusan angin dari benturan yang menghancurkan separuh markas tersebut.

Di titik pusat ledakan, dua sosok terhempas ke belakang.

Jenderal Huang Jin mundur sejauh puluhan tombak di udara. Lengan kanannya bergetar hebat, baju zirah emasnya retak di bagian dada, dan setetes darah emas mengalir dari sudut bibirnya. Matanya memancarkan ketidakpercayaan mutlak.

Sementara itu, Chu Chen tergelincir mundur di atas lantai batu yang hancur sejauh lima belas tombak. Kakinya menciptakan dua parit panjang di tanah. Asap mengepul dari lengan kanannya, kulit perunggunya sedikit melepuh akibat benturan dengan energi alam yang tak terbatas, namun Zirah Tulang Naga Hitamnya tetap utuh tanpa retak sedikit pun.

Chu Chen menengadah, mengusap sisa darah di bibirnya dengan ibu jari. Alih-alih takut melihat kekuatannya tidak bisa langsung membunuh musuh seperti biasa, senyum buas yang luar biasa lebar mekar di wajahnya.

"Penyatuan Langit..." Chu Chen menjilat darahnya sendiri, matanya menyala dengan rasa lapar yang menggelora. "Dagingmu... rasanya pasti sangat kenyal."

Pertarungan pertama melawan dewa fana Benua Tengah baru saja dimulai, dan Sang Naga telah memastikan bahwa langit itu sendiri bisa berdarah.

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!